Kenapa Faker Itu Jago Banget?

Kenapa Faker Itu Jago Banget?
faker

Seharusnya hampir semua dari kalian yang membaca artikel ini sudah tahu tentang Faker. The Unkillable Demon God, Michael Jordan-nya Esports, Lionel Messi-nya Esports, atau apapun julukannya.

Ya, salah satu faktor utama dominasi SK Telecom T1 di kancah internasional adalah kehadiran Faker di lane tengah. Sejak kehadirannya di Season 3, Faker sudah menjadi bahan perbincangan dari berbagai kalangan berkat permainannya yang memukau. Selama 3 tahun karirnya di LOL, statusnya beranjak dari ‘bintang solo queue’ menjadi ‘pemain terbaik di dunia’.

Dengan statusnya sebagai pemegang juara dunia 2 kali dan mungkin bertambah menjadi 3, kita semua setuju kalau Faker itu jago banget. Tapi, kenapa sih seorang Faker bisa dibilang sebagai ‘jago banget’? Apa yang sebenarnya menjadi alasan sehingga Faker menjadi pemain yang sulit untuk dihadapi satu lawan satu di mid?

Berikut adalah beberapa alasan yang membuat Faker menjadi seorang midlaner yang sangat kuat.


1. Dia punya champion pool yang banyak

 

Selama Worlds 2016, sampai saat ini Faker telah memainkan 8 champion yang berbeda di 16 game yang telah dijalani SKT: Viktor, Orianna, Syndra, Cassiopeia, Varus, Lissandra, Zilean dan Malzahar. Itu 1 champion lebih banyak dari midlaner ROX Tigers, KurO (7 champion dari 16 game) dan Crown (5 champion dari 12 game). Itupun masih belum menghitung Ryze yang selalu di-ban oleh tim-tim yang melawan SKT.

Faker juga dikenal suka memainkan champion yang sedang tidak meta di midlane. Di Worlds tahun lalu, ia memainkan Olaf di mid ketika melawan Bangkok Titans, dan tidak punya masalah yang berarti melawan Irelia.

Rahasia dari semua ini adalah latihan ekstra keras untuk menguasai berbagai macam champion yang ada di League, mengerti tentang mekanik yang unik dari tiap champion dan bagaimana memanfaatkan kelebihan dan kekurangan champion itu.


2. Kombinasi antara bakat dan latihan keras

 

Ratusan atau mungkin bahkan ribuan game yang sulit telah dilalui oleh Faker baik di solo queue maupun di kompetisi resmi. Dengan jam latihan intensif serta selalu serius untuk menang, seorang Faker sudah paham betul tentang berbagai macam kondisi dan situasi di dalam sebuah permainan League of Legends – apa yang harus ia lakukan pada situasi tertentu, atau bahkan ke hal-hal ‘sepele’ seperti memprediksi arah skillshot lawan atau menghafalkan cooldown ability lawan.

Beberapa orang mungkin menganggap permainan Faker adalah manifestasi dari insting, bakat alami yang tidak dapat diperoleh semua orang yang terlahir di dunia. Faker sendiri mengatakan saat diwawancara oleh PCGamesN tahun lalu, “Saya tidak berpikir, saya hanya bergerak. Itu hampir seperti insting seekor binatang, saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan.” Dia tau kapan harus menyerang dan kapan harus tidak menyerang, kapan ia dibutuhkan dalam fight dan kapan ia punya kesempatan untuk mengeluarkan ultimate di waktu dan tempat yang tepat.

Ada yang bilang, bakat tanpa kerja keras itu hasilnya tetap nol. Faker di sisi lain, adalah gabungan antara bakat dan kerja keras.


3. Dia membuat jungle lawan terfokus kepada pergerakannya

 

Karena Faker hampir pasti selalu menang di midlane satu lawan satu, maka secara tidak langsung itu membuat jungler tim lawan harus menyisihkan perhatiannya ke lane tengah demi membantu midlanernya.

Tidak jarang, sejak awal jungler musuh sudah mengincar Faker untuk membuat midlaner mereka lebih unggul. Tidak jarang juga, taktik itu tidak berhasil. Bahkan ketika mid dan jungle musuh dibantu toplaner juga.

Dengan jungle lawan yang lebih fokus ke mid untuk mengincar Faker, maka pekerjaan Bengi atau Blank akan lebih leluasa. Mereka bisa menunggu di mid untuk melakukan countergank, atau bergerak ke atas dan bawah untuk membantu salah satu dari kedua lane tersebut.


4. Dia bisa menang lawan scripter

 

What? Yup.

Buat yang enggak tau scripter itu apa, scripter pada dasarnya adalah cheater: pengguna aplikasi / tool untuk memberikan keuntungan tertentu ke pemakainya. Di League, scripter akan otomatis menghindari skillshot ability kita, memprediksi gerakan kita, atau mengeluarkan kombo ability champion tertentu (Ryze, Cassiopeia, Xerath) tanpa jeda dengan akurat.

Faker pernah melawan seorang scripter, dan menang. Pada dasarnya karena scripter menggunakan logika yang sama setiap waktunya, Faker hanya perlu membaca bagaimana sang scripter bergerak, kapan dan ke arah mana ia mengeluarkan abilitynya, dan menyerang balik dengan memanfaatkan informasi tersebut.

Otak manusia bisa menerima dan memproses informasi dari mata ke otak ke tangan dalam waktu sepersekian detik saja. Dan itulah alasan mengapa Faker bisa menang lawan scripter – “he’s too f***ing good.”


5. Dia tidak jumawa dan tetap rendah hati

 

30481423995_dd2de82dc2_z

Berkali-kali Faker diwawancarai oleh para wartawan Esports dan non-Esports, dan jawaban yang ia lontarkan jauh dari kata sombong. Bahkan ia pun mengaku juga tetap merasa gugup walaupun sudah memiliki pengalaman sebagai pemain profesional. “Saya rasa saya punya kecenderungan untuk gugup ketika saya tidak boleh (gugup) dan malah tidak gugup ketika saya seharusnya (gugup),” ujarnya ketika diwawancara pada bulan Juli lalu.

Faker juga tidak segan memuji pemain lain yang menunjukkan kualitas yang bagus. Bjergsen, misalnya. “Ia pantas mendapatkan julukan ‘Faker Amerika Utara’. Aku tidak merasa tersinggung dengan itu. Ia sungguh berbakat jadi akan sangat menarik untuk bertemu melawannya di turnamen.”


 

Itulah dia. Kombinasi antara bakat alami, latihan ekstra keras serta sifat yang rendah hati membuat Faker menjadi seorang figur utama di League of Legends Esports saat ini. Bisa dibilang, orang-orang yang seperti Faker itu sangat langka, hanya ada satu di setiap generasi.

Sampai saat ini, kita masih belum melihat midlaner yang bisa melebihi kapabilitas Faker, dan kita patut melihat sejauh mana ia akan melanjutkan kekuasaannya.

 

 

fusion jazz - vaporwave - instrumental hiphop

Facebook Twitter 

Leave a Reply