Kisah Fieram dan Orianna yang Menyayat Hati

Kisah Fieram dan Orianna yang Menyayat Hati
lkj

Orianna berjalan menuju sebuah gelanggang perayaan festival, kosong dan masih diwarnai kesunyian. Festival Sir Feisterly’s Fantastical Fair dibuka untuk menyenangkan masyarakat Zaun setiap dua tahun sekali, dan Orianna tidak ingin melewatkan peluang untuk menyaksikan keindahannya. Dia telah menunggu sampai semua orang pergi satu persatu dari sana, sampai suara gelak tawa hingga akordeon sudah tidak lagi terdengar. Yang ada hanya suara halus dari pipa paralon yang menyemprotkan asap pabrik. Sisa-sisa dari perayaan ini masih ada tergeletak di atas tanah, beserta sebuah kertas alas yang biasanya dipakai untuk menyelimuti sebuah kue kering manis.

Bola Orianna melayang di sisinya seraya dia berjalan melewati sebuah toko bunga yang dipenuhi oleh mawar yang indah, simbol hari-hari yang menyenangkan. Dia kemudian berjalan menuju sebuah robot monyet pembawa sepasang simbal, serta keranjang yang penuh dengan apel manis. Tidak ada satupun hal menarik di Zaun ini memancing perhatiannya; mata Orianna hanya fokus pada lemari kaca yang terletak di ujung lapangan.

20121107092034Republic_City_alley

Cahaya bulan terpantul oleh sebuah benda besi. Benda itu adalah sebuah anak lelaki mekanik yang duduk di belakang kaca. Orianna belum pernah melihat sesuatu semacam ini, dan seiring dengan dia mendekat, dia semakin tertarik. Dia menggunakan baju berwarna biru gelap dengan topi sutera. Kulitnya adalah porselen murni yang melapisi mesin gerigi berputar di baliknya, dan matanya bersinar seperti kilauan perak. Orianna mendekat, dan anak itu menyabutnya dengan sebuah senyuman.

“Apakah kau bisa menjaga rahasia?” kata anak itu. Suaranya mengingatkan Orianna akan suara bel yang berbunyi halus.

“Halo” kata Orianna. “Tentu saja.”

“Bagaimana jika kita bertukar sesuatu. Rahasiaku, namamu.”

“Baiklah. Namaku Orianna.”

“Or-ii-AHN-uh” dia mengulangnya. “Suara yang lembut.”

Orianna membuat kulit pipi porselen itu memerah.

“Sepertinya sekarang adalah giliranku. Namaku adalah Fieram. Rahasiaku adalah, aku takut sekali dengan dunia luar, jadi aku takkan pernah bisa melihat pantai dan juga gunung yang ada jauh di sana.”

“Apakah itu alasan mengapa kau tinggal di dalam lemari ini?” tanya Orianna. “Karena kau ketakutan?”

“Dari dalam sini, dunia datang mengunjungiku” kata Fieram. “Dari balik kaca, aku aman. Aku sangat rapuh, kau bisa lihat sendiri.” Dia menunjuk ke arah retakan di lengannya. “Lihat ini. Aku semakin tua.” Mulut Fieram terbuka dengan senyuman miring.

Orianna tertawa dan mengangkat bahunya, sikap yang baru saja dia pelajari baru-baru ini, meski dia tidak yakin kapan harus menggunakannya.

“Oho! Kau belum melihat trikku” kata Fieram. Dia kemudian merogoh saku lengannya dan mengeluarkan sebuah rangkaian bunga Aster dengan penuh gaya.

“Ta-Da!” kejutnya. “Dan…”

Fieram melepaskan topinya dan mengangguk dalam. Gerombolan burung dara mekanik keluar dari pinggiran topi tersebut. Dia kemudian menyambutnya lagi dengan sebuah tepukan tangan dan seluruh lemari kini dipenuhi oleh asap merah. Setelah beberapa saat berlalu, burung-burung tersebut pergi.

Orianna_Fieram_Lore_01

Orianna kemudian bertepuk tangan. Bola di sampingnya juga bergerak riang ke sana kemari.

“Hebat sekali!” katanya. “Seperti sulap.”

“Dan tadi itu bukan yang terbaik dariku. Aku hanya meraba-raba sedikit tanganku” sahutnya, sambil melipat tangannya. “Tapi keajaiban kecil adalah keahlianku. Seperti cara kau datang kemari, ini adalah kota yang hebat! Kau, ada di atas segalanya.”

“Kau berkedip padaku.” kata Orianna. “Kenapa?”

“Kita ini adalah keluarga, kau dan aku. Tapi kau sudah tahu akan banyak hal” kata Fieram. “Itulah mengapa kau di sini, bukan?” Anak itu kemudian menari menggerakkan kakinya. Orianna kagum melihat gerakan halus tersebut.

“Aku belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya” katanya.

“Aku ini sangat unik, bukan? Sama sepertimu” kata Fieram. Dia menunjuk ke Orianna, kemudian berkedip lagi.

Orianna tersenyum. Fieram bersandar pada kaca.

“Senyummu—”

“Buatan mesin?” katanya. “Ya. Dan aku masih belajar beberapa ekspresi lainnya.”

“… indah” potong Fieram.

“Dan sekarang kau akan membuatku memerah.”

Bola Orianna kemudian menyenggolnya dari pundak sebelah kiri.

“Tidak sekarang” katanya pada bolanya. Dia mengangkat sebuah monyet mekanik dari toko tersebut dan memutar tuas kuncinya. Benda itu kemudian berjalan di atas lantai, matanya berwarna merah menyala, memukul simbalnya kemudian melambat lalu diam.

“Kau tidak seperti dia, bukan, Fieram? Semuanya dikendalikan oleh kunci tersebut?” katanya. “kau punya pikiran. Kau punya perasaan.”

“Aku mungkin dianggap seperti mesin biasa, tapi aku punya mimpi, sama seperti yang lain.”

“Aku tahu impianmu adalah meninggalkan tempat ini. Kau kesepian di belakang kaca ini. Kita bisa pergi sekarang, bersama-sama” kata Orianna.

“Pergi?” Ekspresi Fieram berubah. “Aku takut aku tidak mengerti maksudmu.”

“Kau ingin mendengar suara bising di Zaun ini, atau pergi ke Piltover untuk melihat kehidupan yang indah?” tanya Orianna.

Fieram mengangkat kepalanya.

“Aku suka menaiki Rising Howl untuk menyaksikan Cahaya matahari terakhir di sore hari” kata Orianna. “Dari tempat tinggi di sana, kau akan bisa melihat pelabuhan dan kapal serta lautan yang luas. Kau juga bisa membayangkan bagaimana bentuk pulau yang terlihat di ujung sana.”

Bola Orianna kembali bergerak dan menyenggol Orianna sekali lagi.

“Aku rasa ini adalah waktu yang sangat tepat” katanya. “Fieram, apakah kau ingin melihat dunia luar sana? Kita bisa pergi bersama-sama, sekarang. Aku akan melindungimu.”

“Aku tidak bisa membayangkan hal yang lebih indah lagi” jawabnya.

Orianna mengelilingi lemari kaca tersebut mencari jalan keluar. Sebuah kunci besi diangkatnya, dan dipukul ringan sehingga pintunya sekarang terbuka.

Seorang penjaga kemudian mendekat.

“Hei! Hentikan itu!”

Dengan sedikit perintah Orianna, bola langsung pergi menyerang penjaga tersebut. Bola tersebut menghantam mengenai helmnya, kemudian melayang ke udara menunggu perintah lanjutan dari Orianna. Dengan sedikit anggukan, bola tersebut kembali menghantamnya dan mengeluarkan sebuah gelombang radiasi. Mencoba melawan, penjaga tersebut mengeluarkan sebuah tongkat dan diarahkannya pada bola tersebut yang membuatnya sempat terlempar sebelum kembali lagi menyerang ke arahnya.

Penjaga lainnya datang ke arah Orianna seiring dengan dia mencoba untuk menarik Fieram keluar dari pintu, namun kursinya membuatnya tidak bisa keluar.

“Fieram! Apakah kau bisa mengulangi trikmu yang tadi?”

Bola Orianna masih berusaha menyerang penjaga tadi, topi besi miliknya masih menjadi satu-satunya alat bertahan.

“Trikku?” Fieram meraih saku lengannya lagi dan mengeluarkan bunga seraya Orianna mengawasi keadaan di sekitar.

“Bukan yang ini, yang satunya!”

Fieram kemudian mengeluarkan rangkaian bunga itu lagi.

“Bukan yang ini juga, yang terakhir” katanya. “Cepat!”

Anak mekanik ini kemudian mengeluarkan karangan bunga dari lengannya lagi.

Orianna maju ke arah penjaga, mengeluarkan sebuah gerigi tajam dari pinggannya sehingga membuat penjaga tersebut mundur menyiapkan tongkat pemukulnya.

“Pergilah dari anak itu!” kata sang penjaga. “Kau sedang merusak properti kami!”

“Dari sini, dunia datang mengunjungiku” kata Fieram.

Dia menunduk menurunkan topinya, kemudian dilanjutkan dengan mengeluarkan burung mekanik. Penjaga tadi mengarahkan tongkatnya ke kepala Orianna, dan Orianna menghindar seiring dengan Fieram yang bertepuk tangan. Tongkat tersebut ternyata mengenai lemari dan melubanginya hingga mengeluarkan asap di dalamnya yang mulai menutupi semua hal.

Penjaga yang pertama masih mencoba untuk melawan bola Orianna, dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuat bola itu pergi darinya. Satu hantaman bola tersebut ke arah helm yang dia kenakan akhirnya mampu menghabisinya tak sadarkan diri di atas tanah. Bola tersebut kemudian bergerak menuju penjaga yang lainnya yang terlihat tidak siaga.

Orianna melangkah ke dalam lemari. Dia mengangkat anak tersebut dari kursinya tapi ternyata kakinya tidak kunjung berdiri.

“Fieram! Fieram, kita harus segera pergi.”

“Pergi? Aku takut aku tidak tahu apa maksudmu.” Merpati robot pun keluar dari dalam lemari yang rusak sebelum akhirnya terjatuh ke tanah beberapa langkah di depan pintu.

“Fieram, berdirilah agar kita bisa segera pergi” kata Orianna dengan suara memohon. “Kumohon.”

“Oho! Kau belum melihat trikku.” Dia kemudian menarik rangkaian bunga dari saku lengannya lagi.

Orianna mengabaikan Fieram yang mencoba untuk melepaskan topinya lagi dan menariknya dari dalam lemari itu. Di luar sana, bola miliknya masih disibukkan dengan penjaga kedua yang sepertinya sudah mulai tak sadarkan diri.

“Dan tadi itu bukan yang terbaik dariku. Aku hanya meraba-raba sedikit tanganku”, kata Fieram.

“Kau bukan… kau… suaramu terus berulang?” kata Orianna. Kepalanya kemudian menunduk lagi, dan Orianna perlahan mundur.

“Rahasiaku adalah aku takut dengan dunia di luar sana” katanya.

Orianna menyadari ada sesuatu di balik jaket Fieram.

Sir Feisterly’s Fantastical Fair
Friendly Fieram

Ternyata dia tak lebih dari robot biasa, yang memang dibuat untuk menghibur orang-orang.

“Aku pikir kau punya pikiran. Punya perasaan. Sepertiku” katanya.

Fieram kemudian melihat wajahnya dengan mata yang berkilau perak. “Aku ini sangat unik, bukan?” sambil menggerakkan kakinya dan menari. “Sama sepertimu.”

Bola Orianna kemudian kembali perlahan.

“Kita harus segera pergi” bisiknya pada bola itu. Dia kemudian meletakkan kembali Fieram di tempat asalnya di atas meja, yang terdapat di luar lemari. “Aku harap kau baik-baik saja.”

“Keajaiban kecil adalah keahlianku” katanya. “Seperti cara kau datang kemari.”

“Selamat tinggal, Fieram” kata Orianna lembut. Dua orang penjaga tersebut masih tak sadarkan diri di atas tanah. Bola Orianna pun kemudian menyusul Orianna yang kemudian berjalan pergi.

Dia tidak melihat ke belakang lagi sampai akhirnya dia melihat gerbang festival tersebut. Dia berbalik, dan melihat seperti sebuah kedipan dari jauh sana. Fieram terus mengulang-ulang katanya, sama seperti saat Orianna menghampirinya dari saat pertama mereka bertemu.

Orianna menyangka bahwa Fieram itu sama seperti Orianna, yaitu sosok mesin yang memiliki hati dan juga pikiran. Tapi dia salah, ternyata Fieram hanya sebuah robot biasa yang diciptakan untuk menghibur.

Orianna berjalan sambil menunduk, meninggalkan tempat itu yang mulai sepi ditemani keheningan malam. Dia menatap bolanya “Ternyata temanku hanya kamu.” Bola Orianna itupun bersandar pada bahunya, mengelus pipi logamnya dengan perlahan, kesedihan. Cahaya bulan purnama menerangi langkah mereka berdua di malam hari, hembusan angin malam mengikutinya.

“Yaa…. hanya kamu yang bisa menemaniku”

tumblr_lzycb88C5f1rogcuio1_1280

Saya adalah presiden dari World Economic Journal dan merupakan salah satu penguasa dunia bawah, dan sering mengisi waktu luang dengan bermain League of Legends. Panggil saya "Big News" Morgans!

 

Leave a Reply