Memiliki Uang Banyak dan Infrastruktur Memadai, Mengapa Region NA Selalu Gagal Di Kancah Internasional?

Memiliki Uang Banyak dan Infrastruktur Memadai, Mengapa Region NA Selalu Gagal Di Kancah Internasional?
Team Liquid

Kalian yang mengikuti perkembangan esports League of Legends pasti tahu bahwa NA LCS merupakan salah satu region dengan perputaran uang yang cukup besar. Status sebagai negara adidaya membuat tim-tim asal Amerika Serikat mudah mendapat fanbase dari berbagai belahan dunia.

Branding tim-tim NA LCS seperti Team Solomid dan Cloud9 memang sangat kuat. Besarnya brand yang mereka miliki berdampak pada ketertarikan berbagai pihak untuk menjadi sponsor mereka, baik untuk operasi tim atau infrastruktur esports di AS.

Region satu ini cukup inovatif. Sebagai contoh, NA menjadi region pertama yang menggunakan sistem franchising. Hadirnya sistem tersebut berhasil menjaring banyak investor baru untuk berinvestasi. Hal-hal tersebut tentunya berdampak pada pendapatan para pemain. Saat ini NA LCS memiliki status sebagai region dengan gaji tertinggi di dunia.

Sayang, berbagai hal yang disebutkan di atas seakan tidak sejalan dengan torehan prestasi tim-tim NA di kancah internasional. Hal ini berbeda dengan salah satu rival mereka, EU LCS, yang lumayan tertinggal dalam urusan infrastruktur maupun finansial. Meski begitu, tim-tim asal EU LCS bisa mencetak prestasi yang lebih baik dibandingkan wakil NA saat berkompetisi di kancah internasional.

Fnatic vs Team Liquid

Kalian bisa melihat contoh buruknya prestasi tim asal region NA ada gelaran Worlds. Sejak turnamen antar tim League of Legends sedunia tersebut digelar pada 2011, wakil-wakil asal Amerika tidak pernah mampu menembus babak perempatfinal. Pada gelaran Worlds 2015 bahkan NA tidak mengirimkan wakil di babak Playoffs karena semua tim NA meraih hasil buruk pada fase grup.

Kegagalan tersebut sempat terobati saat Counter Logic Gaming berhasil melaju hingga babak Final Mid-Season Invitational 2016. Sayangnya, pada Worlds 2016 kegagalan kembali ditemui oleh tim-tim NA LCS. Berstatus sebagai tuan rumah, kutukan minggu kedua kembali terjadi.

Dua tim unggulan pada saat itu, Counter Logic Gaming dan Team Solomid, sama-sama gagal lolos ke babak perempatfinal. Cloud9 yang bukan unggulan justru berhasil lolos, meskipun hal tersebut terjadi berkat ‘bantuan’ SK Telecom T1. Di babak perempat final Sneaky dkk. habis dibantai Samsung Galaxy dengan skor 0-3.

Cloud9Worlds2016vsSamsungGalaxyQF

Tahun 2017 juga tidak jauh berbeda, malah justru lebih buruk. Secara mengejutkan, perwakilan NA LCS di Mid-Season Invitational 2017, Team Solomid, hampir saja disingkirkan oleh Gigabyte Marines di babak Play-In. Meskipun pada akhirnya berhasil lolos, Team Solomid lagi-lagi harus pulang dengan tangan hampa karena gagal lolos ke babak berikutnya.

Prahara tersebut juga terus berlanjut di Worlds 2017. Pada turnamen yang berlangsung di Tiongkok tersebut, Team Solomid dan Immortals gagal lolos ke perempatfinal setelah terkena kutukan minggu kedua. Team Solomid mendapatkan cercaan dan hinaan paling banyak, mengingat mereka berada di grup yang lebih mudah dibandingkan Immortals dan Cloud9.

Torehan buruk tim-tim asal NA terus berlanjut. Pada Mid-Season Invitational tahun ini, Team Liquid yang maju sebagai perwakilan NA LCS tampil sangat buruk. Sampai hari kedua selesai, mereka menderita 4 kekalahan tanpa mencatatkan satupun kemenangan.

Pastinya kegagalan yang diderita NA LCS di kancah Internasional bukanlah tanpa sebab. Berikut adalah beberapa alasan mengenai kegagalan NA LCS di kancah Internasional:

Kualitas Solo Queue yang buruk dan minimnya sifat kompetitif


Sudah bukan rahasia lagi kalau kualitas server Solo Queue di NA LCS adalah yang terburuk. Di server Solo Queue NA, bahkan di Tier atas Ranked, sering dijumpai orang-orang bermain menggunakan pick trolling seperti Yasuo ADC. Mereka tidak peduli dengan kemenangan dan hanya ingin bersenang-senang saja, meskipun hal tersebut bisa berakibat buruk buat pemain lainnya.

Bandingkan dengan region Korea dan Eropa yang jauh lebih serius. Jika ada pemain yang ingin mencoba melakukan hal aneh-aneh, sudah pasti akan ada pemain yang melakukan dodge. Bagi mereka, kompetisi dan kemenangan adalah hal yang penting, sehingga semua pemain, khususnya di Tier atas, bakal bermain dengan serius. Mereka tidak akan berhenti sampai menjadi nomor satu.

Terlalu mengandalkan pemain impor dan minimnya perkembangan pemain lokal


Sistem franchising menjadi magnet bagi pemain luar Amerika, seperti Eropa dan Korea, yang ingin meraih pendapatan besar. Meskipun kehadiran pemain impor mampu meningkatkan permainan tim, mereka juga menjadi salah satu faktor kurag berkembangnya pemain lokal. Tak jarang juga pemain-pemain impor tersebut gagal tampil sesuai ekspektasi.

Hal berbeda justru terjadi di EU LCS yang saat ini sebagian besar timnya lebih memilih untuk menggunakan dan mengembangkan pemain-pemain lokal. Meskipun banyak bintang yang menyeberang ke NA LCS, selalu ada pemain baru yang bisa mengisi kekosongan tersebut. Prestasi mereka juga terbilang bagus di kancah Internasional meskipun gaji di EU LCS lebih kecil.

Bahkan Forg1ven sempat mengungkapkan lewat Tweetnya bahwa saat Ia bermain di H2k, Ia pernah memotong gajinya supaya Jankos dan Vander tetap berada di timnya. Ia juga menyesalkan bahwa pemain dan staf EU LCS harus bekerja keras dan berprestasi meskipun mendapatkan gaji yang rendah.

Pemain lokal NA LCS malas berkembang


Masih tidak jauh dari poin nomor dua, salah satu alasan mengapa pemain lokal NA LCS sulit atau bahkan jarang dilirik oleh tim-tim besar karena skill mereka yang tidak cukup tinggi untuk berkompetisi. Penyebabnya? Mereka terlalu malas untuk berlatih dan berkembang.

Baru-baru ini, mantan analis dan pelatih Cloud9 bernama Saiph mengungkapkan melalui Reddit bahwa sebagian besar pemain NA selalu merasa malas untuk berlatih dan berkembang. Toplaner Team Liquid Academy, Viper, bahkan pernah mengatakan secara terang-terangan bahwa dirinya terlalu malas untuk melakukan hal tersebut.

Staf yang dibayar rendah


Tingginya perputaran uang di NA LCS ternyata tidak dinikmati semua pihak. Ada jurang yang cukup besar dalam hal pendapatan yang diterima pemain dan staf, terutama bagian kepelatihan.

Dalam curhatannya di Reddit, Saiph juga mengungkapkan kalau Analist hanya mendapatkan bayaran USD 500 per bulan dan pelatih meraih USD 2500 per bulan. Bandingkan dengan pendapatan para pemain yang disebutnya bisa meraup USD 6.000 – 10.000 per bulan.

Keadaan tersebut memaksa para staf kepelatihan untuk mencari pemasukan lain, seperti Saiph yang membuka sesi coaching berbayar bagi pemain-pemain yang ingin meningkatkan kemampuannya.

==

Penderitaan yang dialami NA LCS saat ini juga membuktikan bahwa uang tidak bisa menyelesaikan segalanya. Jika NA LCS tidak segera berbenah, terutama dari segi mentalitas pemain dan kesejahteraan staf kepelatihan, akan sulit atau bahkan mustahil bagi NA LCS untuk meraih hasil bagus di kancah Internasional.

Laurent Vic

Writer, Gamer, Mechanical Keyboard Enthusiast, Dank Memer, Noob Yu-Gi-Oh! Duelist (Red Archfiend User). My articles does not reflect my personal opinion.

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply