Kisah Harrowing Pertempuran Shadow Isles Dengan Bilgewater – Chapter 1

Kisah Harrowing Pertempuran Shadow Isles Dengan Bilgewater - Chapter 1
pUk1gAa

Musim Harrowing telah tiba para makhluk-makhluk terkutuk dari Shadow Isles mulai kembali bergentayangan ke penjuru Runeterra, mereka siap merenggut jiwamu yang lengah di Summoner’s Rift. Berhati-hatilah, karena mungkin mereka berada di samping-mu sekarang ini!

Dengan jatuhnya Gangplank, Bilgewater kini turun ke dalam kekacauan karena persaingan lama yang belum diselesaikan dalam darah, sementara perang antar geng perompak terus mengancam untuk merobek kota secara terpisah. Miss Fortune menghitung biaya balas dendamnya saat the Black Mist keluar dari Shadow Isles untuk menelan kota tersebut dalam badai mimpi buruk yang telah mati.

The Butcher Blades menggantung, banyak sekali tubuh anggota the Jackdaw di sebuah pengait berkarat yang ada di tiang. Ini adalah korban ketujuh belas yang dilihat oleh seorang lelaki berjubah yang sedang berjalan di malam itu. Hasagi akan mempersembahkan satu cerita mengerikan kepada kamu semua, yang berjudul Shadow and Fortune.

Artis Champion terkait:

  • Lucian
  • Olaf
  • Miss Fortune
  • Illaoi
  • Thresh
  • Hecarim

Lore, kelanjutan dari cerita kehancuran Gangplank.

Blood on the Streets, Glory in Death, Down to the Bearded Lady


SGL


Part 1

The Butcher Blades menggantung banyak sekali tubuh anggota the Jackdaw di sebuah pengait berkarat yang di tiang. Ini adalah korban ketujuh belas yang dilihat oleh seorang lelaki berjubah yang sedang berjalan di malam itu.

Malam sunyi yang terasa lama, seperti yang selalu terjadi di Bilgewater setiap malamnya.

Setidaknya semenjak the Corsair King. Gangplank.

Banyak sekali Wharf Rats berkeliaran dengan taringnya yang merah dibasahi darah dari seorang mayat manusia yang diambil kakinya lalu di cabik-cabik dagingnya.

Lelaki berjubah itu terus berjalan.

‘Tolong. Aku.’

Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang dibanjiri oleh darah yang keluar dari tenggorokannya. Lelaki berjubah itu berputar, bersiaga meraih sebuah senjata yang ditempel di sabuknya.

Sungguh malang. Yang meminta tolong padanya itu adalah anggota the Jackdaw itu masih hidup dalam balutan darah di sekujur tubuhnya. Tubuhnya masih menggantung di atas dinding kayu. Tidak mungkin rasanya untuk menurunkannya dari sana tanpa menghancurkan tulang rusuknya yang telah tertusuk baja.

‘Tolong. Aku’ katanya lagi.

Lelaki itu berhenti, mempertimbangkan untuk menolong geng the Jackdaw tersebut.

‘Untuk apa?’ katanya dalam hati. ‘Bahkan jika aku berhasil membantunya, dia akan tetap mati esok paginya.’

The Jackdaw dengan hati-hati berusaha meraih saku celananya dan mengeluarkan sebuah koin emas Kraken. Bahkan dari kegelapan pun, lelaki berjubah itu tetap bisa melihat kilauannya.

Seorang pemulung yang berada di sekitarnya menjauh setelah si lelaki itu datang mendekat ke arahnya. Di sana ada juga beberapa Wharf Rats yang tidak terlalu besar dengan taring yang diacungkan tanda mereka sedang merasa terancam.

Dia menendang salah satunya ke dalam air. Yang kedua dia injak sampai mati. Yang lainnya mencoba melarikan diri. Tapi tidak cukup jauh untuk bisa melarikan diri sebelum akhirnya mati juga di kegelapan.

Lelaki berjubah berdiri di sebelah the Jackdaw. Tubuhnya memang tersembunyi di balik jubah, tapi secercah cahaya dari bulan menunjukkan bahwa wajahnya tidak sedang tersenyum.

