5 Alasan Mengapa League of Legends Terpilih di Cabang Esports Asian Games 2018

5 Alasan Mengapa League of Legends Terpilih di Cabang Esports Asian Games 2018
800x533_AsianGames

Menjelang bergulirnya Pesta Olahraga Asia 2018 (Asian Games 2018) di Palembang dan Jakarta, terdapat sebuah kejutan di mana esports terpilih sebagai salah satu cabang olahraga. Kompetisi ini bekerja sama langsung dengan Olympic Council of Asia (OCA), Indonesia Asian Games Organizing Comittee (INAGOC) dan juga Asian Electronic Sports Federation (AeSF).

Esports terpilih sebagai Demonstration Sport dan akan hadir selama 2 edisi Asian Games, yang pertama di Palembang-Jakarta (Asian Games 2018) dan selanjutnya di Tiongkok (Asian Games 2022). IeSPA (Indonesia e-Sports Association juga telah memberitahukan bahwa setidaknya ada 6 game yang terpilih, yaitu League of Legends, Arena of Valor (AOV), Pro Evolution Soccer (PES), Clash Royale, HearthStone, dan StarCraft.

Tentu kalian penasaran kan, kenapa bukan game “sebelah” yang terpilih untuk masuk dalam daftar game tersebut?┬áPada┬ápembahasan kali ini, Hasagi ingin memberikan setidaknya 5 alasan mengapa League of Legends terpilih sebagai cabang esports yang tampil di Asian Games 2018.

Fanbase yang Luar Biasa Besar di Seluruh Dunia


Fnatic Winner EU LCS Spring 2018

Meskipun banyak game baru yang bermunculan, titel League of Legends yang memiliki fanbase dan pemain terbanyak tak pernah luntur. Pada bulan Januari 2018 lalu, kami pernah membuat sebuah artikel yang memperlihatkan bahwa setidaknya terdapat 100 juta pemain aktif setiap bulannya.

Tak hanya itu saja, jumlah akun yang ada di League of Legends sendiri sudah mencapai angka fantastis, sekitar 200 juta lebih (dengan Tiongkok yang mendominasi jumlah akun terbesar di seluruh dunia). Melihat banyaknya antusiasme para pemain baru, tentu angka tersebut kini semakin bertambah.

Turnamen yang Rutin Setiap Tahun


World Championship 2018 Korea Selatan

Riot Games memiliki turnamen yang rutin dilakukan setiap tahunnya. Turnamen tersebut dimulai dari Spring Split di awal Januari, lalu dilanjutkan dengan turnamen berskala internasional, Mid-Season Invitational (MSI), Rift Rivals (pertandingan internasional yang mempertemukan region-region dengan rivalitas terbesar), Summer Split, World Championship sebagai turnamen tahunan terbesar, dan ditutup dengan turnamen All-Star di akhir tahun.

Hampir setiap region pun memiliki format turnamen yang serupa, mulai dari LCK (Korea), NA LCS (North America), EU LCS (Europe), VCS (Vietnam), GPL (South East Asia), CBLOL (Brasil), LPL (Tiongkok), LCL (Negara CIS), LJL (Jepang), LLN (Amerika Latin Utara), CLS (Amerika Latin Selatan), OPL (Oceania), LMS (Taiwan), dan TCL (Turki).

Khusus untuk South East Asia (SEA), format GPL sudah diubah menjadi SEA Tour Championship sebagai format turnamen terbarunya.

Tak hanya turnamen yang rutin di lakukan, pesona league of Legends di mata dunia juga bisa menghasilkan jumlah viewer yang terbilang tidak sedikit. Pada pertandingan final LPL antara EDward Gaming vs Royal Never Give Up (RNG), setidaknya terdapat 100 juta pasang mata yang menonton langsung pertandingan tersebut.

Jenjang Karier yang Jelas


Hakuho Clutch Gaming NA LCS Spring 2018 Playoffs (1)

Berkaca dengan sistem Franchise yang digunakan NA LCS, sistem turnamen seperti ini membuat banyak pemain mendapatkan karier yang jelas (tak ada tunggakan gaji) sehingga mereka bisa fokus untuk membela masing-masing tim.

Sistem ini juga mampu mendatangkan banyak sponsor dan membuat esports menjadi lahan bisnis baru. Sistem Franchising ini tentu sangat baik tak hanya untuk pemain, tetapi juga manajemen tim. Dengan kata lain, League of Legends memiliki sistem yang sangat baik dalam urusan bisnisnya.

Profesionalisme dari Pihak Developer


Riot Games

Riot Games dikenal sangat tegas dan mengutuk adanya kecurangan di dalam game. Beberapa kasus berhasil diselesaikan dengan baik dan membuat para pelakunya jera. Kita ambil saja Dopa (Apdo) yang dihukum selama 1.000 tahun karena kasus Elo Boosting yang menjeratnya.

Selain itu kita juga tahu kasus yang menimpa Tyler1, salah satu streamer ternama League of Legends yang terkenal Toxic-nya. Riot pun memberikan hukuman banned selama satu stengah tahun kepada pemain berkepala plontos itu. Berdasarkan aksi yang dilakukan Riot, tentu tercermin bahwa kejujuran dan keadilan dalam sebuah game (esports) patut dijunjung tinggi layaknya olahraga.

League of Legends sebagai Cikal Bakal Esports Dunia


Rogue-Admiral-Garen-Corsair-Quinn-Sea-Hunter-Aatrox-Ironside-Malphite-Splash-Art-v2-League-of-Legends-Artwork-Wallpaper-lol

Jika menganalisis dari segala hal yang ada di atas, tentu kita tahu bagaimana Riot Games mengembangkan game League of Legends dengan sangat baik. Secara struktur, bisnis, dan juga komitmen mereka menunjukkan bahwa Esports adalah sebuah olahraga yang patut diperhitungkan di mata dunia.

Dengan masuknya esports dan League of Legends di Asian Games 2018, salah satu Pesta Olahraga Terbesar di Asia diharapkan bisa mengubah pandangan banyak orang tentang esports. Bukannya tidak mungkin, League of Legends akan dikenal sebagai cikal bakal esports di dunia.

==

Sekiranya itulah 5 Alasan mengapa League of Legends dipilih sebagai salah satu game dalam cabang esports Asian Games 2018.

Toxix Player

Ez GG!

Leave a Reply