Serba Serbi: Taliyah

Serba Serbi: Taliyah
taliyah_by_numyumy-da1mgx5

Gadis kecil dari suku Shurima yang memiliki kemampuan mengendalikan tanah. Kehadiran Taliyah bisa dikatakan sebagai cerita baru yang akan mengisi lore Shurima dan juga Ionia. Dan mungkin kehadirannya ini juga bisa membantu Yasuo untuk menemukan pembunuh dari masternya yaitu Elder, walaupun semua ini masih menjadi misteri yang disembunyikan Riot.

Kehadiran Taliyah juga membuat cerita dari Shurima semakin menarik, sedikit demi sedikit lore dari Shurima kini makin jelas dan mulai terungkap kebenarannya.

Akibat kekuatan besar yang tidak bisa dia kendalikan, Taliyah begitu takut dan khawatir bahwa kekuatannya ini akan menyakiti orang lain, yang pada akhirnya semua ini memaksa dia untuk pergi meninggalkan sukunya.

Mengembara menuju Mount Targon, dijadikan sebagai senjata oleh Noxus, dipaksa untuk mengubur semua orang di desa Ionia, dibuang di tengah lautan oleh Noxus, terdampar di sebuah pantai yang akhirnya mempertemukan dia dengan guru yang bisa membimbingnya, Yasuo.

Banyaknya isu dan cerita; bahwa Azir sang raja Shurima di masa lalu kini telah hidup kembali dan munculnya ancaman di padang pasir memaksa pengendali tanah muda ini meninggalkan pelatihannya dan kembali pulang untuk melindungi keluarga tercinta.


Taliyah the Stoneweaver

Taliyah_OriginalSkin

Lahir di kaki bukit yang berbatasan dengan bayangan kota Icathia, Taliyah menghabiskan masa kecilnya dengan menggiring kambing bersama dengan suku penenunnya berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Sebagian orang melihat Shurima adalah tanah yang terbuang, tapi keluarga Taliyah membersarkannya untuk menjadi gadis yang bangga akan kemegahan dari kampung halamannya ini. Taliyah selalu tertarik oleh batu yang berasal dari bawah bukit. Sewaktu dia kecil dulu, dia selalu mengumpulkan batu berwarna-warni sembari keluarganya berjalan mengikuti arah air. Semakin tumbuh besar, bumi ini justru seolah tertarik kepadanya, melengkung dan memutar untuk mengikuti jejaknya melalui pasir.

Setelah musim panas keenamnya, dia mengembara dari sebuah karavan untuk mencari anak kambing yang hilang yang telah menjadi tugas dirinya untuk menjaganya. Dengan tekad untuk tidak mengecewakan ayahnya – sang ketua suku – dia mencoba untuk berpisah dari keluarganya mencari kambing tersebut di malam hari. Dia mengikuti jejak kaki yang tercetak samar di atas tanah. Sepertinya kambing tersebut tersesat naik ke puncak bukit dan tidak tahu caranya untuk turun.

Batu pasir ini memanggilnya, mendesaknya untuk menarik pegangan dari dinding. Taliyah meletakkan telapaknya pada batu, bertekad untuk menyelamatkan hewan kecil yang malang itu. Kekuatan yang dia rasakan muncul seperti mendesak keluar seperti hujan. Begitu dia mengeluarkan kekuatannya, bukit itu longsor ke bawah ke arah tangannya, menunjuk membawakan kambing serta bebatuan menimpa tubuhnya.


The Great Weaver atau the Stoneweaver

taliyah_banner_top_insights

Keesokan paginya ayah Taliyah panik mencari anaknya yang tak kunjung pulang dan menemukan Taliyah berbaring tertimpa bebatuan. Dia berlutut dan menangis melihat anaknya yang tidak sadarkan diri. Sampai akhirnya dia membawa anaknya pulang kembali ke kerumunan suku.

Dua hari berikutnya, anak itu bangun dari demam mimpi buruk di dalam tenda Babajaan, sang dengkot suku. Taliyah mencoba untuk memberitahu nenek itu tentang kekhawatiran orang tuanya, serta tanah yang bergerak mengikuti perintahnya. Babajan, menghibur keluarga Taliyah, mengatakan bahwa pola dari tanah ini adalah sebagai bukti dari keberadaan the Great Weaver, sang pelindung suku di gurun suci ini, yang memberikan kasih sayangnya pada gadis serta seluruh orang di suku ini. Pada saat itu, Taliyah melihat kekhawatiran orang tuanya dan memutuskan untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi malam itu; bahwa sebenarnya bukan the Great Weaver lah yang membuat longsor itu melainkan dirinya.

Ketika anak-anak di suku Taliyah sudah cukup umur, mereka akan mempertunjukkan sebuah tarian di tengah malam bulan purnama, sebagai pujian terhadap the Great Weaver. Tarian itu merayakan bakat serta pemberian yang akan mereka berikan demi kepentingan suku ini suatu saat nanti. Saat itu adalah saat di mana mereka memulai jalan mereka, dan mempraktekkan apa yang telah diajarkan pada mereka.


Tarian di Bawah Bulan Purnama

image (1)

Taliyah terus merahasiakan kemampuannya yang khusus ini, karena menganggap bahwa dirinya bisa menghasilkan bencana, dan bukan sebuah berkah. Dia melihat teman seumurannya menenun benang wol untuk bisa menghangatkan seluruh orang di sukunya, menunjukkan kemahiran mereka beraksi dengan gunting dan pewarna, atau menggambar sebuah pola yang berartikan sesuatu pada kain wol yang dia buat. Setiap malamnya, dia sulit tertidur meski bara api unggun telah padam, memikirkan kekuatan yang terdapat pada dirinya.

Akhirnya waktu pun tiba untuk Taliyah beraksi di bawah bulan purnama. Sementara dia punya bakat yang cukup untuk menjadi seorang penggembala yang hebat seperti ayahnya, atau nona dengan kemampuan menenun yang hebat seperti ibunya, dia tahu bahwa tariannya akan memperlihatkan kemampuan apa yang sebenarnya dia miliki. Taliyah mempersiapkan tempatnya di atas pasir, sementara warga sukunya yang lain mempersiapkan alat-alat seperti pengeruk pasir, tali gembala, pasak, benang tenun, di sekitarnya. Dia mencoba untuk berkonsentrasi melakukan tugasnya, tapi batu-batu itu terlalu jauh, jauh di depannya, memanggil dirinya. Taliyah menutup matanya kemudian menari. Merasa hangat oleh kekuatan yang mengalir di dalam tubuhnya, dia mulai berputar dengan fasih dengan kakinya.

Teriakan kaget dari suku Taliyah memecah kesunyian dan pejaman mata Taliyah. Sebentuk batu tajam menjunjung tinggi hingga meraih cahaya bulan. Taliyah melihat ke arah wajah orang-orang yang terkejut di sekitarnya. Kekuatannya pada batu tersebut hancur, dan membuat bebatuan tersebut runtuh ke bawah. Ibu Taliyah berlari ke arah anak gadis satu-satunya, untuk melindungi dirinya dari bebatuan yang runtuh. Sampai ketika reruntuhan tersebut dibereskan, Taliyah melihat dampak dari kerusakan yang telah dia sebabkan, sebuah hal yang tidak disukai oleh sukunya. Hal itu terpancar dari wajah ibunya yang berhiaskan sebuah luka di pipinya. Meskipun itu hanyalah luka kecil, Taliyah sadar bahwa hal tadi adalah saat di mana dia mengancam kehidupan banyak orang yang dia cintai. Dia berlari menuju malam yang terang dihiasi oleh cahaya bulan, terbebani oleh rasa yang memberatkan hatinya atas apa yang baru saja dia lakukan pada orang-orangnya.

Ayahnya lah yang menemukannya di tengah padang pasir. Mereka duduk bersama di saat matahari mulai terbit. Di sana, Taliyah menceritakan seluruh rahasianya dengan terisak-isak. Sampai akhirnya, hanya ada satu hal yang bisa dia lakukan sebagai seorang ayah: memeluk anak gadisnya erat-erat.

Dia berkata pada Taliyah bahwa dia tidak bisa lari dari kekuatannya, sehingga dia harus menyelesaikan tariannya untuk melihat ke arah mana jalan ini menuntunnya. Membawanya kembali pada ritual the Great Weaver adalah saat yang mungkin menghasilkan bencana yang akan menghancurkan hatinya serta ibu tercintanya.


Bebatuan ini Memanggilku. Selamat Tinggal Kalian Semua!

image (2)

Taliyah pun kembali bersama ayahnya ke tempat anggota suku lainnya. Dia melanjutkan tariannya dengan mata terbuka. Kali ini, dia mengenakan sebuah pita batu, dengan setiap warna dan teksturnya sangat membuat orang-orang yang melihatnya mudah mengingatnya.

Ketika tariannya selesai, seluruh orang di sana duduk sambil terkagum-kagum. Taliyah menunggu dengan gugup. Inilah saat di mana orang-orang di sekelilingnya menjadi guru dan dia menjadi muridnya. Waktu itu terasa seperti detak jantungnya bersuara keras seperti dentuman palu. Dia mendengar kerikil bergerak karena ayahnya yang bangkit berdiri. Di sebelahnya, ibunya ikut berdiri. Babajan dan nyonya pewarna serta satu orang lagi berdiri. Saat itu, semua orang juga mulai berdiri. Semuanya berdiri di depan seorang gadis yang bisa mengendalikan tanah.

Taliyah melihat ke arah mereka satu per satu. Dia tahu bahwa kekuatan seperti yang dia miliki tidak pernah terlihat di generasi-generasi sebelumnya, atau bahkan tidak pernah. Mereka berdiri bersamanya, cinta dan kepercayaan mengelilinginya, tapi kekhawatiran itu tetap ada. Tidak ada satupun di antara mereka yang mendengar panggilan tanah sepertinya. Sebagaimana dia mencintai seluruh anggota sukunya, dia tidak melihat orang yang mampu mengendalikan ilmu sihir yang tertanam pada dirinya. Dia tahu bahwa dengan dia bertahan di sini, semua orang di sini akan berada dalam keadaan bahaya. Meskipun semua orang merasakan dengan berat hati, Taliyah mengucapkan kata selamat tinggal pada orang tuanya serta anggota sukunya yang lain, dan di berangkat sendirian menuju dunia luar.


Perjalananku mempertemukanku dengan dirinya

47619c8493d5a29653f3b0b9b6c965b0

Dia berpetualang ke barat menuju puncak Mount Targon, mengikuti koneksi yang kuat antara dirinya dengan gunung batu yang dipenuhi oleh bintang di malam harinya. Namun, di tepi perbatasan Utara Shurima, terdapat bendera Noxus yang seolah menyambut kehadiran dirinya. Bagi mereka, kekuatan sepertinya adalah sebuah perayaan. Dengan semua alasan yang mereka punya, mereka menjanjikan sebuah guru untuknya kelak.

Di Noxus, Taliyah ditakdirkan untuk menjadi orang yang jujur dan mempercayai orang. Dia tidak suap untuk janji manis dan juga senyuman yang diperlihatkan oleh pejabat tinggi Noxus. Tak lama, gadis ini menyadari kekangan yang dia derita, melewati Noxtoraa, pintu baja yang ditandai oleh bendera kerajaan sebagai tanah yang telah berhasil mereka kuasai.

Kerumunan banyak orang dan juga tenda politik di ibukota ini terlalu sesak untuk seorang gadis dari padang pasir terbuka. Taliyah diarak melewati masyarakat sihir Noxia yang lainnya. Banyak yang tertarik dengan kekuatannya, potensinya, tapi hanya ada satu kapten yang berjanji akan membawanya ke suatu lautan liar, di sebuah tempat di mana dia akan menguasai kekuatannya tanpa takut akan apapun, dan berhasil meyakinkan dirinya. Taliyah menerima tawaran tersebut dan berlayar menuju lautan Ionia.

Akan tetapi, jelas sekali bahwa dia merasa akan dijadikan sebuah senjata yang membuat sang kapten licik ini mendapatkan tempat yang lebih tinggi di angkatan laut Noxia. Sampai suatu pagi buta datang, kapten tersebut memberikan dua pilihan pada Taliyah: mengubur semua orang yang sedang tertidur ini tepat di dalam atau dibuang ke laut.

Taliyah melihat ke seberang teluk. Asap dapur pun bahkan belum terlihat dari rumah-rumah yang masih tertidur itu. Ini bukan pelajaran yang ingin dia pelajari. Taliyah menolak, dan sang kapten melemparnya ke dalam air.

Taliyah berhasil selamat dan lolos dari pertempuran hingga akhirnya sendirian setelah mencapai pantai, tersesat mencoba untuk menuju pegunungan dingin Ionia. Di sana akhirnya dia menemukan seorang guru. Seseorang yang memahami elemen dan kebutuhan akan keseimbangan. Dia berlatih bersamanya untuk beberapa waktu yang berhasil mengendalikan hal yang selama ini dia inginkan.


Home, I’m back

taliyah_styletest

Ketika mereka beristirahat di sebuah penginapan terpencil, Taliyah mendengar rumor bahwa Azir, sang raja Shurima zaman dahulu, telah bangkit bersama kerajaanya. Rumor ini juga menceritakan bahwa dirinya mencari orang-orangnya dulu dan ingin menarik mereka menjadi budaknya lagi seperti dulu. Meskipun latihannya belum selesai, Taliyah tidak menemukan cara lain; Dia sadar bahwa dia harus kembali kepada keluarganya dan melindunginya. Sayangnya, dari sana, dia dan gurunya harus berpisah.

Taliyah kembali ke rumahnya menuju bukit pasir Shurima. Begitu sinar cahaya yang lebih terang dari matahari panas menyinari dirinya, Taliyah langsung berselancar lebih cepat di padang pasir Shurima untuk segera menemukan keluarganya. Keinginan dirinya adalah tujuan dari bebatuan ini juga, dan dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan keluarganya serta sukunya dari bahaya yang menjulang ke cakrawala.


Konsep awal Taliyah

taliyah_stoneweaver_fanart taliyah_mage_dynamic taliyah_stone_weaver_tone_wip

Pecinta dunia figure yang hanya sebatas menikmati tanpa bisa membeli.

 

Leave a Reply