Cerita Dunia League of Legends versi Hasagi Eps.05

Cerita Dunia League of Legends versi Hasagi Eps.05
17973826_1316878618408728_4277450839222360632_o

“Angin begitu tenang namun dapat menghancurkan segalanya”


Aku yakin mataku masih terbuka, tapi entah semuanya begitu gelap di hadapanku, aku tidak mampu merasakan apapun tidak juga bisa mendengar suara yang ada di sekitar selain dari degup jantung yang mulai melemah.

Bagaikan berada di satu titik ruang hampa, gelap, tak berpenghuni, dan juga tidak memiliki daya tarik gravitasi, jiwaku melayang bagaikan di atas langit yang tidak memiliki bintang, semua ini bagaikan mimpi dan halusinasi, atau mungkin ini semua tercipta karena imajinasiku yang mulai kacau.

Tapi seiring berjalannya waktu, perlahan aku mulai merasakan ada hembusan angin yang datang dari belakang, aku merasakan kehidupan yang baru yang jauh lebih indah dan tenang.

Angin itu mampu menusuk tubuhku, menyentuh tulang rusuk mengalir dalam denyut nadi mengisi paru-paru dan kemudian menggetarkan jantung dan membangkitkan jiwaku yang mungkin telah mati.

“Haasssaaggiiii!”

Suara itu sangat jelas terdengar disambut dengan gemuruh angin yang mulanya tenang tapi kini menjadi bising. satu hempasan angin yang datang dari arah belakang mampu mengejutkan dan seolah-olah mampu membawa arwahku masuk kembali ke dalam tubuh ini.

***

Aku bisa melihat semuanya walau tidak begitu jelas dan sangat samar-samar, sungguh sangat menjengkelkan karena kini aku bisa merasakan rasa sakit akibat luka yang ada di tubuhku, dia telah mengganggu mimpi dalam tidurku, ya aku tidak sadar ternyata tubuhku yang kotor dan berlumuran darah telah tergeletak di tanah. Saat pandanganku tertuju ke atas, aku melihat dagu dengan bulu tipis yang aku rasa itu adalah sebuah janggut yang tidak pernah diurus oleh pemiliknya.

Dia menatap ke bawah dan melihat ku, “Maaf aku sedikit terlambat Exile,” diiringi dengan senyuman yang seolah-olah tidak memiliki rasa bersalah. Aku sangat ingin menghajar mukanya yang polos yang mungkin bagi dia semua kejadian ini biasa-biasa saja.

Andai-kan tubuhku kuat untuk mengangkat pedang ini, pasti akan kuhantamkan ke wajah dengan senyumannya yang menjengkelkan itu, atau mungkin aku akan menciumnya karena dia telah menyelamatkan hidupku yang telah berada di ujung kematian!

“Ahhh entah apa yang aku pikirkan? kenapa bisa aku berpikiran sejauh itu?”

Aku mulai bangkit dan memegang luka yang berada di pinggang rasanya begitu sakit, sangat sakit! Sebenarnya aku sudah tak sanggup lagi untuk berdiri tapi aku tidak ingin terlihat lemah oleh laki-laki bodoh yang ada di sampingku ini.

“Apa kau masih kuat untuk berdiri?”

“Jangankan untuk berdiri, untuk membunuh mereka semuapun aku masih sanggup”

Perkataan ku yang begitu sangat sombong yang seolah-olah aku bisa melakukannya seorang diri.

***

“Akhirnya kau muncul juga, Yasuo!”

Teriak si jubah hitam yang berada di atas kudanya.

“Maaf hari-hari terakhir ini aku begitu sibuk, jadi aku tidak sempat untuk bermain-main dengan kalian,” jawab si rambut panjang yang seolah-olah dia meremehkan semua kejadian ini.

“Dasar kau bodoh, apa kau anggap semua ini hanya main-main apa kau tidak melihat, mereka semua telah membunuh dan menghancurkan apa yang ada di desa??!!”

Pria bodoh dan kumuh itu berbisik ke arah ku, “Iya aku tau, aku juga bisa melihat semuanya tapi semua ini adalah rencanaku untuk memancing mereka!”

Terserah apa yang dia katakan, yang pasti jika semua kejadian ini telah selesai aku akan menghajar pria ini habis-habisan dan mengganti rambutnya yang aneh dengan buntut keledai.

***

“Tunggu apa lagi cepat habisi Yasuo sekarang juga!!!”

Tiga monster yang masih tersisa mulai maju ke arah Yasuo. Satu monster langsung loncat dan ingin menyerang Yasuo dari arah kanan, yang satunya lagi bergerak maju untuk menyerang Yasuo dari arah depan, dan untuk yang terakhir dia berlari ke arah kiri untuk menghabisi tubuhku yang sedang sekarat.

Ini semua adalah waktu yang sangat tidak pas, bagaimana mungkin aku bisa melawan mereka dengan kondisi yang seperti ini? apa yang bisa dilakukan pria bodoh dengan rambut keledainya, ditambah dengan kesatria Noxus yang gagah tapi sedang sekarat, ya aku sangat tidak yakin dengan si buntut keledai ini.

Aku benar-benar tidak bisa menaruh kepercayaan kepadanya, dan nama yang cocok baginya sekarang adalah buntut keledai dari pada dengan nama si rambut panjang! Karena aku pikir rambutnya itu malah mirip dengan buntut keledai.

Yasuo langsung mengeluarkan pedang dari serangkahnya pedang itu terlihat sangat tajam, begitu mengkilau seperti tempaan dari berlian dan diukir begitu indah dengan balutan logam yang mengkilap, entah, aku tidak tahu namanya apa.

edf1aea3fa96b8bba31ca8cda7b42f8d

“Aseerryooo!”

Kurang lebih seperti itulah teriakan dari si buntut keledai yang aku dengar, entah seperti apa penyebutan-nya karena bahasa apa yang dia teriakan aku tidak mengerti bahasanya itu, ya mungkin itu bahasa dari suku Ionia.

Tapi yang jelas dengan tekniknya itu, dia mampu menghempaskan monster di sebelah kanannya jauh melayang ke udara, beberapa duri tajam langsung mengarah dari depan Yasuo.

“Wind wall!”

Satu gulungan angin’pun muncul dan menahan semua serangan dari hadapannya.

Dengan cepat dia langsung bergerak maju dan menghunuskan pedang ke dada monster tersebut, dua monster atau iblis, entah apalah namanya langsung dia habisi seketika.

5f8926d9656c16fe51554c6d8749790f

Dia kembali bergerak ke arahku, memegang pundak dan menarik tubuhku ke belakang tubuhnya layaknya seperti seorang pahlawan yang ingin melindungi gadis cantik seperti ku, entahlah mungkin dia hanya ingin mencari perhatian dariku.

Satu ayunan pedang yang indah dengan teknik yang luar biasa berhasil membelah tubuh monster yang ingin menyerang ku tadi, akhirnya ketiga monster itupun tewas dengan beberapa detik saja. Aku sangat terkejut melihat kemampuan nya ini, sepertinya aku telah salah menilai dia jelas sekali sepertinya si buntut keledai ini bukan orang sembarangan.

Yasuo-by-Valkhar-League-of-Legends-Artwork-Wallpaper-lol

“Apakah ada lagi? Tampaknya dengan mata tertutup dan satu ranting kayupun aku bisa membunuh peliharaan mu ini,” kata-katanya yang begitu sombong sambil menaruh pedang di pundaknya.

“Ayolah cepat mana lagi, waktu ku sekarang begitu sibuk, kali ini aku hanya akan melawan peliharaanmu itu hanya dengan tusuk gigi saja hahaha!!!”

Ternyata mulut dari si buntut keledai ini sangat besar juga, aku kira cuma akulah yang sombong takhabis pikir dia benar-benar lebih sombong dariku, dia menganggap semua ini hanya sedang main-main saja.

“Tertawalah selagi kau bisa Yasuo!”

Si jubah hitam itupun langsung turun dari kudanya dan mengeluarkan sihir, kabut hitam keluar dari jubah dan menutupi semua tubuhnya. Para monsternya itu pun tiba-tiba lenyap terhisap, dia seperti dewa kematian yang mengambil jiwa-jiwa mahluk hidup. Angin mulai bergemuruh langit mulai gelap seperti pertanda badai akan datang dan aku sangat yakin angin ini bukan Yasuo yang menciptakannya.

Si jubah hitam itupun melayang di udara dan membangkitkan mahluk-mahluk aneh dari dalam tanah, satu persatu mereka bermunculan ada sepuluh, tidak nampaknya tiga puluh atau mungkin ratusan, entah aku tidak dapat menghitungnya karena jumlahnya makin banyak. Para mahluk menyeramkan itu langsung mengelilingi kami berdua, mereka langsung menatap kami dengan tatapan yang begitu aneh, seperti beranggapan bahwa kami adalah daging segar yang siap untuk dilahap olehnya.

“Apa yang harus kita lakukan, mereka makin bertambah banyak saja, kita tidak mungkin bisa melawannya dengan jumlah mereka yang terus bertambah?” jawabku dengan sedikit resah dan gelisah.

Yasuo mulai melepaskan sebuah tali yang terikat di pinggang nya dan memberikan kepadaku, “Punggung ke punggung!”

“Apa maksudmu dengan punggung?” Jawabku yang tidak mengerti apa maksudnya.

“Aku tau kau tidak akan mampu untuk melawannya, dan jumlah mereka bisa sangat merepotkan kita berdua, jadi jalan satu-satunya adalah kita harus saling berhadap terbalik agar tidak ada yang menyerang kita dari belakang!”

Kemudian dia mengikatkan tali kepada punggungnya dan juga punggungku, kami berdua membentuk sebuah formasi untuk bertarung dengan saling membelakangi. Kakiku sedikit terangkat dari tanah dan tidak bisa menapak dengan benar, ini semua karena tubuh si buntut keledai lebih tinggi dariku.

“Bersiap!”

Dia mulai menyiapkan kuda-kudanya memegang pedang dengan begitu erat, tatapannya sangat tajam bagaikan rajawali yang siap menyerang ribuan kelinci.

“Ini semua untuk Yanna,” jawabku yang sedikit pelan kepadanya

“Ya ini semua untuk Yanna…”

***

“Bunuh mereka berdua!”

Serentak ratusan mahluk aneh itupun langsung menyerang kami.

“Ikuti gerakan ku!”

Satu hentakan dari kaki Yasuo membuat kami terbang melayang ke udara kami memutar dan mendarat dengan hantaman keras dari pedangku ke tanah, aku berhasil menyerang sebagian dari mereka.

Yasuo kembali bergerak dengan cepat memainkan pedangnya dengan begitu indah, satu, dua, enam, entah berapa jumlahnya dia mampu menumbangkan mahluk itu dengan hitungan tiga nafas saja. Ada beberapa anak panah datang menuju ke arahku tapi Yasuo langsung berbalik dan menghalau semua serangan itu.

Ada dua dari mereka langsung menyerang dari hadapan kami secara bersama-sama, Yasuo sedikit membungkuk dan benar-benar mengangkat tubuhku agar kedua kakiku tidak menapak ke tanah. Kemudian kedua kaki Yasuo memutar dengan sangat cepat teknik ini mampu membuat tubuh kami berputar seketika, putaran yang menciptakan sebuah angin untuk melindungi kami berdua.

Aku sangat terkagum-kagum dengan kemampuan yang dia miliki, secara tidak langsung semua perlawanan kami sebenarnya dilakukan oleh si buntut keledai, mulai dari gerakannya seni memainkan pedang yang luar biasa dan beberapa teknik untuk menciptakan angin, itu semua adalah benar-benar teknik yang tidak biasa dan pasti butuh waktu yang panjang untuk mempelajarinya.

Ada kampak yang mengarah dari atas Yasuo untuk membelah tubuhnya kemudian Yasuo menangkis dan menahan serangan tersebut dengan pedang yang dia miliki, sementara di sisi lain ada satu cakar yang siap mencengkram tubuhku.

Lagi-lagi dia berbalik.

Satu cakar berhasil melukai kepala Yasuo, nampaknya pria ini benar-benar sangat bodoh sudah beberapa kali dia terus melindungiku.

“Apa kau ini bodoh, mengapa kau terus mengorbankan dirimu sendiri?”

Seolah dia tidak peduli dengan luka yang menghiasi wajahnya dan juga dengan perkataanku tadi, Yasuo melangkah masuk dan menghujumkan pedangnya ke arah dada mahluk iblis tersebut, lalu dia menarik pedangnya kemudian berbalik. Kali ini pedangnya ditancapkan ke rahang makhluk lainnya. Dia melompat dan memusatkan seluruh kekuatannya dalam satu tusukan. Musuhnya mulai berjatuhan.

