Rofens, Satu dari Sedikit yang Masih Bertahan

Rofens, Satu dari Sedikit yang Masih Bertahan
rofens

LGS pertama digelar pada tanggal 5 Juli 2014. Berarti, sudah hampir 3 tahun liga profesional LOL di Indonesia ini berlangsung. Seiring waktu, kompetisi ini berlangsung dengan lebih profesional bersama tingkat kemampuan para pemainnya yang semakin kompetitif.

Akan tetapi, tidak sedikit pula pemain-pemain League yang memutuskan untuk ‘gantung keyboard’ karena berbagai alasan. Harus melanjutkan studi, pekerjaan atau urusannya di real life, misalnya. Atau memang mengakui kemampuan mekaniknya yang menurun seiring bertambahnya usia mereka. Dari semua pemain yang pernah berlaga di LGS musim pertama, yang masih berlaga di LGS Spring 2017 bisa dihitung dengan jari. Salah satunya adalah Kyle “Rofens” William, support dari tim Fortius.

Adik kandung dari mantan jungler dan manajer tim Fortius, Henry “TwoJ” Louis ini menjadi pemain tertua di LGS dengan usia 27 tahun. Akan tetapi, semangat kompetitifnya tidak memudar meski harus bersaing dengan pemain-pemain yang usianya berada di bawahnya.

Kemenangan Fortius di minggu pertama LGS tidak dipandang Rofens dengan kepuasan yang berlebihan. Ia sendiri mengatakan bahwa target Fortius di musim ini adalah Garena Premier League (GPL). Itu juga bisa diartikan bahwa Fortius sudah siap untuk merebut juara dari tangan TEAMnxl>. “(untuk) team Indo manapun, Fortius selalu optimis,” ujar Kyle.

Masuknya Chupper, ADC berbakat dari Kanaya Gaming membuat Rofens yang sebelumnya bermain di role yang sama berpindah ke support. Tentunya, kedua role ini memiliki play style yang berbeda walaupun sama-sama berada di botlane. Semenjak dimainkannya Miss Fortune support dari ROX Tigers pada Worlds 2016, kita sudah melihat beberapa pick support yang tidak biasa seperti Malzahar, Syndra atau bahkan Camille. Rofens sendiri di minggu pertama LGS memainkan Zyra, Malzahar dan MF – 3 support bertipe agresif yang bisa mengharass lawan di early game.

Lantas, apakah Rofens sendiri nyaman dengan meta support sekarang? “Gua rasa nyaman-nyaman aja, soalnya meta support sekarang mirip ADC, harus positioning dll. Bedanya, gua punya cc (crowd control) tapi damage gak seberapa dibanding ADC. Jadi cara mainnya gak banyak berubah ketika main ADC,” jawab Rofens.

32438036486_0bdcbc1e56_z

Minggu ini, Rofens akan bertemu mantan rekan satu timnya, sesama veteran dari XcN yaitu Bayu “Cruzher” Putera Santosa yang sekarang memiliki tim Headhunters. Match di hari Minggu ini akan menjadi match of the week yang akan paling ditunggu pada Week 2. Namun Rofens sendiri tidak menganggap Cruzher sebagai lawan yang harus dimusuhinya, melainkan sebagai rival yang bersaing secara sportif.

“Dulu pernah 1 tim bareng latihan dan berjuang sama-sama. Walau udah beda tim, masih berteman dengan baik. Jadi wish good luck buat tim H2 dan FTS!”


Pepatah ilmu padi, “semakin berisi semakin merunduk” itu ternyata memang benar adanya ya. Seperti Rofens yang tetap rendah hati dan bijaksana dari kata-katanya saat diwawancara oleh Hasagi. Semoga sukses untuk Rofens dan Fortius di Week 2 LGS!

 

Foto: Flickr LOL Esports Indonesia

fusion jazz - vaporwave - instrumental hiphop

Facebook Twitter 

Leave a Reply