‘Kematian ini untukmu’ lanjutnya. ‘Pasrahlah, aku akan membantumu melewatinya.’

Dia mengambil sesuatu dari balik jubahnya. Terlihat sebuah benda berwarna perak yang terlihat tajam dengan ukiran indah di sisinya. Alat yang biasa dimiliki oleh semua pekerja, penjahit. Dia menyodorkan jarum besar itu tepat di tenggorokan seseorang yang sedang sekarat di depannya.

Wajahnya terbuka menatap lautan dan memegang lengan si lelaki berjubah. Lautan terlihat seperti sebuah cermin berwarna hitam dan menyinarkan cahaya seperti cahaya lilin.

‘Kau tahu apa yang ada di atas sana’ katanya lelaki berjubah itu menasihati. ‘Kau tahu hal mengerikan apa yang kau hadapi. Lalu sekarang kau membunuh satu sama lain seperti binatang. Semuanya tidak masuk akal sekali.’

Dia memalingkan wajahnya dan menusukkan jarum besarnya tadi ke hingga tembus ke kepala anggota Jackdaw itu dan mengakhiri penderitaannya. Koin emas terjatuh dari genggamannya dan menggelinding ke arah air.

Selesai, lelaki itu membersihkan jubah dan juga alatnya tadi dengan mencelupkannya ke dalam air lalu dibersihkan oleh jubah mayat yang baru saja dia bunuh. Dia kembali menggunakan jubahnya dan memasukkan kembali jarum yang baru dia gunakan tadi.

Dia sudah biasa menggunakan jarum tersebut. Di tempatnya dulu, dia pernah menjahit mata dan juga mulut seseorang. Dengan pekerjaannya tersebut, dia sudah banyak mendengar banyak sekali pelajaran dalam hidupnya.

‘Sekarang kematian tidak akan bisa menghantuimu lagi’ katanya setiap kali selesai melakukan sebuah pekerjaannya.

‘Mungkin tidak, tapi kami tidak akan pergi dengan tangan kosong, tentu saja tidak’ kata seseorang di belakangnya yang tiba-tiba datang.

Dia berbalik dan menarik kembali jubahnya dan memperlihatkan dirinya, dengan tulang pipi yang kaku. Rambut hitamnya yang dikuncir serta matanya yang tajam memancarkan ketakutan pada mereka yang baru pertama kali melihatnya.

Enam orang, menggunakan baju kulit dengan potongan yang memperlihatkan otot dan juga tato mereka. Setiap orang dari mereka membawa sebuah pengait dengan sabuk yang menggantungkan banyak sekali perkakas pisau yang biasa dipakai oleh tukang daging. Mereka terlihat seperti para anggota Butcher Blades. Setelah sang penguasa Bilgewater jatuh, banyak sekali kekacauan yang terjadi di sini. Kepergiannya menyisakan kota di bawah gang-gang yang saling bertarung memperebutkan kekuasaannya.

Mereka mendekat dengan langkahnya yang tegap. Sepatu Boot, yang mungkin baunya buruk sekali, seolah membuat orang-orang mengetahui keberadaan mereka hanya dengan langkah kakinya saja.

‘Aku tidak mempermasalahkan koin yang diserahkan pada the Bearded Lady tadi, aku tidak peduli’ kata salah satu dari mereka dengan tubuh paling besar, seorang lelaki yang terlihat seperti pemimpinnya. ‘Tapi salah satu dari kami baru saja membunuh Old Knock John, jadi agar semuanya impas, semua emas yang ada di sini adalah milik kami.’

‘Kau ingin mati di sini’ tanya lelaki berjubah itu.

Lelaki besar itu tertawa.

‘Kau tahu kau sedang berbicara dengan siapa?’

‘Tidak. Memangnya siapa kau?’

‘Kau pikirkan saja, agar aku bisa menggosokkan batu ini ke tulangmu.’

