League of Legends Dianggap sebagai Game Plagiat yang Sukses?

League of Legends Dianggap sebagai Game Plagiat yang Sukses?
League of Legends Mosaic

Plagiarisme adalah sebuah tindakan yang paling tidak terpuji apa pun itu konteksnya. Mengambil, meniru, atau mengklaim karya seseorang untuk dijadikan sebuah profit atau keuntungan tentu adalah sebuah kejahatan yang harus segera dituntaskan.

Setiap orang yang merasa dirugikan tentu akan menuntut ganti rugi ataupun memproses melalui jalur hukum untuk menyelesaikan kasus seperti ini. Pada pertengahan April 2018 lalu, Riot Games selaku pencipta dari game League of Legends sempat melayangkan gugatan kepada Shanghai Moonton Technology (Moonton) terkait dugaan plagiasi yang mereka lakukan.

Saat ini kasus tersebut masih berjalan dan menanti adanya update terbaru terkait perkembangan gugatan yang dilayangkan.

Ketika kasus Plagiasi dari Moonton ini belum selesai, terdapat salah satu channel YouTube yang mengatakan bahwa game League of Legends dibuat dari hasil plagiasi game lain. Tak hanya itu saja, game yang dirilis pada tahun 2009 ini bahkan disebut sebagai “game tiruan yang meraup keuntungan hingga jutaan dolar“.

Sang Calon Ilmuwan (1)

Mendengar pernyataan tersebut, tentu kita pasti bertanya, benarkah League of Legends melakukan Plagiarisme demi meraup keuntungan mereka sendiri?

League of Legends adalah Game Plagiat DotA (Defense of the Ancients)?


League of Legends

Dalam video yang di-publish oleh channel YouTube Calon Ilmuwan pada tanggal 11 Mei 2018, mereka mengatakan bahwa, “Semua pasti udah pada tahu kalau game yang satu ini mirip banget sama game yang udah keluar terlebih dulu, yaitu DotA,” pada menit 1:50.

Argumen ini memang benar adanya, karena custom game mod DotA: Allstars ini hadir pada tahun 2003 silam. Sedangkan Riot Games baru merilis League of Legends pada tanggal 27 Oktober 2009. Jika DotA dibilang game yang keluar lebih dulu, tak ada yang salah.

“Nah, gameplay-nya pun sama dengan DotA yang mana kalian harus ngancurin Tower yang ada, supaya bisa memenangkan pertandingan tersebut,” ujar sang Calon Ilmuwan.

Di sini mungkin kalian akan mendengar komentar tersebut menjadi sangat unik, di mana sebenarnya hampir seluruh game ber-genre MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) memiliki objektif dan tema permainan seperti itu.

DotA Allstars

Sebagai tambahan informasi, Riot Games yang dibentuk oleh Brandon “Ryze” Beck dan Marc “Tryndamere” Merrill ini bekerja sama dengan salah satu desainer custom game mod DotA: Allstars, Steve “Guinsoo” Feak untuk mengembangkan League of Legends.

Jadi jika dibilang sama, karena pada dasarnya memang pencipta DotA dan League of Legends adalah satu orang yang sama. Jadi apakah ini bisa dibilang bahwa Guinsoo memplagiasi karyanya sendiri? Really?

Benarkah League of Legends adalah Game Bertipe Pay to Win?


teemo_5

Setelah mendengar argumentasi Calon Ilmuwan di atas, mereka juga mengatakan bahwa sebenarnya League of Legends merupakan game Pay to Win, di mana semakin banyak dan sering kalian “berinvestasi” di dalam game (membeli item in-game), maka semakin jago pula para pemainnya.

“Ya, meskipun Dota 2 telah lahir dan di Indonesia lebih populer, tapi ternyata di luar negeri peminat game League of Legends lebih banyak dibandingin sama Dota 2 loh guys. Karena game ini memiliki level, di mana ID yang level-nya lebih besar bakalan lebih kuat dan jago dibandingin sama yang baru maen,” ujar sang narator di menit 2:08.

Apakah Dota 2 lebih populer di Indonesia dibandingkan League of Legends? Jawabannya adalah iya, karena Dota 2 dirilis secara global melalui Platform Steam pada bulan Juli 2013. Sedangkan League of Legends baru dirilis di Indonesia sekitar akhir tahun 2013 silam. Pengetahuan gamers MOBA Indonesia terhadap League of Legends kala itu juga masih sangat minim jika dibandingkan dengan Dota yang sudah mereka mainkan dari sekuel pertamanya.

Dota 2 x League of Legends

Lalu muncul sebuah argumen di mana narator mengatakan bahwa League of Legends lebih terkenal karena game tersebut memiliki level, di mana ID yang level-nya lebih besar akan lebih kuat dan jago dibandingkan dengan ID yang baru main.

Ketika baru dirilis, League of Legends memiliki sebuah fitur Rune yang memang akan terbuka lebih banyak seiring perkembangan level pemain. Rune ini akan meningkatkan Base Stats dan akan memberikan keuntungan lebih banyak jika level pemain itu tinggi. Akan tetapi menggunakan hal tersebut sebagai alasan populernya League of Legends? Saya kira tidak demikian.

Melansir dari Quora, terdapat 4 alasan utama yang membuat League of Legends populer di dunia. Pertama, LoL adalah game free-to-play dan memiliki gameplay unik pada masanya. Para pemain bisa mendapatkan keseluruhan konten dengan hanya bermain secara langsung.

Kedua, Saat dirilis, tak ada pesaing lain yang bisa memberikan perlawanan pada League of Legends. Ketika Riot Games merilis game ini pada tahun 2009, Dota 2 baru memulai pengembangannya di tahun yang sama. Ketiga, League of Legends memiliki gameplay yang lebih mudah dibandingkan dengan Dota 2 yang lebih “hardcore”.

Keempat, Riot membuat sebuah kompetisi esports secara sistematis di setiap region dan membuatnya menjadi sebuah cabang olahraga yang sah. Dengan kehadiran bintang-bintang baru di ranah esports, seperti Faker, Doublelift, dan Bjergsen, eksposur League of Legends semakin meningkat karena pemain terkenal ini mulai melakukan live streaming.

Selanjutnya sang Calon Ilmuwan kembali berargumen bahwa, “Selain itu, LoL pun lebih banyak meraup keuntungan karena semua hal di dalam game ini harus menggunakan duit biar lebih jago.”

Semua hal? Harus? Saya kira ada sedikit misleading dalam narasi ini. Jika merujuk pada sistem Rune yang sudah dijelaskan di atas, para pemain memang perlu membeli Rune untuk mendapatkan tambahan Base Stats yang mereka inginkan. Namun Rune ini tak bisa dibeli menggunakan RP (Riot Points =  sejenis voucher) melainkan hanya bisa didapatkan menggunakan Influence Points (IP = mata uang di dalam game).

runes

IP hanya bisa didapatkan ketika kalian menyelesaikan permainan ataupun meningkatkan level ID. Jadi, para pemain harus memainkan game terlebih dahulu dan mengumpulkan IP untuk membeli Rune. Salah satu cara untuk untuk mempercepat proses ini adalah dengan membeli IP Boost selama durasi tertentu.

Intinya meskipun para pemain menginvestasikan uang mereka di League of Legends, mereka tidak akan langsung “jago” seperti yang disebut oleh Calon Ilmuwan. Mereka tetap harus memainkan game dan meningkatkan level mereka demi mendapat IP dan membeli Rune di Store.

==

Dari beberapa argumen di atas, bisa kita simpulkan bahwa sebenarnya Plagiarisme tak bisa dilihat hanya menggunakan tanggal rilis saja. Meskipun salah satu game rilis terlebih dahulu, nyatanya terdapat banyak perbedaan yang terlihat antara DotA (Defense of the Ancients) dengan League of Legends.

Argumen yang coba diberikan oleh channel Calon Ilmuwan tampak memojokkan pihak tertentu dan memberikan informasi yang kurang tepat. Karena pada dasarnya, game ber-genre MOBA hampir memiliki gameplay, mekanik, dan winning condition yang sama. Yang membedakan adalah inovasi yang mereka lakukan agar game tersebut tampak berbeda dibandingkan game yang sudah ada.

Genre yang sama tak bisa dikategorikan sebagai Plagiarisme. Know the difference.


Untuk melihat video yang di-publish oleh Calon Ilmuwan, kalian bisa melihatnya langsung berikut ini.



Saya adalah presiden dari World Economic Journal dan merupakan salah satu penguasa dunia bawah, dan sering mengisi waktu luang dengan bermain League of Legends. Panggil saya "Big News" Morgans!

 

Leave a Reply