Historical Moments: Taipei Assassins, Kisah Underdog Terbaik!

Historical Moments: Taipei Assassins, Kisah Underdog Terbaik!
TPA s2

Jika berbicara mengenai kompetisi, status “Underdog” sudah pasti tidak luput dari pembicaraan. Status “Underdog” ini kerap diberikan kepada tim-tim yang dianggap lemah dan kurang mampu bersaing dengan tim-tim papan atas yang jauh lebih difavoritkan. Status ini biasanya disematkan kepada tim-tim dari Minor Region, tim yang pada kompetisi sebelumnya meraih hasil buruk, atau tim yang kurang berpengalaman.

Di ajang World Championship tentu tidak luput dari kehadiran tim-tim Underdog. Dari tim-tim Underdog itu pula kita melihat berbagai kisah menarik seperti persaudaraan Cloud9-KaBuM, keberhasilan Albus NoX Luna lolos dari Grup, sampai permainan inovatif dan agresif dari tim-tim VCS seperti Gigabyte Marines dan EVOS Esports.

Dari sekian banyak cerita tim-tim Underdog, ada sebuah kisah tim Underdog terhebat sepanjang sejarah kompetisi League of Legends, dan kisah tersebut adalah kisah milik Taipei Assassins. Mau tahu seperti apa kisah mereka yang disebut-sebut sebagai “kisah Underdog terbaik” ini? Yuk kita simak.

Supaya mengetahui seperti apa cerita Taipei Assassins, kita mundur ke tahun 2012 saat World Championship kedua digelar. Pada saat itu, Taipei Assassins hanyalah sebuah tim biasa bernama “For The Win” yang kemudian disponsori oleh Garena dan mengubah nama menjadi Taipei Assassins. Taipei Assassins berhasil lolos ke World Championship 2012 usai menjuarai Seasonal Two Regional Taiwan.

World Championship pada saat itu berbeda dibandingkan dengan sekarang. Lima tim yang berhasil menjuarai Seasonal Regional yakni Team SoloMid, Moscow5, World Elite, Azubu Frost dan tentu saja Taipei Assassins akan di-draw. Empat tim yang di-draw akan langsung bermain di babak perempatfinal.

Berdasarkan hasil draw, Team SoloMid, Moscow5, Taipei Assassins, dan World Elite akan langsung bermain di perempatfinal sedangkan Azubu Frost akan bermain di babak Grup. Dari babak Grup yang dilaksanakan selama 2 hari, Azubu Frost, Invictus Gaming, NaJin Sword, dan CLG.EU berhasil lolos dari Grup.

Sama halnya seperti turnamen pada umumnya, ada beberapa tim yang termasuk unggulan dan difavoritkan menjadi juara. Ada Moscow5 yang pada waktu itu sangat ditakuti karena agresivitas dan inovasi pick-nya, CLG.EU yang terkenal sebagai tim terkuat Eropa, dan tim-tim Korea seperti Azubu Frost dan NaJin Sword yang terkenal akan level permainannya yang tinggi. Sedangkan Taipei Assassins? hanya tim kuda hitam yang tidak diperhitungkan.

Di babak perempatfinal, Taipei Assassins langsung berhadapan dengan salah satu unggulan yakni NaJin Sword. NaJin Sword sendiri datang dengan modal yang kuat. Selain datang sebagai tim kedua dari Korea, NaJin Sword juga sukses melumat semua pesaingnya. Tanda tanya besar pun muncul mengenai nasib Taipei Assassins.

Diluar dugaan, Taipei Assassins mampu memberikan perlawanan yang sengit. Dipimpin oleh Toyz yang pada waktu itu tercatat sebagai pengguna Orianna pertama di kancah kompetitif, Taipei Assassins mampu mendominasi game pertama dan memojokkan NaJin Sword. Pemain NaJin Sword tampak kewalahan menghadapi Orianna milik Toyz dan dipaksa melakukan Surrender.

Tak sampai disitu, Taipei Assassins juga sukses menggulung NaJin Sword. Meskipun NaJin Sword berhasil mendapatkan start Early yang bagus, namun Taipei Assassins berhasil bangkit lewat team fight. Lewat koordinasi team fight yang bagus diimbangi dengan map kontrol yang superior, Taipei Assassins berhasil memenangkan game kedua dan lolos ke Semifinal.

Lewat kemenangan telak yang diraih atas NaJin Sword dan energi positif yang mereka tunjukkan selama bertanding, Taipei Assassins mulai mendapatkan perhatian publik dan satu persatu mulai mendukung mereka. Meskipun kemenangan ini terasa manis, Taipei Assassins masih belum boleh tenang karena lawan mereka berikutnya adalah lawan yang tangguh, Moscow5.

Mengalahkan tim sekelas Moscow5 bukanlah perkara mudah dan hal tersebut terlihat di game pertama Semifinal. Taipei Assassins kesulitan menangani permainan super agresif Moscow5 dan harus merelakan game pertama dimenangkan oleh Moscow5. Tanda tanya kembali muncul, apakah Taipei Assassins mampu menghadapi tantangan Moscow5?

Taipei Assassins menjawab tantangan tersebut pada game kedua. Lewat koordinasi yang lebih baik dan permainan yang proaktif, Taipei Assassins berhasil memojokkan Moscow5 dan memaksa mereka untuk memainkan game ketiga yang akan menjadi penentuan.

Pada game ketiga, Taipei Assassins melanjutkan agresinya lewat penguasaan objektif dan Sieging. Hasilnya pada menit ke-20, Taipei Assassins berhasil menguasai seluruh Map dengan meruntuhkan 5 Turret dan memberikan map pressure yang cukup hebat kepada Moscow5. Gold lead yang terlampau jauh ini membuat Moscow5 kewalahan dan Taipei Assassins lolos ke Grand Final.

Setelah mengalahkan 2 tim unggulan, Taipei Assassins melangkah ke babak Grand Final di mana sudah ada tim unggulan terakhir yang menanti mereka, yakni Azubu Frost. Azubu Frost tampil sesuai reputasinya yang mengerikan dengan menggulung Team SoloMid di perempatfinal dan menyingkirkan CLG.EU di Semifinal. Pertarungan Final akan mempertemukan “Kingslayer” dengan favorit Juara.

Meskipun lawan mereka kali ini jauh lebih kuat dari dua lawan sebelumnya, Taipei Assassins tetap menunjukkan permainan khasnya dan memberikan perlawanan yang sengit kepada Azubu Frost. Namun Azubu Frost berhasil membalikkan keadaan berkat “4-Man Requiem” dari RapidStar yang menjadi iconic sampai saat ini.

Dari Quadra Kill tersebut, Azubu Frost langsung melancarkan serangan balik dan berhasil memenangkan game pertama.

Kekalahan game pertama tidak membuat motivasi pemain Taipei Assassins runtuh. Mereka berhasil bangkit di game kedua berkat pick Jungle Dr. Mundo dari Lilballz yang membuat Azubu Frost terkejut dan kesulitan merespons karena tidak siap dengan pick kejutan ini. Setelah bertarung selama 40 menit, Taipei Assassins berhasil menyamakan kedudukan 1-1.

Orianna legendaris milik Toyz kembali pada game ketiga dan menunjukkan mengerikannya Orianna. Azubu Frost terlihat tertekan habis-habisan sepanjang permainan dan terpaksa melakukan Surrender pada menit ke-22 guna menghindari penurunan moral pemain.

Taipei Assassins hanya butuh satu kemenangan lagi untuk meraih gelar juara dunia. Di game keempat dengan menggunakan lineup yang kelak akan diabadikan dalam skin TPA – Shen, Dr. Mundo, Orianna, Ezreal, dan Nunu – Taipei Assassins langsung bermain dengan agresif dan sama sekali tidak memberikan sedikitpun celah kepada Azubu Frost.

Taipei Assassins memegang penuh kendali permainan dan membuat Azubu Frost sama sekali tidak berdaya. Mereka bahkan tidak mampu memberikan kerusakan yang signifikan kepada pemain Taipei Assassins. Setelah berjuang selama 38 menit, Taipei Assassins berhasil menghancurkan Nexus dan menjadi juara Worlds 2012.

Taipei Assassins menjadi juara setelah berhasil menundukkan tiga tim unggulan dan favorit juara – NaJin Sword yang berhasil menghancurkan Grup, Moscow5 yang ditakuti, dan setelah kalah satu game mereka sukses menghancurkan Azubu Frost dalam 3 game beruntun untuk meraih gelar juara dunia.

Keberhasilan Taipei Assassins ini menjadi keberhasilan tim Underdog pertama dan tersukses hingga saat ini. Kisah Underdog ini juga menjadi salah satu cerita unik dan menunjukkan semangat luar biasa dari masa lalu dunia kompetitif League of Legends.

World Championship 2018 sendiri akan dimulai pada hari Rabu besok dan tim Underdog seperti Phong Vũ Buffalo digadang-gadang akan mengulangi kesuksesan Taipei Assassins di masa lalu. Apakah Phong Vũ Buffalo nantinya mampu menjawab ekspektasi tersebut? Kita lihat saja saat Group Stage dimulai nanti.

Laurent Vic

RIP AND TEAR UNTIL IT'S DONE

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply