Know the Pros: Rekkles

Know the Pros: Rekkles
Rekkles

Sebagai pemain muda, karir Martin “Rekkles” Larsson bisa dibilang sangatlah bagus. Di usianya yang masih muda Rekkles sudah menjuarai beberapa kali gelar EU LCS dan mencatatkan beberapa penampilan impresif baik di liga regional maupun internasional. Saat ini Rekkles dikenal sebagai salah satu AD Carry terbaik di tanah Eropa.

Tapi bagaimana dengan karir awalnya sebagai pemain profesional?

Rekkles lahir pada 20 September 1996. Saat masih kecil, bakat Rekkle sudah terlihat sebagai seorang pemain sepakbola. Tapi saat Ia berumur 14 tahun Ia mengalami cedera di kakinya yang memaksanya untuk berhenti menekuni sepakbola. Dari sanalah salah astu temannya mengajaknya untuk bermain League of Legends dan Ia langsung tertarik. Tak butuh waktu buat Rekkles untuk naik peringkat dan menjadi pemain teratas di SoloQ.

Rekkles memulai karirnya pada tahun 2012 sebagai pemain profesional sebagai sub untuk tim besar seperti SK Gaming dan Team Black. Pada tahun yang sama Ia juga untuk pertama kalinya bertanding di kancah profesional pada event 2012 MLG Pro Circuit. Pada November 2012 Ia dikontrak dan bergabung bersama Fnatic, menjadikannya salah satu pemain termuda di sejarah kompetitif League of Legends. Bersama Rekkles, Fnatic menjuarai beberapa turnamen bergensi pada tahun 2012 seperti RaidCall Dominance, Dreamhack Winter 2012, dan THOR Open 2012. Selain itu mereka juga berhasil finish di posisi teratas pada IGN ProLeague Season 5 (2nd) dan IEM Season VII – Global Challenge Cologne (2nd).

However, karena batasan umur Rekkles tidak bisa bertanding membela Fnatic di ajang 2013 EU LCS. Fnatic memutuskan untuk membuat tim kedua bernama Fnatic.Beta bersama Rekkles didalamnya tetapi umur tim itu tak lama. Setelah itu bersama YoungBuck, Shook, cowTard, dan Unlimited, Rekkles bermain untuk tim PrideFC sebelum diakuisisi oleh Copenhagen Wolves .

Selama bersama Copenhagen Wolves, Rekkles berhasil memenangkan dan mendominasi beberapa kejuaraan bergengsi seperti Gfinity London 2013, Dreamhack Summer 2013, dan beberapa liga EU Challenger Series serta membantu Copenhagen Wolves mendapatkan spot di EU LCS musim depan.

Di akhir 2013 Rekkles memutuskan untuk bergabung kembali bersama Fnatic dan langsung masuk ke starting lineup. Rekkles juga menandai comebacknya pada turnamen IEM Season VIII – Cologne dan pada turnamen ini pula untuk pertama kalinya Ia berhadapan dengan Doublelift yang kala itu masih membela CLG. Fnatic berhasil mendominasi dan memenangkan pertandingan. Pada akhirnya Fnatic harus puas dengan posisi keempat setelah takluk dari Gambit Gaming 2-0.

Rekkles yang sudah bisa bermain pada 2014 EU LCS menunjukkan debut yang manis bersama Fnatic. 2014 EU LCS Spring menjadi panggung untuk unjuk kebolehan. Gelar juara 2014 EU LCS Spring Playoffs berhasil didapat setelah mengalahkan SK Gaming di partai final. Rekkles pun mendapatkan gelar MVP di babak Playoffs dan tentu saja Rookie of the Split.

Karena kekalahan di babak Semifinal dari SK Telecom T1 K pada turnamen All-Stars Paris 2014 membuat Fnatic mengalami start buruk pada awal 2014 EU LCS Summer Split. Namun performa buruk itu terhenti pada pertengahan split dimana Fnatic kembali mendominasi dari pertengahan sampai akhir split. Untuk pertama kalinya pula Rekkles berhasil mencetak Pentakill pertamanya di ajang kompetitif.

Performa apik itu tak berlanjut sampai babak Playoffs dimana mereka hampir disingkirkan Roccat di babak Semifinal dan akhirnya harus mengakui keunggulan Alliance di partai final. Worlds 2014 juga tidak berjalan dengan baik buat Fnatic dimana mereka tidak lolos Group Stage. Salah satu laga paling menyakitkan buat mereka pada waktu itu ketika mereka kalah dramatis dari Oh My God. Fnatic gagal menghancurkan Nexus OMG yang tersisa sedikit dan OMG berhasil menutup pertandingan.

