Presiden Komite Olimpiade Internasional Masih Ragu Masukkan Esports Sebagai Cabang Olimpiade

Presiden Komite Olimpiade Internasional Masih Ragu Masukkan Esports Sebagai Cabang Olimpiade
switzerland-ioc-executive-board-meeting

Penyelenggaraan Demonstrasi Esports pada Asian Games 2018 lalu memang sangat sukses. Eksibisi yang mempertandingkan beberapa cabang video game seperti League of Legends, Arena of Valor, Clash Royale, StarCraft 2, PES 2018, dan Hearthstone berhasil membuktikan kepada dunia bahwa Esports layak dipertandingkan sebagai cabang Olimpiade.

Kesuksesan tersebut juga diperkuat oleh pendapat Presiden Joko Widodo. Pada sebuah acara Youth On Top National Conference (YOTNC) di Balai Kartini, Jakarta, pada Sabtu (25/08) lalu, Joko Widodo melihat adanya sebuah peluang usaha yang besar dari Esports. Untuk berita selengkapnya bisa kalian baca di sini.

Sayangnya, keberhasilan tersebut masih kurang cukup untuk meyakinkan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach untuk memasukkan Esports sebagai cabang Olimpiade. Alasannya karena ada beberapa cabang Esports yang memperlihatkan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Olimpiade.

“Kita tidak bisa mempromosikan cabang Olimpiade yang memperlihatkan kekerasan dan diskriminasi, atau bisa disebut ‘killer games’. Dari sudut pandang kami, hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Olimpiade dan tidak bisa diterima,” ucap Bach pada konferensi pers Asian Games 2018 pada hari Sabtu lalu.

Pihak IOC sendiri sebenarnya sudah mempertimbangkan hal ini sejak Juli lalu saat menggelar forum Esports pada Juli lalu di kantor pusat IOC yang terletak di Lausanne, Switzerland. Bach yang pada masa lalu merupakan seorang juara cabang olahraga anggar yang menggunakan pedang mencoba memberikan perbedaan.

“Tentu saja setiap olahraga tempur memiliki asal-usul dalam pertarungan nyata. Tapi olahraga adalah ekspresi yang beradab. Jika ada sebuah permainan di mana permainan tersebut tentang membunuh seseorang, hal itu tidak dapat diselaraskan dengan nilai-nilai Olimpiade kami,” ucap Bach.

Kemungkinan besar kejadian penembakan massal pada turnamen Madden NFL di Jacksonville, Florida, Amerika Serikat pada minggu lalu juga mempengaruhi pertimbangan IOC dalam memasukkan Esports ke dalam Olimpiade.

Perbincangan mengenai Esports di Olimpiade ini juga menarik banyak perhatian dari beberapa tokoh Esports, salah satunya dari Paul “Redeye” Chaloner dan Duncan “Thorin” Shields.

Nah, kalau menurut kalian sendiri, apakah Esports layak untuk dimasukkan ke cabang Olimpiade menyusul keberhasilan di Asian Games 2018 atau justru masih kurang layak?

Laurent Vic

RIP AND TEAR UNTIL IT'S DONE

Facebook Twitter Google+ 

Leave a Reply