Serba Serbi: Fiora

Serba Serbi: Fiora
Fiora

Sang kesatria tangguh dan paling ditakuti di daerah Valaron, Fiora adalah pejuang Damacia yang sangat kuat pandai bertarung. Walaupun dia wanita tapi dia selalu ditakuti di arena pertempuran oleh semua musuh yang ingin berhadapan dengannya. Fiora tidak hanya terkenal atas ketangguhan dan kecerdikannya tetapi juga kecepatan Bluesteel Rapier miliknya. Terlahir di House Laurent di kerajaan Demacia, Fiora menjadi pemimpin keluarga menggantikan ayahnya dikarenakan adanya skandal yang hampir saja menghancurkan mereka.

Selain itu Fiora juga selalu menjunjung tinggi suatu kehormatan, ini semua sudah diajarkan turun temurun dari keluarganya yang dimana kehormatan harus berdiri di atas segala-galanya. Dan akibat kehormatan itu pulalah yang menyebabkan Fiora dengan sangat menyesal untuk membunuh Ayah kandungnya sendiri di arena pertarungan.

Pertarungan yang terjadi begitu cepat, terjadi adu dansa pedang yang begitu indahnya hingga akan sulit dilupakan mereka yang menyaksikannya. Ayah Fiora memang merupakan ahli pedang, namun dia bukanlah tandingan sang putri. Mereka saling berucap selamat tinggal di tiap hantaman pedang, namun pada akhirnya Fiora yang berlinang air mata menancapkan Rapier miliknya di jantung sang ayah dan mengamankan kehormatan keluarganya di Demacia.

The Grand Duelist


fiora__the_grand_duelist_by_seonga-d6eqq73

Duelist paling ditakuti di Valoran, Fiora tidak hanya terkenal atas ketangguhan dan kecerdikannya tetapi juga kecepatan Bluesteel Rapier miliknya. Terlahir di House Laurent di kerajaan Demacia, Fiora menjadi pemimpin keluarga menggantikan ayahnya dikarenakan adanya skandal yang hampir saja menghancurkan mereka. Reputasi House Laurent mulai menghilang, namun Fiora mengerahkan segala upaya untuk memulihkan martabat keluarganya dan membawa mereka kembali ke jajaran keluarga yang terhormat dan bermartabat di Demacia.

Semenjak muda, Fiora menentang segala ekspetasi yang dibebankan padanya. Ibunya membayar pengrajin Demacia untuk membuatkan boneka mewah untuknya. Fiora memberikan bonekanya itu pada para pelayannya dan mengambil Rapier milik kakak laki-lakinya, memaksanya untuk mengajari cara menggunakannya secara diam-diam. Ayahnya memesan banyak Mannequin untuk memajangkan berbagai gaun anggun karya penjahit pribadi keluarga. Fiora menggunakan mereka sebagai obyek latihan terjangan dan Riposte.

fiora_by_raf107-d9gtsvg

Di tiap tahap kehidupannya, Fiora telah merengkuh segala nilai kebangsawanan di Demacia, terus mencari kesempurnaan dalam semua hal dan terus waspada akan apa yang dapat melukai harga diri atau martabat keluarganya. Sebagai putri tertua dari House Laurent, dia ditakdirkan menjalani kehidupan sebagai bidak politik, dipaksa menikah untuk mempererat persekutuan antar keluarga ningrat. Hal ini sangat dibenci Fiora, yang melihat pengekangan kehendak pribadi sebagai bentuk pelecehan, bahkan yang dilakukan ayahnya tercinta sekalipun. Meski menyatakan penolakan, sebuah pernikahan politis dalam bentuk pernikahan musim panas sedang dipersiapkan dengan calon suami dari House Crownguard.

Keluarga termahsyur Demacia mengutus perwakilan ke House Laurent untuk menghadiri upacara pernikahan, namun alih-alih menerima takdirnya, Fiora menentangnya. Dia menyatakan di hadapan semua orang bahwa dia lebih memilih mati daripada harus menanggung pelecehan akibat mengijinkan orang lain mengendalikan kehidupannya. Calon suaminya merasa dipermalukan dan keluarganya menuntut diadakan pertarungan hingga mati untuk menghapus penghinaan yang dilakukan Fiora.

Hukuman Demacia


ffiora_side_by_azinqe-d6v4jnl

Fiora langsung menawarkan diri sebagai lawan, namun sebagai kepala House Laurent, sudah menjadi kewajiban ayahnya untuk memberi ijin. Petarung dari House Crownguard merupakan kesatria yang sangat berbahaya, dan kekalahan hampir dipastikan. Kekalahan akan menghancurkan House Laurent dan putrinya akan diasingkan dengan penuh rasa malu. Dihadapkan dengan pilihan yang jelas, ayah Fiora membuat keputusan yang akan menghancurkan keluarganya di masa mendatang. Malam itu, dia berupaya untuk meracuni kesatria lawan dengan ramuan yang dapat mengganggu pergerakan gesitnya, namun perbuatannya terbongkar dan sang kepala House Laurent pun ditahan.

Hukum Demacia begitu keras dan tak kenal ampun. Sistem hukumnya tak memiliki kelonggaran sedikit pun, dan ayah Fiora telah melanggar etika kehormatan yang paling penting. Dia akan menerima penghinaan di depan umum di tangan algojo, digantung layaknya penjahat, dan seluruh anggota keluarganya akan diasingkan dari Demacia. Di malam menjelang kematiannya, Fiora mengunjungi penjara sang ayah, namun apa yang mereka bicarakan menjadi rahasia.

Demi Sebuah Kehormatan


19ff060efc22c00e2e82e7a04a049570

Sebuah etika kehormatan kuno memungkinkan seorang anggota keluarga untuk menghapus kesalahan yang diperbuat anggota keluarga lainnya, dan dapat menghindarkan dari hukuman mati dan pengasingan dengan cara membunuh anggota keluarga yang bersalah. Sadar tak ada pilihan lain, ayah dan anak itu menghadapi satu sama lain di Hall of Blades. Keadilan tak bisa ditegakkan dengan pembunuhan biasa, ayah Fiora harus melawan dan diberi perlawanan balik. Pertarungan yang terjadi begitu cepat, terjadi adu dansa pedang yang begitu indahnya hingga akan sulit dilupakan mereka yang menyaksikannya.

Ayah Fiora memang merupakan ahli pedang, namun dia bukanlah tandingan sang putri. Mereka saling berucap selamat tinggal di tiap hantaman pedang, namun pada akhirnya Fiora yang berlinang air mata menancapkan Rapier miliknya di jantung sang ayah dan mengamankan kehormatan keluarganya di Demacia. Dengan matinya sang ayah, Fiora diangkat menjadi kepala House Laurent. (yang membuat para kakak laki-lakinya terkaget-kaget…)

Meskipun martabat House Laurent tak sepenuhnya hancur, skandal yang ada tak mudah dihapus begitu saja. Beberapa tahun setelahnya, Fiora menjadi pemimpin keluarga yang disegani dan dengan cepat belajar untuk tidak membuat kesalahan yang biasa dilakukan pemimpin muda. Dia menjadi ahli pedang dan negosiasi yang diperhitungkan, menyelesaikan masalah dengan kegamblangan dan keterusterangan yang terasa kejam. Masih ada yang membicarakan aib keluarganya atau betapa rendahnya standar keluarganya yang mengijinkan seorang wanita menjadi pemimpin keluarga bangsawan, namun semua itu hanya terjadi sembunyi-sembunyi. Karena saat gosip tersebut sampai di telinga Fiora, dia akan memanggil para tukang gosip itu dan menuntut keadilan melalui adu pedang. Namun, itu dilakukannya bukan tanpa pertimbangan, dimana dia menawarkan metode yang dapat menegakkan martabat tanpa harus memakan korban. Sejauh ini, belum ada yang menerima tawarannya, dan belum ada yang mengelak Duel dengan Fiora.

Dengan kemujuran yang menaungi kebangkitan House Laurent, Fiora tak pernah kekurangan pelamar yang ingin menikahinya, namun belum ada yang pantas meminangnya. Banyak yang mencurigai bahwa Fiora memberi ujian yang begitu sulit pada para pelamar supaya tetap sendiri dan melajang, karena saat menjadi istri, secara tradisional, kekuasaan harus diserahkan pada suami.

Dan Fiora belum pernah menggunakan metode tradisional.

 

Story Fiora: Masalah Harga Diri


fiora____the_grand_duelist_by_koizumi_ayumu-d64urpr

Lelaki yang akan dibunuh Fiora bernama Umberto. Dia terlihat seperti lelaki yang begitu yakin akan dirinya sendiri. Dia melihat lelaki itu berbicara dengan empat laki-laki, mereka semua terlihat mirip dan sepertinya merupakan saudara kandung. Mereka berlima nampak angkuh dan bersolek, seakan mereka terlalu istimewa untuk datang ke Hall of Blades dan menjawab tantangannya.

Cahaya fajar masuk melalui lanset jendela, dan marmer yang pucat berkilau dengan pantulan sosok mereka yang datang untuk melihat berakhirnya sebuah nyawa. Mereka berbaris di tepian aula, anggota kedua keluarga, pesuruh, rakyat biasa dan mereka yang dengan selera buruknya ingin melihat pertumpahan darah.

“Adikku,” kata Ammdar, kakak keduanya, menyerahkan Rapier berukuran sedang dengan bilah Bluesteel yang memantulkan cahaya. “Apakah kau yakin dengan hal ini?”

“Tentu saja,” jawab Fiora. “Kau mendengar kabar yang disebarkan Umberto dan saudaranya di Commercia, kan?”

“Ya,” jawab Ammdar. “Tapi apakah itu pantas ditukar dengan kematiannya?”

“Jika aku membiarkan satu orang berulah, maka yang lain tak akan berpikir panjang untuk berkata sesuka hati,” kata Fiora.

Ammdar mengangguk, dan mundur. “Kalau begitu lakukan yang memang harus dilakukan.”

Fiora melangkah maju, memutar bahu dan mengayunkan pedangnya dua kali di udara – sebuah pertanda bahwa duel akan dimulai. Umberto berbalik seraya menerima dorongan salah satu saudaranya di tulang rusuknya, dan amarah merasuki Fiora saat dia melihat ulahnya yang mengukur penampilannya, sebuah penilaian yang lama tertuju ke bagian di bawah lehernya. Dia menggenggam senjatanya sendiri, sebuah Saber kavaleri Demacia yang panjang dan indah dengan Quillon keemasan dan batu safir di ujung gagangnya. Benar-benar hanya pedang hias dan tidak cocok untuk dipakai berduel.

Satu Hunusan Pedang


fiora_the_grand_duelist_by_fatinnd-d6f3ym0

Umberto melangkah ke atas tanda Duelist dan mengulangi pergerakan pedang yang dibuat Fiora. Dia membungkukkan badan dan mengedipkan mata. Fiora mengencangkan rahang, menahan emosi. Amarah tak memiliki tempat di duel. Hal itu dapat merusak permainan pedang dan telah merenggut nyawa banyak ahli pedang legendaris di tangan lawan yang tak seberapa.

Mereka melangkah ke samping memutar, membuat pergerakan kaki dan pedang layaknya rekan dansa saat mendengar Waltz. Pergerakan tersebut dibuat untuk memastikan kedua partisipan Duel menyadari betapa pentingnya hal yang akan mereka lakukan.

Ritual duel memang penting. Ritual, layaknya The Measured Tread, didesain untuk membuat orang beradab mempertahankan ilusi keagungan dalam tindak pembunuhan. Fiora menyadari ritual itu merupakan hukum, hukum yang adil, namun itu tidak mengubah fakta bahwa dia akan membunuh pria di hadapannya. Dan karena Fiora percaya akan hukum ini, dia harus membuat tawaran.

“Tuan, namaku Fiora dari House Laurent,” katanya.

“Simpan saja untuk pemahat batu nisanmu,” bentak Umberto.

Dia mengabaikan upaya kekanak-kanakannya untuk mengganggunya dan berkata, “Aku menyadari perlakuanmu yang melukai nama baik House Laurent dengan cara yang tidak adil dan tidak terhormat dengan terlibat dalam penyebaran fitnah terkait keabsahan atas garis keturunan milikku. Oleh karena itu sudah menjadi hakku untuk menantangmu berduel dan memulihkan martabat keluargaku dengan menyerahkan nyawamu.”

“Aku sudah menyadarinya,” kata Umberto, melayani reaksi keramaian di sekitarnya. “Aku sudah di sini, kan?”

“Kau telah mengantarkan nyawamu,” janji Fiora. “Kecuali kau memilih untuk tidak bertarung dengan memberikan penebusan lain atas penghinaan yang kau lakukan.”

“Bagaimana aku bisa memuaskanmu, Nona?” tanya Umberto.

“Dengan mempertimbangkan jenis penghinaan yang dilakukan, kau harus bersedia untuk berpisah dengan telinga sebelah kananmu.”

“Apa? Kau sudah gila, perempuan?”

“Lakukan itu atau aku akan membunuhmu,” kata Fiora, seakan mereka sedang membincangkan kondisi cuaca. “Kau tahu hasil dari duel ini. Tak ada ruginya menyerah.”

“Tentu saja ada,” kata Umberto, dan Fiora melihat lelaki itu menganggap dirinya masih bisa menang. Seperti halnya orang lain, dia meremehkannya.
“Semua yang ada di sini sudah tahu kemampuan berpedangku, jadi pilihlah untuk hidup dan mengenakan luka yang kau terima sebagai bentuk kebanggaan. Atau pilih kematian, dan menjadi makanan para gagak di siang hari.”

Fiora mengangkat pedangnya. “Tapi pilihlah sekarang.”

Kemarahan Umberto atas kelancangannya menutupi rasa takutnya dan dia maju sambil menghentakkan kaki, ujung bilah pedangnya ditodongkan ke arah jantung Fiora. Fiora telah membaca serangannya bahkan sebelum dilancarkan dan berputar ke samping kiri, membuat pedang itu hanya menyentuh udara. Fiora mengayunkan pedangnya sendiri ke atas, kemudian ke bawah dengan sudut diagonal yang tepat. Para penonton menahan nafas melihat cipratan darah di batu dan betapa cepatnya duel itu berakhir.

Fiora membalikkan badan seraya pedang Umberto jatuh ke batu marmer. Dia jatuh berlutut, kemudian terbaring, tangannya menutupi tenggorokan yang terkoyak mengucurkan darah.

Dia membungkuk memberi salam pada Umberto, namun matanya sudah tak fokus dan jelas melihat dengan kematian yang semakin dekat. Fiora sama sekali tidak menikmati pembunuhan yang dilakukannya, namun lelaki bodoh itu tak memberinya pilihan lain. Saudara kandung Umberto menghampiri untuk mengambil mayat saudara mereka, dan Fiora merasakan betapa terguncangnya mereka atas kematian sang saudara.

“Sudah berapa orang sekarang?” tanya Ammdar, menghampiri untuk mengambil pedang sang adik. “Lima belas? Dua puluh?”

“Tiga puluh,” kata Fiora. “Atau mungkin lebih. Sekarang mereka semua terlihat sama bagiku.”

“Akan ada yang lain,” janji sang kakak.

“Tak apa,” jawab Fiora. “Namun tiap kematian akan memulihkan martabat keluarga kita. Tiap kematian membawa penebusan semakin dekat.”

“Penebusan untuk siapa?” tanya Ammdar.

Namun Fiora diam tak menjawab.

fiora_xg_1

Awal Konsep Fiora


30eRybn

raymond-griego-raymond-griego-fiora kristina-ness-ness-fiora-vizdev8

Saya adalah presiden dari World Economic Journal dan merupakan salah satu penguasa dunia bawah, dan sering mengisi waktu luang dengan bermain League of Legends. Panggil saya "Big News" Morgans!

 

Leave a Reply