Begini Rumitnya Menentukan Nama-nama Champion Baru di League of Legends

Begini Rumitnya Menentukan Nama-nama Champion Baru di League of Legends
Zoe_1

Ketika membuat sebuah champion baru, tentu terdapat beberapa faktor yang harus dipikirkan oleh Riot. Tak hanya tentang desain dan juga ability, namun Lore dan penamaan mereka menjadi hal yang sangat penting. Mereka harus merundingkan ini dalam waktu yang cukup lama sebelum dikemas menjadi satu kesatuan.

Pemilihan nama champion membutuhkan sebuah penelitian. Para staf Riot biasanya akan membaca beragam buku mitologi, pelafalan huruf alfabet, dan masih banyak lagi. Mereka ingin nama yang digunakan bisa merepresentasikan karakteristik champion yang akan dikeluarkan nanti.

Berikut ini adalah beberapa nama pilihan yang digunakan staf Riot sebelum memutuskan untuk memilih nama champion yang ada di Summoner’s Rift saat ini.

Camille


camillewallpaper-logo

Penamaan Camille ini menimbulkan kesan eksentrik aristokrat, dan merepresentasikan nama wanita terhormat Piltover. Tak hanya menarik, nama tersebut juga terdengar sangat cantik, agak feminim, dan dapat disingkat jika terlalu panjang. Sebelumnya, Camille memiliki beberapa nama alternatif lain, seperti Ariadne, Evangeline/Emmaline, dan Beatrice/Beatrix.

Untuk nama Ariadne, mereka tak jadi memilihnya karena disebut terlalu mirip dengan penyebutan nama Ahri. Sedangkan Evangeline/Emmaline dinilai menyerupai nama Evelynn. Dan yang terakhir adalah Beatrice/Beatrix yang dinilai terlalu mirip dengan nama burung milik Swain.

Taliyah


taliyah

Nama Taliyah terkesan feminim dan mengesankan seseorang yang datang dari suku Nomaden dan kebudayaan gurun. Sebelumnya Taliyah memiliki 3 nama alternatif lain, yaitu Miah, Tahra, dan Taalea.

Mengapa akhirnya menjadi Taliyah? Untuk nama Miah, para staf mendengarnya terlalu aneh dan kurang puas akan hal itu. Tahra terdengar seperti kata ‘fetish’ dalam bahasa Portugis Brasil. Sedangkan Taalea, diubah pengejaannya menjadi ‘Taliyah’, karena Taalea merupakan merek minuman air botolan di Rusia.

Xayah


champion-xayahrakan-splash

Elegan, eksotis, dan sederhana. Itulah yang kita dapatkan ketika mendengar nama Xayah di League of Legends. Nama ini mengambil sedikit elemen Ionia dan membuatnya menjadi pas digabungkan dengan karakteristiknya. Sama seperti yang sebelumnya, Xayah mendapatkan 3 alternatif nama, yaitu Olalla, Zaia, dan Elascu.

Para staf tak ingin memilih Olalla karena menyerupai kata “Oh la la”, dalam bahasa Prancis untuk mengekspresikan rasa terkejut dan kecewa. Zaia tak jadi digunakan karena menyerupai nama Zyra di beberapa region. Sedangkan Elascu memiliki arti ‘Bokong’ dalam bahasa Portugis Brasil.

Zoe


Zoe_OriginalSkin

Mudah diucapkan, menyenangkan, terdengar seperti nama gadis kecil, khas Targon, sesuai dengan Lore dan karakteristik Zoe. Karena itulah mereka memilih nama ini sebagai champion terakhir yang dirilis pada Season 2017. Zoe juga memiliki 3 nama alternatif lain, seperti Niko, Sofi, dan Safi.

Niko merupakan nama yang cukup umum di beberapa region. Sofi tak jadi dipilih karena terdengar seperti kata ‘Sapi’ dalam bahasa Indonesia, dan juga merupakan merek handuk di Thailand. Safi terdengar seperti kata Turki yang berarti ‘Naif’ dan tak cocok dengan karakteristiknya.

==

Beberapa penamaan yang tak jadi digunakan karena terkendala bahasa Portugis Brasil adalah karena Riot harus memikirkan nama yang pas agar tak memiliki makna yang aneh. Terlebih, mereka mengeluarkan champion-champion ini di seluruh Region, termasuk Brasil (CBLOL).

Kalian bisa melihat daftar lengkapnya di sini.

Toxix Player

Ez GG!

Leave a Reply