Know The Pros: Jensen

Know The Pros: Jensen
jensen

Sekarang ini, Jensen dikenal sebagai salah satu Midlaner terbaik di NA LCS, hanya saja Ia punya cerita berbeda bagaimana Ia bisa menjadi pemain profesional seperti sekarang ini.Disaat sebagian besar pemain memulai karirnya sebagai pemain top SoloQ kemudian direkrut oleh sebuah tim dan menjelma menjadi pemain profesional, Jensen justru mengawali karirnya dengan buruk karena mendapatkan hukuman ban dari dunia kompetitif seumur hidup sebelum akhirnya Riot memberikan kesempatan kedua kepadanya pada tahun 2015.  Lalu, bagaimana kisahnya dari seorang pemain yang mendapatkan ban seumur hidup hingga menjadi pemain top NA LCS?


Jensen mengawali perjalanannya di League of Legends dengan nama “Veigodx”, nama yang sebelumnya Ia gunakan saat bermain World of Warcraft. Jensen sendiri berhasil menciptakan namanya di SoloQ di Season 2 berkat mekaniknya yang bagus, khususnya saat bertarung 1v1. Ia mengawali karir Esportsnya saat tergabung dalam tim Team Solo Mebdi bersama dengan Nukeduck, Yamatocannon, DarkwinJax, dan Rayt3rch.

Team Solo Mebdi berencana mengikuti kualifikasi EU LCS 2013 yang notabene merupakan split pertama EU LCS. Sayangnya, sebelum Ia sempat berkompetisi, Ia bersama dengan 2 pemain lainnya DarkwinJax dan Rayt3rch mendapatkan hukuman ban seumur hidup dari Riot karena beberapa kasus yang melanggar Summoner’s Code. Untuk Jensen sendiri, Ia terjerat kasus serangan DDOS dan perilaku Toxic. Karena ban ini juga, otomatis Team Solo Mebdi didiskualifikasi dan tidak bisa berpartisipasi di kualifikasi EU LCS 2013.

Salah satu serangan DDOS yang dilakukan oleh Jensen.
Salah satu serangan DDOS yang dilakukan oleh Jensen.

“Jensen secara konsisten tidak menghiraukan peringatan dan jiwa dari Summoner’s Code. Sikapnya yang tidak menghormati aturan tidak bisa diterima oleh pemain manapun, khususnya kompetitor Esports yang terkenal yang punya kesempatan untuk menjadi contoh bagi komunitas,” begitu bunyi pernyataan resmi dari Riot.

Jensen pun mendapatkan larangan bermain di kualifikasi EU LCS 2013, larangan berkompetisi di EU LCS, dan berkompetisi di turnamen yang diselenggarakan oleh Riot Games. Tak hanya larangan bermain, akun-akunnya juga mendapatkan ban dari Riot. Akun-akun yang Ia gunakan pada saat itu seperti Veigodx, Wizikz, Wizikodex, dan Incarnati0n langsung diban oleh Riot. Akun yang Ia buat juga akan langsung diban oleh Riot jika ketahuan.

Meskipun Ia terjerat kasus DDOS, pada sebuah sesi interview bersama in2LOL, Jensen mengatakan bahwa Ia tidak benar-benar melakukannya. Yang Ia lakukan hanya menggertak orang-orang saja dengan menuliskan alamat IP mereka.

Tidak bisa berkarir sebagai pemain, Jensen menemukan jalan lain untuk berkompetisi: menjadi pelatih. Secara diam-diam, Ia bergabung dan melatih SK Gaming. Pada awalnya tidak ada yang tahu, namun orang-orang pun langsung menemukannya saat Ia terlihat di salah satu video promosi yang dipublikasikan oleh SK Gaming. Jensen terlihat berada di dekat pintu mobil menggunakan hoodie SK Gaming saat Jesiz akan masuk ke mobil.

Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan Jensen mulai melatih, kecuali pihak SK Gaming dan Jensen sendiri.  Jensen bisa mendapatkan akses untuk masuk ke backstage karena terdaftar sebagai tamu tim, bukan sebagai anggota tim resmi.

Mengetahui hal ini, Riot langsung membuat pengumuman bahwa Jensen masih bisa hadir ke Worlds, hanya saja Ia dianggap sebagai penonton. Akses ke backstage, ruang latihan, dan panggung Worlds hanya dibatasi untuk pihak tim yang resmi tergabung. Pengumuman ini dibuat untuk menghindari kebingungan karena status Jensen sebagai pelatih. Pada saat itu, EU LCS masih belum mengenal peran pelatih sedangkan LCK sudah mengenal peran pelatih.

Berdasarkan AMA yang Ia lakukan pada Oktober 2014, Jensen menyatakan bahwa Ia sudah mencapai kesepakatan dengan Riot bahwa Ia bisa bermain tanpa terkena ban. Meskipun Ia mendapatkan larangan bermain di kancah kompetitif, Ia masih bisa bermain dan akunnya tidak akan diban selama Ia tetap menjaga perilakunya.

Bersamaan dengan AMA ini, Riot mengumumkan perubahan besar kebijakan pemain yang terkena permabanned pada akhir November 2014. Riot mengubah aturan ban bahwa pemain masih bisa bermain tanpa takut terkena ban meskipun mendapatkan larangan bermain di kancah kompetitif. Riot menyatakan bahwa mereka akan mereview ulang kasus Jensen dan DarkwinJax 5 mingu sebelum LCS Summer 2015 dimulai untuk menentukan apakah mereka bisa bermain pada LCS Summer 2015.

Jensen pun dinyatakan lolos dan bisa kembali berkompetisi di LCS Summer 2015. Jensen bergabung bersama Cloud9 dan diplot sebagai pengganti Hai yang mundur akibat cedera yang dideritanya. Jensen kembali menggunakan nama Incarnati0n dan menjadi pemain pertama yang tergabung dalam generasi kedua Cloud9.

Debutnya bersama Cloud9 saat melawan TSM terbilang cukup manis dan Cloud9 berhasil keluar sebagai pemenang. Incarnati0n termasuk salah satu kunci kemenangan Cloud9. Meskipun menjadi kunci, nyatanya keberadaan Hai jauh lebih efektif karena tak hanya sebagai Midlaner tapi juga sebagai Shotcaller, sesuatu yang tidak dimiliki Incarnati0n.

Cloud9 pun membutuhkan Hai untuk kembali, dan Meteos memutuskan untuk mundur dan Hai berubah menjadi Jungler. Perubahan ini tidak mengubah Cloud9 secara instan, tapi keberadaan Hai bisa memberikan Cloud9 momentum untuk menghindari Promotion Turnament. Gaya bermain Hai sendiri juga amat berbeda dengan Meteos, dimana Meteos lebih ke ofensif sedangkan Hai lebih ke suportif.

Keberadaan Hai di posisi Jungle juga menjadi keuntungan buat Incarnati0n. Pengalamannya sebagai seorang Midlaner amat membantu karena Ia tahu apa yang Incarnati0n butuhkan dan bisa memahami kapan Ia harus turun ke Mid untuk membantu.

Setelah memenangkan Tiebreaker melawan Team 8, Cloud9 berhasil mengamankan posisi ketujuh. Meskipun mereka tidak bisa maju ke babak Playoffs, tapi setidaknya mereka masih bisa mempertahankan spot mereka di NA LCS dan maju ke Worlds 2015 NA Regional Qualifier.

Perjalanan mereka di Gauntlet terlihat sulit. Mereka harus melawan Gravity Gaming, Team Impulse, dan Team Liquid supaya bisa lolos ke Worlds 2015 lewat seed ketiga. Eventually, Cloud9 berhasil lolos ke Worlds 2015. Cloud9 melakukan reverse sweep saat melawan Gravity Gaming dan Team Impulse 3-2, kemudian di babak final mereka berhasil mengalahkan Team Liquid 3-1. Keberhasilan mereka menjuarai Gauntlet disebut-sebut sebagai keajaiban.

Mereka pun melangkahkan kakinya di Worlds 2015 bersama dengan tim NA lainnya yang sudah lolos yakni CLG dan TSM. Hasil drawing grup sendiri memposisikan Cloud9 di grup B bersama dengan Fnatic, Invictus Gaming, dan ahq Esports Club.

Perjalanan mereka di Worlds 2015 terlihat cukup mulus pada minggu pertama. Cloud9 berhasil memuncaki grup setelah mengemas 3 kemenangan tanpa satu kekalahan. Sayangnya, momentum yang mereka dapat gagal dipertahankan pada minggu kedua. Cloud9 menderita 3 kekalahan dan harus merelakan spotnya di babak perempatfinal setelah kalah dari ahq Esports Club di pertandingan Tiebreaker.

Memasuki musim 2016, Incarnati0n memutuskan untuk mengubah namanya menjadi Jensen. Cloud9 sendiri juga melakukan perubahan dengan memasukkan Rush, menggeser Hai ke Support dan Lemonnation berubah menjadi pelatih. Perubahan roster ini memang terlihat menjanjikan, sayangnya mereka harus kalah dari TSM di babak perempatfinal NA LCS Spring 2016 dan harus puas menempati posisi keenam.

Summer 2016 sendiri juga menjadi akhir dari roster original Cloud9. Hai dan Balls pindah ke Cloud9 Challenger, Meteos kembali menggantikan Rush, Impact mengisi Toplane, dan Smoothie masuk mengisi posisi Support. Bergabungnya Impact dan Smoothie menjadi awal generasi kedua Cloud9.

Perubahan roster ini terbukti ampuh, Cloud9 berhasil menjadi runner-up setelah kalah dari TSM dan mereka juga berhasil lolos ke Worlds 2016 setelah lolos babak Gauntlet. Personally for Jensen, Ia berhasil mencetak rekor pribadi dengan mencatatkan “Kill terbanyak dalam satu game” sebanyak 21 Kill saat melawan EnVyUs, mengalahkan rekor sebelumnya 20 Kill yang dicetak oleh Scarra.

Worlds 2016 sendiri menjadi cerita tersendiri bagi Jensen. Masuk di grup B bersama dengan SK Telecom T1, Jensen mengekspresikan keinginannya untuk menaklukkan Faker lewat cuitannya di Twiiter.

Sayangnya, hal tersebut tidak berjalan sesuai keinginan Jensen. Faker benar-benar menghancurkannya di Mid dan Jensen tidak bisa berbuat banyak. Karena cuitan dan hasil pertandingan itulah, meme “Jensen the Clappening” lahir.

Aside from that, perjalanan Cloud9 di Worlds 2016 juga menjadi cerita unik buat tim. Disaat tim NA lainnya yang jauh lebih diunggulkan gagal lolos, Cloud9 justru menjadi tim NA yang lolos ke perempatfinal, meskipun pada akhirnya mereka tereliminasi di perempatfinal setelah dihancurkan Samsung Galaxy 3-0.

Jensen terus berkembang di tahun 2017, dan Ia bahkan bisa menjadi pesaing kuat Bjergsen di Midlane yang notabene merupakan Midlaner terbaik di NA LCS. Selama musim 2017, Jensen berhasil Cloud9 berhasil menjadi runner-up pada Spring 2017 dan berhasil lolos ke Worlds 2017 setelah mengalahkan CLG di babak Gauntlet. Perjalanan mereka di Worlds 2017 juga terbilang fantastis. Terjebak di grup A bersama tim besar seperti SK Telecom T1, EDward Gaming, dan ahq Esports Club, Cloud9 berhasil menciptakan keajaiban dengan lolos ke perempatfinal untuk kedua kalinya dan kembali menjadi satu-satunya harapan terakhir NA LCS di Worlds 2017.


Dari cerita Jensen sendiri, kita bisa melihat bahwa perubahan bisa dilakukan dan bisa membawamu menjadi lebih baik. Meskipun pernah mendapatkan Ban dari Riot, keinginan Jensen untuk berubah dan berkembang berhasil memberikannya kesempatan kedua dan Ia bisa memanfaatkan kesempatan tersebut menjadi salah satu pemain terbaik di NA LCS.

Jensen sendiri masih akan berseragam Cloud9 untuk musim depan dan akan bertarung membela Cloud9 saat NA LCS Spring 2018 dimulai pada 21 Januari 2018.

Laurent Vic

RIP AND TEAR UNTIL IT'S DONE

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply