Cerita Dunia League of Legends versi Hasagi Eps.04

Cerita Dunia League of Legends versi Hasagi Eps.04

riven_by_dnjswns183-dapwvis.

“Helaian Nafas Terakhir, Angin Kehidupan”

 

Sangsurya yang kini mulai terbit kembali dengan cahayanya yang begitu cerah mampu membangunkan Riven dari tidurnya.

“Hmmm… tak terasa ternyata hari sudah cerah kembali, dan kemana ya sirambut panjang itu? Berkat suara merdu dari sulingnya aku jadi tidur begitu lelap sekali. Ahh masa bodo aku tak peduli dengan orang cuek itu.”

Riven mulai beranjak sambil meregangkan badannya, “Nampaknya hari ini begitu cerah, wahh pasti orang-orang di desa sudah pada sibuk dengan aktivitas mereka hari ini. Lebih baik aku menemui mereka dulu, siapa tahu aku bisa membantu kegiatan mereka di pagi hari ini.”

Riven mulai berjalan menuruni bukit, dengan rasa semangat dia langsung menuju ke desa. di tengah perjalanan dia melihat kumpulan asap yang begitu pekat terbang di atas langit “Pagi-pagi seperti ini mereka sudah mulai sibuk memasak saja, mungkin mereka sedang mempersiapkan makanan buatku hehehe.” Riven tertawa dengan seringan di wajahnya.


Saat hampir sampai menuju desa Riven merasakan tanah yang ia pijak bergetar seketika dan diiringi suara yang begitu ramai tapi sangat samar-samar terdengar.

Asap yang Riven lihat tadi lama-kelamaan semakin menghitam, Riven mulai curiga dengan apa yang dia lihat dan rasakan, akhirnya dia mulai bergegas dan berlari menuju desa, suara yang Riven dengar sedikit demi sedikit mulai terdengar jelas, itu seperti teriakan! tidak bahkan seperti jeritan orang-orang minta tolong.

“Nampaknya ada yang tidak beres! Asap itu bukanlah asap pembakaran panggang ayam ataupun makanan lainnya, dan suaranya pun bukan suara orang-orang yang sedang bekerja.”

“Tolong-tolong…. tolong!”

“Haaah ternyata benar itu adalah teriakan orang yang meminta tolong, sebenarnya apa yang terjadi di desa? Aku begitu yakin sepertinya benar! Ada yang tidak beres di desa!”

Rasa kecurigaan Riven semakin menjadi-jadi tanpa berpikir panjang lagi dia langsung bergegas berlari.

“TOLLONNGGGG!!”

Sesampainya Riven di depan desa dia langsung terkejut melihat apa yang terjadi di hadapannya. Setengah dari desa tersebut telah hancur dan dugaan Riven ternyata benar asap yang dia lihat bukan dari tungku panggangan, melainkan asap itu berasal dari api yang telah membakar atap rumah warga.


“Sudah kubilang, aku tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan, dan aku tidak kenal dengan orang tersebut,” jeritan tak berdaya dari seseorang nenek-nenek yang sudah tersungkur di atas pasir, dengan beberapa hiasan luka di wajahnya.

“Diam kau berhentilah merengek nenek tua! Cepat katakan dimana kau sembunyikan orang itu?! Kalau kau tidak memberi tahu, dengan sangat terpaksa aku akan menghancurkan desa kumuh ini!” Jawaban yang lantang dari seorang laki-laki bertubuh besar dengan kampak yang sudah meneteskan darah.

“Aku mohon tolong kasihani kami, kami hanya rakyat kecil, kami tak punya harta yang berharga satu-satunya harta kami adalah desa ini, sungguh kami tidak tahu dengan orang tersebut…” sang nenek yang tak berdaya meminta ampun kepada pria tersebut.

“Dasar bedebah! Baiklah nenek tua, jika kau tidak ingin memberi tahu, aku akan mengantarmu kepada kepada dewa kematian tidurlah yang nyenyak nenek! Hahahahaha!” Pria itu langsung mengangkat kampaknya yang mengkilap dan begitu menyilaukan karena terpantul oleh cahaya matahari yang begitu terik.

“Terpejamlah nenek surga sudah menantimu!”

Sang nenek hanya menutup matanya dan sudah pasrah dengan takdir yang akan dia terima.


Dari belakang sudah ada Yana sedang berlari sambil memegang pisau kecil, dan di sisi lain Riven juga melihat salah seorang di atas kuda yang telah siap menarik tali busurnya begitu kuat dan telah siap membidikan anak panahnya ke arah Yana.

“Yana Jangaann! . . . . .”

Hembusan dari anak panah begitu terasa sampai kearah Riven.

“Tidaakkk Yannaa! . . .”

-“-

Satu anak panah berhasil menembus jantung gadis kecil yang malang tersebut!

“Yaannnaaaaaaa!!”

Riven langsung berlari ke arah Yana dan menangkap tubuhnya sebelum terjatuh ke tanah. Begitu malang nasib gadis kecil tak berdosa ini, dia tak berdaya dan tak sanggup berbicara, nafasnya kini mulai pendek dan melemah, darah pun mulai banjir membasahi dekapan Riven terhadap Yana. Riven hanya mampu meneteskan air mata yang tidak sanggup melihat gadis kecil ini.

Sang peria besar dengan kampak tajamnya itupun langsung berjalan ke arah Riven, “Cepat nak tinggalkan tempat ini, cepat kau pergi dari sini!” Teriak sang nenek yang sedang memegang kaki si peria besar tersebut, tapi dengan mudahnya dia menghempaskan si nenek tua dan melemparkannya sampai membentur pagar kayu rumah yang sudah terbakar.

“Dasar kau hewan tidak punya hati, sungguh biadab! Kalian sangat menjijikan berani hanya menyerang dan menindas yang lemah!”  Riven menatap pria itu dengan tatapan yang sangat tajam, tercampur air mata dan luapan emosi yang semakin tak terkendali.

“Siapa sebenarnya kau??! Apa tujuanmu datang ke desa ini dan mengapa kalian menghancurkan desa ini haaah cepat jawab pertanyaan ku, bodoh!”

“Katakan dimana Yasuo?” Suara dari pria besar yang seolah tidak peduli dengan amarah Riven tadi. “Dasar kalian binatang sialan! cepat jawab pertanyaan ku siapa kau ini dan apa salah mereka, sehingga kalian melakukan hal keji seperti ini!”

“Lebih baik kau diam, apa nasibmu juga ingin seperti mereka haah??!!”

“Nampaknya kau sedang bergurau! Aku akan membalaskan semua perlakuan menjijikan kalian ini dan akan kubunuh kalian satu persatu, binatang seperti kalian tak patut untuk diampuni!”


palette_challenge___riven_by_nisaliet-d8adb5b

Riven mulai mengeluarkan patahan pedangnya yang dia balut dengan kain putih dipunggung-nya, “Jangan harap kalian semua bisa melihat cahaya matahri lagi esok hari. karena siang ini akan menjadi siang terakhir kalian, cepat nikmatilah nafas yang masih tersisa di paru-paru kalian!”

Riven mulai memegang pedangnya dengan begitu erat, mengumpulkan semua energi Ki dari tubuhnya dan menyalurkan ke pedang batu rune hitam miliknya, sedikit demi sedikit pecahan pedang Riven kembali mulai menyatu, aura energi yang begitu kuat Riven pancarkan dari tubuhnya. Tanah’pun mulai bergetar, bangunan di sekitar ikut bergetar, dan kini batu kerikil sedikit berterbangan.

riven_painting_by_pixelsama-d4ado87

Luapan emosi dan amarah yang menyatu dalam tubuh Riven menghasilkan suatu energi yang begitu mengerikan, beberapa kuda yang mereka tunggangi mulai meringik ketakutan, dan tubuh dari para pengacau itupun ikut bergetar, mereka benar-benar merasakan kekuatan yang sangat kuat dari Riven.

“Hiruplah udara selagi kau bisa menghirupnya”

Riven langsung maju ke hadapan pria yang tubuhnya tiga kali lebih besar dari Riven, Riven memegang pedangnya begitu erat yang kemudian dia ayunkan kearah peria tersebut satu kali ayunan pedang dari Riven mampu memental-kan pria itu begitu jauh.

Batu yang besar’pun mampu pecah seketika setelah mengenai hembusan dari pedang Riven, dengan satu serangan peria itupun tewas seketika.

sketch_thing_by_etchedlines-d8u3v7m

“Selanjutnya siapa lagi yang akan aku antarkan ke gerbang neraka??!”

