Serba Serbi: Pantheon

Serba Serbi: Pantheon
fullmetal_pantheon_drawing_by_blindmelonlol-d80brv1

Saat kita melihat champion yang satu ini, pasti kita teringat tentang ke tangguhan para pasukan Sparta dalam film layar lebar berjudul 300. Tubuh yang kekar diselimuti otot kuat, tameng yang besar terbuat dari logam keras dengan bekas goresan pedang, serta tombak runcing juga helm perang khas prajurit Romawi kuno.

Ditambah dengan keberanian juga kisah hidupnya yang keras membuat karakter Pantheon ini semakin kuat seperti Sparta. Ya, memang karakteristik Pantheon sangat menggambarkan sekali tentang pasukan Sparta. Tapi ceritanya jelas sekali berbeda dengan film 300, karena di sini Pantheon adalah Sparta versi League of Legends yang hidup di Mount Targon, sebuah tempat yang memiliki pasukan kuat dan begitu terkenal di dataran Valoran.

Lalu, kira-kira seperti apa kisah dari prajurit yang tangguh ini? Bagaimana dengan kisah pendakia nya menuju puncak dari Mount Targon? Dia juga digadang-gadang sebagai kekasih dari Leona, lalu apakah benar dia juga yang memerintah Aurelion Sol sang pencipta kosmo juga pembuat bintang? Bagaimana, apa kalian penasaran?

Jika kalian penasaran maka scroll lebih ke bagian bawah artikel yang satu ini. Plus, jangan lupa siapkan kacang dan secangkir kopi sebagai teman kalian untuk membaca kisah hidup dari Pantheon.


Pantheon, the Artisan of War


jkjhkh

Atreus adalah nama aslinya.

Prajurit tanpa tanding yang dikenal sebagai Pantheon adalah panutan di antara kaum petarung. Dia dilahirkan di antara suku Rakkor, bangsa pecinta perang yang hidup di antara Mount Targon, dan setelah melewati ujian mendaki ke puncak gunung tertinggi Mount Targon, dia dipilih untuk menjadi titisan dari Aspect of War. Diberkahi dengan kekuatan luar biasa, dia tanpa henti memburu musuh Targon, meninggalkan jasad musuh kemana pun dia pergi.

Atreus adalah pemuda Rakkor yang diberi nama salah satu dari empat bintang yang membentuk konstelasi bintang Warrior di langit malam – konstelasi yang disebut bangsa Rakkor sebagai Pantheon. Meskipun dia bukan pemuda tercepat atau terkuat di antara pejuang muda Mount Targon, tidak berbakat menggunakan panah, tombak atau’pun pedang, Atreus berkemauan keras, berpendirian teguh, dan ketahanan fisiknya terkenal di antara rekan-rekannya. Setiap hari sebelum petang, saat yang lain tertidur, dia berlari di sekeliling jalur berbahaya Mount Targon, dan dia selalu yang paling terakhir meninggalkan tempat pelatihan di malam hari, tangannya lebam dari latihan pedang.


Persaingan yang membuat kita menjadi sahabat


Pantheon-League-of-Legends-Facebook-Cover-Photos-6

Hubungan rival muncul antara Atreus dan pemuda Rakkor lain, Pylas. Lahir dari keturunan petarung terbaik, Pylas sangat mahir, kuat, dan populer. Dia tampaknya ditakdirkan untuk menjadi pria hebat, tidak ada rekan sejawatnya yang mampu mengalahkan Pylas di arena pertarungan. Hanya Atreus yang enggan menyerah, kembali bangkit dan melawan, berlumuran darah dan babak belur, bahkan setelah ditumbangkan lagi dan lagi. Meskipun usaha Atreus mendapat pengakuan dari instrukturnya, Pylas punya pandangan berbeda akan hal tersebut, ia menganggap sifat pantang menyerah Atreus mencerminkan kurangnya rasa hormat Atreus akan pertarungan.

Atreus dihindari teman-temannya dan beberapa kali dipukuli oleh Pylas dan pengikutnya, meskipun dia menahan semuanya dengan tabah. Dia menyembunyikan fakta dia diasingkan dari keluarganya, tahu bahwa hal itu hanya akan membuat keluarganya sedih.

Pada patroli di awal musim dingin, satu hari perjalanan jauhnya dari desa mereka, pejuang muda Rakkor dan pelatih mereka mendapati pos jaga Rakkor telah menjadi puing yang diselimuti asap tebal. Darah mewarnai salju menjadi merah, dan mayat bergeletakan di sepanjang jalan. Perintah untuk menarik mundur pasukan dikeluarkan, tapi terlambat karena musuh telah berada di sekitar mereka.

Mengenakan baju zirah besi, para pendatang ini muncul dari balik salju, kapak mengayun di langit. Tidak ada prajurit muda yang telah menyelesaikan pelatihan mereka, dan pelatih mereka telah berumur, lewat dari masa kejayaan mereka. Namun mereka tetap melawan dan menghabisi beberapa musuh sebelum setiap dari mereka ditaklukan. Bagaimanapun, penjajah berjumlah jauh lebih banyak dari pada prajurit Rakkor, dan mereka pun dikalahkan, satu persatu.

Pylas dan Atreus, membelakangi satu sama lain, tetap bertarung, dua Rakkor terakhir masih berdiri. Keduanya cedera dan berdarah. Pertempuran segera berakhir, namun mereka tahu mereka harus memperingatkan penduduk desa. Atreus menancapkan tombaknya ke leher salah satu barbar, sementara Pylas menebas dua orang, menciptakan celah di antara musuh yang mengitari mereka. Atreus mennyuruh Pylas untuk pergi, sementara dia akan menahan mereka. Tak punya waktu berdebat – Atreus menerjang musuh – Pylas pun melarikan diri.

Atreus bertarung dengan sengit, tapi sebuah kapak dibenamkan ke dadanya, dia akhirnya tumbang, dan mulai kehilangan kesadarannya.

Atreus terbangun, tidak di surga seperti perkiraannya, tapi di gunung tempat dia tumbang. Matahari mulai terbenam, bersembunyi di balik puncak gunung, Atreus diselimuti lapisan salju. Mati rasa dan penglihatannya buram, dia berusaha bangkit berdiri. Dia berjalan di antara pejuang Rakkor yang tumbang, semuanya telah mati. Lebih parah lagi, Pylas tergeletak tidak jauh di antaranya, sebuah kapak menancap di punggungnya. Peringatan tidak pernah sampai ke desa.

Dengan sempoyongan, Arteus menghampiri Pylas, Atreus mendapati rivalnya masih hidup, tapi terluka parah. Atreus mengangkat Pylas ke pundaknya, dan mulai berjalan pulang. Tiga hari kemudian, dia tiba di perbatasan desa mereka, dan akhirnya jatuh pingsan.

Dia siuman dan mendapati Pylas berjaga di dekatnya, luka-lukanya dijahit dan dibalut. Meskipun Atreus lega desa mereka belum diserang, dia heran kenapa Rakkor atau para ketua Solari belum mengirimkan Ra-Horak untuk mencari dan menumpas penjajah, malahan memilih bertahan dari kemungkinan diserang.

Beberapa bulan kemudian, Atreus dan Pylas menjadi teman baik. Segala permusuhan di masa lalu dilupakan, mereka berlatih dengan tujuan dan semangat baru. Di saat yang sama, kekesalan Atreus pada orde Solari kian tumbuh. Dia merasa bahwa cara terbaik melindungi Rakkor adalah dengan aktif memburu dan menghabisi musuh mereka, tapi pemimpin baru Ksatria Solari – mantan anggota sukunya, Leona – mempunyai pandangan yang berbeda untuk melindungi masyarakat, yang menurut Atreus menunjukkan kelemahan.


Pendakian menuju puncak Mount Targon


hska

Seperti setiap anak Rakkor, Atreus dan Pylas tumbuh besar dengan kisah pahlawan yang mendaki puncak Mount Targon dan diberkati dengan kekuatan besar. Setelah mengikuti upacara adat pejuang Rakkor, keduanya mulai berlatih agar bias mendaki puncak. Atreus berniat mendapatkan kekuatan yang dibutuhkannya untuk melindungi Rakkor, karena menurutnya Solari tidak berniat membantu desa Rakkor.

Hanya mereka yang terkuat di antara yang lain berani mencoba pendakian, dan hanya sedikit di antara ribuan orang yang sampai puncak pernah kembali. Bagaimanapun, Atreus dan Pylas bersama dengan sekumpulan penduduk Rakkor berkumpul dan memulai pendakian. Saat mereka berangkat, matahari menjadi kelam saat bulan perak melewatinya. Beberapa orang menganggap peristiwa ini sebagai pertanda buruk, tapi menurut Atreus itu adalah pertanda bahwa firasatnya benar – bahwa apa yang ia yakini mengenai Solari benar.

Setelah beberapa pekan mendaki, jumlah regu pendaki berkurang hingga separuhnya. Beberapa kembali ke desa, yang lainnya direnggut oleh kerasnya pegunungan, jatuh ke jurang, terkubur longsor, atau mati beku di malam hari. Mereka jauh di atas barisan awan langit dipenuhi ilusi cahaya yang terus berganti. Namun mereka tetap melangkah maju.

Udara kian menipis, dan iklim dingin semakin mencengkram saat minggu berganti bulan. Beberapa pendaki berhenti untuk beristirahat sejenak, sayangnya untuk terakhir kalinya, tubuh mereka membeku tiada ampun. Beberapa yang lainnya, mulai kehilangan akal karena kurangnya oksigen dan kelelahan, melompat dari ketinggian, jatuh ke jurang bagaikan bebatuan. Satu demi satu, gunung tersebut merenggut mereka yang mencoba menaklukannya, hingga hanya Pylas dan Atreus yang tersisa.

Letih dan kedinginan, keduanya akhirnya berhasil mencapai puncak, dan menemukan… tiada apapun di sana.

Mereka tidak melihat kota legenda yang katanya ada di puncak, tidak ada pahlawan ataupun dewa yang menyambut mereka – hanya es, kematian, dan bebatuan yang berbentuk lingkaran aneh. Pylas jatuh pingsan, dia akhirnya tidak sadarkan diri, dan teriakan Atreus menggambarkan rasa frustasi dan amarahnya.

Tahu bahwa Pylas tidak punya tenaga untuk kembali, Atreus duduk di dekatnya, mengistirahatkan kepala Pylas di pangkuannya selagi dia melihat saat-saat terakhir temannya.

Kemudian pintu surga terbuka. Udara mengalir bagaikan sungai. Cahaya keemasan bersinar keluar, menghangatkan wajah Atreus, sebuah negeri di balik awan telah menampakan diri – tempat dengan bangunan megah dan pemandangan yang menakjubkan. Seseorang berdiri menantinya dengan tangan terulur.

Air mata bahagia mengalir di wajah Atreus. Dia tidak ingin menginggalkan temannya, tapi saat dia melihat wajah Pylas yang sudah menghembuskan nafas terakhir, senyum merekah di wajah Pylas. Atreus berdiri, menutup mata temannya, dan membaringkannya di salju yang meleleh. Dia melangkah maju, menyambut yang sudah menantinya di Targon yang sejati.


Kembalinya Atreus dengan nama baru, Pantheon!


8908b069-a8c3-42e2-ad9c-a9a73af58736

Bulan demi bulan berlalu. Di kaki pegunungan, penduduk mengira Atreus telah mati seperti Pylas dan rekan-rekannya yang mencoba mendaki. Mereka berduka, meskipun ini hal yang wajar dan mereka tidak terlalu berharap. Hanya sedikit dari sekian generasi seseorang akan kembali dengan kekuatan yang didapat di puncak gunung.

tumblr_msgj75D0Bl1rp2qw7o1_1280

Pada saat inilah, ada kelompok bandit dari utara yang muncul dari pegunungan, kira-kira setahun lamanya sejak pembantaian Rakkor saat Atreus dan rekannya masih dalam masa pelatihan. Mereka menyerang sejumlah desa yang terisolasi, membantai dan menjarah, sebelum akhirnya menuju ke kuil Solari yang berada jauh di daerah tinggi pegunungan. Penjaga kuil tersebut kalah jumlah, namun mereka berjuang keras mempertahankan Relic dan misteri yang ada di dalamnya.

Saat para bandit itu mulai mendekat, angin bertiup kencang, seolah mengamuk. Awan yang menutupi badai pun membelah langit, memperlihatkan keanggunan Mount Targon di tengah-tengah badai. Kedua pasukan goyah diterpa angin, melindungi diri mereka dari badai es, selagi sebuah kota yang diselimuti cahaya muncul di puncak tertinggi pegunungan.

Empat bintang konstelasi Pantheon bersinar terang, dan menghilang seketika dalam gelap. Di saat yang sama, cahaya dari bintang jatuh membara di langit kota abadi tersebut dan menuju ke kuil.

pantheon_by_valkhar-d8sope2

Suaranya memekakkan telinga, bergerak dengan kecepatan tinggi, mereka yang menyaksikannya hanya bisa berdoa pada dewa mereka masing-masing dengan suara ketakutan. Cahaya tersebut menghantam tanah, tepat di antara kedua kubu dan menciptakan gempa yang dahsyat.

Ternyata ini bukanlah bintang jatuh, melainkan sesosok prajurit bermantelkan cahaya bintang, dengan perisai emas dan tombak legendaris di kedua tangannya. Dia mendarat, satu lutut di tanah, dia menengadah dan melihat musuh yang telah mencela dataran Mount Targon, suku Rakkor mengetahui itu Atreus… tetapi ada sesuatu yang berbeda dengannya. Aspect of War telah merasukinya, ia kini menjadi makhluk fana namun abadi, perwujudan dari dewa perang dalam tubuh manusia. Dia telah menjadi panglima perang legendaris. Dia menjadi Pantheon.

Dia bangkit berdiri, matanya bersinar terang dan membara, musuhnya tahu bahwa inilah dewa kematian yang menghampiri mereka.

Pertempuran berakhir singkat; tidak ada yang dapat menandingi Pantheon. Darah musuhnya terpercik di zirah dan senjatanya, berkilauan indah di bawah cahaya bintang. Dengan kekalahan musuhnya, Pantheon berjalan menuju badai es dan menghilang.

Keluarga Atreus menangisi kepergian anak mereka dan mengadakan upacara pemakaman untuknya. Meskipun mereka menduga Atreus meninggal saat ekspedisi, kini kepergiannya telah pasti. Pantheon telah menghapus kepribadian serta memori duniawi Atreus. Tubuh Atreus kini hanyalah medium yang dirasuki Aspect of War; jiwanya telah bergabung dengan para pendahulunya di kehidupan yang lain.

pantheon-season-6-league-of-legends-guide

Atreus bukanlah kemunculan pertama Pantheon di Runterra – banyak yang telah datang, dan pasti akan ada penerusnya. Mereka tidak sepenuhnya abadi, dibatasi oleh darah dan daging manusia yang mereka rasuki, dan mereka dapat dibunuh, walaupun hal itu akan membutuhkan usaha dan jerih payah. Kemunculan terakhir Pantheon ini menjadi perdebatan para tetua Solari, karena kemunculan Pantheon adalah berkah sekaligus kutukan, pertanda bahwa masa-masa kegelapan akan datang.


Beberapa desain awal Pantehon


spartan_gladiator2_by_soul71171af231fab079ef7dde618b2cd25d0a

Apa hubungan Pantheon dengan Leona. Benarkah mereka sepasang kekasih?


the_kiss_by_g21mm-d75pint rage_of_mount_targon_by_g21mm-d79p9c5 dawn_has_come____leona_x_pantheon___english__by_heylinklisten-d7u3hst

Penasaran bagaimana ceritanya dengan Leona dan Aurelion sol? Stay tunned terus guys di Hasagi, karena ceritanya masih akan berlanjut.

Saya adalah presiden dari World Economic Journal dan merupakan salah satu penguasa dunia bawah, dan sering mengisi waktu luang dengan bermain League of Legends. Panggil saya "Big News" Morgans!

 

Leave a Reply