Kami Mewawancarai Coach Devoticore Tentang Match Melawan Bigetron

Kami Mewawancarai Coach Devoticore Tentang Match Melawan Bigetron
DVC_00001a

Devoticore menjalani 2 minggu pertama di LGS Spring 2018 dengan cukup baik. Sempat kalah dari Superamos, juara kedua Legion of Champions (LOC) Series II tahun lalu ini akan menghadapi Bigetron Esports malam ini pukul 19:00 WIB.

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya kedua tim ini bertemu dalam pertandingan resmi. Sebelum melangkah ke LOC Series II lalu, kebetulan Devoticore dan Bigetron bertemu di babak semifinal. Saat itu, BTR sudah menurunkan toplaner andalan mereka Minky, dan hasilnya membuat DVC ketar-ketir di game pertama. Namun setelah melalui pertukaran fight yang sangat alot, DVC berhasil keluar sebagai pemenang di pertemuan ini, dan melangkah ke final bertemu Headhunters.

Hari ini, tentunya Bigetron Esports tidak ingin hal yang sama terjadi. Mereka pastinya akan berniat untuk “balas dendam”, dengan mengalahkan Devoticore di pertemuan kedua ini. Hal yang sama juga akan ada dalam pikiran para pemain Devoticore, untuk tetap berada di posisi 4 besar klasemen LGS Spring 2018.

Kali ini, kami mewawancarai Thomas “DoM” Vetra, coach (pelatih) tim Devoticore. Mengapa coach, dan bukan pemainnya? Well, kami juga ingin mengetahui pendapatnya soal performa tim yang ia latih, serta bagaimana rasanya menjadi seorang coach di musim perdananya ini. Sekedar info, DoM adalah mantan pemain Lazarus yang sempat bertanding di LGS Spring 2018 Promotion Series, meski waktu itu gagal melangkah ke LGS.

Jadi, inilah dia hasil wawancaranya.


Hi DoM. Sebagai coach Devoticore, bagaimana kamu menilai performa mereka selama 3 pertandingan pertama di LGS?

Menurut saya, performa team Devoticore kian hari kian meningkat. Kekalahan melawan SAM adalah sebuah pelajaran besar untuk kami. Kekalahan itu membuat semua pemain menjadi lebih terpacu untuk lebih baik di setiap harinya.


Dari sisi kamu sendiri, apakah menurut kamu masih ada yang perlu diperbaiki lagi (dalam hal tugas sebagai seorang coach)?

Masih banyak yang harus saya perbaiki, baik di dalam game atau di luar game. Di dalam game, saya sebagai coach harus bisa memilih champion mana yang sedang meta dan cocok dengan playstyle team kita. Untuk diluar game saya selalu memberi pelajaran tentang komunikasi, mental, dan etika, karena tiga poin itu sangat penting menurut saya agar rosters saya jauh lebih baik.


Bagaimana kamu menilai draft champion di 8.2 ini? Apakah kamu lebih suka mempercayakan comfort pick kepada pemain, atau lebih menuntut meta pick ke mereka?

Untuk 8.2 tidak merubah banyak meta champ sebelumnya, karena menurut saya semua tergantung playstyle team.
Saya selalu memberikan tugas pada pemain saya untuk mempelajari champions yang memang sedang meta, namun saya tidak pernah memaksakan untuk menggunakannya di saat tournament, karena Mental APM jauh lebih penting menurut saya.


Overall, jadi coach itu lebih sulit nggak sih dibandingkan jadi player?

Menurut saya jadi coach jauh lebih sulit. Karena coach harus mampu menjadi panutan dan mampu menyatukan semua rosters.


Melawan BTR, apa pendapatmu tentang performa mereka? Dan seberapa siap DVC dalam menghadapi BTR malam ini?

Performa mereka cukup baik, walau terlihat jelas kunci permainan BTR ada pada sang Jungler, bukan pada top lane mereka. 100% kita siap mengulang hasil LOC semifinal.


Adakah pesan-pesan untuk para fans DVC dan pembaca Hasagi?

Tetap dukung DVC dan selalu update tentang LOL Indonesia di Hasagi. Thanks!


Buat pendukung Devoticore, jangan lupa dukung dan semangatin tim kamu malam ini di channel Youtube Garena League of Legends Indonesia.

fusion jazz - vaporwave - instrumental hiphop

Facebook Twitter 

Leave a Reply