Sejarah Worlds Dimulai Dari Turnamen Kecil Ini

Sejarah Worlds Dimulai Dari Turnamen Kecil Ini

Juni tahun 2011, festival gaming akbar Dreamhack digelar di kota Jonkoping, Swedia. Dari sekian judul game yang menjadi ajang kompetisi gamer-gamer profesional seperti Starcraft dan Counter-Strike, terdapat sebuah pertandingan game buatan sekelompok developer yang mencoba sukses di industri berkembang ini.

Judul game tersebut adalah.. League of Legends.

Walaupun sudah berumur hampir 2 tahun pada waktu itu, League of Legends masih tergolong sebagai game MOBA kasual yang masih merintis perjalanan mereka sebagai salah satu cabang game Esports. Saat itu, mereka sedang mencoba untuk mempopulerkan kompetisi League of Legends di tingkat internasional dengan judul “Riot Season 1 Championship”. Memanfaatkan Dreamhack yang merupakan acara gaming terbesar di Eropa, Riot membawa League of Legends ke sana demi mencari nama.

“Penontonnya sangat sedikit waktu itu. Kurasa hanya sekitar tiga atau empat ratus penonton saja.. dan mereka nggak terlalu suka… Mereka nonton dan mungkin berkata, “Meh, okelah, mungkin aku akan bermain LAN dan menonton game lain,”” ucap Jonathan ‘Westrice’ Nguyen, salah satu peserta Worlds Season 1 bersama tim Epik Gamer.

Area pertandingan Worlds perdana itu pun jauh dari kata mewah. Bisa dibilang, tidak jauh beda dengan turnamen-turnamen game di Indonesia yang biasanya diadakan di mal. Penonton dapat menyaksikan para pemain dari belakang, dan terkadang ada pula yang iseng mengganggu mereka saat bermain.

“Penonton dapat memainkan kursi kami saat kami sedang bermain, menyentuh rambut kami, itu sebenarnya sangat mengganggu,” ujar Alex ‘Xpecial’ Chu, support Team SoloMid (TSM). “Reginald (midlaner & owner TSM) sampai komplain terus-menerus karena seseorang menyentuh kursinya. Ia adalah orang yang sangat terganggu dengan hal-hal seperti itu, dan mendengar ia protes di teamchat sangat lucu.”

Belum lagi soal masalah teknikal yang mengganggu jalannya turnamen, hingga malah menjadi salah satu faktor utama kekalahan tim dalam Worlds Season 1. Pada waktu itu, LOL belum memiliki fitur pause dan resume. Jika ada salah satu pemain disconnect di tengah-tengah pertandingan, maka permainan harus tetap dilanjutkan sementara sang pemain harus absen sampai ia dapat terhubung kembali.

“Aku ingat saat aku terputus. Kurasa itu saat pertandingan terakhir kami, saat itu aku bermain Alistar dan kami sedang unggul jauh dan akhirnya menang di game tersebut,” ucap Xpecial. “Tapi aku ingat waktu itu aku harus berdiri dari kursiku, membawa mouse dan keyboardku, memasangnya di komputer lain, membuka aplikasi dan kembali ke game. Benar-benar sangat berantakan. Worlds Season 1 sangat berantakan.”

Begitupun juga dengan Westrice yang berpendapat bahwa Epik Gamer kalah karena masalah teknis. Saat babak semifinal melawan Fnatic, Epik Gamer sempat unggul di awal game, namun komputer Westrice mengalami crash. “Nge-crash selama 5 menit,” ujar Westrice. “Dan dulu belum ada opsi pause. Itu benar-benar menjadi 4v5 bagi kami selama 5 menit saat kami sedang unggul. Dan ketika aku terhubung kembali, mereka yang unggul. Itu benar-benar membuat kami tilt.”

Fnatic, juara Riot Season 1 Championship
Fnatic, juara Riot Season 1 Championship

Fnatic akhirnya keluar sebagai juara pertama Worlds Season 1 dan membawa pulang uang 50.000 dolar Amerika. Jumlah yang terbilang kecil jika dibandingkan Worlds tahun ini yang mencapai jutaan dolar, namun tergolong besar jika melihat kondisi Riot Games pada waktu itu. Di 2011, mereka baru mendapatkan suntikan dana sebesar 230 juta dolar Amerika dari perusahaan multimiliar asal Tiongkok, Tencent, dan mereka punya banyak PR untuk membenahi League of Legends – mulai dari fitur in-game hingga pengembangan sistem Esports mereka.

Namun turnamen ini menjadi awal dari kesuksesan Riot dan League of Legends sebagai game PC dengan pemain terbanyak di seluruh dunia, dan menjadi salah satu judul game tersukses sepanjang sejarah. Melalui League, Riot sukses mengembangkan Esports menjadi salah satu industri yang berkembang hingga menarik minat investor dari luar dunia gaming, mulai dari mantan pemain NBA, tim-tim sepakbola, hingga selebriti kelas dunia.

Mungkin ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua – apapun yang terjadi, jadikan pengalaman dan pelajaran untuk lebih baik lagi kedepannya.

 

Sumber: http://2015.na.lolesports.com/articles/worlds-rising-look-back-season-1-championship

fusion jazz - vaporwave - instrumental hiphop

Facebook Twitter 

Leave a Reply


comments