Meninjau Kembali Para Tim Peserta EU LCS 2017

Meninjau Kembali Para Tim Peserta EU LCS 2017
maxresdefault

Setelah kemarin sudah ada tentang tim-tim peserta NA LCS 2017, maka kali ini kami akan mengulas lebih dalam tentang tim-tim peserta EU LCS 2017!

Dengan akan dimulainya EU LCS pada 19 Januari mendatang, kita harus mengetahui profil dari tim-tim yang akan bertanding agar tidak bingung pada nantinya. Tidak akan ada pembagian tier terhadap tim seperti yang telah kami lakukan pada artikel tim-tim peserta NA LCS 2017, tetapi artikel dibawah ini akan sangat membantu bagi kalian yang sudah berencana untuk mengikuti EU LCS 2017. Mari kita simak artikel dibawah ini!


G2 Esports

g2-og-image

Top Lane: Ki “Expect” Dae-han
Jungle: Kim “Trick” Gang-hyun
Mid Lane: Luka “Perkz” Perković
AD carry: Jesper “Zven” Svenningsen
Support: Alfonso “Mithy” Aguirre Rodríguez

Ada dua tim yang tetap menggunakan lineupnya untuk Summer 2016, yaitu G2 Esports dan Splyce. Dengan adanya Zven dan Mithy di bot lane, serta style jungling dari Trick, G2 masih menjadi tim favorit untuk menyabet title juara di Eropa.

Pada akhir summer tahun lalu, Expect telah berkembang ke titik dimana ia tidak lagi menjadi ‘kewajiban’ bagi tim nya. Meskipun ia masih bergantung pada gank dari Trick dan duo bot lane Zven-Mithy, ia masih tetap bisa mengimbangi musuh di top lane. Tetapi mungkin kesusahan dari G2 masih tetap di mid lane, dengan positioning yang lemah dari Perkz.

Mungkin champion pool dari Perkz mempengaruhi dari positioningnya, tetapi jika Perkz dapat bermain bagus dan semua timnya bagus juga, maka bisa saja G2 akan mendapatkan title juara di Eropa.


Splyce

core_metaimage_2

Top Lane: Martin “Wunder” Hansen
Jungle: Jonas “Trashy” Andersen
Mid Lane: Chres “Sencux” Larsen
AD carry: Kasper “Kobbe” Kobberup
Support: Mihael “Mikyx” Mehle

Bersama dengan G2, Splyce adalah satu-satunya tim lain yang tetap memiliki roster yang sama dengan musim sebelumnya pada tahun 2017. Itu adalah pilihan yang baik bagi tim ini, mengingat seberapa banyaknya skuad ini bertumbuh di musim lalu. Dari posisi ke 8 pada EU LCS Spring Split menjadi posisi ke 2 pada Summer.

Meskipun Splyce tidak memiliki performa yang sudah mereka bayangkan pada World Championship 2016, tetapi tim tersebut memiliki sikap yang sangat bagus dalam belajar dari kekalahan di game. Tepatnya, mempelajari kekalahan adalah poin terkuat dari Splyce. Agar dapat tetap berkembang, Splyce harus memperbaiki early game nya. Mereka sering mengalami defisit pada early game di Summer Playoffs, maupun di Worlds.


Fnatic

8882

Top: Paul “sOAZ” Boyer
Jungle: Maurice “Amazing” Stückenschneider
Mid: Rasmus “Caps” Winther
AD Carry: Martin “Rekkles” Larsson
Support: Jesse “Jesiz” Le

Tahun ini menandai kembalinya Fnatic dalam menggunakan lineup yang semua pemainnya dari Eropa pertama kali sejak 2014, semenjak xPeke keluar untuk membuat Origen.

Fnatic memasuki 2017 dengan pengalaman yang sangat bermacam-macam. Caps memiliki skill yang sangat bagus dan dapat dibuktikan dengan ia menjadi kunci kesuksesan dari Dark Passage pada Summer tahun lalu. Tetapi sayangnya, mid laner tersebut masih terlalu muda untuk mengikuti International Wildcard Qualifier, dan gagal untuk menunjukkan skillnya ke kancah internasional. Kesuksesannya tahun ini bergantung pada bagaimana Fnatic mengasuh kemampuannya.

sOAZ kembali lagi ke Fnatic, dan kembali lagi bermain bersama mantan kawannya di Origen, Amazing. Bersama dengan Rekkles dan Jesiz, Fnatic memiliki kelebihan untuk menuntun Caps pada split ini. Seberapa jauh Fnatic melaju tergantung pada koordinasinya.


H2K-Gaming

Ch32bRvWkAAntF-

Top: Andrei “Odoamne” Pescu
Jungle: Marcin “Jankos” Jankowski
Mid: Fabian “Febiven” Diepstraten
AD Carry: Sin “Nuclear” Jeong-hyeon
Support: Choi “Chei” Sun-ho

Berbeda dari H2K Gaming sebelumnya dengan Yoo “Ryu” Sang-ook di mid, H2K Gaming yang baru ini telah membagi map dengan top lane diisi orang Eropa dan tambahan orang Korea di bot lane. Dengan pembagian seperti ini, Febiven menanggung tim nya di mid lane, dan Jankos harus menyesuaikan komunikasi di tim.

Sebagai salah satu AD Carry yang paling dicari, bersamaan dengan mantan AD Carry dari ESC Lee “LokeN” Dong-wook, Nuclear mungkin bisa dibilang sangat tersiksa pada saat di SBENU Korea. Ia sering menjadi pemain individual yang sangat hebat di timnya, dan membawa kemenangan ke tim nya. Satu-satunya. Mungkin Nuclear akan sering ceroboh saat bermain, dan disinilah tugas Chei untuk menjaga Nuclear.

Beberapa tahun lalu di Jin Air Green Wings Stealths, Chei merupakan support yang sangat agresif. Tetapi sayangnya, hal tersebut mulai hilang saat ia berpartner dengan AD Carry Na “Pilot” Woo-hyung pada 2015 yang merupakan AD Carry pasif. Sebenarnya Chei dan Nuclear ini bisa menjadi duo yang agresif juga, kecuali kalau ada kesalah pahaman. Musim lalu, H2K memiliki duo yang sangat hebat di bot lane, yaitu Konstantinos “FORG1VEN” Tzortziou dan Oskar “Vander” Bogdan. Dan kita masih belum tau apakah Chei dan Nuclear ini sebuah penurunan atau malah sebuah kenaikan bagi H2K Gaming.


Unicorns of Love

maxresdefault-199261

Top: Tamás “Vizicsacsi” Kiss
Jungle: Andre “Xerxe” Dragomir
Mid: Fabian “Exileh” Schubert
AD Carry: Samuel “Samux” Fernández
Support: Zdravets “Hylissang” Galabov

Ketika kalian berpikir bahwa mereka sangat kuat, mereka sendiri meragukannya. Tetapi jika kalian berpikir bahwa mereka tidak terlihat sama sekali, mereka malah membuat kedudukannya sangat jelas. Unicorns of Love sangatlah susah untuk ditebak.

Meskipun UoL terkenal dengan style nya yang sangat ‘kacau’, mereka memberikan penampilan yang sangat berkembang pada season lalu di bagian kontrol map dan pressure di map. AD Carry Kim “Veritas” Kyoung-min keluar untuk menjadi bagian dari CJ Entus, dan junglernya Kang “Move” Min-su juga keluar. Pengganti dari Veritas, Samux, memiliki pengalaman yang sangat berjaya di League of Legends Spanyol.

Veritas bukan merupakan carry utama dari Unicors of Love, dan Samux kemungkinan besar akan baik-baik saja karena ia akan dipasangkan dengan Hylissang, salah satu pemain kunci UoL sejak split LCS pertama mereka. Xerxe adalah salah satu pemain terbaik Dark Passage musim panas lalu, ia bersama mid laner Fnatic Caps tidak dapat bermain di panggung internasional karena umurnya. Dengan Exileh yang semakin bagus di mid lane, dan lane samping (top & bot) yang dipimpin pemain veteran Vizicsacsi dan Hylissang, maka akan membantu Xerxe untuk menjadi lebih baik di UoL.


Misfits

300px-Misfits

Top: Barney “Alphari” Morris
Jungle: Lee “KaKAO” Byung-kwon, Leon “llamabear” Krüger
Mid: Tristan “PowerOfEvil” Schrage
AD Carry: Steven “Hans Sama” Liv
Support: Lee “IgNar” Dong-geun

Tim yang lolos dari EU Challenger Series ini sekarang ada di EU LCS, berkompetisi dengan lineup yang bisa dibilang baru.

Meskipun jungler Kim “Wisdom” Tae-wan dan mid laner Marcin “Selfie” Wolski pergi, Misfits masih mempertahankan Alphari, Hans Sama, dan IgNar. Di bagian bot lane mungkin tidak akan ada masalah karena koneksi antara Hans Sama dan IgNar sangat baik. Tetapi kesuksesan Misfits di LCS ini ditentukan oleh bagaimana komunikasi yang baik antar satu tim, karena memang tim Misfits ini termasuk ‘hybrid’, karena terdapat pemain impor didalamnya.

Mungkin yang bisa dibilang beban bagi Misfits ini adalah KaKAO. Mengapa demikian? Karena performa KaKAO sendiri akhir-akhir ini bisa dibilang sangat turun drastis. Tetapi meskipun ia bermain tidak apik pada awal season, Misfits masih memiliki top dan bot lane yang sangatlah kuat. Untuk mid lane, PowerOfEvil juga harus bisa bekerja sama baik dengan KaKAO untuk hal kontrol map dan bantuan untuk top-bot lane.


Team Vitality

cropped_Vitality

Top: Lucas “Cabochard” Simon-Meslet
Jungle: Charly “Djoko” Guillard, Lee “GBM” Chang-seok
Mid: Erlend “Nukeduck” Våtevik Holm
AD Carry: Pierre “Steeelback” Medjaldi
Support: Ha “Hachani” Seung-chan

Team Vitality hanya mempertahankan Nukeduck dan Cabochard pada offseason ini. Dan pada nantinya, mereka akan dijadikan sebagai carry utama tim ini. Steelback bisa men-support keduanya sebagai carry kedua atau ketiga, sementara Djoko dapat berkembang sangat bagus juga bila mendapat arahan yang sangat baik dari timnya.

Tambahan yang sangat aneh pada roster ini adalah mantan pemain KT Rolster Hachani dan jungler cadangan GBM. Hachani merupakan support yang bisa dibilang sangatlah hebat, mulai dari face-checking, partisipasi dalam kill, sampai map pressure. Apalagi sikap baik dan komunikasi yang sangatlah baik juga dimiliki oleh Hachani. Kualitas yang sangat-sangat-sangatlah baik bagi seorang pemain, khususnya seorang support. Tetapi meskipun komunikasi yang baik, tentu saja pasti ia agak susah juga menyesuaikan diri dengan budaya-budaya yang ada disana, karena memang ia adalah pemain import.

Beda lagi dengan GBM. Ia memiliki permasalahan di NRG Esports, terutama pada hal kurangnya motivasi di tim NRG pada saat itu. Semoga, dengan adanya bantuan dari rekan tim yang baru ini, GBM akan menjadi lebih baik lagi kedepannya.


Team ROCCAT

300px-ROCCAT

Top: Ambrož “Phaxi” Hren
Jungle: Nubar “Maxlore” Sarafian
Mid: Felix “Betsy” Edling
AD Carry: Petter “Hjärnan” Freyschuss
Support: Kim “Wadid” Bae-in

Season lain, ROCCAT masih tetap bertaruh pada pemain impor dari Korea. Kali ini, mereka bertaruh pada Wadid sebagai support. Mantan pemain RisingStar Gaming ini masih ‘unknown’ atau banyak orang yang tidak mengetahuinya. Tetapi performanya di Challengers Korea menunjukkan bahwa ia memiliki talent yang bisa berkembang seiring berjalannya waktu.

Tetapi mungkin, key player dari ROCCAT saat ini adalah mantan jungler dari Giants! Gaming, Maxlore. Meskipun NighT banyak mencuri perhatian pada saat itu, Maxlore tetap memiliki ‘kehadiran’ yang sangatlah kuat di game. Bahkan Maxlore pernah disebut oleh mantan kawannya di tim sebagai pekerja keras dengan analitis yang sangatlah kuat, dan membantu komunikasi diantara satu tim. ROCCAT sangat berharap lebih terhadap Maxlore ini.


Giants! Gaming

cjoAL_UPTop: Olof “Flaxxish” Medin
Jungle: Jonas “Memento” Elmarghichi
Mid: Na “NighT” Gun-woo
AD Carry: Martin “HeaQ” Kordmaa
Support: Morgan “Hustlin” Granberg

Giants pasti akan merindukan Maxlore. Kecuali Memento melampaui permainan yang ia pakai saat masih bermain bersama ROCCAT. Giants sendiri harus membangun kembali komunikasinya, tentunya harus menjadi lebih baik. Tetapi masalahnya adalah tidak ada yang bisa melampaui kepemimpinan dari Maxlore sendiri.

NighT sepertinya akan menjadi satu-satunya carry untuk Giants, dan akan menjadi pemimpin/team leader bagi kawan-kawannya.


Origen

300px-Origenlogo

Top: Max “Satorius” Günther
Jungle: Kim “Wisdom” Tae-wan
Mid: Yoo “NaeHyun” Nae-hyun, Enrique “xPeke” Cedeño Martínez
AD Carry: Erik “Tabzz” van Helvert
Support: Aleksi “Hiiva” Kaikkonen

Ketika xPeke keluar dari Fnatic untuk membuat Origen, ia diberi tepuk tangan dari semua kalangan. Tim yang ia buat tersebut menyelesaikan World Championship 2015 dengan posisi 3/4, dan menjadi kesuksesan tersendiri bagi xPeke sebagai ‘legacy mid laner’ (karena xPeke juga pernah bermain sebagai AD Carry) dan Eropa sebagai region.

Sayangnya, pemain bintang yang ada di Origen semuanya telah keluar, dan menyisakan xPeke sendiri. Sayangnya lagi, xPeke akan dicadangkan di mid lane, sementara NaeHyun akan menjadi starter untuk Origen. Padahal sebenarnya xPeke sudah menjadi ‘core’ bagi Origen dari awal Origen terbentuk, dan bahkan ia menjadi AD Carry untuk Origen pada 2016 karena adanya masalah yang didera oleh Origen. xPeke mungkin akan menjadi starter bila NaeHyun tidak bisa memberi permainan yang sangat apik untuk Origen.

Wisdom dulunya merupakan bagian yang sangat kuat dalam kesuksesan Misfits di EU Challenger Series. Tabzz mungkin dapat menyesuaikan dan memberi arahan pada Hiiva yang memiliki skill yang akan bisa berkembang seiring berjalannya waktu. Terlebih pada Satorius, ia bisa saja menjadi kunci dari roster ini bersamaan dengan Wisdom.


Demikian artikel pembahasan tim-tim yang mengikuti EU LCS 2017 ini, semoga bermanfaat!

Aldilla Adam

Rap and League of Legends seems to be a nice combination, right?

Facebook Twitter 

Leave a Reply