Mengenal Hai dari FlyQuest Lebih Jauh: Bagian 3

Mengenal Hai dari FlyQuest Lebih Jauh: Bagian 3
ImageBig_02_Photo

Bagian 1

Bagian 2

Ada sebuah momen dihidupmu ketika kamu menahan nafas tanpa kamu sadari. Tidak sampai moment itu berlalu. Kemudian mulai bernafas lagi saat tubuhmu mulai kekurangan nafas. Seperti itulah Gauntlet (Regional Qualifier) bagiku. Dulu Aku tidak suka memberikan giliranku pada Hai — jauh di dalam hatiku Aku adalah kompetitor. Melihat artinya sekarang bukanlah giliranmu. Atau panggungmu. Tapi ini menjadi kunci perbedaan. Setelah mencapai umur tertentu, Aku bukan lagi kompetitor Hai. Dia jauh lebih baik.

Dengan munculnya internet berkecepatan tinggi, Kami berdua mulai menarik diri dari konsol dan memulai langkah kami bermain permainan online. Semuanya dimulai dengan RPG web browser bernama Runescape. Aku merasa sebagian besar game dimainkan dengan mengandalkan klik, namun Runescape mengajarkan klik secara berulang dan terus menerus. Kamu hanya perlu meng-klik berulang pada sebuah batu selama berjam-jam hanya untuk menaikan level skill mining-mu.

Aku telah melihat banyak orang menyapa dan memanggil Hai dengan berbagai nama — dari yang kreatif sampai yang sangat sederhana. Tapi nama online pertamanya? Iamannoyed. Karena Ia tidak ingin memikirkan nama, itulah nama yang Ia pakai. Ketika Aku mengingat lagi game itu, Aku membayangkan Avatar kecilnya — Sepatu dan Celana dan Helm Perunggu — menghantami sebuah batu dengan Pickaxe. Diatasnya ada nama “Iamannoyed

Hai dan Aku melompat dari satu MMORPG ke MMORPG lain dan akhirnya berhenti di World of Warcraft. Kami dulu pernah bermain PvP dan Arena bersama. Tiap kali ada sesuatu yang salah, kami saling berteriak satu sama lain. Mungkin itu adalah Aku yang berteriak padanya dan Ia mencoba melindungi dirinya sendiri. Kami ingin tahu tiap cooldown dan pergerakan masing-masing. Tiap perubahan suasana. Kami tidak duduk dan bermain dengan tenang — itulah stereotip yang kami lalui.

ImageBlock_02_1  Jadi semuanya masuk akal bagiku saat Hai menjadi shot-caller. Dia hanya perlu mencari orang yang benar-benar mau mendengarkannya, tidak sepertiku. Bagiku, shotcalling sepertinya tidak menjadi masalah mengetahui hal-hal apa yang harus dilakukan seperti berkomitmen pada satu hal. Kam tidak punya waktu untuk merefleksikan kesalahan strategi saat di dalam game. Dan Cloud9 jauh lebih tegas dari tim manapun. Mungkin adalah sebuah Ironi jika mereka terjebak di refleksi itu.

Pertandingan Gauntlet adalah pertama kalinya Aku melihatnya bermain secara langsung. Aku tidak tahu apa yang kuharapkan. Aku merasa sedikit canggung ketika menjelaskan pada pegawai Riot di pintu masuk bahwa Aku ada ImageBlock_02_2di dalam “daftar”. Tentu saja, Pegawai Riot itu memasangkan gelang padaku dan menjelaskan bahwa Aku memiliki akses ke tempat pemain di backstage. Aku masuk dan antara para pemain merasa malu untuk makan atau sudah kenyang, tapi pada dasarnya makanan prasmanan disitu sama sekali tidak tersentuh. Aku masih merasa sedikit bersalah karena Aku makan terlalu banyak (Rasanya Enak) tapi tidak ada dari mereka yang melihatku seperti itu.

Akhirnya, Aku sampai ke depan kerumunan dan duduk disamping Manager dan Owner Cloud9 Jack. Aku berharap Aku bisa memberitahumu satu rahasia Jack atau bisa dibilang dia benar-benar bau, tapi dia orImageBlock_02_3ang yang baik bagiku. Meskipun begitu, Aku menyadari meskipun punya hubungan keluarga Aku hanyalah pemain biasa diantara kerumunan. Mereka semua telah berinvestasi di dalam tim dari hari ke hari, secara langsung. Hai berhasil membuat keluarga baru, lengkap dengan dinamika, cobaan, dan tradisi.

Keluargaku tidak terlihat begitu dekat, meskipun kami tumbuh seiring dengan bertambahnya umur dan kedewasaan — apapun itu. Tapi Aku mengenal mereka jauh lebih lama dibanding siapapun dalam hidupku. Saat musim panas Aku sebagai anak-anak saat tidak bisa tidur di kasurku, Aku diam-diam merangkak ke kasur adikku tiap malam. Aku tidak yakin apa yang mendorongku atau yang membuatku lebih nyaman — Mungkin saat itu aku masih takut gelap dan monster. Mungkin itu membantu untuk mengetahui seseorang akan berada dalam jangkauanmu untuk menarikmu kembali ke dunia ketika Aku terbawa cukup jauh. Kami melupakan banyak hal, seperti hubungan dengan kebudayaan kami — penguasaan bahasa Vietnam kami. Kami melihat ayah kami pergi meninggalkan rumah. Kami berhenti bermain game bersama. Sampai sekarang, ada malam dimana kasurku terasa kosong. Aku menyalahkannya pada relasiku yang gagal, tapi Aku berpikir aku telah berurusan dengan isolasi dalam kurun waktu yang lama. Game memang membuatku melarikan diri, tapi tidak ikut keluar bersamaku ke kasur. Tidak diluar blok Tetris yang jatuh ke kelopak mata. Sangat membantu bagi anak-anak untuk bangun saat mendengar orang lain bernafas.

Dalam banyak hal, Aku pikir kami melalui banyak hal bersama saat dewasa. Hai mengalami perpisahan pertamanya saat menjelang akhir dari Sekolah Menengah — Hubungannya adalah salah satu dari pembangun kepercayaan dirinya. Dia sangat kecewa Dia bahkan memukul tembok di Ruang Keluarga sampai berlubang. Mungkin disitulah masalah lengannya bermula.

Dia berkata, “Aku merasa dikhiatani oleh seseorang yang lebih dari keluarga — rasanya sangat sepi seperti tidak ada seseorang disini untukku. Aku benci kakakku, tidak akrab dengan keluargaku, dan jarang berbicara dengan adik kecilku. Aku duduk di pojok di kegelapan dan menangis menyadari lemahnya diriku untuk mengubah hidupku.”

Mungkin itu terlihar sedikit dramatis sekarang. Tidak lebih dari kecemasan seorang remaja, tapi Aku membayangkan momen di dalam mobil itu saat meninggalkan rumah itu membuatnya merasakan hal yang sama. Jik ada sedikit jejak dirinya yang lama dibalik ketenangannya dan sifat swag-nya di depan kamera. Apa yang kita lihat sebagai penonton esports terlihat di sorotan, pertama kali, adalah cerita seorang kutu buku di dunia. Dulu Gaming sama sekali tidak membawa stigma yang sama. Atau setidaknya tidak begitu banyak. Tapi ada sebuah persepsi dimana itu hanya membuang waktu — meskipun memiliki kemampuan untuk menyatukan orang-orang di seluruh dunia dan memperbolehkan mereka untuk berkreasi didalam sebuah kotak pasir.

Kembali ke 2010, ketika dia mulai mencoba League of Legends, dia mengatakaImageMedium_01n padaku untuk mencobanya. Dia mengatakan pada dasarnya itu adalah Defense of the Ancients, yang mana adalah sebuah game yang Ia mainkan saat remaja. Pada waktu itu, kami bermain match pribadi dengan beberapa pemain top di negara ini. Kami juga banyak berteriak pada orang tua kam yang mengatakan untuk tidak membuang waktu dengan bermain game, tapi itulah yang kami lakukan saat dirumah. Dan setelah mereka bercerai, mereka seakan kehilangan kontrol terhadap apa yang kami lakukan di rumah. Interview Travis Gafford dengan Ayah kami membuat orang-orang menyebut kesuksesan Hai adalah tumbuh di lingkungan yang stabil dan mendukung. Aku pikir itu sepertinya benar sekarang, tapi itu bukan caranya tumbuh. Stabilitas datang dari timnya. Hai tumbuh berdasarkan kekuatan mental dirinya dan ambisinya.