Tapi mereka semua bagaikan mahluk dalam dongeng yang tidak pernah bisa mati, satu terbunuh satu lagi kembali hidup, semua pertarungan ini nampaknya akan sia-sia saja karena jumlah mereka tidak pernah berkurang malahan terus bertambah, satu kejadian yang sangat sulit untuk dicerna dalam naluri akal manusia biasa. Mereka benar-benar iblis yang sangat mengerikan.

Aku sendiri tidak bisa membayangkan akan seperti apa pertarungan selanjutnya dan kapan ini semua akan berakhir.

“Ini semua akan sia-sia saja, mereka mati tapi sebagian dari mereka lagi kembali hidup!”

“Iya benar nampaknya kita harus melarikan diri untuk saat ini,” kata-kata dari Yasuo yang nampaknya mulai menyadari keanehan mahluk tersebut.

“Baiklah sekarang apa kau bisa melindungi ku dari belakang? kita harus mencari jalan keluar untuk meninggalkan tempat ini dan membuat rencana baru!”

“Ya, setidaknya aku masih punya sedikit tenaga untuk mengangkat pedangku,” kata-kata dariku yang seolah aku masih kuat.

Yasuo mulai mengumpulkan tenaganya menjadi satu dan menghentakan semuanya ketanah, satu lesatan yang begitu cepat membuat kami terdorong oleh angin yang begitu kuat. Kami berdua terbang seperti rajawali yang meninggalkan ribuan kelinci di daratan.

Tapi usaha dari para iblis untuk membunuh kami berdua belumlah padam. Mereka semua terus mengejar kami sampai memasuki celah tetebingan yang curam, namun Yasuo terus meloncati bebatuan tersebut sambil membawa tubuhku yang masih terikat di atas punggungnya.

Di saat Yasuo terus berlari dengan dorongan angin, sementara itu aku terus menghalau semua serangan dari belakang yang mengarah ke arah kami berdua. Sesampainya kami berdua di bawah tebing dengan bebatuan yang sangat besar kemudian Yasuo berhenti.

“Inilah saatnya!”

Yasuo yang kini mulai membalikan badannya ke arah semua iblis yang sedang mengejar kami, kemudian dia melepaskan ikatan dari tubuh kami berdua.

Dia kembali memasang kuda-kudanya mengumpulkan semua energi dan kekuatannya dan langsung mengeluarkan pedang dari selumbung serangkah pedangnya.

“Haaasssaaaaggiiiiii!!”

Teriakan yang pertama aku dengar saat sekarat kini kembali terdengar lagi dari diri Yasuo.

Seketika pedang tersebut mampu menciptakan angin yang begitu besar bagaikan sebuah topan dari Ionia, atau mungkin seperti angin barat dari Mount Targon dan bahkan mirip seperti badai besar dari Freljord. Walaupun aku belum pernah melihat sebelumnya tapi aku yakin badai tersebut hampir sama dengan angin yang Yasuo buat ini.

Angin itu bergemuruh sangat kencang menghancurkan dan meratakan semua yang ada di hadapannya, dan kedua rahang tebing ini mulai bergemetar meruntuhkan semua bebatuan besar dan menutup jalan dalam tebing tersebut.

Ini adalah sebuah kekuatan yang benar-benar begitu kuat dan inilah pertama kalinya aku melihat kekuatan tersebut. Dan kini banyak sekali pertanyaan yang masuk dalam pikiranku.

Siapa sebenarnya dia?

Lalu mengapa banyak orang yang mengincar nyawanya? Aku benar-benar tidak percaya ternyata Ionia yang pernah aku jajah dulu memiliki pendekar yang luar biasa. Lalu kemana orang ini saat Noxus menghancurkan tempat tinggalnya?

***

Yasuo memasukan pedang ke dalam serangkahnya dan membalikkan satengah mukanya sambil berkata.

fanart_yasuo_by_orekigenya-da0154g

“Satu demi satu, mereka menemukanku. namun mereka tidak mampu membelah angin, ratusan bahkan ribuan dari mereka terus mengejarku, namun kecepatannya tidak mampu menyusul angin.”

“Angin begitu tenang namun dapat menghancurkan segalanya, kekuatanku begitu besar sehingga mereka terus memburuku sampai saat ini, angin pulalah yang membawaku kepada tuduhan palsu.”

“Dan inilah tujuan hidupku dimana ingin mencari seseorang dengan teknik angin legendaris yang sama sepertiku!”

To bee continued ……


Baca episode 6 nya disini. “Dongeng Kecil di Malam Hari”

When you win, say nothing. When you lose, say less!

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply


comments