Wawancara dengan Florian Wolfy, Kapten dari Tim Juara LNCC UPH Eksdi

Wawancara dengan Florian Wolfy, Kapten dari Tim Juara LNCC UPH Eksdi

flo_1

Babak final LNCC yang diadakan di Taman Anggrek akhir pekan kemarin berakhir dengan meriah, dan bahkan hingga sekarang pun masih sangat terasa suasana kemeriahannya. Terutama bagi tim yang menjadi juara di hari itu, UPH EKSDI, mereka mendapatkan hadiah sebesar 35 juta rupiah dan tiket menuju ke Taiwan untuk menjadi wakil Indonesia dalam ajang LICC.

Selain menjadi juara pertama dari turnamen, salah satu pemain UPH ESKDI, yakni Alvin “Vinsanity” Risdianto juga terpilih menjadi pemain terbaik alias MVP. Dengan tambahan gelar MVP dari Visanity, berarti di hari itu UPH EKSDI membawa pulang dua gelar bergengsi. Benar-benar akhir pekan yang indah bagi Jeremy “Tibold” Yulianto dan semua teman kita dari Universitas Pelita Harapan.

Hasagi diwakili oleh Edel sempat mengajak ngobrol Florian “Wolfy” George, pemain Support sekaligus kapten dari tim UPH EKSDI. Ingin tau seperti apa pembicaraan kami? Langsung saja simak di bawah!

Edel: Seperti apa awal pertama kali kamu mengenal League of Legends?

Wolfy: Pertama kenal game ini tepatnya pas akhir tahun 2012 dari nonton video AtheneWins di Youtube, lalu langsung mencobanya. Awal-awal main di server SG sebelum akhirnya pindah ke NA selama setahun, lalu ke LoL ID setelah dibuka server Indonesia.

Edel: Bagaimana menurutmu tentang game ini?

Wolfy: Menurut saya game ini seru banget dengan gameplay yang bisa dikatakan fast paced karena mapnya sendiri yang kecil dan animasi action karakter tidak lama.

Edel: Sebelum mengikuti LNCC, apakah pernah berpartisipasi dalam turnamen lain?

Wolfy: Turnamen yang pertama kali saya ikut itu adalah Premiere Tournament League of Legends Indonesia, dimana turnamen ini merupakan kompetisi yang digelar guna menyambut kedatangan League di Indonesia. Sayangnya, di sini saya tidak berhasil lolos hingga ke Main Event.

*ketawa*

Pernah juga ikut tanding di LGS 1 bersama Madrigals yang akhirnya mendapatkan juara 5 pada saat itu. Habis itu, saya keluar dari Madrigals dan berpindah-pindah tim, hingga akhirnya di LGS 5 saya bergabung dengan Mahameru Greedy Gaming. Kita lolos ke Main Event, tapi hanya dapat peringkat 9 karena, you know, masalah internal. Saya kembali menjadi pemain tanpa tim sejak saat itu, dan sekarang saya menetap di Sponsori Kami Jika Menang (SKJM). Kami akan beraksi di LGS season berikutnya.

wolfy_3
Wolfy (kiri) bersama Yudi “JustInCase” Anggi (kanan)

Edel: Seperti yang kita tahu, kamu juga adalah seorang caster, bisa menceritakan sedikit tentang awal mula mengambil profesi ini?

Wolfy: Sebelum Garena membuka audisi untuk pencarian caster di League of Legends Indonesia, saya sering becanda bersama teman-teman jika meskipun saya kurang berbakat, tapi saya akan selalu eksis di turnamen-turnamen League of Legends. Dan mengejutkan, mereka menanggapi candaan saya itu. *ketawa*

Tidak lama kemudian, audisi caster pun dibuka, namun pada saat itu saya sama sekali tidak ada niat untuk daftar. However, setelah dipilih satu per satu caster yang memenangkan audisi tersebut ternyata Garena masih memerlukan dua orang caster lagi karena dua diantaranya yang menang berada di luar Jawa. Akhirnya saya mendapat rekomendasi dari teman yang sudah masuk duluan dan setelah itu saya terus menjadi caster hingga sekarang.

Edel: Bagaimana hubungan pribadimu dengan teman-teman yang menjadi anggota satu tim?

Wolfy: Untuk Tibold (Jeremy Yulianto) dan Vinsanity (Alvin Risdianto), actually kita bertiga sudah cukup lama kenal satu sama lain, since kami bertiga berasal dari satu kampus yang sama. Mereka berdua pernah bermain untuk Duck In A Box dan Kanaya Gaming, dan setiap minggu kita pasti bertemu dan ngobrol.

Beda ceritanya lagi pas ketemu Control (Steven), dia ini saya kenal sudah lama dari awal pertama dia main League. Pernah bergabung di satu clan juga, tapi kita berdua gak gitu dekat selama hampir tiga bulan, dimana pada akhirnya kita gabung satu tim untuk ikut GA. Sedangkan, Thomsonn (Thomas Matthew) itu saya mengenalnya setelah dikenalin sama pemain Mahameru. Waktu itu kita sempat iseng ikut Teemo Cup dan dia terlihat sangat lihai dalam bermain. Kita kalah melawan tim berisikan orang Korea semua di Final. Sedangkan, SaIda (Kim Daeju) saya baru kenal pas gabung ke tim LNCC.

Edel: Deskripsikan sedikit mengenai Jeremy “Tibold” Yulianto.

Wolfy: Tibold  itu orangnya super tegas kalau diajak bicara soal tim. Dia tipe orang yang bisa diandalkan dan selalu pingin kita berkembang dan bermain sebagus mungkin. Terkadang omongan dia bisa dibilang pedes dan keras tapi pada akhirnya apa yang dia katakan worth it untuk kita semua karena tanpa dia marah-marah mungkin kita tidak akan termotivasi untuk latihan. Overall dia leader yang baik dan shotcaller yang dapat diandalkan.

Edel: Bagaimana perasaan saat memenangkan LNCC?

Wolfy: Happy banget karena selama dua tahun mengikuti kompetitif League of Legends saya belum pernah memenangkan turnamen besar. Turnamen paling besar yang saya pernah menangkan hanya juara 1 GA tahun lalu. Saya juga seneng banget akhirnya bisa main di panggung sekeren LNCC karena sebelumnya saya belum pernah dikasih kesempatan untuk bertanding di stage.

wolfy_2

 

Edel: Gimana menurutmu para peserta LNCC, terutama Maranatha Stuff yang menjadi lawan kalian di Final?

Wolfy: Untuk PMCI Allstars saya gak bisa bilang banyak karena sama sekali belum pernah lawan mereka baik di gauntlet ataupun di main event. Untuk BSI, mereka itu suprising banget karena rata-rata pemain mereka bukanlah nama-nama yang terkenal di LoL, tapi mereka mampu memberikan perlawanan yang sangat keras untuk kita.

Maranatha sudah kita duga sebagai lawan kita yang paling berat dengan adanya Piggi yang dulu bermain untuk Bandung White Essence di LGS dan duo Korea mereka Changlol dan Tryndamere yang bermain sangat baik. Zun dan Abrakadabra juga pemain yang sangat baik dan merupakan high ranked player di ranked Indonesia.

Edel: Alvin “Vinsanity” Risdianto adalah MVP di hari itu, bagaimana kamu melihat hal ini?

Wolfy: Saya senang banget duo bot saya mendapatkan gelar MVP. Alvin bener-bener menjadi carry yang dapat diandalkan. Ia bersama Tibold merupakan dua senior kita di UPH Eksdi. Alvin selalu mengatakan, bahwa kami harus mempercayai dirinya untuk menjadi carry. Dan, yes, dia benar-benar menepati janjinya di hari itu.

wolfy_4
UPH EKSDI

Edel: Seperti apakah persiapan UPH Eksdi untuk mengikuti LICC November mendatang?

Wolfy: Yang pasti kita tidak mau datang ke LICC tanpa persiapan. Kita akan terus latihan, baik itu melakukan sparing bersama tim-tim kompetitif dari Indonesia misalnya tim-tim LGS atau GA. Kita pingin banget menang di Taiwan meskipun hal tersebut akan sangat berat, mengingat Indonesia yang dapat dikatakan region yang paling lemah di antara semua region lainnya.

Edel: Menjadi seorang pemain profesional adalah impian semua pemain di League, apalagi bisa menjadi juara turnamen. Apakah kamu bangga atas pencapaian ini?

Wolfy: Saya sangat bangga atas pencapaian kali ini karena kerja keras kita sebagai satu tim benar-benar terbayar, terutama pada saat kami mengakhiri game ketiga melawan Maranatha Stuff.

Edel: Orang tua gimana, apakah mereka mendukung kamu di sepanjang LNCC?

Wolfy: Awalnya ibu saya biasa aja karena selama dua tahun saya bermain beliau tidak pernah melihat saya memenangkan apapun yang besar. Beliau juga pernah meminta saya sebaiknya berhenti bermain game. Bahkan pada saat UPH berhasil menembus semifinal pun, ibu saya tidak yakin kalau kami akan memenangkan LNCC dan hanya mengiyakan  saja ketika saya bilang yang menang akan ke Taiwan.

Tapi, setelah kami menang dan saya pulang kemudian menceritakan jika saya akan pergi ke Taiwan, ibu sangat senang dan langsung memeluk saya dan mendoakan agar saya bisa memberikan yang terbaik di Taiwan nanti. I love you, Mom!

5

Edel: Bagaimana caramu membagi waktu antara belajar  di kampus dan berlatih League of Legends?

Wolfy: Untungnya, saya sudah banyak menyelesaikan kelas-kelas saya karena program di SMA yang lanjut ke UPH. Jadi saya hanya datang ke kelas-kelas Psikologi yang bisa dibilang hanya ada sebanyak 4 hari dan biasanya hanya tiga jam sehari. Jadi untuk latihan tidak terlalu berat karena saya biasa sore sampai malam sudah free. Palingan yang saya korbanin adalah kesempatan saya bisa jalan-jalan bersama teman-teman.

Edel: Apa target terbesarmu di tahun depan? Baik dari kuliah, maupun di aktifitas eSports?

Wolfy: Yang pasti sih jalanin kuliah dengan baik karena sudah berjanji sama ibu saya kalau saya akan serius di kampus. Untuk eSports maybe saya akan ikut LNCC tahun depan dan turnamen kampus lainnya dan yang pastinya tetap menjadi caster. Sebenarnya masih ada banyak sekali rencana saya, hanya saja semuanya masih belum pasti.

 

 

 

Hi, I'm Edel, Founder and Editor of HASAGI. Nice to meet you!

Facebook Twitter 

Leave a Reply


comments