Kekalahan yang dialami Fnatic membuat beberapa punggawanya seperti sOAZ, Cyanide, dan xPeke memutuskan untuk hengkang. sOAZ dan xPeke mendirikan Origen dan Cyanide memutuskan untuk pensiun. Rekkles pun juga memutuskan untuk pindah dan bergabung dengan Alliance yang kemudian berubah menjadi Elements.

Transfer ini terbilang cukup kontrovesial mengingat Rekkles adalah icon Fnatic dan fansnya berharap Ia menetap di Fnatic. Reaksi negatif pun bermunculan dimana-mana.

hate1 hate2 hate3 hate4 vlcsnap-2017-07-12-11h19m53s28 vlcsnap-2017-07-12-11h19m55s70 vlcsnap-2017-07-12-11h20m03s137 vlcsnap-2017-07-12-11h20m09s201

Meskipun mengundang banyak reaksi negatif, Elements tampak kuat dan menjanjikan dan banyak yang memperkirakan Elements akan kembali menjuarai 2015 EU LCS Spring. Namun ekspektasi tidak sejalan dengan kenyataan. Debut awalnya pun berjalan buruk dan Elements harus puas berada di peringkat 7 Group Stage. Kegagalan ini juga mengarah ke intensitas pergantian pemain yang tinggi.

Skuad Fnatic yang baru terdiri dari Huni, Reignover, Febiven, dan Steelback tampil menjanjikan dan berhasil menjuarai 2015 EU LCS Spring Playoffs. Tak hanya itu, mereka juga berhak maju ke 2015 Mid-Season Invitational. Performa mereka pun juga sangat baik meskipun harus tersingkir di Semifinal setelah kalah dari SK Telecom T1.

Selama di Elements, Rekkles ternyata tidak bahagia. Konflik dan Sinergi yang tidak ada diantara pemain dan organisasi berujung Rekkles membuat statement yang kontroversial mengenai keadaan dan situasi Elements.

OTJ5NBs

Memasuki 2015 EU LCS Summer Split, Fnatic pun menawarinya satu kesempatan lagi untuk kembali berseragam Fnatic dan Rekkles tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bermain kembali bersama Fnatic dengan skuad yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, Fnatic menjalani musim terbaiknya dengan menyapu bersih semua laga dan mencatatkan rekor 18-0 di babak Group, menjadikannya tim pertama yang berhasil mencatatkan rekor tak terkalahkan di Group Stage dalam sejarah LCS.

Rekkles juga berhasil menutup kemenangan di laga final melawan Origen dengan Pentakill keempat sepanjang karirnya.

Fnatic pun kembali melangkah ke Worlds 2015 bersama Rekkles. Penampilan Fnatic cukup impresif. Bermain di depan pendukungnya, Fnatic berhasil menempati posisi pertama di Group Stage meskipun sempat mengalami start yang buruk. Pada Worlds ini pula AD Kennen milik Rekkles yang saat ini menjadi “signature championnya” untuk pertama kalinya muncul.

Di Worlds 2015 pula Ia kembali bertemu dengan sahabatnya yakni Deft yang membela EDward Gaming.

Pertemuan mereka di babak perempatfinal pun tak terelakkan. Fnatic pada akhirnya berhasil menang 3-0 melawan favorit EDG.

Perjalanan manis Fnatic di Worlds 2015 harus terhenti di babak Semifinal setelah ditaklukkan oleh rival berat SKT yakni KOO Tigers 3-0.

Meskipun mereka kalah, Fnatic dan Origen membuat publik dan fans EU bangga dengan pencapaian mereka di Worlds. Tapi skuad Fnatic tak bertahan lama karena Huni dan Reignover memutuskan untuk keluar dan melanjutkan petualangannya di tanah NA dengan bergabung bersama tim baru Immortals. Yellowstar pun juga ikut hijrah ke NA dengan bergabung ke TSM. Rekkles pun melalui streamingnya menjelaskan mengapa mereka keluar.

Menurut Rekkles, EU tertinggal jauh dari region lain dalam urusan finansial dan infrastruktur. “Pada dasarnya EU tertinggal jauh dari region lain dalam hal, katakan saja uang. Maksudku, gaji yang ditawarkan di EU jauh lebih sedikit ketimbang gaji yang ditawarkan di region lain seperti NA dan Korea. Sulit buat sebuah tim untuk menahan pemainnya dari godaan tim luar pada umumnya. Katakan saja, Huni dan Reignover mendapat tawaran untuk bermain di Korea, EU, dan NA. Pergi ke NA tentu saja berarti kamu akan mendapat uang yang lebih banyak.”

Fnatic pun terpaksa membangun skuad baru dengan Febiven dan Rekkles. Tampuk kepemimpinan yagn sebelumnya ada pada Yellowstar diserahkan kepada Rekkles. Pengalaman yang dimiliki Rekkles tidaklah cukup. Meskipun membawa beberapa pemain bintang seperti Gamsu dan Spirit, start Fnatic sangatlah buruk. Debut IEM X Cologne dan konsistensi selama 2016 EU LCS Spring Split menjadi masalah utama. Support Fnatic juga ikut imbasnya. Noxiak yang awal musim menjadi partner botlane Rekkles digantikan oleh Klaj.

Performa buruk sepanjang split menyebabkan Fnatic harus puas menempati posisi ketiga pada babak Playoffs dan gelar juara direbut oleh tim baru G2 Esports.

Summer Split seperti merupakan awal yang baik bagi Fnatic dengan kembalinya Yellowstar. Ekspektasi pun cukup tinggi mengingat pada musim lalu duo botlane Rekkles-Yellowstar adalah yang terbaik di EU. Namun sekali lagi Fnatic gagal menjawab ekspektasi. Fnatic gagal di babak perempatfinal Playoffs dan harus melewatkan Worlds untuk pertama kalinya setelah kalah dari Unicorns of Love di Regional Qualifier.

Situasi pun semakin memburuk dengan hampir semua orang meninggalkan Fnatic. Yellowstar pensiun, Spirit dan Gamsu kembali ke Korea, coach Deilor mundur, Febiven kembali ke H2k, dan Kikis bergabung dengan Fnatic Academy. Di skuad Fnatic hanya menyisakan Rekkles seorang diri.

Fnatic pun mau tak mau harus membangun ulang skuadnya menggunakan pemain Eropa. sOAZ kembali ke Fnatic dan ada beberapa pemain seperti Amazing, Caps, dan Jesiz.

Fnatic pun mengawali 2017 EU LCS Spring Split dengan buruk namun mereka berhasil maju ke Playoffs. Di babak Playoffs inilah perlahan mereka mulai bangkit dan pada akhirnya berhasil merebut posisi ketiga setelah menggebuk Misfits 3-0.

Kemenangan ini serasa menjadi turning point buat Fnatic, membuka peluang mereka untuk berlaga di Worlds 2017. Rekkles juga berhasil mendapatkan kembali reputasinya sebagai AD Carry yang patut diperhitungkan. Tekanan yang didapat Rekkles selama 2016 dan 2017 Spring Split membuatnya harus melewatkan bootcamp Fnatic di Korea karena Ia ingin memulihkan kondisi mentalnya untuk Summer Split. Rekkles memutuskan untuk pulang ke rumahnya di Swedia.

Sekembalinya Rekkles dan Fnatic, Summer Split menjadi ajang kebangkitan Fnatic. Sekarang ini Fnatic berada di peringkat teratas grup A dengan 6 kemenangan dan satu kekalahan. Rekkles dan Caps juga menjadi MVP buat Fnatic. Fnatic juga berhasil menundukkan beberapa tim kuat yang sebelumnya belum mereka taklukkan seperti G2 Esports, H2k, dan Misfits. AD Kennennya pun semakin dikenal dan tentu saja ditakuti.

Perjalanan hidup Rekkles juga sempat difilmkan oleh Riot Games dalam film dokumenter berjudul Legends Rising bersama dengan beberape pemain profesional lainnya seperti WildTurtle, Clearlove, Smeb, Chawy, dan Revolta.

Sampai hari ini, setelah melewati rasa senang maupun susah, kekalahan dan kemenangan, Rekkles tak hanya menjadi pemimpin dan icon utama Fnatic tapi juga menjadi salah satu pemain terbaik. Perjalanan Rekkles bersama Fnatic juga akan terus berlanjut pada 2017 EU LCS Summer Split minggu ini saat Fnatic bertemu dengan Vitality.

 

Laurent Vic

RIP AND TEAR UNTIL IT'S DONE

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply