Deficio: Kepergian Zven dan Mithy Turunkan Level Permainan EU LCS

Deficio: Kepergian Zven dan Mithy Turunkan Level Permainan EU LCS
Deficio

Setiap mengawali musim, Region EU selalu dipaksa untuk mencari talenta baru dan memaksimalkan pemain lokal yang ada. Dan di akhir musim nanti, selalu ada pemain besar yang hengkang ke Region NA dan bergabung dengan tim-tim besar di sana.

Buktinya, pada Off-Season lalu sepertinya menjadi kehilangan terbesar bagi EU. Pemain-pemain tenar di sana, seperti Febiven, Zven, Mithy, dan PowerOfEvil memutuskan untuk hengkang ke Region NA, rival mereka. Sekadar tambahan informasi, di Season 2018 ini NA memulai musim dengan menggunakan sistem Franchise.

Menurut komentator EU LCS, Deficio, kehilangan yang dialami EU pada Off-Season lalu berimbas pada penurunan level permainan, terutama di bagian Botlane.

“Kupikir perginya Febiven dan PowerOfEvil tak terlalu mengurangi level permainan di EU. Keduanya memang Midlaner bertalenta, namun tim-tim EU selalu berhasil menemukan Midlaner pengganti yang tak kalah bagus. Kami memang kehilangan nama-nama besar, namun di dalam pertandingan, tak terlalu ada banyak perubahan di sektor Midlane,” ucap Deficio, dilansir dari Blitz Esports.

g2-zven-mithy

“Zven dan Mithy akan selalu menjadi duo yang tak bisa tergantikan. Keduanya saling melengkapi dan membawa banyak hal, baik dalam permainan maupun tim. Khususnya Mithy, orang-orang selalu menyebutnya sebagai ‘pelatih yang ikut bermain’, karena kehadirannya bisa membuat tim bermain sangat efektif. Saya berpikir bahwa kehilangan Zven dan Mithy mengurangi level permainan EU secara keseluruhan, khususnya untuk tim yang bisa menantang Fnatic,” tambahnya lagi.

“Hilangnya Zven dan Mithy sangat melukai kami—tim top berkurang, sulit bagi tim lain untuk mencapai level yang setara dengan Zven-Mithy karena mereka membawa ‘nilai’ terhadap apa yang mereka lakukan di dalam permainan, dan Zven adalah Carry yang bisa menyaingi Rekkles,” tukas Deficio.

Zven TSM NA LCS Spring 2018

Deficio juga menambahkan bahwa pada Spring Split ini, Fnatic mengalami perkembangan yang sangat pesat. Level permainan meningkat, dan kehadiran YoungBuck juga berhasil memperbaiki mental pemain Fnatic.

“Tahun lalu Broxah dan Caps masih berstatus sebagai Rookie, terutama Caps yang tampil inkonsisten. Dalam sebuah laga, Caps bisa saja menang dengan KDA 10-0, dan pada pertandingan selanjutnya ia mendapatkan KDA 0-10. Ia sepertinya hanya ingin melakukan hal-hal gila. Kini Caps menjadi lebih baik, ia bisa memenangkan 1-v-1 di dalam lane dan melakukan Roaming dengan baik. Ia belajar banyak.”

“Kehadiran YoungBuck juga membawa perubahan kepada Fnatic. Pertama, ia membawa struktur mengenai apa yang harus dilakukan di dalam permainan. YoungBuck membuat permainan lebih terstruktur dan bertahap. Ketika menggunakan komposisi ini, apa yang harus dilakukan? Apa langkah-langkah yang harus diikuti? Dan kemudian mereka setuju dengan langkah-langkah tersebut. Tahap berpikir seperti ini membuat permainan tim menjadi jauh lebih pintar,” ujarnya lagi.

Dalam hal ini, YoungBuck memiliki kemampuan yang sangat baik agar pemain tak mudah tilting. Tahun lalu, Fnatic mengalami kekalahan dari Misfits dalam game pertama di semifinal. Dalam pertarungan itu, Fnatic terlihat sudah menyerah karena tak tahu apa yang harus dilakukan untuk membalikkan keadaan. Kehadiran YoungBuck mengubah cara berpikir pemain.

YoungBuck

Melihat ucapan Deficio di atas, tentu Fnatic pantas mendapatkan gelar Raja Eropa. Exodus besar-besaran yang terjadi di akhir musim membawa dampak yang cukup besar, khususnya pada level permainan dan persaingan antar tim di EU. Semoga saja sistem Franchise yang akan diterapkan EU LCS musim depan bisa mengembalikan pemain-pemain EU yang hijrah.

Laurent Vic

Writer, Gamer, Mechanical Keyboard Enthusiast, Dank Memer, Noob Yu-Gi-Oh! Duelist

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply


comments