Cerita Dunia League of Legends versi Hasagi Eps.06

Cerita Dunia League of Legends versi Hasagi Eps.06
sad

Dongeng Kecil di Malam Hari


Langit sudah mulai gelap, cahaya matahari yang begitu menyengat kini berubah menjadi pemandangan yang begitu indah, waktu senja di hamparan padang pasir. Langkahnya sangat bersemangat seraya dia selalu terus menghirup udara sore hari, bagaikan sebuah aroma roti bakar dengan isi daging burung jukey. Itu adalah sebuah makanan yang begitu lezat.

Satu hirupan nafas yang masuk ke hidung dan mengalir menuju paru-paru, bagaikan sebuah memori yang dia rindukan sejak dulu.

34691c8abecc310e5baebfb95ed7a543fa8a70db_hq

Suara gemuruh badai dan juga bebatuan runtuh di sekitaran tebing. Sejenak memberhentikan langkahnya, “Seperti badai, dan terdengar seperti reruntuhan sebuah batu besar? Hmm, aku jadi rindu dengan paman.”

Anak itu pun melanjutkan langkahnya yang sedang berjalan dengan rombongan dan karavan menuju kota Zuretta.

share-1024x1024

Namun lagi-lagi suara gemuruh dari tebing yang dia lewati tadi kembali terdengar, “Sebenarnya suara apa itu? Mengapa aku jadi teringat sewaktu reruntuhan gunung yang pernah menimpa paman?” Di dalam hatinya dia berkata lagi, “Ya aku harap ada batu besar yang menimpa paman Yasuo, karena aku sangat sebal dengan ocehannya!” Dia pun kembali berjalan sambil tersenyum dengan pikiran imajinasi yang menurut dia sangat lucu.

***

Hari kini semakin gelap dan para rombongan itu mulai membuat tenda dan tempat per-istirahatan, Taliyah menggelar tikar dan terbaring dengan tatapan menuju ke langit yang dipenuhi cahaya gemerlap bintang, cahaya bulan purnama pun begitu terang pada malam itu.

“Tuhan sedang marah, dia mengguncang bumi, dan membelah tanah.” Kata Khaldun tua yang berteriak, wajahnya disinari cahaya bulan juga api unggun.

Semua gerombolan anak yang ditemani orang tuanya mulai mendekat ke arah Khaldun, semua itu juga mulai memancing rasa penasaran Taliyah untuk ikut bergabung dengan yang lainnya.

“Hal tersebut menjadi sebuah celah untuk seorang pemuda yang melarikan diri. Ia menemukan sebuah pintu, pintu masuk ke dalam makam kuno yang belum dijadikan sarang serigala waktu itu. Pria ini memiliki satu istri dan juga anak untuk diberi makan, dan dia melihat sebuah kesempatan.”

Suara Khaldun yang menggema di malam hari menandakan bahwa dia adalah penyair dan pendongeng hebat.

Orang dewasa dan anak kecil suka sekali mendengarkan cerita orang tua ini. Mereka semua kelelahan setelah perjalanan yang mereka tempuh hari itu, dan matahari di langit Shurima juga telah mulai terbenam. Cerita dari Khaldun memang selalu ditunggu. Mereka semua berselimutkan kain siap untuk mendengarkan ceritanya.

jason-chan-taliyah-enviro

“Waktu itu dingin sekali udara di makam sana, padahal di luar sangatlah panas. Seorang pria menggenggam sebuah obor. Cahayanya masih kurang besar untuk kegelapan yang menyelimutinya. Dia melangkah dengan hati-hati, takut ada sebuah jebakan yang mungkin dia injak. Mungkin dia miskin, tapi dia tidak bodoh untuk menyadari hal tersebut.”

Seolah-olah dia menggambarkan tempat yang begitu menyeramkan lewat dongengnya.

“Dinding di dalamnya begitu halus berpahatkan tulisan serta gambar kuno. Dia tidak bisa membacanya, seperti kebanyakan orang, tapi dia setidaknya pernah tahu ini apa.”

akhks

“Dari gambar itu, dia melihat seorang pangeran, duduk dikerumuni oleh pelayannya, dia tersenyum. Mengenakan sebuah baju koin emas, menandakan bahwa dia adalah seseorang yang penting di sana.”

“Dia melihat pahatan lainnya, ada lagi senyuman pangeran tadi, kali ini dia terlihat sedang berjalan di antara orang-orangnya. Kepala mereka semua tertunduk padanya.”


“Di sebelah dinding tersebut, dia melihat sebuah patung emas kecil. Diambilnya patung tadi ke dalam tas kecilnya.”

“Dia berpikir untuk pergi. Dia sadar bahwa tidak akan lama lagi orang-orang akan segera menghampirinya. Dan bahkan jika dia ditemukan berada di sana, dia mungkin akan mati.”

Keserakahan adalah hal yang sangat buruk dan awal dari kehancuran, dia tahu bahwa patung ini memiliki banyak peminatnya. Dia sadar diri dan berniat untuk pergi. Mungkin harta karun yang lebih berharga ada di dalam sana, dia tidak akan memaksa lebih jauh lagi. Biarkan orang lain saja yang mengambilnya.

amumu

***

“Dia masih penasaran dan melihat gambar ukiran dinding sebelum dia berniat pergi. Gambar itu menunjukkan pangeran tersebut mati, terbaring di tempat jenazah. Orang-orang di sekitarnya meratap sedih… Tapi di sisi lain orang-orang juga tersenyum di belakangnya. Apakah anak ini disenangi oleh semua orang? Atau justru dibenci? Tidak ada yang tahu jawabannya.”

“Itulah saat di mana dia mendengar: sebuah suara di tengah kegelapan yang seolah menyayat kulitnya.”

“Dia melihat sekitar, matanya dibuka lebar-lebar, obor api masih digenggamnya. Tidak ada apapun yang terlihat.”

“Siapa di sana?” katanya. Kesunyian tak menjawab apapun.

“Anak ini lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. ‘Mungkin ini hanya angin, bodoh sekali aku ini,’ pikirnya. ‘Hanya angin.’

“Kemudian dia mendengarnya lagi, kali ini lebih jelas. Suara tangisan anak dari kegelapan di dalam sana.

“Mendengar suara itu membuatnya ingin mendatangi asalnya. Tapi di sini semuanya gelap, dan ini adalah sebuah pemakaman.

“Dia ingin lari… tapi tidak. Tapi kesedihan ini terlalu kuat dan berhasil mencapai hati dan pikiran terdalamnya.”

“Apakah mungkin ada pintu masuk lainnya di sini? Apa mungkin ada anak kecil yang masuk tersesat di sini?”

“Diangkatnya tinggi-tinggi obor di tangannya, lalu dia maju. Suara itu masih berlanjut, semakin memancarkan kesedihan.”

“Sebuah gerbang besar terbuka di depannya, lantainya hitam dan memantulkan cahaya. Artifak emas ditemukan di mana-mana di sana. Dengan ragu dia mulai memasuki ruangan tersebut.”

“Dia melangkah mundur ketika dia merasa kakinya yang telanjang menginjak genangan air. Bukan lantai ini yang memantulkan cahaya, tapi airnya.”

“Berlutut, lalu dirasanya air apa yang dia injak. Kemudian dia ludahkan dengan cepat. Bwek, air laut. Tapi mana mungkin di Shurima ada laut!”

“Suara tangisan itu semakin terdengar, dan semakin dekat.”

“Masih menggenggam obor, anak ini mulai melihat sesosok anak kecil duduk di belakang sesuatu yang terlihat seperti lelaki dewasa.”

“Dengan hati-hati dia mendekat. Genangan air itu tidak dalam. Bulu kuduknya merinding, dadanya dipenuhi oleh rasa takut, tapi dia terus melangkah.”

“‘Apakah kau tersesat?’ tanyanya, seiring dengan langkahnya mendekat. Bagaimana kau bisa berada di dalam sini?”

“Sosok di balik kegelapan itu tidak membalikkan badannya… tapi kemudian dia berbicara.”

“‘Aku… Aku tidak ingat,” katanya. Suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan. Anak itu bicara dengan logat bahasa kuno. Kata-katanya juga terdengar aneh… tapi masih bisa dimengerti. Aku tidak ingat aku ini siapa.”

“‘Tenang saja, katanya. Semua akan baik-baik saja.”

“Dia kemudian melangkah lebih dekat lagi, dan akhirnya dia melihat sosok yang ada di depannya. Matanya terbelalak pertanda terkejut.”

“Sosok yang dia lihat adalah sebuah bentuk nyata patung emas yang dia temukan tadi. Suara itu datang dari sana, tidak menyerupai seperti anak yang sedang menangis.”

“Kemudian sebuah tangan datang menangkapnya.”

Anak-anak semakin senang mendengarkan cerita ini, mata mereka tidak berkedip. Anak lainnya malah tertawa cekikikan. Khaldun tua hanya tersenyum, gigi emas terlihat dari balik senyumannya tersebut dipantulkan oleh cahaya api, sementara Taliyah cukup merasa aneh dan mungkin sedikit penasaran dengan cerita tersebut. Kemudian Khaldun melanjutkan ceritanya.

“Anak itu kemudian melihat ke bawah. Sebuah sosok mayat anak kecil yang diselimuti kain menyerupai mumi berdiri disampingnya. Wajahnya keriput menyisakan mata yang sedang berlinang air mata. Mayat anak kecil itu menggenggam tangannya.”

“‘Apakah kau mau menjadi temanku?’ tanya mumi itu, suaranya serak dari isakan tangisnya.”

“Pemuda tadi langsung mundur, menarik tangannya untuk menjauh. Dia melihat ke bawah ke arah tangannya yang perlahan menjadi berwarna hitam dan kaku. Perlahan tangannya mulai digerogoti oleh gejala tersebut.”

“Dia berbalik dan berlari cepat. Dia lari terbirit-birit, tak peduli dia meninggalkan sumber cahaya satu-satunya yang dia punya di tengah kegelapan itu. Yang dia cari adalah cahaya di luar pintu tempat dari mana dia masuk. Tangannya sudah mati rasa, dan jangan sampai dia kehilangan nyawanya juga.”

“Pada saat itu, dia merasa bahwa mumi kecil itu tidak mau pergi darinya. Hingga akhirnya usaha sekuat tenaganya menemukan hasil setelah dia kembali melihat cahaya matahari dan tanah di padang pasir.”

“‘Maaf, kata suara menggema yang dari arah belakang di tempat yang baru saja di kunjungi. Aku tidak bermaksud melakukannya.”

“Setelah itu, the Tomb of Amumu menjadi tempat yang sangat mengerikan, kata Khaldun, dan sang anak dari kematian telah dibangkitkan lagi ke dunia ini.”

“Tapi semua orang tahu bahwa dia tidak ada! Isak seorang anak kecil di tengah kesunyian.”

“Amumu itu nyata, kata orang yang lebih muda di sana. Dia menjelajah mencoba mencari seorang teman!”

“Dia benar-benar nyata, tapi dia bukan seorang anak kecil, kata yang lainnya. Dia itu Yordle!”

Khaldun tertawa, kemudian dia mencoba berdiri dengan tongkat yang membantunya berjalan.

“Aku sudah tua, dan perjalanan kita besok akan jauh sekali, katanya. Sudah lama sekali aku tertidur.”

Para penonton mulai menghilang, tersenyum dan mulai berbicara pelan, suaranya dikenal, tapi ada satu anak perempuan yang tidak pergi, ya Taliyah tetap di tempat. Dia menatap Khaldun, tanpa kedip.

“Kakek,” kata Taliyah. “Bagaimana kau bisa kehilangan lenganmu?”

Khaldun tua melihat ke bahwa ke sebuah lengan baju kosong di bawa pundaknya, lalu tersenyum.

“Selamat malam, nak!” Jawabnya sambil tersenyum.

 

To be Continued ……


Suku Freljord saling bertempur satu sama lain demi sebuah kekuasaan yang mutlak. Satu kekalahan kecil Noxus terhadap Demacia membuat Darius semakin berhasrat untuk menjatuhkan Demacia. Pengejaran yang terjadi terhadap Yasuo dan Riven masih terus berlanjut dan satu sosok jubah hitam masih jadi tanda tanya besar, siapakah dia sebenarnya?

Tapi satu lagi cerita dari Runeterra yang tidak bisa dilupakan, Shurima kini telah bangkit dan legenda para Ascension kini mulai bermunculan! Sosok yang terkurung dalam penjara Tomb of the Emperors telah lepas, apakah ini hanya dongeng? Atau hanya cerita fiksi yang penuh dengan tahayul?

Tapi yang pasti pertumpahan darah akan menghiasi semua penjuru Valaron.

Dan satu lagi, jangan lupakan iblis pengacau dari Zaun ini. Karena kabarnya dia telah menghancurkan setengah kota dari Piltover!

Jinx-League-Of-Legends-Fan-Art-24

Baca episode selanjutnya: Roh the Emperor of the Sands

Saya adalah presiden dari World Economic Journal dan merupakan salah satu penguasa dunia bawah, dan sering mengisi waktu luang dengan bermain League of Legends. Panggil saya "Big News" Morgans!

 

Leave a Reply