Riot Investasi Jutaan Dollar ke e-Sports Tanpa Mendapatkan Untung

Riot Investasi Jutaan Dollar ke e-Sports Tanpa Mendapatkan Untung

league_1

Bila seseorang ingin membuka usaha, maka kemungkinan besar hal pertama yang ia pikirkan adalah seberapa banyak untung yang bisa didapatkan dari usaha tersebut. Begitu juga halnya dengan developer dan publisher game, dimana mereka membuat game, merilisnya untuk dimainkan oleh orang, kemudian mendapatkan uang. Rumus yang sederhana dan kami sangat yakin bahwa tidak ada satupun pelaku bisnis di dunia yang ingin usahanya mengalami kerugian, atau bahkan kebangkrutan.

Namun berbeda dengan sang pencipta League of Legends, Riot. Di umurnya yang sudah memasuki 10 tahun ini, mereka dilaporkan masih mengalami kerugian. Kok bisa?

Seperti yang kita tahu, Riot merupakan perusahaan yang masih bergantung pada penjualan barang di dalam game buatan mereka guna mendapatkan keuntungan. Mereka menciptakan League of Legends, kemudian menghadirkan aneka ragam skin dan item untuk dibeli oleh pemain.

Berdasarkan sebuah laporan yang pernah diberikan langsung oleh Riot melalui situs resminya, dikatakan League of Legends dimainkan oleh lebih dari seratus juta orang di setiap bulannya. Anggap saja dari 100 juta orang tersebut sebanyak 50 persennya adalah pengguna aktif yang melakukan pembelian. Maka bisa dipastikan ada banyak sekali uang yang bisa dihasilkan oleh Riot di setiap bulannya. Kembali lagi kepada pertanyaan di atas, mengapa mereka masih bisa tetap merugi?

Jawabannya, adalah karena e-Sports.

Pada sebuah wawancara yang dilakukan oleh Polygon, Riot mengatakan mereka masih mengeluarkan uang senilai jutaan dollar untuk kancah e-Sports, tanpa mendapatkan untung. Kendati demikian, tidak ada penyesalan, Riot menegaskan itu semua mereka lakukan demi memberikan pengalaman e-Sports yang luar biasa kepada para pengguna mereka.

riot
Brandon ‘Ryze’ Beck (CEO Riot) dan Marc ‘Tryndamere’ Merrill (CMO Riot) Sumber Foto: Polygon

“Ya, kami masih berinvestasi jutaan dollar ke e-Sports tanpa mendapatkan keuntungan,” ungkap Brandon Beck selaku CEO dari Riot Games, menanggapi salah satu pertanyaan yang diberikan oleh Polygon.

“Sebelum Marc dan saya mendirikan Riot, sebenarnya kami memiliki keinginan untuk membentuk sebuah liga e-Sports dan kami akan memberikannya nama Ultimate Gaming League (UGL). Bahkan saat itu, komunitas mengejutkan kami dengan respon mereka terhadap skema kompetitif yang saat itu masih tergolong dini. Namun kami tetap meresponnya dengan baik, dan berharap kami dapat menghargai semua itu dengan cara memberikan mereka sebuah pengalaman terbaik. Perjalanan kami sekarang yaitu tentang memberikan apa yang bisa kami berikan untuk hal itu, dan kami akan terus melihat ke mana hal itu akan pergi,” tambahnya.

Beck juga berbagi pengalamannya tentang saat pertama kali ia memulai e-Sports untuk League of Legends, dan pernyataannya cukup mengejutkan.

“Kami berangkat ke Dreamhack di Jönköping, Swedia, untuk menggelar babak final dari championship kami yang saat itu baru memasuki season 1. Saya ingat benar, kami hanya memiliki sekitar 20 buah kursi lipat dan, tanpa mengetahui bakal ada yang datang untuk menonton. Namun, kami tetap bersikeras untuk menayangkan pertandingan secara online. Hasilnya, pertandingan kami ditonton oleh lebih dari 100 ribu orang secara bersamaan, dan jelas hal ini mengejutkan kami. Dari sini kami menyadari bahwa inilah yang disukai oleh para pemain League, dan kami pun mulai menanggapinya dengan serius. Setelah season 1, kami pun memutuskan untuk mendekatkan e-Sports kepada League, dengan cara yang berbeda. Kami memulainya dengan menghadirkan broadcast pertandingan secara rutin setiap minggu, dan juga sebuah turnamen tahunan bagi pemain-pemain profesional.”

 

Untuk wawancara selengkapnya bersama Merrill dan Beck bisa kalian baca melalui Polygon.

Hi, I'm Edel, Founder and Editor of HASAGI. Nice to meet you!

Facebook Twitter 

Leave a Reply


comments