Rekkles: Solo Queue Korea Lebih Sulit dari Final EU LCS

Rekkles: Solo Queue Korea Lebih Sulit dari Final EU LCS
RekklesSmile

Beberapa hari lalu Rekkles sempat menjadi topik hangat untuk diperbincangakan berkat aksinya pada babak final EU LCS. Aksi Pentakill pada laga final kala Fnatic menghadapi G2 Esports sukses membuat banyak orang terkagum-kagum. Gelar juara EU LCS Spring 2018 bersama Fnatic semakin lengkap dengan penghargaan MVP yang sukses disabetnya.

Kini EU LCS Spring sudah usai. Rekkles dan rekan-rekannya di Fnatic saat ini tengah mempersiapkan diri untuk turnamen Mid-Season Invitational pada Mei mendatang. Berbagai cara mereka lakukan untuk meningkatkan kemampuan, salah satunya dengan menggelar Bootcamp di Korea Selatan.

Predikat Korea sebagai Server League of Legends terkuat di dunia memang memiliki daya tarik tersendiri untuk pemain-pemain profesional. Tingginya level permainan di Negeri Ginseng sangat cocok dengan tujuan Fnatic yang ingin meningkatkan kemampuan.

Hebatnya, dalam waktu beberapa hari saja, Rekkles sukses menduduki singgasana Challenger nomor satu pada Solo Queue di Korea.

Rekkles

Pemain berusia 21 tahun asal Swedia tersebut menyebut server Korea benar-benar cocok untuk meningkatkan kemampuan bermain. Banyaknya jumlah pemain hebat di server Korea membuat Rekkles bisa mempelajari banyak hal.

“Saya memilih untuk menghabiskan waktu selama dua minggu di Korea daripada beristirahat. Saya tidak mengerti kenapa kami tidak melakukan hal ini sebelumnya. Kalian bisa mempelajari banyak hal dengan bermain di server Korea, apalagi saat ada patch besar,” ucap Rekkles dikutip dari korizon.net.

“Saat saya bermain Solo Queue di Korea, tujuh atau delapan dari sepuluh pemain di Challenger merupakan pemain profesional. Setelah bertemu beberapa orang selama bermain di sana, saya pikir KSV Ruler merupakan yang terbaik, disusul oleh KT Deft, SKT Bang, SKT Faker, HLE Sangyoon,” lanjutnya.

Fnatic
Kerja sama tim Fnatic membuat permainan Rekkles menjadi lebih mudah

Rekkles sepertinya benar-benar terkesan dengan level permainan League of Legends di Korea. Pemuda yang sempat menjadi atlet sepak bola semasa muda tersebut bahkan berkata bahwa level permainan di EU LCS benar-benar jauh ketinggalan.

“Solo Queue di Korea lebih sulit daripada pertandingan final EU LCS. Pemain yang tidak jelas profilnya di server Korea bahkan bisa bertanding secara imbang dengan pemain profesional di EU,” tutur Rekless.

Hal itu bukannya tanpa alasan. Memang kenyataannya Fnatic menang mudah atas G2 dengna skor 3-0. Itu semua dikarenakan pemain dari tim Fnatic berhasil memeragakan permainan yang kompak, sehingga strategi yang mereka terapkan berjalan dengan baik. Sementara di Solo Queue, dirinya harus berjuang sendirian, sambil mencoba bekerja sama dengan orang asing untuk bisa menang.

Untuk Rekkles sendiri, sekarang LP yang dia peroleh sudah tersalip oleh pemain-pemain lainnya, dan Rekkles tentunya tidak ingin membiarkan hal itu terjadi. Dirinya bertekad untuk terus menang dan menjadi yang terbaik lagi, setidaknya sampai MSI dimulai nanti.

Sumber

Raka Marko

Leave a Reply