Anggap NA Jelek, Perkz Lebih Memilih Berkarier di LCK

Anggap NA Jelek, Perkz Lebih Memilih Berkarier di LCK

 



EU LCS dikenal sebagai salah satu Region terbesar di League of Legends. Bukan hanya itu, EU LCS juga ternyata merupakan sebuah Region yang sangat berpengaruh besar pada dunia esports. Jika melihat masa lalu, tim dari EU LCS mampu menguasai kompetisi League of Legends, seperti apa yang pernah ditunjukkan Fnatic di kompetisi internasional.

Setelah beberapa hari terakhir dunia esports League of Legends sedang disibukkan dengan MSI 2018, kali ini kami punya cerita menarik tentang beberapa pemain yang tidak ikut berlaga di event tahunan tersebut. Kapten tim dari G2, Perkz, beberapa hari lalu duduk bersama im InvenGlobal untuk berbincang-bincang mengenai masa depannya sebagai pemain profesional League of Legends.

Pemain dengan nama lengkap Luka Perkovic ini sudah bermain untuk G2 dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Dalam waktu tersebut, dia sudah banyak mengecap gelar tim maupun individu. Namun sayangnya, untuk tahun ini, dia gagal menjadi juara dan mewakili Eropa ke MSI setelah dikalahkan oleh Fnatic.

G2 Esports

Ketika ditanya tentang prospek dirinya untuk bermain di luar EU LCS, dirinya membuka peluang bahwa hal itu kemungkinan akan terjadi. Dari semua region besar yang ada, Perkz mengaku ingin mencoba berkarier di Korea Selatan.

“Saya memiliki keinginan untuk berkarier di LCk suatu hari nanti. Tapi untuk mewujudkan hal tersebut saya harus menguasai bahasa Korea terlebih dulu. Trick berkata bahwa itu tidak sulit dan saya akan mempu melakukannya,” ucap pemuda 19 tahun asal Kroasia tersebut dikutip dari InvenGlobal.

“Saya punya mimpi bermain untuk salah satu tim terbaik LCK. Saya tidak ingin melawan Trick dengan tim yang lemah. Saya ingin melihat sejauh apa saya bisa berbicara di region terbaik di dunia,” lanjutnya.

SSG-Worlds_1078402152_33806_1440x600

 

Saat ditanya mengapa dirinya tidak memilih NA sebagai destinasi selanjutnya, Perkz mengaku tidak suka dengan gaya bermain para penghuni NA. Menurutnya, pemain di NA memiliki kualitas lebih buruk dibandingkan EU.

“Saya masih berpikir bahwa pemain NA jauh lebih buruk dibandingkan EU. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bermain di sana. Tidak mungkin bermain di tim terbaik NA, karena pemain terbaik untuk masing-masing posisi berada di tim yang berbeda dan mereka tak akan pindah,” tutur Midlaner yang sudah membela G2 sejak 2015 tersebut.

“Beberapa tahun ke depan mungkin hal itu akan berubah. Bisa jadi dua tahun kemudian saya berpikir untuk bermain di NA agar bisa meraih uang lebih banyak. Los Angeles merupakan tempat yang menakjubkan. Tapi untuk saat ini saya ingin fokus mengembangkan kemampuan,” tutupnya.

 

Sumber

Raka Marko

Leave a Reply