Sekolah Ini Menjadi Perintis Program Esports Tingkat Sekolah Pertama di Indonesia

Sekolah Ini Menjadi Perintis Program Esports Tingkat Sekolah Pertama di Indonesia
LGS_SUMMER_2016

Berbicara masalah esports di Indonesia, kalian semua pasti tahu bahwa kualitas pemain-pemain di sini masih belum sebaik yang ada di luar negeri. Khususnya, untuk pemain tingkat sekolah yang notabenenya hidup mereka masih sangat diatur oleh orang tua.

Banyak siswa yang ingin masuk ke dunia esports. Tetapi, mereka terhalang oleh dinding yang besar. Dan dinding tersebut dibuat oleh orang tua mereka sendiri. Banyak (tidak semua) orang tua yang melarang anaknya masuk ke dalam dunia esports, karena para orang tua tersebut merasa esports hanya buang-buang waktu saja, sangat tidak penting bagi kelanjutan pendidikan dan pekerjaan anaknya nanti. Padahal, itu salah.

Esports bisa membuat anak-anak menjadi lebih kreatif dari sebelumnya, dan bisa melatih anak-anak agar disiplin. Disiplin terhadap waktu, terhadap peraturan, dan lain-lain. Di esports juga ada peraturan yang harus dipatuhi. Oh iya, dengan adanya kata “Sport” ini, menandakan bahwa semua yang ada di dalamnya adalah murni olahraga. Bukan hanya duduk diam melihat layar komputer sampai bosan dan hanya bermain-main. Tidak. Kita memang benar-benar pure berolahraga di dalamnya.

Bahkan di luar negeri, industri esports sangat berkembang pesat, jauh di atas Indonesia. Lihatlah Korea, mereka adalah negara pertama yang memberikan pendidikan esports melalui universitas yang ada di sana. Inilah yang membuktikan bahwa industri esports di luar negeri jauh lebih pesat perkembangannya dibanding Indonesia. Apa kalian mau Indonesia selalu kalah dengan luar negeri? Pastinya tidak dong.

LGS_THE_FINALS_2017
LGS sebagai salah satu turnamen esports terbesar di Indonesia

Ngomong-ngomong tentang bermain, di esports kegiatannya sama seperti olahraga tradisional. Bahkan lebih sulit. Untuk segi latihan, mungkin olahraga tradisional akan tetap seperti itu-itu saja dari waktu ke waktu karena tidak ada perubahan yang sangat signifikan pada peraturan. Tetapi untuk esports sendiri? Setiap dua minggu khususnya untuk League of Legends, terdapat perubahan patch yang bisa membuat strategi dari semua tim berubah total. Nah, inilah juga mengapa latihan itu sangat penting.

Menyadari hal tersebut, Bapak Yohannes P. Siagian selaku Kepala Sekolah dari SMA 1 PSKD membuka program esports di sekolahnya. Menurutnya, esports adalah sebuah industri yang sedang berkembang dengan sangatlah cepat. Beliau juga menuturkan bahwa karir di bidang esports bukan hanya sebagai pemain profesional saja. Bisa saja di bidang marketing, sales, teknologi, dan lain-lain. Inilah yang ditunggu-tunggu dari seorang kepala sekolah di Indonesia.

“Semua hal ini membawa kami kepada sebuah kenyataan dimana SMA 1 PSKD merasa bahwa eSports adalah sebuah bidang yang valid untuk murid yang ingin merancang karirnya setelah lulus SMA, dan secara logika, apabila sebuah SMA merasa bahwa ada sebuah bidang yang valid yang bisa menjadi tempat murid membuat karir setelah ia lulus, maka sangatlah wajar apabila sebuah SMA mengambil langkah untuk mempersiapkan murid yang ingin mengeksplorasi bidang tersebut dengan lebih mendalam.” Ujar Bapak Yohannes di dalam blog SMA1 PSKD.

SMA 1 Perkumpulan Sekolah Kristen Djakarta bukanlah sekolah baru. Sekolah ini sudah ada dan diakui secara resmi sejak 1942, sebelum Indonesia merdeka. Meskipun namanya ada embel-embel agamanya, sekolah ini tidak memandang agama, ras, etnik, dan lain-lain sebagai syarat masuknya. Jadi, program esports yang dicanangkan ini bukanlah sebuah program yang main-main. Ini sebuah keseriusan yang harus dipatuhi oleh siswa yang ingin bergabung di dalam program esports ini.

Kepala Sekolah SMA 1 PSKD Bp. Yohannes P. Siagian (kanan)

Murid yang mengikuti program esports ini akan menghabiskan waktu sekitar 10-20 jam per minggu untuk kegiatan esports saja. Eits, bukan cuma bermain. Ada juga nanti pembelajaran tentang teori ekonomi dan psikologi, strategi permainan, matematika, LATIHAN FISIK yang sama seperti olahraga tradisional, pelajaran bahasa, dan lainnya. Ada juga nilai minimum yang diharuskan bagi para siswa yang mengikuti program ini, yaitu rata-rata 80.

By the way, apa saja sih game yang ada di dalam program esports ini? Pastinya, League of Legends ada dong. Selain League of Legends, ada juga Defense of the Ancient 2, dan Counter Strike: Global Offensive. Ini adalah cabang utama, yang mana akan sangat difokuskan. Lalu untuk cabang sekunder, ada Vainglory dan Hearthstone nantinya.

SMA 1 PSKD tidak sendiri. Mereka mendapatkan support dari beberapa brand yang menjadi sponsor mereka. Ada Steelseries, MSI, dan Bitfenix. Bukan apa, tapi dengan adanya sponsor ini diharapkan siswa-siswa dapat lebih leluasa untuk berlatih menggunakan media yang telah disediakan.

Pastinya, hal ini sangat sempurna dan membawa hal positif ke dalam masyarakat Indonesia. SMA 1 PSKD juga memperbolehkan seluruh warga Indonesia untuk masuk ke sekolah ini. Jadi, kesempatan bagi kalian yang ingin fokus untuk terjun ke dunia esports juga banyak. Tetapi, bagi kalian yang hanya ingin main-main dan menjadikan program esports ini sebagai ekstrakulikuler, juga bisa. Ekstrakulikuler untuk esports ini diadakan satu minggu sekali.

Is it a bad influence? Or a good influence? Ya pasti jawabannya adalah good influence. Dengan ini, akan makin banyak siswa-siswa di Indonesia yang fokus ke sekolah, dan fokus ke ranah esports. Dengan tidak meninggalkan akademiknya, tetapi masih fokus ke game yang dimainkan untuk mencapai achievement yang ditunggu-tunggu.

Kita semua tahu juga kan, kalau dekat-dekat ini ada Liga Pelajar Indonesia? Nah, siapa tahu, SMA 1 PSKD mendaftar dan tim yang kalian daftarkan bisa melawan mereka untuk mengukur seberapa kuatnya mereka. Semoga, pertumbuhan industri esports di Indonesia semakin lancar dan tidak ada lagi orang tua yang akan menghalangi anak mereka untuk masuk ke dunia esports. #playlolindo.

Aldilla Adam

Rap and League of Legends seems to be a nice combination, right?

Facebook Twitter 

Leave a Reply