Beberapa pengacau itupun mulai ketakutan wajahnya kini memucat yang dipenuhi dengan keringat dingin dan rasa tak karuhan, selangkah demi selangkah mereka mulai mundur dari hadapan Riven.

“Apa yang kalian lakukan, cepat serang dia!”  Teriak dari seseorang yang berada di atas kuda hitam mengenai jubah hitam. Lima orang sekaligus akhirnya langsung maju dan menyerang Riven.

Riven langsung menerobos mereka, menebas salah satu dari pengacau tersebut, satu anak panah langsung mengarah dari belakang Riven, namun dengan mudahnya Riven mampu menghindar serangan tersebut.

Riven memutarkan tubuhnya satu loncatan, kemudian disambut dengan hantaman keras pedangnya ke tanah. Kelima pengacau itupun langsung terpental ke udara dan dengan sangat cepatnya Riven menghembuskan energi Rune hitam, terhempas sudah mereka semua. Jangankan untuk mengangkat senjatanya untuk berdiri pun mereka sudah tidak mampu.

“Sebenarnya apa tujuan kalian? Bukankah mereka sudah bilang kalau mereka tidak tahu apa-apa, lalu mengapa kalian tetap menghancurkan desa ini haah!” teriak Riven dengan penuh emosi.

“Terserah itu semua aku lakukan karena aku suka kekacauan dan kehancuran hahaha!!” si jubah hitam itu pun tertawa dengan sombong dan tidak mempedulikan apa yang telah dia perbuat terhadap desa ini.


Pria itu langsung menjulurkan tangannya mengeluarkan energi kegelapan, mulai merayap ke tubuh para pengacau yang sudah tewas tadi. tiba-tiba tubuh mereka mulai bergerak kejang-kejang matanya berubah menjadi hitam wajah mereka kini mulai memucat dengan urat-urat yang mulai menonjol, mereka mulai menjerit-jerit kesakitan, teriakan yang begitu mengerikan.

“Ibliss apa yang merasuki tubuh mereka?!!”

Sedikit demi sedikit tubuhnya mulai berubah tulang rusuk mereka membesar dan bercabang sampai menembus punggung mereka sendiri, giginya kini mulai meruncing dengan mulut besar dan melebar, mereka sungguh berubah menjadi wujud yang begitu mengerikan.

Jari-jarinya kini memiliki kuku seperti tulang tajam tak terbayang, mungkin hanya dengan satu cakaran saja mereka mampu merobek daging dan menyayat-nyayat nya dengan mudah. kini mereka bukanlah manusia melainkan seperti monster yang berbentuk sangat aneh.

Werewolf_Sketch_by_KenpudiosakiYang satu seperti serigala dengan moncong dan gigi yang besar hampir mirip seperti monster di Zaun, satunya lagi seperti kerbau dengan tanduk melingkar, dan sisanya seperti mayat hidup dengan beberapa tulang runcing menonjol di punggung mereka yang hampir mirip seperti sihir penjaga hutan Shadow Isles.

MINOTAURDryad_by_innerabove

“Sihir mengerikan apa ini, kenapa mereka berubah seperti ini sebenarnya iblis apa yang merasuki tubuh mereka, sihir ini hampir mirip seperti sihir dari Noxus, apakah mungkin pria berjubah hitam itu dari Noxus”


Monster yang memiliki tanduk itu langsung berlari kearah Riven dan memberikan pukulan begitu keras ke wajahnya, namun Riven berhasil menahan pukulan tersebut menggunakan pedangnya. sementara ketiga monster yang menyerupai pohon hidup langsung mengepung dan melemparkan tulang-tulang berbentuk duri tajam ke arah Riven.

“Broken wings!” ia melepaskan kumpulan energi Ki dan menjauhkan monster-monster itu dari dekat Riven.

Monster berbentuk serigala langsung bergerak dengan cepat dan langsung menerkam Riven, satu cengkraman dari kuku tajamnya berhasil merobek perut bagian kiri Riven, dilanjutkan dengan tumbukan dari monster bertanduk membuat Riven tersungkur jauh dari pedangnya.

Riven mencoba bangkit dengan memegang pinggang yang telah terluka, darah’pun mulai mengucur begitu banyak dari luka tersebut, tapi Riven mencoba bangkit berdiri sambil menahan rasa sakit yang tak tertahan’kan. Dengan sekuat tenaga Riven berlari kearah pedangnya saat dia mulai sampai.

