Sudah Waktunya Faker Pindah Role ke Jungler?

Sudah Waktunya Faker Pindah Role ke Jungler?
Faker-SKT-T1

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Pepatah itu tampaknya cocok untuk menggambarkan situasi yang tengah melanda SK Telecom T1 (SKT). Setelah beberapa tahun mendominasi Korea dan dianggap sebagai sebagai tim League of Legends terkuat yang pernah ada, skuad yang sudah berusia empat tahun tersebut akhirnya merasakan rentetan kegagalan.

Nasib buruk SKT dimulai dari kegagalan mereka pada LCK Summer Season Juni tahun lalu, di mana mereka hanya mampu meraih posisi keempat. Setelah itu, dalam dua turnamen selanjutnya, LCK Summer Playoffs dan World Championship, mereka harus puas menjadi runner up. Kemudian saat KeSPA Cup di penghujung tahun lalu, lagi-lagi SKT gagal menjadi juara setelah harus tunduk dari Longzhu Gaming pada babak semifinal.

Tahun berganti, namun nasib buruk masih menghantui tim yang sempat berseteru dengan anggota Kingzone DragonX, Peanut, tersebut. Pada gelaran LCK Spring Playoffs, SKT hanya mampu melaju sampai babak kedua. Langkah mereka untuk memperbaiki prestasi yang memburuk sejak pertengahan tahun lalu harus terhenti setelah ditundukkan KT Rolster dengan skor 1-3.

Sempat terseok-seok di awal musim, SKT berhasil bangkit hingga mendapatkan satu kursi di babak Playoffs. Diberi predikat raksasa tertidur yang akhirnya terbangun, SKT gagal memenuhi ekspektasi karena harus kembali menelan malu akibat buruknya pencapaian mereka dalam turnamen tersebut.

Di partai Telecom War kemarin, Faker terlihat tidak bisa berbuat banyak untuk bisa membawa tim SKT menang melawan KT Rolster. Secara keseluruhan, memang dirinya tidak bisa disalahkan atas keterpurukan yang dialami oleh SKT. Namun, dilihat dari pertandingan yang mereka jalani, pemuda bernama Lee Sang Hyeok tersebut tampak butuh rekan setim yang bisa mengimbanginya.

Mencari pemain hebat saja sudah susah, apalagi mendapatkan yang jago dan bisa padu dengan permainan tim. Ambil contoh Huni dan Peanut. Mereka berdua memang pemain hebat, tapi sayang tidak terlihat padu dengan tim. Opsi selanjutnya adalah Faker berganti role menjadi Jungler.

Apa hubungan perubahan role pemain berusia 21 tahun tersebut dengan prestasi SKT? Berikut ini beberapa alasan mengapa itu menjadi langkah yang bisa dipertimbangkan oleh Faker.

Faker Harus Ambil Alih Tim


Faker_1
Sudah waktunya Faker kendalikan tim

Sebagai pemain paling senior di SKT, Faker tentu sangat mengenal gaya bermain rekan setimnya. Atas dasar itu, dia harusnya mampu untuk mengendalikan mereka secara keseluruhan.

Seperti yang sudah-sudah, tugas seperti itu biasanya diemban oleh Jungler. Jungler dinilai memiliki wawasan didukung map awareness yang baik. Aksi mereka bisa menentukan arah tim. Setiap langkah bisa menjadi penentu nasib teman-temannya di Lane. Mengingat kemampuan yang dimiliki Faker, masuk akal apabila peran tersebut diberikan kepadanya.

Jungler adalah Role Paling Sulit Dicari


SKT_Wolf
Wolf bahkan harus nyasar ke Jungler

Kita semua tahu, dalam beberapa tahun terakhir SKT memiliki masalah untuk posisi Jungler. Pada masa jayanya, mungkin Bengi bisa dibilang Jungler yang paling berhasil. Sayang, performa pemuda yang kini menjabat sebagai Coach tersebut bisa dibilang naik-turun. Saat ini role Jungler SKT dipegang oleh Blank, namun pemain berusia 19 tahun tersebut dinilai sama tidak stabilnya dengan Bengi.

Dengan pemahaman tinggi mengenai SKT, plus pengalaman sebagai Midlaner, Faker sepertinya tidak akan terlalu kesulitan saat berganti role menjadi Jungler. Daripada tak kunjung mendapat Jungler yang ideal, mengapa SKT tidak menggunakan pemain terbaik mereka untuk mengisi posisi tersebut?

Sejarah Berkata Demikian


KSV eSports Ambition LCK Spring 2018
Faker bisa meneruskan jejak Ambition

Langkah Ambition mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan. Lama menjadi rival Faker sebagai Midlaner, pemain berusia 25 tahun tersebut memutuskan untuk ganti posisi sebagai Jungler. Tugas sebagai Midlaner diserahkannya kepada Crown, yang terbukti merupakan Midlaner terbaik selain Faker.

Hasilnya? Samsung sukses bertransformasi menjadi tim yang kuat. Puncaknya, tim yang saat ini memiliki nama KSV tersebut sukses meraih gelar sebagai tim terbaik dunia pada World Championship 2017 lalu.

==

Alasan di atas adalah beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan mengenai langkah yang harus diambil Faker untuk mengembalikan performa terbaiknya. Bagaimana menurut kalian? Apa kalian punya pendapat tersendiri terkait hal ini?

Raka Marko

Leave a Reply