‘Namaku Lucian’ katanya, membuka jubahnya dan mengeluarkan sepasang pistol yang ditempa menggunakan alat canggih disertai bahan metal kuat yang melapisi dan menjadikannya sebagai komoditas termahal di kota Zaun. Sebuah peluru ditembakkan ke arah si tukang daging gemuk dan menembus dadanya.

Pistol kedua Lucian sedikit lebih kecil. Diukir lebih rapi dan menembakkan sebuah peluru kuning api yang menyerang gerombolan tukang daging lainnya dan menembus tubuhnya.

Sama seperti tikus-tikus tadi, mereka melarikan diri sambil menolong pemimpin mereka, tapi tak cukup bisa lari dari Lucian yang membereskan mereka satu persatu. Setiap tembakannya berhasil membuat mereka tergeletak tak berdaya.

Dia menyarungkan kembali pistolnya ke balik jubahnya. Orang-orang di sekitar mungkin ada yang melihat apa yang baru saja dia perbuat, tapi dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal tersebut.

Lucian menghela nafas. Sebuah kesalahan rasanya melayani mereka, tapi mungkin lelaki malang sebelumnya memang pantas untuk dia tolong. Sebuah memori muncul di kepalanya lagi.

‘Aku tidak bisa menjadi dirinya lagi’ kenang Lucian.

Dia tidak cukup kuat untuk bisa membunuh the Chain Warden.

Freljord_Olaf

Part 2

Baju perang Olaf dibasahi oleh darah dan dia berteriak sambil menebaskan satu kapaknya. Tulang terdengar remuk dan daging robek terkena senjata yang terbuat oleh True Ice yang didapat jauh dari pedalaman Freljord.

Dengan membawa sebuah obor api di tangan satunya, dia melalui sebuah jalan di dalam Krakenwyrm. Butuh waktu tiga jam untuk sampai di sini sambil terus mengayunkan kapaknya pada apapun yang menghalanginya.

Memang benar, monster itu sudah mati, sekitar satu minggu yang lalu setelah sebulan lamanya memburu dari utara. Banyak sekali para petarung dari Winter’s Kiss dengan berbagai senjata dan juga baju perang yang ikut memburunya, tapi hanya tombak milik Olaf yang berhasil membunuhnya.

Membunuh monster tersebut dalam sebuah badai besar di lautan di dekat Bilgewater adalah hal yang sangat menggembirakan. Sebuah kapal yang membawa monster besar berlayar dari menempuh perjalanan yang melelahkan..

Svarfell si pengemudi, memutar kendalinya ke kanan.

Kapal itu berlabuh di Bilgewater dengan tujuan menjual banyak sekali perlengkapan perang; Vast Teeth, darah berwarna hitam yang bisa terbakar layaknya minyak, tulang rusuk monster, dan sebagainya.

Teman-teman Olaf lainnya kelelahan setelah berburu dan tidur beristirahat di atas Winter’s Kiss, tapi Olaf tak pernah lelah dan tak pernah beristirahat. Dia mengambil kapaknya dan mempersiapkan perburuan selanjutnya. Dia pun melompat ke arah monster yang baru saja dia buru.

Sampai akhirnya dia melihat isi perut monster itu. Saking besarnya seolah sanggup untuk menelan dia dan teman-temannya atau bahkan kapal Longreaver dalam satu gigitan. Giginya yang kokoh begitu menarik perhatian Olaf.

Olaf mengangguk. ‘Ya. Cocok untuk aku pereteli dan kujual pada orang-orang.’

Sambil membawa kapak dan obor di masing-masing tangannya, dia berlari mengamuk sambil menebaskan kapaknya ke daging Krakenwyrm, mencari tulak rusuknya dan dibawa olehnya keluar dari tubuh monster itu.

‘Seperti seekor Frost Troll yang mengumpulkan es di sarangnya’ katanya, sambil membuka jalan untuk keluar dari perut monster, dengan berlumuran daging dan juga darah yang bagaikan jus.

Dia membuat jalannya sendiri dengan melubangi daging tubuh Krakenwyrm untuk menghirup udara segar. Tapi yang dia dapatkan malah hal yang mengecewakan. Meskipun telah keluar dari perut monster, udara Bilgewater yang dipenuhi asap api bahkan terasa seolah lebih buruk.

Kemudian dia berteriak ‘Semakin cepat Olaf kembali ke utara semakin baik.’

Dinginnya suhu di Freljord sanggup menembus hingga tulang. Setiap nafas terasa hangat seperti daging yang baru dimasak.

‘Hey!’ seseorang berteriak di seberang.

Olaf berusaha keluar dan melihat banyak sekali bangkai burung mengambang di air sambil menuju ke arah nelayan yang memanggilnya.

‘Kau baru saja keluar dari Monster itu?’ teriak nelayan.

Olaf mengangguk dan berkata ‘Aku tidak punya uang untuk membayar kapal, jadi aku membiarkan diriku dimakan untuk bisa berlayar dari Freljord ke selatan.’

Si nelayan itu minum sebuah arak dari botol yang dituang pada gelas biru. ‘Oh ya? Ceritakan kisahmu!’

‘Datang saja ke Winter’s Kiss dan temui Olaf’ katanya berteriak. ‘Kita akan berpesta dan minum untuk menyanyikan sebuah lagu untuk merayakan kematian monster.’

Miss_Fortune_lore_31

Part 3

Udara di sekitar the White Wharf biasanya berhiaskan aroma laut dan juga ikan. Tapi hari ini tercium seperti bau daging dan juga kayu yang terbakar, seiring dengan Miss Fortune yang datang membersihkan para anak buah Gangplank yang sudah mati. Kabut asap menyelimuti langit lautan di the Slaughter Docks. Mulut Miss Fortune seolah bergemericik dengan semua kekacauan yang dia lihat. Air pun juga tidak ada bedanya. Mayat mengambang di sana-sini.

‘Kau dan anak buahmu akan menghadapi malam yang sibuk’ katanya, sambil menoleh ke arah keluarnya asap di sebelah kanan bukit.

‘Aye, itulah yang kami lakukan’ kata Rafen. ‘Kami akan membersihkan lebih banyak anak buah Gangplank yang masih tersisa hari ini.’

‘Berapa banyak yang kau temui?’ kata Miss Fortune.

‘Sekitar 10 orang’ kata Rafen. ‘Dan the Boneyard Scallys juga tidak akan berani macam-macam pada kita lagi.’

Miss Fortune mengangguk tanda setuju kemudian mengalihkan lagi pandangannya pada sebuah meriam perunggu yang berada di dermaga.

Jackknife Byrne ada di balik sebuah tong kala itu; terlempar karena satu tembakan yang telah mengubah segalanya, hari di mana the Dead Pool meledak di depan Bilgewater.

Sebuah tembakan yang ditujukan pada Miss Fortune.

Sekarang memang sudah saatnya bagi Byrne untuk mati bersama dengan mayat lainnya seperti yang telah dijanjikan oleh Miss Fortune. Mungkin kehormatan dua ratus laki-laki dan juga wanita akan cukup terbayar dengan peristiwa ini. Anggota geng Byrne beserta orang asing lainnya datang tertarik untuk melihat sosok wanita dibalik jatuhnya Gangplank dari takhta kekuasaannya.

Byrne dulu berkata bahwa dia pernah berlayar menggunakan perahunya sendiri, sebuah perahu dengan dua tiang kapal yang sering meneror pelabuhan Noxus, setidaknya itulah yang didengar oleh Miss Fortune. Mungkin itu semua benar, mungkin juga tidak, tapi di Bilgewater, ketidakbenaran sudah menjadi kebenaran yang datang dari seluruh penjuru Bilgewater yang dipenuhi oleh berbagai macam orang.

‘Aku lihat kau dalang di balik pertarungan di Slaughter Docks juga’ kata Miss Fortune, sambil membilas abu asap dari pundaknya. Rambut hitam merah terkulai dari bawah topi segitiga menghiasi dirinya yang dibalut jubah.

‘Ya, tidak sulit untuk mengadu domba the Rat Town Dogs dan Wharf Kings’ kata Rafen. ‘Ven Gallar selalu bisa melihat dengan satu mata. Kata seorang sekutu yang merupakan penerus geng Travyn yang telah berkuasa bertahun-tahun lalu.’

‘Benarkah?’

‘Mungkin’ kata Rafen. ‘Tidak masalah apa dan bagaimana. Gallar akan mengatakan apapun untuk bisa menguasai tempat ini. Aku hanya sedikit menolongnya.’

‘Aku tidak akan memberikannya terlalu banyak tempat untuk dia kuasai.’

‘Ya, jangan’ kata Rafen setuju. ‘Mereka telah banyak sekali membunuh satu sama lain. Jangan terlalu naif untuk berpikiran bahwa mereka tidak akan menusuk kita dari belakang.’

‘Sekitar seminggu lagi, maka kita tidak akan melihat lagi anak buah Gangplank yang tersisa.’

Rafen memasang muka sinisnya dan Miss Fortune pura-pura tidak melihatnya.

‘Ayo, kita tenggelamkan Byrne’ ajak Miss Fortune.

Mereka berjalan menuju meriam itu, lalu berusaha mendorongnya tenggelam ke dalam air. Air sudah banyak dipenuhi oleh puing kayu, warna sudah semakin tidak karuan.

‘Ada yang ingin kalian katakan?’ tanya Miss Fortune.

Tidak ada yang hendak berbicara, dan Miss Fortune mengangguk ke arah Rafen, tapi sebelum mendorong meriam tersebut ke dalam air, sebuah suara teriakan lantang terdengar.

‘Aku punya salam untuknya.’

Miss Fortune berbalik dan melihat sesosok pendeta wanita datang mendekat ke arah mereka. Beberapa orang bertato menemaninya, pemuda dan anak kecil juga ikut datang dengan membawa tombak dan senjata lainnya. Mereka bergerombol seperti sebuah geng yang akan berperang dan berdiri seolah merekalah penguasa tempat ini.

‘Demi tuhan, apa yang dia lakukan di sini?’

‘Apakah Illaoi mengenal Byrne?’

‘Tidak. Dia tahu aku’ jawab Miss Fortune. ‘Aku dengar dia dan Gangplank sering mengadakan sebuah kerja sama, kau tahu?’

‘Sungguh?’

‘Bohong.’

‘Demi the Bearded Lady, tidak aneh melihat geng Okao banyak menyiksa orang-orang belakangan ini.’

Illaoi membawa sebuah batu besar yang berat. Seseorang membawanya ke mana pun Illaoi pergi, Miss Fortune melihat itu seperti sebuah batu kepercayaan yang sakral. Sebuah benda yang dimediakan sebagai the Bearded Lady, mereka memanggilnya dengan sebutan yang sulit dilafalkan.

Illaoi memakan sebuah potongan buah mangga dari suatu tempat dan menggigitnya. Kemudian dia mengunyah buah tersebut di dalam mulutnya sambil menengok ke arah meriam yang tersimpan di dalam tong.

Tidak pernah rasanya dia melihat Miss Fortune begitu mempersiapkan meriam ini untuk ditembakkan.

‘Apakah mereka pantas untuk mendapatkan berkat dari Nagakabouros?’

‘Mengapa tidak?’ kata Miss Fortune. ‘Dia mati untuk bertemu sang penguasa.’

‘Nagakabouros tidak tinggal di dalam air’ kata Illaoi. ‘Hanya mereka yang bodoh yang berpikir seperti itu. Nagakabouros ada di manapun kita berada, di sekitar kita semua.’

‘Ya, bodoh juga aku ini’ kata Miss Fortune.

Illaoi melempar sebuah gigitan buah mangga yang dia makan ke dalam air dan melemparkan batu yang dia bawa lalu dipegangnya di hadapan Miss Fortune.

‘kau tidak bodoh, Sarah’ kata Illaoi sambil tertawa. ‘Tapi kau tidak tahu dirimu sendiri, apa yang telah kau lakukan.’

‘Sebenarnya mengapa kau ada di sini, Illaoi? Apakah ini semua karenanya?’

‘Ha! Tentu saja tidak’ ketus Illaoi. ‘Hidupku adalah untuk Nagakabouros. Dewa dan manusia? Pilihan macam apa itu?’

‘Tidak ada apa-apa’ kata Miss Fortune. ‘Gangplank sungguh tidak beruntung.’

Illaoi mengangguk, masih dengan mulut penuh mangga.

‘Kau tidak salah’ katanya sambil mengangguk lagi ‘Tapi kau masih belum bisa melihat. Kau telah menancapkan pisau ke leher seseorang kemudian kau pergi tanpa memastikan dia sudah mati atau tidak..’

‘Apa artinya itu?’

‘Temui aku jika kau sudah punya jawabannya’ kata Illaoi, sambil mengulurkan tangannya. Di tangannya terdapat sebuah kalung koin koral berwarna merah muda.

‘Ambil ini’ kata Illaoi.

‘Apa ini?’

‘Sebuah koin Nagakabouros yang bisa membantumu ketika kau tersesat.’

‘Sebenarnya untuk apa ini?’

‘Seperti yang kubilang tadi.’

Miss Fortune ragu, tapi terlalu banyak orang yang melihatnya jika dia berani menolak pemberian mulia dari the Bearded Lady. Dia mengambilnya kemudian membuka topi kerucutnya untuk memasang kalung koin itu di lehernya. Illaoi datang berbisik.

‘Aku tidak bilang kau bodoh’ kata Illaoi. ‘Buktikan bahwa aku tidak salah.’

‘Mengapa aku harus peduli dengan semua yang kau katakan?’ tanya Miss Fortune.

‘Karena badai akan segera datang’ jawab Illaoi, mengangguk pada sesuatu yang berada di atas kalung Miss Fortune. ‘Kau tahu apa itu, jadi bersiaplah untuk bertarung.’

Dia berbalik dan menendang meriam Byrne ke dalam air. Terdengar suatu benda yang tercelup keras ke dalam air dan menghasilkan riak yang besar, dan hilang seolah tidak ada sesuatu yang pernah di lempar ke dalamnya.

Para pendeta the Bearded Lady kembali pulang menuju kuil mereka yang terletak di perbukitan, dan Miss Fortune juga memalingkan wajahnya ke arah lautan.

Sebuah badai besar terlihat memang akan segera datang, tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya.

Matanya tertunjuk ke arah the Shadow Isles.

Bilgewater_The_Boatman

Part 4

Tidak ada orang yang berani memancing di lautan Bilgewater di malam hari.

Piet tahu kenapa, tentu saja, dia sudah mengenal lautan ini seumur hidupnya. Memang lautnya sangat subur, namun dipenuhi oleh bebatuan karang yang tajam. Gelap, dan juga dipenuhi oleh kayu-kayu pecahan dari kapal perang yang hancur. Tapi, yang lebih penting, semua orang tahu bahwa jauh di dalam lautan sana, ada banyak sekali roh penunggu yang sendirian menunggu kita menemani mereka.

Piet tahu soal itu semua, tapi dia masih harus memberi makan keluarganya.

Dengan kapal Captain Jerimiad yang ikut terbakar karena pertarungan Gangplank dan Miss Fortune, Piet tidak punya pekerjaan lagi, apalagi uang untuk membeli makanan.

Dia mabuk setelah meminum setengah botol Scuttler’s Scrumpy yang membuatnya berani untuk bisa berlayar di malam hari, dan untuk jaga-jaga semoga ada orang yang mau menemaninya sehingga mereka bisa minum bersama.

Piet meneguk lagi botol minumannya sambil berlayar dengan berkat dari the Bearded Lady.

Dibuat hangat oleh arak yang diminumnya, Piet sudah melewati perairan dekat pelabuhan di mana banyak sekali bangkai burung yang mengambang, sambil dia sampai ke tempat di mana dia merasakan firasat baik untuk memancing. Jeremiad selalu berkata bahwa dia punya hidung yang tajam untuk bisa melacak tempat yang banyak ikannya. Namun malam itu dia punya firasat buruk di tempat di mana kapal the Dead Pool tenggelam.

Piet menarik dayungnya dan menyimpannya di perahu sebelum menghabiskan minumannya. Sambil memastikan tetes terakhir dari botol, dia menatap air lalu melempar botol kosong itu ke sana. Kelelahan setelah menempuh jarak sejauh ini dengan dayungnya, dia melempar banyak kailnya ke dalam air.

Dia menutup matanya dan duduk di sisi kapal lalu mencelupkan kedua tangannya ke dalam air.

‘Nagakabouros’ katanya, dia menyebutkan sebuah nama sakral yang menjadi pujaan di Bilgewater, the Bearded Lady, yang mungkin akan memberinya sebuah keberuntungan ‘Aku tidak meminta terlalu banyak. Bantulah nelayan miskin ini dan sisakan dia sedikit kebaikan dari tangan-mu yang agung. Jagalah diriku dan selamatkanlah aku. Dan jika aku mati dalam rahmat-mu, biarkan mayatku tenang.’

Piet membuka matanya.

Sebuah wajah pucat menatap ke arahnya, terhapus gelombang di bawah air. Berkilauan dalam kedinginan, seperti api dalam sekam.

Dia menangis histeris dan bergegas membereskan satu-persatu kail yang dia lempar dari dalam air. Mereka memutar perahu kecil tersebut dan kabut keluar dari dalam air. Kabut pekat itu perlahan menyebar dan tak lama cahaya dari perbukitan Bilgewater hilang diselimuti kegelapan dari laut.

Burung-burung berteriak ricuh dan suara bel peringatan tanda bahaya.

The Black Mist…

Piet bergegas sekuat tenaga mengayun dayungnya, di belakangnya sebuah teror mengejar. Kabut hitam telah datang menyentuh kulitnya. Dia menangis setelah udara dingin ini menyentuh tulangnya.

‘Bearded Lady, Mother Below, Nagakabouros’ dia mengisak tangis. ‘Aku mohon bantu aku pulang ke rumah. Aku mohon, aku mohon–‘

Piet tidak pernah bisa menyelesaikan perkataannya….

Sebuah rantai dengan pengait menembus dadanya, yang kedua berhasil membuat rantainya berlumuran darah di setiap permukaannya. Serangan ketiga mengarah kepada perutnya, selanjutnya tenggorokan. Yang kelima dan keenam mengarah ke telapak tangannya dan membuat Piet menjadi sebuah mayat yang tergeletak di perahunya.

Penderitaan memasuki dirinya dan Piet berteriak sekeras mungkin ketika merasakan kabut hitam memasuki tubuhnya. Tulang seolah terbakar api mewarnai penderitaannya.

Rohnya yang mati seolah ditarik oleh sesosok misterius yang ada di hadapannya. Rantai dengan pengait bergoyang hebat menuju ke satu kepalan tangan.

Piet merasakan rohnya mulai terlepas dari kehangatan dagingnya sendiri. Sebuah lentera terbuka untuknya. Terlihat banyak sekali roh yang disiksa di dalamnya, seperti neraka. Piet berusaha melawan untuk membuat jiwanya tetap berada di dalam tubuhnya, tapi sabetan pedang yang mengarah kepadanya kali ini telah membuatnya berhenti melawan sebagaimana lentera ditutup.

“Celakalah rohmu” kata sang perenggut hidupnya. Suaranya menyeramkan untuk dibayangkan. ‘Tapi hanya satu saja yang akan diambil oleh Thresh malam ini.”

Kabut hitam pun berdesir, sebuah sosok siluet menghilang dengan roh pasukan berkuda.

Kegelapan melintasi cepat menuju daratan.
Dan cahaya di Bilgewater perlahan mulai hilang.

To be continued………


CSlH1DtUEAAg3PI

Saya adalah presiden dari World Economic Journal dan merupakan salah satu penguasa dunia bawah, dan sering mengisi waktu luang dengan bermain League of Legends. Panggil saya "Big News" Morgans!

 

Leave a Reply