“Grrrraaaaagggghhhh Daaarrrrghh!!”

Tiba-tiba ada yang keluar dari dalam tanah dan langsung menghajar muka Riven begitu keras! Riven kembali tergeletak di tanah seakan-akan dia sudah tidak berdaya untuk melawan mereka lagi, ia tak menyadarkan diri dalam beberapa saat.

Riven adalah kesatria tangguh dan pemberani dari Noxus, tapi untuk hari ini kekuatannya seolah-olah telah menghilang, Riven benar-benar tak percaya dengan mahluk yang dia hadapi sekarang entah iblis apa yang merasuki mereka.

“Bangkit Riven bangkit, ini bukan waktunya kau mati, ayoo cepat bangun ini semua untuk Yana!”
“Yaa Yana, Yana, Yana bannngggkiiiiittt Riven!”

“Yaaagggghhhhhhh!”

Riven akhirnya terbangun kembali dan berteriak dengan begitu kencang. Dengan kekuatan yang masih tersisa sedikit, dia mulai menghajar monster itu dengan tangan kosong. Riven segera mengambil pedangnya.

Monster bertanduk siap kembali untuk menubruk Riven, tapi kini dia berhasil menghantam kepala monster menggunakan pedang rune miliknya, satu hantaman keras berhasil memecahkan kepalanya. Sekuat tenaga Riven kembali berlari mengayunkan pedangnya.

“Srrraaattttthhhhhhh!!” Satu ayunan pedang dari Riven berhasil memenggal kepala monster serigala, kepalanya menggelinding menuju ke arah pria berjubah hitam.

Dua monster berhasil Riven tumbangkan hanya tinggal tiga monster yang tersisa Riven sangat yakin mampu menghabisi mereka semua.

-“-

Tapi kini pandangan nya sedikit kabur, luka yang diakibat’kan iblis serigala itu nampaknya menyisahkan racun dalam tubuh Riven seolah-olah kekuatan dan seluruh energi ki nya kini terserap oleh luka tersebut. Jangankan untuk berdiri untuk mengangkat pedangnya’pun Riven sudah tak sanggup, dengan rasa amarah yang tinggi dia tetap meneruskan langkahnya.

Menghampiri tiga monster yang tersisa sambil menyeret-nyeret pedang dan menahan luka dengan tangan kirinya. “Shhhuuuuuuufffffff” sebelum Riven sampai ternyata dengan begitu cepat salah satu dari mereka sudah ada tepat di hadapan muka Riven.

Dan. . . . . . . . . . . “Zsshhhhhhppppppp” Riven merasakan ada sesuatu yang menembus jantungnya. Tetes demi tetesan darah Riven, telah bercucuran membasahi tabah yang kering dari sebuah desa kecil.

Pandangan Riven kini benar-benar hitam gelap gulita, dia tidak bisa merasakan apapun lagi selain rasa sakit dari luka di tubuhnya.

“Degdeg. . . .degdeg. . . .degdeg. . . .degdeg..”

Dia kini tidak bisa mendengar apapun di sekelilingnya selain hanya suara detak jantung yang mulai melemah.

“Apakah ini hari terakhir ku, apa di sini ajalku telah tiba, maaf kan aku Yana. . .” Helaan nafas dari Riven mulai menghilang.

-“-

akhjika

Huuuuuussssssshhhhhhhhhh tapi Riven merasakan hembusan angin dari belakangnya, yang membantu dia untuk bisa bernafas kembali. apakah ini angin kehidupan? Riven merasakan angin yang berhembus begitu tenang membuat jiwanya begitu damai.

Dan mendengar bisikan dari telinganya suara tersebut begitu pelan sangat halus namun mudah ditangkap oleh indra pendengarannya.  Rambut Riven terhelai tertiup angin, setelah melewati tubuhnya angin itu berubah menjadi sangat besar dan menghempaskan semua yang ada di depannya.

“Maaf nampaknya aku sedikit terlambat, Exile!”  

a

“Haasssssaaaaaaagggggiiiiiiiiiiiiii. . . . . . . . . . . .”


To be continued….

Baca episode 5 “Angin begitu tenang namun dapat menghancurkan segalanya”

Saya adalah presiden dari World Economic Journal dan merupakan salah satu penguasa dunia bawah, dan sering mengisi waktu luang dengan bermain League of Legends. Panggil saya "Big News" Morgans!

 

Leave a Reply