Mengenal Hai dari FlyQuest Lebih Jauh: Bagian 2

Mengenal Hai dari FlyQuest Lebih Jauh: Bagian 2

Bagian 1

Cerita ini adalah cerita yang paling terkenal sejagat Esport LoL, namun sulit dipercaya. Cloud9 kalah 2 game melawan Gravity Gaming di set Best of 5 saat di ajang 2015 Worlds Championship NA Regional Qualifier. Setelah menjalani musim yang amat sangat mengecewakan — hal yang C9 belum pernah hadapi sebelumnya — Mereka membutuhkan 3 kemenangan langsung supaya bisa bertahan. Mencapai 2 kemenangan langsung bukanlah hal yang mereka lakukan sepanjang musim. Tapi mereka terlihat berjuang keras. Suara Hai membawa mereka lebih tinggi daripada orang lain di atas panggung — jauh lebih jelas bahkan dalam situasi kalah.

Dia masih sangat baru dalam urusan jungling. Dia menerima kritik yang sangat banyak karena mekanik midlanenya, jadi berpindah ke role lain — dan bermain di tingkatannya — sedikit ajaib. Mungkin timnya mampu menutupi kekurangannya. Aku tahu itu bukan role favoritnya, dan Ia masih merasakan bagaimana pahitnya ketika Ia mundur dari posisi midlane. Meskipun cedera, Dia ingin bermain sebagai midlaner untuk mengambil kesempatan bermain di Worlds sebelum ia pensiun. Dia ingin mengakhiri karirnya berdasarkan keinginannya, tapi panggilan untuk mundur sangatlah kencang. Suaranya, menggema sangat kencang dan telah membawa timnya meraih beberapa kemenangan, tenggelam.

Satu dari kritik yang melawan Hai yang menjadi bagian besar dalam karirnya adalah dia tidak memiliki mekanik sebaik lawannya. Dia selalu dikenal dengan kemampuan memimpin timnya, tapi saat ia jatuh, identitas Cloud9 juga ikut bersamanya. Bagiku, inefisiensi Hai berasal dari gaya bermain timnya — satu banyak meminta namun memberinya sedikit. Satu meta yang terkenal saat itu adalah lane swap meta dimana saat early terdapat double jungle dan roaming Support. Rasanya seperti melihat timnya bertabrakan dengannya. Tentu saja, itu mungkin hanya perspektifku yang berat sebelah, tapi C9 tidak pernah dikenal sebagai tim dimana mid adalah prioritas.

Apapun alasan mengenai performanya, persepsi itu tidak cukup untuk mengikis semangatnya. Dia selalu bilang kalau Ia tidak peduli apa yang publik katakan tentangnya, tapi itu adalah satu hal yang Ia katakan dan beberapa yang dipercaya. Mungkin Ia mencoba untuk menjiwai champion yang Ia mainkan, tapi Ia tetaplah manusia. Bagaimanapun juga, bagaimana bisa seseorang dipuji karena kemampuan komunikasinya mengabaikan sebuah omongan? Dan Ia memutuskan untuk mundur.

Cloud9 memberinya perpisahan bak pahlawan, dan komunitas menyambut kabar pensiunnya. Kabar berita mengatakan bahwa Ia kehilangan kemampuan untuk menjaga latihan ala pro-gamer karena cedera tendonitis di lengannya. Sebagai tambahan, ia mengalami masalah paru-paru tahun lalu, yang baru kuketahui lewat Reddit. Aku menikmati malam di bar sambil makan pizza saat menyalakan handphoneku. Aku tidak berpikir kalau aku terlalu banyak minum, tapi melihat adikku terhubung dengan tabung dan jarum di “halaman utama Internet” membuatku mempertanyakan kesadaranku malam itu.

Total pencapaian Hai selama menjadi Midlaner
Total pencapaian Hai selama menjadi Midlaner

Secara pribadi, Dia menjaga lengannya tidak mengganggunya. Dia masih bisa menjaga kondisinya bahwa Ia masih, setidaknya, midlaner terbaik kedua di NA. Mungkin itu bukan apa-apa dibandingkan kebanggaan. Sulit juga bagiku untuk menerimanya — Aku menonton setiap pertandingannya sejak Ia berada di mid di kancah amatir. Pada tahun 2012, Aku melihatnya melalui laptop depan toasterku setelah Ia mengantarku ke apartemenku selama jeda karena internetnya mengalami gangguan. Dia mengatakan internetnya terkena DDOS. Jadi aku membayangkan situasi Matrix. Mungkin laptopku adalah salah satu bilik telepon di film itu.

Aku kemudian melihatnya kalah yang membuatnya tereliminasi dari split pertama LCS pada tahun 2013. Dan Aku ingat berbaring di kasur terjaga semalaman mencoba untuk berbicara dengannya — seperti aku mampu menghiburnya meskipun hubungan kami tidak begitu dekat. Aku pikir aku mencoba untuk menghibur diriku sendiri. Dalam banyak hal, aku hidup berdasarkan pengalaman Hai. Dan melihatnya bermain seakan menjadi media bagi kami untuk lebih dekat. Aku merasa patah hati saat Ia kalah. Ia merasakan lebih buruk lagi.

Seminggu setelah gagal di babak kualifikasi, Dia mengirim pesan dan bilang bahwa Ia berpikir untuk berhenti sekolah (Michigan State University). Organisasi bernama Quantic Gaming menawarkannya untuk tinggal di team housenya. Dia menginginkan pendapatku. Aku tak bisa mengingat apapun sebelum itu (atau mungkin beberapa, sejujurnya) ketika Ia meminta pendapatku terhadap sesuatu. Aku berkata padanya untuk pergi, meskipun aku tahu Ia sudah membuat keputusannya waktu itu.

Aku tidak yakin apa yang membuatnya menanyakan opiniku malam itu. Mungkin Ia ingin berbicara dengan orang yang dekat dengannya. Mungkin karena di saat bersamaan aku juga mengejar gelar yang akan menjadi pendukung sekolah. Mungkin itu berarti sesuatu baginya untuk mendengarku suportif sekali saja. Dan pada waktu itu tidak ada ahli yang berada di bidang profesional gaming. Khususnya di Amerika. Dia tidak punya banyak pilihan dalam urusan saran.

Aku tahu ia selalu membenci sekolah. Dia tinggal di ruang tamu yang juga sebagai kamar untuk tidur bersama di apartemen kecil, jauh dari sekolah. Dia punya kasur, komputernya, dan koleksi mi instan cup kosongnya. Semua glamour dan kemewahannya ia tumpahkan ke League of Legends — sangat banyak yang bahkan yang pada waktu itu sama sekali tidak ada jaminan. Mungkin Ia masih makan mi instant.

Inilah mengapa aku bingung kepada orang -orang yang menyusuri kehidupan sebagai pemain LCS dalam waktu lama. Aku berpikir hal seperti apa yang mereka tinggalkan hanya untuk mengejar mimpi. Apa yang mereka makan? Bagaimana kondisi kehidupan mereka? Dan dalam jangka panjang, mungkin itu layak. Mungkin “bagaimana jika” tidak mengejar akan lebih sulit untuk menangani daripada “bagaimana jika” dari kehilangan sekolah — kamu akan memiliki pemahaman yang lebih baik seperti apa perjalanan studi tradisional. Dan pilihan itu selalu terbuka, jika juga sedikit tidak pasti.

Setelah pindah ke California, tim Hai berhasil maju ke LCS sebelum direbrand menjadi Cloud9. Aku teringat merasa ragu-ragu saat tentang pertandingan kualifikasi, tapi pada dasarnya itu adalah 3 pertandingan berdurasi 25 menit. Aku sangat bersemangat terhadap Cloud9.

Dan Hai menjadi wajah mereka. Dan ketika Ia mundur, Aku mulai berhenti mengikuti Cloud9 dan LCS secara perlahan. Aku selalu berpikir bahwa aku adalah fan esport, namun aku mulai menyadari bahwa aku adalah penggemar berat adikku. Rasanya lebih mudah ketimbang merasa dekat dengannya. League terasa berbeda tanpanya.

Pencapaian Hai selama menjadi Support
Pencapaian Hai selama menjadi Support

Aku pernah mencari nama Hai di Reddit untuk melihat apa yang mereka katakan tentang Hai setelah game. Dan menjelang akhir jabatannya sebagai midlaner, Aku menemukan diriku terjebak dalam argumen dengan orang asing tentang permainannya. Aku melihatnya membuat post tentang bagaimana komunitas memperlakukan pemainnya — Aku memikirkan banyaknya kritik yang diperparah dengan kedekatan pemain dengan fansnya.

Pemain pro tumbuh dengan medsos. Mereka bahkan berbagi mengenai tempat latihan — SoloQ — dengan amatir. Ada perhatian lebih yang ditempatkan pada mereka. Dan sebagian besar pemain masih remaja — beberapa belum menyelesaikan tahun memalukan mereka di sekolah. Mereka belum tahu siapa mereka dan mereka diberi tugas memperkenalkan diri mereka dengan baik. Terkadang, yang lebih penting dari bermain adalah dianggap bermain dengan baik — setidaknya dalam konteks panjang karir. Tanpa itu, sangat mudah bagi pemain untuk kehilangan kepercayaan dan semangat.

Sangat kecil, tapi aku merasa benar ketika melihat Cloud9 berjuang tanpa Hai. Mereka finish pada peringkat dua bersamanya, namun dengan kepergiannya mereka berjuang untuk keluar dari posisi akhir. Ketika aku melihat tim, mereka tampak mencoba dengan keras untuk tidak menjadi pihak yang paling disalahkan. Tidak tampak rencana kohesi menuju kemenangan. Tidak ada yang mau menempatkan diri mereka didepan. Mungkin bagian dari itu adalah melihat Hai terbang — jika itu terjadi padanya, terus kenapa tidak dengan mereka?

Selama itu, Hai pindah ke Los Angeles. Dia menangis di dalam Yaris saat menyetir ke Pasific Coast sehingga tampak seperti rom-com tahun 80an. Lagu cinta yang bodoh menggelegar. Penyesuaian hidup barunya dimulai. Jauh dari latihan harian. jauh dari ekspektasi dan kekakuan kehidupan pemain pro. Seharusnya ini menjadi kelegaan dalam masa pensiun. Tapi Ia menangis.

Aku tidak berpikir bahwa Ia terbiasa dengan kehidupan pensiunan. Mereka bilang butuh waktu setengah dari lamanya hubunganmu sebelum benar-benar putus. Dia baru pensiun selama beberapa bulan. Aku tidak mau bilang kalau keputusannya untuk kembali adalah tanpa pertimbangan dan keraguan, tapi itu tidak seperti Ia membenci Cloud9. Jadi ketika mereka meminta bantuan, Ia siap. Awalnya, C9 hanya ingin mengubah atmosfir, tapi Meteos — yang melihat perbedaan komunikasi — berpikir bahwa akan lebih baik ini tetap permanen. Meteos waktu itu adalah bintang dan wajah dari franchise C9 dan berada pada puncak, mungkin, satu musim paling dominan di sejarah NA LCS. Permainan junglenya adalah kunci identitas timnya. Mundur, tentu saja, bukanlah keputusan mudah.

Total Pencapaian Hai selama mengisi posisi Jungler
Total Pencapaian Hai selama mengisi posisi Jungler

Di peran barunya, kembalinya Hai bukan tanpa halangan — C9 kalah di tiap gamenya, tapi ada energy dan kepercayaan yang bangkit kembali. Semangat tim meningkat. Ekspektasi tim yang tinggi yang ada pada mereka mulai berkurang — tidak ada yang mengharapkan mereka untuk menunjukkan beberapa gigitan.

Eksperimen jungle terlihat tidak bekerja dengan baik. Semangat dan Komunikasi tidak berarti banyak jika Cloud9 tidak bisa kembali ke form puncaknya. Begitulah harapan mereka telah ditempatkan pada diri mereka sendiri dari awal. Mereka membuat langkah bawah mereka tidak jatuh di tiap kekalahan, tapi kekalahan dengan gaya tetaplah kekalahan.

Tapi mereka mulai mengunci beberapa kemenangan bersama. Sangat cukup, faktanya, untuk memaksakan tiebreaker di akhir musim melawan Team 8. Sebuah kemenangan bakal memberikan mereka tempat di ajang Regional Qualifier untuk memutuskan siapa yang akan mengisi slot terakhir region NA di ajang 2015 World Championship. Apa yang Hai tinggalkan di belakang parkiran di California Utara jauh dari jangkauannya. Dia masih punya satu kesempatan untuk bertarung memperebutkan titel League paling bergengsi. Dan, tentu saja, Cloud9 mengalahkan Team 8. Itu adalah kesempatan “terakhir” pertama mereka.

Tapi ketika mereka melihat diri mereka tertinggal 2 game melawan Gravity Gaming di Regional Qualifier, Aku menyadari bahwa Aku mungkin melihat permainan terakhir Hai di ajang profesional League of Legends. Sesuatu tentang itu terasa spesial, Aku merasa salah tentang mengapa hal itu sangat spesial. Aku sangat senang melihatnya bermain — ini bukanlah permainan Contra. Aku tidak akan mendapat giliran. Tapi aku sangat kecewa mereka tidak menang. Dalam beberapa hal, aku mengira bahwa aku adalah Jimat kebuntungan. Aku membayangkan jika Ia adalah pemain gagal.

Di Game 3 melawan Gravity, Hai memutuskan untuk mengeluarkan outcome yang kecil, tapi C9 seperti membalikkan tombol. Kontras dengan awal musim, mereka bersiap untuk berkemas dan pulang. Berkat beberapa keunggulan di early game, mereka berhasil memperoleh kemenangan yang ceroboh. Mereka diharapkan untuk kalah, dan kemudian mereka dipojokkan. Apa yang merangkak dari sana bukanlah monster yang sama — tapi powerhouse mereka. Tidak tampak lembut dan goyah terdorong hembusan angin yang kencang. Tapi tetap goyah dan tidak jatuh.

Kemenangan itu membuat jelas penonton berada pada pihak Cloud9. Gravity, meskipun berhasil, tidak punya waktu untuk menumbuhkan image untuk menarik perhatian fans. Mereka awalnya adalah tim yang penuh dengan potensi , tapi mereka jatuh dan tercecer setelah satu split. Itu adalah maksudku ketika aku bilang lebih penting untuk dianggap sukses. Kritik bisa dipantulkan.

Sangat berarti banyak  bagiku untuk melihat Hai menang, tapi aku ingin lebih. Itu selalu menjadi masalah. Itulah yang terjadi jika kamu tumbuh di lingkungan yang kompetitif ketika yang kalah harus duduk dan melihat. Dan itulah yang Ia inginkan. Kali ini, Ia ingin mengakhiri karirnya sesuai keinginannya, Dia tidak akan membiarkan orang lain mengakhirinya.

Di Game 4, Hai memilih Kha’Zix, yang mana merupakan champion favoritnya sebagai midlaner dan juga satu dari beberapa champion suksesnya. Awal game sangat buruk untuk Cloud9. Mereka kalah di pertandingan yang cukup sengit sampai tiba pada suatu momentum. Momen kunci datang ketika mereka membunuh Baron — tanda utama bagi Hai. Harus kuakui itu juga motto keluarga — jika ragu, ambil Baron. Dan sementara usaha tim sangat kecil, apa yang kita lihat hidup lagi adalah jiwa lama Cloud9 yang hidup dan mati karena keberanian Hai. Dan mereka hidup. Ketika mereka menghancurkan Nexus untuk menyamakan kedudukan, penonton tahu bagaimana Game 5, dan seluruh seri, akan berakhir. itu sudah terlihat jelas di wajah pemain Gravity. Mereka hanya bagian dari plot. Seperti yang mereka katakan, kami semua melihatnya.

To be continued Part 3

Laurent Vic

Writer, Gamer, Mechanical Keyboard Enthusiast, Dank Memer, Noob Yu-Gi-Oh! Duelist

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply


comments