Aku awalnya berpikir bahwa League of Legends itu terlalu kekanak-kanakan. Aku tidak bisa men-deny minion. Aku tidak bisa membuat pengalaman bermain seseorang menjadi buruk. Alasan terbesarku tidak segera memainkannya , mungkin karena masalah harga diri. Hai sudah menjadi pemain top di NA pada 2012. Aku memiliki masalah mengakuinya lebih baik dariku. Sampai sekarang, aku benci mengatakannya. Tapi Hai, tak perlu diragukan lagi, lebih baik dariku. Dan game adalah bahasa yang kami selalu pahami. Kekalahan menetap bersamamu. Kemenangan itu sekilas — selalu mencoba lepas dari genggamanmu. Mencapainya, adalah hal yang kami pahami.

Bagi Hai, “Video Game adalah duniaku. Mereka adalah jalan hidupku dan pelarianku. Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka.”

Jika, pada awalnya, League of Legends adalah sesuatu yang aku alami di Staples Center pada tahun 2013, dimana World Championship Final digelar, mungkin aku akan memainkannya lebih awal. Aku mengharapkan orang untuk tahu siapa dia saat kami berjalan di atas panggung. Aku mengharapkan mereka untuk meminta tanda tangan dan untuknya supaya memiliki privasi tertentu.

Apa yang tidak kuharapkan adalah kerumunan orang yang menghentikannya tiap jarak 10 kaki. Aku tidak mengharapkan masuk ke Staples Center melalui pintu yang sama dimasuki oleh Kobe Bryant. Aku tidak mengharapkan orang-orang memberinya tempat supaya kami bisa duduk bersama di atas lantai. Aku tidak pernah mengharapkan jam-jam bermain yang kami lalui dengan kontroler di tangan atau di depan PC berevolusi menjadi lebih dari nostalgia.

Tapi Cloud9 menghancurkan Nexus Gravity di game 5 Gauntlet? Itulah hal yang kuharapkan. Dan ketika mereka menyapu bersih Team Impulse keesokan harinya setelah tertinggal 0-2 lagi, Aku mulai sedikit memercayai takdir. Hollywood memiliki kisah comeback, dan disana ada kita — sepasang anak dari keluarga miskin dengan dinamika keluarga yang buruk. Hanya berjarak beberapa yard satu sama lain. Menang melawan Team Liquid di hari terakhir gauntlet adalah kesimpulan yang kuambil pada waktu itu. Mereka bangkit dari jurang eliminasi — dan dengan itu, mungkin, pensiunnya Hai — setelah 8 game, dan mereka menolak untuk memberikan kontroller. Tampaknya, Akulah yang kalah di Video Game — bertahun-tahun menjadi terbaik diantara anggota keluarga yang lain menjadi buram. Adalah Hai yang memegang kontroler, dan Aku menontonnya.

Dia adalah anak kurus yang tumbuh dengan memakan semut karena Aku mengatakan bahwa rasanya seperti coklat. Dia adalah anak yang tidak memikirkan nama panggung supaya bisa dikenal. Anak yang sama yang menumpahkan cup berisi ramen ke selangkangannya dan terkena luka bakar tingkat kedua sebelum membersihkannya karena Dia harus menyelesaikan gamenya. Di sini Ia berada di puncak sebuah brand gaming terbesar di dunia, dan diatas suara kerumunan dan game adalah suaranya. Dan itu datang dari salah satu nafas yang ingin membuatku bernafas untuknya dan bersamanya dan Aku ingin supaya tidak berhenti.

-FIN-

Laurent Vic

Writer, Gamer, Mechanical Keyboard Enthusiast, Dank Memer, Noob Yu-Gi-Oh! Duelist

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply


comments