LCS dan Solo Queue itu Berbeda!

LCS dan Solo Queue itu Berbeda!
NA_LCS

DISCLAIMER: Tulisan ini adalah sepenuhnya pendapat penulis (atau mungkin rant) berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis.


Mungkin kalian pernah menjumpai komentar seperti ini di sebuah video atau highlights pertandingan kompetitif seperti LCS:

“Halah ane sering liat begituan pas ranked. Udah biasa.”

“EZ itu mah. Di SoloQ ane sering begitu. Cuma overhype doang lu. Ini mah biasa aja kali.”

“Paan dah ini. Play ampas gini ditontonin. Mending liat ane main. Lebih pro.” (padahal yg ngomong gini Bronze V yg gak bisa apa-apa)

Mungkin itu hanya sedikit dari beberapa komentar yang sering muncul saat ada video yang entah dibagikan dari YouTube atau berasal dari salah satu artikel Hasagi. Entah yang berkomentar itu sok pro atau sekedar guyonan, komentar seperti itu pasti muncul.

Beberapa orang berpikiran bahwa pertandingan kompetitif seperti EU LCS, LCK, dan LGS memiliki level permainan yang sama dengan Public Games seperti Solo Queue misalnya. Jika kalian lihat sekilas memang iya sama. Tetapi jika kalian melihat dari sisi yang berbeda, antara kompetitif dengan Solo Queue itu berbeda.

Level teamwork LCS dan Solo Queue Berbeda


Ini sudah jelas. LCS adalah dimana 5 pemain yang berlatih bersama, tinggal bersama di satu teamhouse, membentuk sinergi satu sama lain untuk memperoleh kemenangan. Sedangkan Solo Queue adalah satu pemain dipertemukan dengan 4 pemain random yang mungkin belum pernah kenal sebelumnya. Bermain bersama keempat pemain random itu bisa saja menyenangkan atau malah menyebalkan. Interaksi yang dilakukan juga hanya sebatas lewat chat.

Berbeda dengan pemain LCS yang bisa berinteraksi langsung dengan rekan setimnya di dunia nyata. Koordinasi tim LCS juga jauh lebih baik ketimbang pemain Solo Queue yang kalau sudah ngetilt atau rage maka akan susah untuk berkoordinasi. Positive Mental Attitude (PMA) sangat dikedepankan di LCS. Tahu sendiri seperti apa perilaku Riot saat berhadapan dengan pemain LCS yang toxic.

Pemain tim LCS bisa berinteraksi langsung di kehidupan nyata, tidak sekedar lewat chat ataupun voice chat.
Pemain tim LCS bisa berinteraksi langsung di kehidupan nyata, tidak sekedar lewat chat tulis ataupun voice chat.

Pemain Profesional Cenderung Lebih Berhati-hati Saat Bertanding di LCS Ketimbang Pemain Biasa yang bermain Solo Queue


Pick, Ban, Komposisi tim, Strategi, semuanya. Para pemain profesional harus memperhatikan itu semua saat berlaga di LCS. Mereka tidak bisa melakukan Pick atau Ban sembarangan. Segala keputusan pastinya sudah melalui proses pemikiran yang panjang. Mereka tidak bisa Pick dan Ban champion sembarangan sesuai kemauan.

Tidak hanya itu, beberapa play seperti Solokill tidak terjadi begitu saja. Penyebabnya? karena hati-hati itu tadi. Mereka tidak bisa sembarangan bertindak. Mereka harus tahu apa yang mereka akan lakukan dan konsekuensi dari tindakan mereka.

Berdiskusi untuk menentukan strategi. Tidak bisa asal-asalan, semua butuh pertimbangan
Berdiskusi untuk menentukan strategi. Tidak bisa asal-asalan, semua butuh pertimbangan baik dari pelatih maupun rekan setim.

Banyak Tuntutan dan Komitmen yang Harus Dipenuhi


Di dunia kompetitif banyak tuntutan dan komitmen yang harus dipenuhi. Seorang pemain profesional dituntut untuk terus memperoleh kemenangan terutama jika bermain untuk tim-tim besar. Kemenangan saat bertanding adalah nyawa mereka. Saat mereka menang, nyawa mereka akan selamat dan sebaliknya jika kalah maka nyawa mereka akan berkurang. Jika mereka tidak bisa memperbaiki diri, maka pintu keluar akan dibuka oleh pihak tim.

Mereka juga dituntut untuk terus berlatih sepanjang hari untuk meningkatkan level permainan ke tingkat tertinggi dan mempertahankan level permainan tetap konsisten di level tertinggi. Sedangkan di Solo Queue kamu cukup memperhatikan level permainanmu sambil meningkatkan rank sampai ke tingkat tertinggi jika memungkinkan.

Berkomitmen untuk satu tujuan: Kemenangan
Berkomitmen untuk satu tujuan: Kemenangan

Ada Strategi yang Hanya Bisa Bekerja di LCS dan Ada yang Hanya Bisa Bekerja di Solo Queue


Contoh yang paling mudah, Laneswap. Kamu memang bisa mempraktekkan laneswap di Solo Queue namun hasilnya kemungkinan besar tidak akan seperti di LCS. Ada teknik tertentu dalam laneswaping seperti minion freeze contohnya.

Strategi yang hanya bekerja di Solo Queue contohnya adalah One Trick Champion. Kamu bisa menggunakan satu champion untuk climbing selama tidak diban. Tapi tentu saja kemungkinan ban lebih kecil. Sedangkan di LCS sekali kamu terlihat bermain dengan baik menggunakan satu champion maka champion itu  pastinya akan dimasukkan ke daftar ban.

Sulit Untuk Mempratekkan Hal Baru di LCS Saat Bermain Solo Queue


Karena beberapa hal diatas, sulit untuk mencoba hal baru yang sedang populer di LCS terutama jika kamu di low tier yang mayoritas pemainnya masih mengedepankan ego dan gampang ngetilt/rage. Kadang satu tren LCS bisa bekerja tapi kemungkinan besar untuk tidak bekerja jauh lebih besar. Berbeda dengan hal baru di Solo Queue yang bisa dipraktekkan dengan mudah di LCS. Beberapa meta yang lahir dari SoloQ seperti APC Ziggs bisa populer dan berjalan dengan baik di LCS.


Itu tadi adalah beberapa alasan yang bisa saya tulis mengapa LCS tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan Solo Queue. Sebenernya masih banyak cuma nanti takut kepanjangan jadinya kalian malas bacanya. Apa kalian setuju dengan pendapat kami? Atau ada yang berbeda? Atau bahkan ada yang kurang? Jangan lupa sampaikan di kolom komentar di bawah ini ya.

Laurent Vic

RIP AND TEAR UNTIL IT'S DONE

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply