Know the Pros: Bjergsen

Know the Pros: Bjergsen
Bjergsen

Bjergsen. Sudah pasti banyak yang tahu nama ini. Pemain yang sudah menjadi icon Team SoloMid ini disebut-sebut sebagai Midlaner terbaik di NA LCS dan bahkan di dunia. Kontribusinya cukup besar dalam membawa TSM menjuarai berbagai kompetisi seperti NA LCS dan Rift Rivals. Banyak orang-orang yang mengidolakan Bjergsen. Tapi seperti apa perjalanan karir Bjergsen?

Søren Bjerg atau lebih dikenal dengan Bjergsen lahir pada 21 Februari 1996 di sebuah kota kecil di Denmark. Karena perawakannya yang kecil dan kurus, Ia seringkali menerima bullying dari teman-teman di sekolahnya yang menyebabkan dirinya enggan pergi ke sekolah. Orangtuanya memahami keadaan ini dan memberikan Bjergsen kebebasan untuk pergi ke sekolah maupun tidak. Video Game pun menjadi pelarian utama Bjergsen, khususnya League of Legends.

Bjergsen pun dengan cepat berhasil meraih peringkat atas meskipun usianya masih sangat muda. Bjergsen mulai mencuri perhatian orang-orang Ia menjadi stand-in untuk TSM pada turnamen Corsair Vengeance Online Cup 2012. Di tahun yang sama, Bjergsen bergabung bersama Copenhagen Wolves dan diharapkan akan segera menjalani debutnya pada DreamHack Winter 2012. Sempat ada hambatan, namun manajernya Deficio berhasil meyakinkan dirinya dan ayahnya supaya Ia bisa ikut bertanding.

CPH sendiri berhasil melaju sampai babak Semifinal dimana mereka dikalahkan oleh CLG.EU 2-0. Keberhasilan CPH finish di urutan 4 besar mendapatkan perhatian dari Riot Games dan CPH berhasil mendapatkan satu spot di split EU LCS pertama. Namun Bjergsen tidak bisa ikut bertanding bersama CPH dikarenakan batasan umur, menyebabkan dirinya hanya bisa duduk di rumah sementara timnya bertanding. Posisinya digantikan oleh cowTard dan CPH berhasil lolos ke Season 3 EU LCS.

Pada minggu pertama 2013 EU LCS, CPH terhantam 0-5 pada dua minggu pertama. Untungnya sebelum minggu ketiga, Bjergsen menginjak umur 17 tahun dan Ia bisa berlaga membela CPH. Kembalinya Bjergsen ke starting lineup membuat CPH mendapatkan kekuatan baru dan mulai memenangkan setiap pertandingan. Namun dikarenakan masa lalunya, Bjergsen sempat merasa tertekan karena hype yang ada di sekitarnya. Toh, fans setianya dan rekan setimnya terus memberikan dukungan kepada Bjergsen. CPH berhasil finish pada peringkat kelima Spring Split 2013 tapi sayangnya langkah CPH di babak Playoffs dihentikan oleh Evil Geniuses setelah kalah 2-1.

Setelah memastikan diri lolos ke Summer Split 2013, seluruh skuad CPH ditransfer ke Ninjas in Pyjamas. Dikarenakan masalah internal dan inkonsistensi performa, sekali lagi NiP harus puas finish di peringkat kelima dan kalah 2-0 dari Gambit Esports di babak pertama Playoffs.

Memasuki masa off-season, Bjergsen membuat keputusan kontrovesial dengan hijrah ke NA LCS dan bergabung dengan Team Solomid. Keputusan ini bisa dibilang beresiko besar. Tidak hanya pindah ke tim baru yang merupakan tim besar, Bjergsen juga harus bisa menjawab ekspektasi sebagai pengganti Reginald selaku founder TSM.

Debut Bjergsen bersama TSM di Battle of the Atlantic melawan region asalnya EU, Bjergsen berhasil membawa TSM menang melawan Lemondogs yang menjadi perwakilan EU. Setelah itu, TSM berhasil mencatatkan rekor 22-6 pada gelaran 2014 NA LCS Spring Split. Namun, mereka masih belum cukup kuat melawan rival abadi Cloud9 yang berhasil menjuarai 2014 NA LCS Spring Playoffs Final setelah menang atas TSM 3-0.

Meskipun gagal juara, Bjergsen berhasil menjawab ekspektasi dan mendapatkan hati fans NA LCS. Streamnya pun selalu ditonton oleh banyak orang dan kepribadiannya pun berubah dari seorang pemalu menjadi lebih percaya diri. Ia yang dulunya sering lari dan menghindari interview, sekarang menjadi lebih percaya diri dan menjadi icon utama TSM.

Tapi tetap saja, kegagalan di final khususnya saat menghadapi Hai membuat Bjergsen merasa harus meningkatkan level permainannya jika tidak ingin kalah lagi. Bjergsen pun berubah, tak hanya menjadi star player bagi timnya tapi Ia juga seorang shotcaller handal. Usaha ini berhasil. TSM kembali merebut gelar juara 2014 NA LCS Summer Split setelah mengalahkan Cloud9 3-2.

Setelah berhasil di region NA, Bjergsen masih ingin membuktikan dirinya di panggung Internasional: Worlds 2014. Bjergsen berhasil membuktikan dirinya dengan membawa TSM lolos babak grup dan maju ke babak Playoffs. However, langkah mereka terhenti di babak perempatfinal setelah kalah dari tim yang kelak menjuarai Worlds 2014 yakni Samsung Galaxy White 3-1.

Pertandingan Internasional berikutnya adalah Intel Extreme Masters 2014: San Jose. Langkah TSM yang diprediksi akan berjalan dengan baik ternyata tidak sejalan dengan kenyataan. Jungler baru Santorin gagal menjawab ekspektasi dan harapan fans. Bjergsen sendiri kalah dan diungguli oleh Midlaner Unicorns of Love PowerofEvil.

Untungnya kekalahan di ajang IEM tidak membuat Bjergsen jatuh. TSM kembali mendominasi 2015 NA LCS Spring Split. Langkah mereka yang terbilang mulus di ajang NA LCS berhasil mendapatkan undangan turnamen Intel Extreme Masters World Championship 2015: Katowice. Di turnamen inilah TSM berhasil memenangkan turnamen Internasional pertamanya setelah menang melawan World Elite 3-0.

Momentum kemenangan IEM berhasil dibawa TSM di NA LCS dan sekali lagi berhasil menjuarai 2015 NA LCS Spring Split setelah menang melawan Cloud9 3-1 di Grand Final. Bjegrsen juga mendapatkan gelar MVP untuk kedua kalinya. TSM pun maju sebagai perwakilan NA di turnamen pertama Mid-Season Invitational.

Meskipun tampil impresif di NA LCS, TSM benar-benar hancur di MSI. TSM hanya mampu menang sekali dari 5 laga yang sudah dijalani. Kegagalan di ajang MSI juga berimbas pada 2015 NA LCS Summer Split. Pada akhirnya, TSM gagal mempertahankan gelar juara setelah dikalahkan oleh Counter Logic Gaming 3-2 di babak Final 2015 NA LCS Summer Playoffs.

Kegagalan menjuarai 2015 NA LCS Summer juga berimbas pada Worlds 2015. TSM gagal mengulangi kesuksesan Worlds 2014 setelah tersingkir di babak grup lebih awal dengan satu kemenangan dan 4 kekalahan.

Kegagalan beruntun yang diterima TSM berujung pada eksodus besar-besaran. Dyrus pensiun sedangkan Santorin, WildTurtle, dan Lustboy keluar sehingga memaksa TSM membangun tim baru yang berpusat pada Bjergsen.

TSM memutuskan untuk merekrut Hauntzer, Svenskeren, Doublelift, dan Yellowstar. Kehadiran beberapa pemain-pemain top tentu saja memunculkan ekspektasi yang besar dari fans. However, skuad TSM yang baru gagal menjawab ekspektasi tersebut dan sekali lagi gagal menjuarai 2016 NA LCS Spring Split setelah kalah dari CLG 3-2.

Kegagalan ini juga memaksa TSM untuk melakukan perubahan. Yellowstar memutuskan untuk kembali ke EU LCS dan bermain bersama Fnatic. Kehilangan supportnya, TSM memutuskan untuk membuka trial di posisi Support. Dari situ muncullah Biofrost yang lulus trial.

Bergabungnya Biofrost ke TSM seperti melengkapi potongan TSM yang hilang. TSM tampil sangat impresif dengan hanya kalah sekali saat melawan Phoenix1.

Perjalanan mereka di babak Playoffs juga sangat impresif. Mereka berhasil menghantam CLG 3-0 dan mengalahkan Cloud9 3-1 untuk merebut juara 2016 NA LCS Summer.

Ekspektasi saat Worlds 2016 cukup besar mengingat TSM juga berstatus sebagai tuan rumah. Namun lagi-lagi TSM gagal menjawab ekspektasi itu setelah kalah head-to-head 2-0 dari Royal Never Give Up di babak grup.

Kegagalan di ajang Internasional membuat sang ADC Doublelift memutuskan untuk mengambil hiatus dari ajang kompetitif. TSM memutuskan untuk membawa kembali WildTurtle di posisi ADC.

Kegagalan di Worlds 2016 tidak membuat TSM mundur. TSM justru berhasil menjuarai kembali 2017 NA LCS Spring setelah mengalahkan Cloud9 3-2 di babak Final.

Sekali lagi, TSM mendapatkan kesempatan membela NA di ajang MSI. Namun lagi-lagi mereka gagal setelah kalah dari Flash Wolves di pertandingan Tiebreaker.

Memasuki Summer Slit 2017, Doublelift kembali ke skuad dan TSM berhasil menjuarai Rift Rivals setelah mengalahkan perwakilan EU Unicorns of Love 3-0.

Sampai hari ini, Bjergsen terus mengejar rekor. Pada Summer Split ini Bjergsen berhasil mencatatkan rekor 1000 Kill sepanjang karirnya di NA LCS dan menjadi Midlaner pertama yang mencapainya.

Langkah mereka di NA LCS pun juga bagus setelah berhasil mengamankan posisi pertama dan berhak atas satu spot di Semifinal. TSM akan menghadapi Dignitas pada minggu ini demi memperebutkan spot di Grand Final.

Berawal dari bocah pemal yang sering mendapat bully, Bjergsen bertransformasi menjadi salah satu seorang pemain terbaik di NA dan bahkan dunia. Ia melakukan apa saja demi menjadi yang terbaik dan sekarang Ia adalah yang terbaik.

Laurent Vic

Writer, Gamer, Mechanical Keyboard Enthusiast, Dank Memer, Noob Yu-Gi-Oh! Duelist (Red Archfiend User). My articles does not reflect my personal opinion.

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply