Know the Pros: Huni

Know the Pros: Huni
Huni Echo Fox NA LCS Spring 2018

Pemain ini selalu terlihat ceria, baik saat bermain di atas panggung maupun di luar panggung. Ia merupakan pemain yang berani menggunakan champion Off-Meta di panggung kompetitif, seperti Lucian Top (meskipun bukan ia yang menggunakannya pertama kali). Ia adalah pemain profesional yang telah memenangkan gelar liga dan tampil dominan di beberapa region dan ajang internasional (seperti MSI dan Worlds). Ia adalah Huni.

Sempat mengawali karier dengan kegagalan bergabung dengan tim impian di negara asalnya, Huni sukses meniti karier secara perlahan-lahan di region lain dan membuatnya dikenal oleh banyak orang. Kemampuannya semakin terasah dari tahun ke tahun, dan akhirnya ia mendapat kesempatan untuk bergabung dengan salah satu tim terkuat di League of Legends. Dan inilah kisah dari seorang Huni.


Huni lahir dengan nama Heo Seung-hoon di Korea Selatan pada tanggal 25 Desember 1997. Sebagai seorang anak yang lahir dan tumbuh besar di Korea Selatan, tentu saja video game tak lepas dari masa kecilnya. Ia sering sekali menghabiskan waktunya bermain video game dan membuat orangtuanya khawatir dengannya namun Huni berhasil menutupinya dengan nilai yang bagus dan menjadi salah satu murid yang pintar.

Sama seperti pemain profesional lainnya, Huni mengawali perjalanannya di kancah kompetitif League of Legends lewat perjalanan Solo Queue-nya. Dalam beberapa bulan, Huni berhasil climbing hingga mencapai rank Challenger dan menarik perhatian sejumlah tim-tim Korea. Saat masih berumur 17 tahun, Ia sudah menjadi bagian dari partner latihan tim Samsung Galaxy.

Huni kemudian mencoba untuk melakoni tryout di tim impiannya, SK Telecom T1. Pada saat itu, exodus (perpindahan) besar-besaran terjadi dan SK Telecom T1 juga tak luput dari eksodus tersebut. Beberapa pemain seperti Impact, Piglet, dan Poohmandu memutuskan untuk meninggalkan tim. Selain karena eksodus, peraturan baru di Korea yang tidak memperbolehkan sebuah tim memiliki 2 skuad memaksa SK Telecom T1 untuk membubarkan kedua skuadnya S dan K kemudian meleburnya menjadi SK Telecom T1.

Meskipun tampil bagus, SK Telecom T1 lebih memilih untuk meletakkan Marin yang berasal dari SK Telecom T1 S di posisi starting roster dan Huni menolak untuk ditempatkan sebagai sub. Di saat yang sama, pemain yang nantinya akan menjadi sahabat baik Huni yaitu Reignover juga melakukan tryout di SK Telecom T1 namun kalah dari Bengi.

Gagal di SK Telecom T1, Huni dan Reignover membuat keputusan yang nantinya akan mengubah hidup mereka. Mereka memutuskan untuk hijrah ke Eropa sebagai duo dan bergabung bersama Fnatic.

Huni-Reignover-splash

Roster Fnatic sendiri juga mengalami perombakan besar-besaran menyusul kegagalan di ajang Worlds 2014. sOAZ, Cyanide, xPeke, dan Rekkles memutuskan untuk hengkang dan hanya menyisakan Yellowstar seorang saja. Selain Huni dan Reignover, Fnatic juga mendatangkan Midlaner Febiven dan AD Carry Steelback.

Fnatic_Spring_2015

Bersama Fnatic, Huni tak membuang-buang waktu dan menunjukkan bahwa dirinya merupakan pemain yang patut diperhitungkan di EU LCS. Gaya bermainnya yang unik seperti agresif dan berani mengambil resiko membuat dirinya menjadi salah satu pemain yang paling ditunggu-tunggu. Tak hanya skill saja, pesona Huni yang selalu terlihat ceria dan bersahabat membuatnya digemari banyak orang.

Selama Spring Split 2015, Huni berhasil mencatatkan diri sebagai Toplaner terbaik di EU LCS. Ia memegang catatan Kill Participation dan First Blood terbanyak. Huni juga mencatatkan KDA rate 3.9 dan Kill/Death sebanyak 71/69 dari 18 pertandingan yang sudah dijalani bersama Fnatic.

huni rate

Setelah berhasil finish di posisi kedua pada Spring Split 2015, Fnatic lolos ke babak Playoffs sebagai Seed pertama dan ditempatkan di babak semifinal bersama dengan tim peringkat satu, Unicorns of Love. Fnatic berhasil mengalahkan H2k di babak Semifinal 3-2 dan kemudian lolos ke babak final untuk mengalahkan Unicorns of Love 3-2. Kemenangan Fnatic atas Unicorns of Love membuat Fnatic dinobatkan sebagai juara EU LCS Spring 2015 dan berhak maju sebagai perwakilan EU LCS di turnamen pertama Mid-Season Invitational 2015.

Tak hanya berhasil membawa Fnatic menjuarai EU LCS Spring 2015, namun performa impresif Huni sepanjang split membuat Riot memberikannya gelar sebagai Rookie of the Split.

Meskipun sukses dengan EU LCS, banyak pertanyaan muncul untuk Fnatic saat mereka akan berlaga membela EU LCS di ajang Mid-Season Invitational 2015. Sebagian besar pemain merupakan pemain baru dan belum pernah sekalipun mencicipi pertandingan internasional. Beberapa tim kuat dari region lain menanti mereka seperti Team SoloMid (NA), SK Telecom T1 (LCK), EDward Gaming (LPL), Besiktas Esports Club (TCL), dan ahq Esports Club (LMS).

Untung saja, Fnatic berhasil menjawab keraguan tersebut dengan menghancurkan Team SoloMid dan Besiktas Esports Club. Meskipun mereka kalah dari SK Telecom T1, EDward Gaming, dan ahq Esports Club, Fnatic berhasil lolos ke babak Semifinal dan sekali lagi berjumpa dengan SK Telecom T1.

Pertandingan melawan SK Telecom T1 menjadi cerita unik tersendiri buat Huni, karena ia berhadapan langsung dengan pemain yang merebut posisi impiannya yaitu Marin. Meskipun Fnatic kalah, Huni berhasil unjuk gigi dan membuktikan bahwa dirinya tidak kalah bagus dengan Marin. Fnatic juga menjadi tim barat pertama yang berhasil memaksa SK Telecom T1 untuk bertarung sampai game kelima.

EU Summer Split 2015 menjadi pencapaian terbesar Huni bersama Fnatic. Huni berhasil mengantarkan Fnatic menjadi tim barat pertama yang mencatatkan Split sempurna dengan rekor 18 kemenangan tanpa kekalahan sekalipun! Selain itu, di setiap pertandingan Fnatic selalu unggul dari segi First Blood, KDA, dan penguasaan objektif.

Tak hanya mencetak rekor sempurna pada Summer Split, Fnatic sukses meremukkan Unicorns of Love 3-0 di babak Semifinal dan mengalahkan Origen 3-2 untuk menjuarai EU LCS Summer 2015 Finals.

Keberhasilan menjuarai EU LCS Summer 2015 otomatis membuat Fnatic lolos ke World Championship 2015 sebagai Seed pertama dari EU LCS. Fnatic ditempatkan di Grup B bersama ahq Esports Club (LMS), Cloud9 (NA LCS), dan Invictus Gaming (LPL). Fnatic memang sempat terseok-seok di minggu pertama group stage setelah hanya berhasil menang saat melawan Invictus Gaming, namun mereka berhasil bangkit pada minggu kedua dengan menyapu bersih semua pertandingan dan lolos ke babak Playoffs.

Di babak Playoffs mereka sukses mengalahkan tim juara MSI 2015, EDward Gaming 3-0 namun perjalanan mereka harus berakhir di babak Semifinal setelah kalah dari tim Korea KOO Tigers 0-3.

Setelah sukses di Eropa, Huni dan Reignover memutuskan untuk hengkang dari tim yang membesarkan namanya dan bergabung bersama tim baru NA LCS, Immortals. Mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu kembali menciptakan sejarah di NA LCS setelah sukses di EU LCS.

Selain Huni dan Reignover, Immortals sendiri juga diisi oleh beberapa pemain terbaik di NA LCS seperti Pobelter, WildTurtle, dan Adrian. Selama Spring Split, mereka sukses mendominasi dengan mencetak 17 kemenangan dan satu kekalahan saja. Huni masih tetap menunjukkan gaya bermainnya yang agresif dan terlihat menarik bagi penikmat NA LCS.

Meskipun sukses mendominasi Split, Immortals gagal menjuarai NA LCS Spring 2016 setelah kalah dari Team SoloMid di babak semifinal 0-3. Banyak yang menyoroti Huni yang tidak mau menggunakan Tanker sebagai biang kekalahan Immortals. Immortals harus puas dengan posisi ketiga setelah menang dari Team Liquid pada perebutan posisi ketiga.

Sama halnya dengan Summer Split, meskipun Immortals berhasil finish di posisi kedua, mereka juga gagal lagi di Semifinal setelah kalah dari Cloud9 3-2. Langkah mereka di babak Gauntlet juga gagal setelah lagi-lagi kalah dari Cloud9 3-1.

Meskipun Huni dan Reignover berhasil mencetak sejarah di EU LCS, nyatanya mereka tidak berhasil mengulangi hal yang sama di NA LCS. Start yang bagus di setiap Split tidak menjamin keberhasilan Immortals ketika memasuki babak Playoffs. Mereka selalu terjatuh di semifinal dan hanya berhasil merebut posisi ketiga. Tidak ada penampilan internasional bagi Huni selama tahun 2016.

Huni memutuskan untuk berpisah dengan duetnya Reignover dan meninggalkan Immortals. Namun tak lama kemudian, sebuah tawaran menarik datang untuk Huni. Tawaran tersebut datang dari tim yang dulu pernah menolaknya dan juga merupakan tim impiannya, SK Telecom T1. Mendapatkan tawaran bermain sebagai starting roster tidak disia-siakan Huni dan ia langsung menyetujui tawaran tersebut.

Setelah 2 tahun berkarier di luar negeri, kini Huni kembali ke negara asalnya Korea Selatan dan bermain bersama tim terbaik di dunia. Banyak yang bertanya-tanya apakah Huni bisa beradaptasi dengan tim seperti mulai memainkan Tank dan mengesampingkan champion Carry. Huni bisa mengatasi itu semua dan muncul sebagai salah satu Toplaner terbaik di LCK. Ia bisa memainkan champion Tank dan Carry dengan sangat baik.

Di LCK sendiri, Huni dan SK Telecom T1 mendapatkan tantangan besar dari kemunculan Superteam, kt Rolster. Smeb muncul sebagai pesaing berat Huni. Kedua pemain sama-sama bermain dengan baik sepanjang Split. Hanya saja saat kedua tim bertemu dalam pertarungan Telecom War, SK Telecom T1 jauh lebih sering menang ketimbang kt Rolster.

SK Telecom T1 berhasil memenangkan 2 Telecom War selama Spring Split dan sukses menghancurkan kt Rolster 3-0 di Final LCK untuk merebut gelar juara 2017 LCK Spring dan maju sebagai perwakilan LCK di ajang Mid-Season Invitational 2017.

Di ajang Mid-Season Invitational 2017, SK Telecom T1 tidak mengalami kesulitan yang berarti sehingga mereka bisa lolos ke babak final dengan mudah. SK Telecom T1 hanya kalah dari 2 tim saja, yaitu Flash Wolves dan World Elite. SK Telecom T1 berhasil menjuarai Mid-Season Invitational 2017 setelah mengalahkan G2 Esports di babak final 3-1.

Sepulangnya dari MSI, satu tantangan baru menanti Huni dan kawan-kawan di ajang 2017 LCK Summer. Tak hanya kt Rolster saja, muncul lagi seorang pemain yang menjadi rival berat Huni. Orang tersebut adalah Khan dari Longzhu Gaming.

Sepanjang Split, permainan Khan terbilang impresif dan sangat agresif. Gelar Huni sebagai pemain yang agresif dan berani mengambil resiko kini justru berpindah kepada Khan. Saat saling berhadapan, Khan beberapa kali berhasil membuat Huni kewalahan. Khan juga berani mengeluarkan pick yang tidak lazim di Toplane seperti Cassiopeia saat melawan SK Telecom T1.

Tak hanya Khan saja, di dalam tim Huni juga harus bersaing dengan pemain baru, Untara. Selama Summer, SK Telecom T1 terlihat lebih menyukai gaya bermain Untara yang bermain aman ketimbang gaya bermain agresif Huni. Selain itu, Untara juga jauh lebih sering tampil ketimbang Huni dan ia juga mencatatkan win rate yang lebih baik ketimbang Huni.

SK Telecom T1 juga untuk pertama kalinya harus melakoni babak Playoffs sejak awal karena hanya sanggup finish di urutan keempat, berada di bawah Longzhu Gaming, kt Rolster, dan Samsung Galaxy. Mereka harus melawan Afreeca Freecs di babak pertama, Samsung Galaxy di babak kedua, kt Rolster di babak ketiga, dan Longzhu Gaming di babak final.

Pelan tapi pasti, SK Telecom T1 berhasil mencapai babak final setelah mengalahkan Afreeca Freecs 2-0.

Menghancurkan Samsung Galaxy 3-0 tanpa balas.

Dan menaklukkan kt Rolster 3-2 untuk lolos ke babak final di mana Longzhu Gaming menanti mereka.

Di babak final, SK Telecom T1 dipaksa menyerah dari Longzhu Gaming setelah kalah 3-2.

Sepanjang babak Playoffs, Huni lebih sering menghangatkan bangku cadangan. Huni bahkan hanya dimainkan sebanyak 2 kali pada pertandingan final melawan Longzhu Gaming, di mana Ia berhasil membawa SK Telecom T1 menang di game 3, namun ia dihancurkan oleh Khan pada game 5 yang berakibat SK Telecom T1 kalah dari Longzhu Gaming.

Untung saja, SK Telecom T1 mengumpulkan poin yang cukup dan mereka bisa tetap melaju ke World Championship 2017 lewat perolehan Championship Point. Regulasi Worlds yang hanya memperbolehkan tim membawa maksimal 6 pemain juga menguntungkan Huni karena pihak tim lebih memilih Huni ketimbang Untara sehingga Huni yang akan maju bersama SK Telecom T1 ke Tiongkok.

Di ajang Worlds 2017, SK Telecom T1 menempati grup A bersama dengan EDward Gaming, Cloud9, dan Lyon Gaming. Grup A bukanlah hal sulit bagi SK Telecom T1 dan mereka berhasil lolos ke perempatfinal. Di babak perempatfinal lah ujian pertama datang untuk SK Telecom T1. Mereka harus mengalahkan tim debutan EU LCS, Misfits supaya bisa lolos ke semifinal.

Di pertandingan ini, Misfits tampil impresif dan berhasil memaksa SK Telecom T1 untuk mengeluarkan seluruh kekuatannya. Permainan luar biasa dari Maxlore, PowerOfEvil, dan IgNar membuat SK Telecom T1 kesulitan. Untung saja, SK Telecom T1 berhasil bangkit dan memenangkan game kelima untuk maju ke babak semifinal.

Ujian kedua datang di babak Semifinal saat mereka harus bertarung dengan tim unggulan tuan rumah, Royal Never Give Up. Tak ingin mengecewakan pendukungnya, Royal Never Give Up langsung mengeluarkan performa terbaiknya dan hampir saja membuat SK Telecom T1 kalah. Seperti saat melawan Misfits, SK Telecom T1 berhasil bangkit dan memenangkan pertandingan 3-2 untuk lolos ke babak Final.

Pada pertandingan ini pula, Huni menciptakan permainan yang berhasil membawa SK Telecom T1 menuju kemenangan.

Setelah berhasil mengalahkan Royal Never Give Up, tibalah mereka di babak Final di mana sesama tim Korea Samsung Galaxy muncul sebagai ujian terakhir buat SK Telecom T1. Setelah berjuang selama 2 tahun di luar Korea, berjuang untuk bermain di luar zona nyamannya, tinggal sedikit lagi Huni bisa mengangkat trofi Summoner’s Cup. Sayangnya, SK Telecom T1 gagal di ujian terakhirnya melawan Samsung Galaxy setelah kalah 0-3 dan harus rela menjadi runner-up.

Kekalahan ini tentu saja menjadi pukulan telak bagi SK Telecom T1, khususnya Huni. Meskipun ia berhasil mencatatkan diri sebagai pemain yang berhasil mencapai top 4 World dengan tim dari region yang berbeda, ia gagal memenangkan ujian terakhir dan harus merelakan Summoner’s Cup diangkat oleh Samsung Galaxy. Untuk pertama kalinya, Huni terlihat sangat sedih dan kehilangan senyumannya.

38104485196_673858280b_k

Untung saja, Huni tidak jatuh terlalu dalam kesedihannya dan bisa bangkit kembali. Setelah kontraknya tidak diperpanjang SK Telecom T1, Huni memutuskan untuk kembali ke region yang sejauh ini belum ia menangkan, yaitu NA LCS. Ia bergabung bersama Echo Fox yang memutuskan untuk merombak ulang roster-nya. Di sana, ia bermain bersama Dardoch, Fenix, Altec, dan rekan setimnya sewaktu di Immortals, Adrian.

DQig0fiWkAAf_gK

Untuk menandai comeback-nya ke NA LCS, Huni berani memainkan Lucian Top saat Echo Fox melawan FlyQuest. Huni berhasil tampil dengan baik dan membawa Echo Fox menuju kemenangan.

Ia juga berani memainkan Yasuo Top saat menghadapi Superteam, Team Liquid dan ia juga berhasil mengantarkan Echo Fox menuju kemenangan.

Berkat performa impresifnya, Echo Fox kini duduk manis di puncak klasemen sementara NA LCS Spring Split 2018 dan sudah memastikan diri lolos ke babak Playoffs bersama dengan Cloud9, Clutch Gaming, dan 100 Thieves.

Ketika pemain-pemain besar lainnya mengawali kariernya di region asal, Huni justru mengambil langkah yang tidak biasa dengan bermain di luar region asalnya. Ia bisa meraih kesuksesan dan pada akhirnya bisa mendapatkan perhatian tim impiannya, SK Telecom T1 meskipun sempat dulunya ia sempat ditolak.

Laurent Vic

Writer, Gamer, Mechanical Keyboard Enthusiast, Dank Memer, Noob Yu-Gi-Oh! Duelist

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply