Ngobrol Seru dengan Pasangan Caster Baru LGS Spring 2018, Adji dan Ilham

Ngobrol Seru dengan Pasangan Caster Baru LGS Spring 2018, Adji dan Ilham
Ilham_Adji_

Selain pemain dan tim baru, LGS Spring 2018 juga akan diramaikan oleh kedatangan para shoutcaster yang siap menemani kamu menonton turnamen ini dari awal pertandingan hingga ke babak final. Sederet shoutcaster keren bakal diturunkan, termasuk itu Yota dan XiamPhu, ditambah dengan duet baru Adji dan Ilham yang sebelumnya telah memulai debutnya di Club War.

Sebelum menjadi shoutcaster di Garena Indonesia, Adji dan Ilham itu sama seperti kalian. Mereka berdua adalah pemain League of Legends yang masih menuntut ilmu di bangku kuliah. Akan tetapi, mereka berdua mempunyai keinginan untuk ikut mengambil peran dalam perkembangan game tercinta kita semua ini. Dan mereka memulainya dengan menjadi shoutcaster.

Adji - Copy
Adji

Sekitar beberapa bulan lalu, Adji dan Ilham datang ke kantor Garena Indonesia guna mengikuti proses audisi pencarian shoutcaster baru. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Yota selaku shoutcaster senior pun memberikan kesempatan kepada dua orang ini untuk tampil di depan layar. Hasilnya? Lumayan memuaskan, penampilan mereka berdua cukup keren untuk seorang pemula. Semenjak saat itu, Adji dan Ilham pun terus diberikan kepercayaan untuk ngecast turnamen yang diadakan oleh League of Legends Indonesia.

Ilham - Copy
Ilham

Nah, di atas adalah sedikit cerita tentang awal mula Adji dan Ilham menjadi shoutcaster di League of Legends Indonesia. Akan tetapi, seandainya kamu merasa cerita di atas tidak cukup untuk membuatmu menjadi lebih mengenal mereka berdua, kamu dapat menyimak wawancara antara Hasagi dengan Adji dan Ilham di bawah ini. Di wawancara ini, kami mengobrol panjang seputar pengalaman mereka berdua selama menjadi shoutcaster. Hasagi juga tidak lupa menanyakan bagaimana perasaan mereka setelah terpilih untuk tampil di LGS Spring 2018.

Pertama mari perkenalkan diri kalian kepada kami semua!

Adji: Halo semuanya, nama gue Adji Hadi Perdana, biasa dipanggil Adji. Gue shoutcaster di Garena Indonesia

Ilham: Ok, nama gue Muhammad Ilham Ramadhan, biasa dipanggil Ilham. Tapi kalau ingame biasa dipanggil “Maaf” dan “Maafin Aku”.

Sebagian orang ketika ingin berkarir di League of Legends, mereka akan jadi pemain, mengapa kalian memilih menjadi shoutcaster?

Adji: Awalnya kita juga pengennya jadi pro player, tapi karena gue punya kesibukan kuliah dan freelance yang kadang bikin jam main gue jadi berkurang terus. Gue juga dari dulu ngerasa gue main hanya buat fun dan skill gue gak ada progress yang terlalu tinggi. Jadi gue lebih kepengen kenal baik komunitas dari berbagai region saja dan harus urungkan niat gue jadi pro player mengingat banyak yang lebih pantas dan lebih hebat lagi skillnya daripada gue. Jadi, ya gue pikir karena ada peluang dari Garena buat jadi shoutcaster, why not? Gue jadi pengen berkontribusi untuk esports Indonesia walaupun bukan sebagai pemain profesional.

Ilham: Karena sifat alami manusia kali ya? Lebih suka ngekritik ketimbang melakukan. Karena dari sudut pandang gue sendiri sih, memang lebih gampang buat ngoreksi orang lain ketimbang ngoreksi diri sendiri. Jadi ya kapan lagi bisa komentarin orang-orang yang lebih jago dari kita? Haha!

Musim ini kalian terpilih sebagai bagian dari Team On Air LGS Spring 2018, bagaimana perasaan kalian?

Adji: Bener-bener masih gak nyangka bakalan ditunjuk jadi Team On Air di LGS Spring 2018 ini. Thanks Garena sudah percayain gue sama ilham. I will do my best!

Ilham: Jelas senang, karena awalnya gue juga gak terlalu berharap bakalan dipakai sampai sekarang. Karena dulu memang benar-benar modal nekat doang audisi shoutcaster. Tapi, ya alhamdulillah kepakai sampe sekarang dan bisa jadi tim on-air LGS itu suatu kebanggaan tersendiri buat gue.

Menurut kalian berdua, apa sih hal yang membedakan antara seorang pemain biasa dengan pemain profesional?

Adji: Attitude, manner, dan konsistensi. Banyak player biasa yang memang jago dari segi mekanik, tapi mereka tidak punya ketiga hal tadi yang dimiliki pro player. Seorang pemain pro harus sabar, displin, dan mempunyai mental baja yang gak gampang nyerah. Ini semua gak bisa kita temukan di pemain biasa.

Ilham: Yang jelas sih dari mekaniknya plus cara mereka mengambil keputusan-keputusan krusial. Seperti kapan harus melepas objektif demi objektif yang lebih besar. Selain itu, dari segi draft pick mereka juga bisa dilihat mana yang lebih berpengalaman dan mana yang belum berpengalaman.

Kalian berdua sempat ngecast di Club War, punya kesan dan pengalaman yang ingin dibagikan di sini?

Adji: Club War merupakan awal debut gua sama Ilham sebagai shoutcaster. Pastinya ada rasa excited yang gak bisa dijelasin dan banyak banget kesalahan teknis dalam pembawaan gue waktu itu. Karena ternyata latihan ngecast pas dipraktekkin, on air live streaming itu rasanya beda banget!

Ilham: Kesan dan pengalaman ngecast Club War sih waktu ada match yang tiba-tiba pc dari tim produksi malah bluescreen gitu. Pas banget kita lagi live dan lagi ngobrol gitu, tiba-tiba layar jadi biru berasa dihack. Haha!

Seperti apa kira-kira LGS Spring 2018 ini bakal berjalan? Maksud saya, dari permainannya.

Adji: Harusnya LGS Spring 2018 kali ini, perkiraan gue yang bakalan chaos itu di posisi 2-4 sih. Karena menurut gue sampai detik ini harus diakui Headhunters masih belum ada lawannya. Jadi yang lebih kelihatan persaingannya pasti nanti di posisi 2-4.

Ilham: Yang jelas sih sekarang pembagian playernya lebih seimbang, gak ada yang terlalu overpower kayak season-season sebelumnya. Contohnya Phoenix Esports, yang bisa kita lihat punya pemain-pemain yang bisa dibilang cukup kuat. Dan juga ada beberapa pemain yang berpisah dari tim lama mereka seperti Potato dan Dreamforest/BandotTv yang sekarang bermain di PHX, meninggalkan tim lama mereka, U8 Esports.

Komunitas sangat menyukai duet XiamPhu dan Soapking, apakah kalian mampu menarik hati penonton seperti yang mereka berdua lakukan?

Adji: Hmm. Gue sama Ilham lagi mikir juga gimana caranya komunitas bisa sadar kalau segala sesuatu pasti ada pengganti atau penerusnya. Gue harap komunitas bisa suka sama gue dan Ilham. Hehe.

Ilham: Kita sih gak akan bisa ngilangin image Xiamphu dan Soapking dari para viewer. Karena mereka memang lebih dulu dari kita jam terbangnya dan para viewer pun lebih nyaman karena mereka terbiasa.

Apa yang akan kalian lakukan?

Adji: We do our best. Dan hanya masalah waktu saja menurut gue. Suka gak suka nanti lama-lama mereka juga bakal terbiasa dengan perbedaan setiap caster yang ada.

Ilham: Kita bisa dibilang masih hijau dalam hal casting, jadi butuh waktu untuk para viewer buat nerima kami berdua. Kecuali memang temen-temen kita yang sudah support kita dari awal. Yang jelas apa pun tanggapan viewer soal kita, kita bakalan coba yang terbaik. Bukan dengan ngikutin gaya Xiamphu dan Soapking, tapi dengan signature move kita sendiri haha!

Apa yang kalian berdua pikirkan tentang satu sama lain? Like, bagi Ilham Adji orangnya seperti apa dan sebaliknya.

Adji: Dari gue, Ilham kayak cerminan diri gue sendiri. Dia frontal banget sama segala sesuatu. Gak jarang kan kita denger Ilham sering nyeletuk pedes tentang fakta yang sedang berlangsung di game?

Ilham: Ya, Adji itu bisa dibilang pinter ngomong. Tapi dia kadang suka hilang fokus tentang apa yang dia bahas. Ya gimana ya? Emang partner in crime sih, dari 2015 jadi kita berdua sudah paham banget kekurangan masing-masing. Oh yam kurang-kurangin ngomong pake bahasa Inggris dicampur-campur ya dji! Gue suka malu dengernya HAHAHA!

Apa sih halangan terbesar ketika menjadi shoutcaster?

Adji: Halangan terbesar menurut gue pribadi itu, kadang timbul rasa tilt ketika sudah mau streaming yang bikin deg-degan. Kayak kita lagi mau presentasi tapi belum nguasai materi saja. Terus komentar-komentar dari para viewers. Tolong banget bahasanya dijaga ya bro-bro. Gue tahu gue masih baru tapi please, kalau cuma ngomong doang, burung beo juga bisa. Gak jauh beda kayak yang rubeN bilang, “kalau bisa lebih baik, buktikan!”

Ilham: Halangan terbesar itu adalah diri sendiri, secara kita ngecast itu harus punya persiapan tersendiri. Jadi kalau kita gak siap dampaknya bakal ke mana-mana. Viewer jadi males nonton, partner kita jadi kerja dua kali lipat dan juga komentar dari viewer pasti agak sedikit berpengaruh sama kita. Terutama sama Adji yang agak sensian orangnya. Itu aja sih.

Sebenarnya kalian berdua pernah terpikir untuk jadi pemain profesional?

Adji: Pernah, tapi mau gimana lagi yang lebih jago dari gue saja banyak yang masih stuck di playoff. Itu ngebuktiin kalo jago saja gak cukup buat masuk LGS. Jadi ya, here I am. Jadi shoutcaster.

Ilham: Iya, khususnya gue. Dari awal season 3 itu gue sudah punya cita-cita buat jadi pro player. Tapi ya mau gimana lagi namanya anak warnet jam terbangnya terbatas. Dan skill gue pun ternyata cuma segitu-segitu doang. Jadi, jadi pro player itu.. yah biar jadi sebatas mimpi saja deh.

Bagaimana komunitas pemain League of Legends Indonesia menurut kalian berdua?

Adji: So far komunitas League of Legends Indonesia sih seru banget! Gue bisa ngomong gini karena gue dulu pernah observasi tiap bulan ke region yang beda-beda dan dari yang gue liat antusiasnya sangat tinggi!

Ilham: TOXIC! Pemain League of Legends di Indo itu populasinya 5% waras, sisanya gak waras. Tapi fun juga sih, karena banyak drama yang bikin seger mata.

Apa tim favorit kalian di LGS musim ini?

Adji: Gue pribadi jagoin Headhunters! Karena dari yang gue liat, tim ini doang yang paling konsisten dan akhirnya berhasil menumbangkan lawannya di final dengan permainan yang sangat dramatis! Gue suka drama soalnya, hehe.

Ilham: Aduh, gimana yah? Gue dari dulu kalo dukung satu tim pasti tim yang gue dukung itu kalah. Tapi untuk sekarang gue dukung PHX karena komposisi tim mereka menarik. Belum ditambah lagi sama comebacknya Soapking. Pasti bakal banyak yang dukung PHX. Jadi, gue dukung PHX… buat jadi juara 8 lagi.

Anggaplah saya sebagai seorang pemain yang kepingin jadi shoutcaster seperti kalian berdua. Dari mana saya harus memulainya?

Adji: Harus latihan mental terlebih dahulu dan kuatin niat supaya gak setengah-setengah. Kalau dua hal itu sudah siap, bisa dipraktekin dengan cara record latihan castnya. Lalu bisa minta feedback juga dari orang terdekat jika keliatannya sudah oke baru bisa coba ngajukan diri untuk jadi shoutcaster di Garena.

Ilham: Sebenarnya kita semua punya basic buat jadi shoutcaster. Karena kita itu sebenernya punya jiwa ‘bacot’ yang bisa dimanfaatin tergantung di mana medianya. Jadi shoutcaster itu ibarat ‘ngebacot yang ber-etika’, beda sama ngebacot di grup keluh kesah atau chat all. Menurut gue hampir semua pemain itu bisa jadi shoutcaster, tinggal gimana kita saja memilah bacotan kita menjadi sesuatu yang ‘catchy’ buat didengar oleh orang lain.

Terakhir, punya pesan untuk para pembaca Hasagi?

Adji: Buat semuanya, jangan lupa baca terus Hasagi karena kalau kalian baca Hasagi, anggaplah kalian adalah Bronze. Lalu kalian baca hasagi, kalian bisa jadi seorang Diamond atau bahkan Challengers. Kenapa? Ya karena banyak info berguna yang bisa kalian dapat di sini. Dan tanpa kalian sadar, Hasagi menurut gue satu-satunya media yang paling aktif dan produktif. Gak pas lagi mau ada event doang aktif produksi artikelnya. Hehehe.

Ilham: Kurang-kurangin baca drama di Keluh Kesah, gak baik nanti kalian ketularan toxic dan lebaynya para pecinta drama keluh kesah. Banyakin baca Hasagi karena di sini banyak banget pengetahuan dan hiburan yang bisa kita baca di waktu senggang dan pastinya gak bakal bisa kalian temukan di grupgrup aneh tersebut. Make sure kalian bookmark Hasagi di browser kalian buat bahan bacaan kalo lagi senggang ya!

 


Inget guys, LGS Spring 2018 akan dimulai pada 15 Januari 2018! Jangan sampai kalian tidak menontonnya, okay?

Hi, I'm Edel, Founder and Editor of HASAGI. Nice to meet you!

Facebook Twitter 

Leave a Reply


comments