Perkz: Kalah Telak Dari Fnatic Terasa Pahit

Perkz: Kalah Telak Dari Fnatic Terasa Pahit
Perkz

Kekalahan telak yang dialami G2 Esports pada babak Final EU LCS Spring 2018 pasti terasa menyakitkan. Tak hanya kalah telak dari tim rival, G2 Esports juga harus merelakan takhta sebagai Raja Eropa yang sudah mereka kuasai selama 2 tahun terakhir direbut oleh Fnatic.

Hal itu bisa terlihat dari apa yang diucapkan Midlaner G2, Perkz. Pemuda asal Kroasia tersebut optimis dengan nasib G2 ke depannya, hanya saja dirinya merasa sangat kecewa gagal menyabet gelar juara EU LCS 2018 lalu.

“Di awal Split, teamwork kami kurang bagus. Tim Kami masih baru. Seiring berjalannya waktu, kami sudah berkembang dan menjadi lebih dari sekedar tim,” ujar Perkz dilansir dari Lol Esports EU.

“Sayangnya, kami masih kalah di babak Final. Saya melihat bahwa kami  hanya membaik dari segi pengetahuan permainan saja. Kekalahan ini sebenarnya tidak terlalu buruk, hanya saja rasanya sangat pahit,” lanjutnya.

G2 Esports

Perkz menceritakan bahwa sebenarnya permainan berjalan cukup baik. Timnya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan dan apa yang akan dilakukan oleh Fnatic. Hanya saja, mereka kesulitan untuk menutup permainan dan Fnatic bermain jauh lebih baik.

“Kami sangat bersemangat pada pertandingan ini. Pada match pertama, sebenarnya kami sudah tahu apa yang akan Fnatic lakukan dan cara untuk mengatasinya. Kami sangat siap untuk menghadapi Rekkles dan Hylissang. Kami juga melakukan snowball dengan sangat baik,” tambah pemain berusia 19 tahun tersebut.

“Fnatic lebih baik dalam hal pemilihan champion. Secara perlahan mereka menunjukkan keunggulan mereka dibanding kami. Pada match ketiga perbedaan kekuatan tim terlihat dengan sangat jelas.”

Perkz mengaku bahwa dua Pentakill yang dicetak oleh Rekkles tidak membuat dirinya goyah, karena sejak awal dia tahu bahwa kesempatan G2 Esports untuk menang dari Fnatic sangat kecil.

Rekkles Pentakill

“Mental saya baik-baik saja saat Rekkles mencetak dua Pentakill. Sejak awal saya sudah tahu bahwa kesempatan kami untuk menang sangat kecil. Sejak match kedua berakhir, kami sadar bahwa tidak ada kesempatan bagi G2 untuk menang. Sulit untuk mengejar lawan yang sudah unggul sangat jauh. Kami memang unggul pada early game, tapi Fnatic bisa membalikkan keadaan hanya dalam waktu lima menit,” tambahnya.

Untung saja, dirinya cukup terhibur dengan upacara pembukaan. Menurutnya, upacara pembukaan pada babak Final kali ini jauh lebih baik ketimbang Final-Final sebelumnya.

“Upacara Pembukaan adalah hal terbaik bagiku di babak Final ini. Hype yang dibuat benar-benar terasa dan memicu semangat saya untuk bermain,” tutur Perkz.

“Saat kami berjalan ke arah tangga, para penonton tak henti-hentinya mengelu-elukan nama tim kami. Kemudian satu persatu pemain berjalan menuruni tangga menuju ke arah trofi untuk berjabat tangan. Rasanya menyenangkan.” lanjutnya.

EU LCS Spring Finals 2018

Selama jeda Off-Season ini, Perkz akan kembali ke Kroasia. Rencananya dia bakal berlibur ke Jepang bersama teman-temannya, sebelum bertolak ke Korea Selatan untuk menjalani bootcamp.

“Saya berencana untuk pulang ke Kroasia sebentar dan pergi berlibur ke Jepang bersama Trick, Mithy, dan Wadid. Saya juga berencana untuk melakukan bootcamp di Korea Selatan, entah sendirian atau bersama tim,” ujarnya.

Dengan atau tanpa mereka, Saya akan tetap pergi ke Korea untuk menjalani bootcamp. Saya harus meningkatkan level permainan dengan terus berlatih, tapi sebelumnya saya harus beristirahat terlebih dahulu karena saya merasa kelelahan,” pungkasnya

Laurent Vic

RIP AND TEAR UNTIL IT'S DONE

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply