Aatrox Rework Adalah Bukti Bahwa Komunitas Terlalu Banyak Mengeluh

Aatrox Rework Adalah Bukti Bahwa Komunitas Terlalu Banyak Mengeluh
Aatrox_OriginalSkinHeader

“Aatrox habis dirework jadi jelek banget.”

“Balikin Aatrox woy”

“Aatrox rework gagal”

“Aatrox rework ampas, unplayable”

Kalimat-kalimat di atas terlontar saat Aatrox rework dirilis bersamaan dengan patch 8.13 lalu. Banyak yang menganggap bahwa rework Aatrox gagal dikarenakan Aatrox menjadi Champion yang “berbeda” dibandingkan dengan pre-rework. Aatrox yang baru dirasa kaku, kit barunya dianggap sampah, dan Lore Aatrox yang baru dianggap tidak sekeren yang lama.

Pernyataan tersebut ikut diperkuat dengan Winratenya yang sangat rendah. Beberapa hari setelah dirilis, Winrate Aatrox berada di angka 45%. Hal tersebut membuat Aatrox menjadi salah satu champion dengan Winrate terendah, baik di role Top maupun Jungle. Keadaan ini memaksa Riot untuk memberikan hotfix yang berupa Buff untuk Aatrox.

Rift Rivals 2018 menjadi ajang kompetitif internasional pertama yang menggunakan Patch 8.13. Sudah pasti, banyak yang beranggapan bahwa Aatrox tidak akan muncul karena kondisinya yang “dianggap” lemah. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Aatrox terbilang sukses di Rift Rivals.



Tak hanya memiliki Winrate yang tinggi, Aatrox selalu tampil impresif dan menjadi kunci kemenangan bagi tim yang menggunakannya. Pemain seperti Wunder, Zz1tai, TheShy, Bwipo mampu memaksimalkan Aatrox rework dengan sangat baik.

Dari sini terlihat kalau komunitas cenderung untuk mengeluh terlebih dahulu sebelum mempelajari Aatrox lebih dalam. Aatrox rework hadir dengan playstyle dan mekanik baru yang harus dikuasai untuk memaksimalkannya. Untuk mempelajari dan memahami semua itu membutuhkan waktu yang pastinya tidak singkat.



Kasus ini tidak hanya berlaku untuk Aatrox saja, namun juga untuk semua rilisan Champion baru maupun Champion Rework yang sebelumnya telah dirilis oleh Riot.

Kita ambil Pyke sebagai contoh. Pada saat awal perilisan, Pyke dianggap lemah dan tidak cukup bagus untuk dimainkan sebagai Support sehingga banyak yang memainkannya sebagai Jungler (ironisnya, sama-sama gagal). Namun seiring berjalannya waktu dan meta yang berubah, Pyke mendadak menjadi populer dan sering sekali terlihat, baik di Solo Queue maupun pertandingan kompetitif.

Sebelum mengeluh pada setiap rilisan Champion baru atau rework, ada baiknya kita memberi waktu terlebih dahulu sebelum menghakimi apakah rilisan tersebut baik atau buruk. Ingat, mempelajari dan menguasai seorang Champion membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama.

Laurent Vic

Writer, Gamer, Mechanical Keyboard Enthusiast, Dank Memer, Noob Yu-Gi-Oh! Duelist (Red Archfiend User). My articles does not reflect my personal opinion.

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply