Mengenal Hai dari FlyQuest Lebih Jauh: Bagian 1

Mengenal Hai dari FlyQuest Lebih Jauh: Bagian 1
Headerss

Bagi semua orang, pertandingan antara FlyQuest dan Cloud9 adalah salah satu pertandingan yang patut dinantikan di ajang NA LCS. Selain bertajuk perang saudara antara Cloud9 putih melawan Cloud9 biru, pemenang pertandingan ini juga berhak mendapat posisi pertama di klasemen sementara 2017 NA LCS Spring Split. Pertandingan ini berhasil dimenangkan Cloud9 2-1.

Namun bagi Kien Lam, kakak dari pemain FlyQuest Hai “Hai” Lam, pertandingan tadi bukan sekedar perebutan klasemen ataupun perang saudara. Kien Lam menulis di LoL Esports tulisan berjudul The Hai Road yang menceritakan perjalanan Hai saat masih kecil hingga sekarang ini. Tanpa basa-basi lagi simak ceritanya dibawah ini!

P.S: Karena sangat banyak maka akan dipisah menjadi 3 part.

The Hai Road

Bagi sebagian besar fans League of Legends, melihat Cloud9 berhadapan dengan FlyQuest seperti melihat sebuah keluarga bertarung. Di satu sudut adalah tim yang mereka dukung — 3 angka 9 bergabung membentuk seperti awan. Dan di satu sisi ada wajah-wajah yang memperjuangkannya. Wajah yang membuatnya kurang berawan dan menambah badai.

Bagiku — ini tidak sekedar melihat keluarga yang bertarung. Aku melihat adik kecilku, Hai, membangun C9 dari nol. Aku pernah melihatnya mati sekali. Aku melihatnya hidup kembali. Pertandingan ini akan tampak seperti Ia menghadapi anaknya sendiri — yang sekarang sudah cukup umur untuk berdiri tanpanya, yang mulai terbang meninggalkan sarangnya. Dan Aku mengingatnya saat pertama kali melihatnya bermain secara langsung — dulu saat 2015 NA LCS Regional Qualifier — dan momen itu terasa seperti jurang di karirnya. Namun Ia tidak terjatuh.

Membuka lilitan kabel Keyboard dan Mouse sudah menjadi rutinitas bagi Hai. Kamera menyorot kearahnya saat penonton mulai berdatangan. Di atas panggung ada 10 komputer yang ditata sedemikian rupa. Ratusan orang berkumpul Studio Riot Games di Los Angeles. Ratusan ribu lebih menyaksikan streaming di rumah masing-masing. Hai Lam, kapten tim C9 divisi League of Legends, mencengkeram pergelangan tangannya sambil duduk di kursi. Dia mengambil satu nafas panjang. Dari sinilah perjalanan C9 yang penuh keajaiban dimulai.

ImageBlock_01_1 Beberapa bulan sebelumnya, Hai duduk di sebuah mobil kecil Toyota Yaris — mobil yang dipinjamkan oleh saudara kami Bao, dan mulai menangis. “Sudah lama sekali sejak Aku menangis seperti ini,” katanya.

Dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dekat Teamhouse lama C9 di California Utara dengan seluruh hidupnya terbungkus di sebuah mobil. Dia awalnya akan pergi, namun kenyataan yang Ia tinggalkan akhirnya Ia ingat. Selama dua tahun, Dia tinggal bersama timnya. Mereka menjadi keluarganya — sebuah hal pertama yang menjadi kenyataan selama lebih dari satu dekade. Mereka adalah orang-orang yang sangat Ia percayai, dan bersama, mereka menempuh jalan  professional gaming. Dan Ia adalah pemimpinnya.

ImageBlock_01_2Tapi panggilan untuk pensiun mengubur dalam-dalam kenangan masa lalunya. Anggapan bahwa Ia adalah pemain yang lemah merasuk ke dalam tim dan perlahan mulai mengikisnya dari belakang. Tiap kali Ia membuat kesalahan saat latihan dan pertandingan, lubang kecil itu semakin membesar. Dan di umur 22 tahun, Ia memutuskan untuk pensiun sambil memikirkan langkah selanjutnya.

Ayo kita mundur sejenak dari kenangan itu. Sebelum panggung besar dan nafas panjang. Sebelum California dan Azeroth

Keluarga kami adalah imigran dari Vietnam yang tinggal di Michigan. Ayah kami bekerja di pabrik plastik dan mengumpulkan botol-botol yang terbuang untuk ditukarkan dImageBlock_01_3engan 10 sen tiap botolnya. Ibu kami bekerja di Taco Bell. Kami tinggal di rumah saudara kami dan di satu ruangan apartemen kecil dan taman kecil sebelum mengumpulkan cukup uang untuk mendirikan peternakan sederhana. Kami bahkan belum mengenal Komputer.

Setelah ayah kami membeli Nintendo 64 yang dirlis pertama kali pada tahun 1996, tidak ada diantara kami yang tahu bagaimana menggunakannya. Mencolokkan alat terlihat seperti permainan anak kecil sekarang ini. Kamu mencocokkan bentuk dan menekan satu tombol untuk menyalakannya. Kecuali kami tidak tahu “input” yang dimaksud— tidak ada diantara kami yang bisa membaca Bahasa Inggris. Kami tidak mengerti petunjuknya. Jadi kami mengembalikannya dan tidak memikirkannya lagi. Komunikasi adalah hal penting yang tidak akan pernah kulupakan.

Ini adalah satu dari beberapa hal yang kuingat saa di usia tersebut. Mungkin itu adalah hal yang memalukan. Mungkin itu adalah awal dari ketertarikan untuk sebuah permainan baru atau kekecewaan yang meninggalkan kesan mendalam. Dalam jangka waktu yang cukup lama, kenangan ini tampak tidak signifikan. Melihat Hai yang bermain video game untuk mencari nafkah — memperoleh gaji senilai enam digit pada saat itu — dan pengalaman itu menjadi tampak nyata. Duduk di tengah kerumunan dan mengetahui ratusan ribu orang menonton pertandingan itu. Ini adalah hal yang tidak pernah kubayangkan. Tidak di dalam bayanganku yang paling liar saat kami menjelajahi World of Warcraft bersama-sama. Tidak pernah aku membayangkan Hai sebagai pro player.

ImageBig_01_Photo

Kami tidak punya banyak hal saat kami kecil, tapi cerita kami bukanlah tentang undian yang membuat miskin menjadi kaya. Seperti beberapa generasi pertama keluarga imigran, kami memperoleh keuntungan dari orang tua yang bekerja keras — Ibu kami, yang bekerja selama 80 jam seminggu bahkan sampai hari ini. Mereka selalu mengingatkan kami untuk belajar, namun kami tidak pernah mendengarkan. Sulit bagi mereka untuk memaksakan aturan yang mereka tinggalkan cukup lama.

Sampai hari ini Ibu kami tidak mengerti apa yang Hai lakukan untuk menghidupi dirinya. Tapi dia tidak meneriakinya karena bermain terlalu banyak. Dan aku tidak yakin semua orang “mengerti”. Maksudku, sebererapa sering kamu melihat seseorang bermain video game dan memikirkan apa yang kamu lakukan dengan hidupmu?

Aku berpikir bahwa N64 sangatlah rumit. Atau mungkin TV kami tidak cocok. Atau mungkin karena kami imigran sehingga hal ini tidak cocok bagi kami. Setahun kemudian, kami pindah ke sebuah rumah dan membeli NES tua. NES itu juga terdapat game side-scrolling dengan dua pemain yang disebut dengan Contra. Adikku dan Aku sangatlah buruk saat memainkannya.

Kami kehilangan semua nyawa pada level pertama dan melihat ayah kami menyelesaikan game itu seorang diri. Saat kami masih muda, kami dikondisikan untuk melihat seseorang bermain saat mereka gagal. Dan itu mengarahkan pilihan kami sat masih muda. Kami bertiga berkumpul di satu ruangan selama setahun. Kepala kami selalu bertubrukan. Kami hanya memainkan permainan multiplayer — sulit bagi kami untuk meyakinkan seseorang melihat yang lain memainkan game seperti Zelda atau Final Fantasy. Kami selalu menuntu giliran.

Melihat orang bermain biasanya terjadi di ruang keluarga — dengan teman dan keluarga. Tidak seperti olahraga tradisional, tidak ada tempat atau institusi bagi gamer profesional. Tidak ada tim di sekolah yang dimana seorang gamer menjadi pemimpin. Tidak ada cerita underdog dan perjalanan menuju kejuaraan. Sebagian besar kehidupan game online terjadi di balik pintu dan nama yang disamarkan.

Gamer profesional adalah permata yang berada di ujung pegunungan berbatu. Kemampuan mereka diasah oleh pengulangan. Tidak ada mentor. Tidak ada pelatih. Bagi sebagian besar anak – anak yang memainkan video game, momen gaming terbaik mereka hanya terjadi sendirian. Flash – Malphite Ulti. 360 No-scope. Raid mereka berhasil. Apa yang kami lihat di panggung berasal dari momen kecil yang terisolasi.

Momen-momen itu bagi gamer mirip dengan anak kecil yang berada di bawah ring basket menghitung mundur sampai 3 sebelum mengamil tembakan kemenangan. Bagiku, seringkali itu meleset — tapi aku akan mengulanginya terus sampai tidak meleset lagi. Aku akan mengulanginya sampai kerumunan penonton bangkit dari kursi mereka seperti gravitasi yang dijinakkan, dan ketika aku mendarat momen itu akan hilang selamanya. Dan itu terjadi. Sama juga dengan momen yang momen yang tidak terhitung jumlahnya yang lahir dari gaming. Tapi tak apa. Kami akan bermain untuk membuatnya lagi.

Dan melihat Hai di panggung LCS adalah pengulangan itu. Para pemain diperbolehkan untuk melangkah dari isolasi menuju impian yang agung. Mereka bermain game di level tertinggi. Tiap kali para penonton berteriak dan suara komentator menggema melewati layar, sebagian kecil dari otakku menangkap momen itu dan mengkotakkannya untuk digunakan di kemudian hari. Daripada melihat permainan imajinatif di lapangan, ada beberapa anak yang mampu mendaratkan spell yang sempurna di video game dan ada komentator yang meneriakkan namanya. Mereka membayangkan kerumunan yang sama mendukung lawan yang mencuri Baron.

ImageGallery_01 ImageGallery_02 ImageGallery_03 ImageGallery_06

Bagi Hai, momen yang bergerak sendiri itu adalah kunci kepercayaan dirinya. Kami melakukan segalanya bersama-sama saat masih kecil, bahkan saat terjadi pertengkaran dan perkelahian. Tapi itu adalah ejekan yang sehat, untuk sebagian besar. Setidaknya sampai orang tua kami bercerai. Setelah itu percekcokan meningkat. Biasanya hanya ejekan kecil yang bakal terlupakan dalam hitungan menit, semuanya menjadi masalah besar. Ejekan menjadi lebih tajam. Menyalahkan satu sama lain tiap terjadi kekalahan. Kehidupan sehari-hari membuatku muak — seperti menunggunya di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Mungkin aku hanya mencari tahu siapa yang harus disalahkan mengenai perceraian itu.

Aku membentak apa yang Ia katakan jika Ia mengatakan hal yang bodoh. Aku pikir Ia berurusan dengan sikap rendah diri selama beberapa tahun. Jika kamu mengenalnya sekarang, kamu akan menertawakannya. Dia membawa dirinya dengan level kepercayaan diri yang setara dengan arogansi. Hai bilang, tentang aku, “[Kien] punya cara untuk mengungkapkan kata yang membuatku merasa kurang sebagai manusia. Perkataan itu seperti memakanku.” Aku tidak ingat secara spesifik tentang ini, namun aku tahu sekarang aku bukanlah kakak yang baik.

Hai memiliki berat dibawah100 pound saat masa Sekolah Menengah. Dia masih kurus sekarang, namun dulu tulangnya terlihat. “Aku makan sekali, mungkin dua kali sehari dan menghabiskan waktuku di depan komputer sepulang sekolah.” katanya. Pada dasarnya Ia menjada kepalanya tetap rendah saat Ia dirumah. Pada waktu itu, hanya beberapa orang yang mampu hidup sebagai gamer profesional. Video Game bukanlah tiket menuju kenamaan, dan mereka tidak menahan mimpi mereka. Mereka hanya mengambil langkah yang aman. Ini memberinya kesempatan untuk membuat sesuatu yang baru dari dirinya sendiri.

 

To be continued Part 2…

Laurent Vic

RIP AND TEAR UNTIL IT'S DONE

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply