Yang Terbaik & Terburuk di Group Stage Week 1

Yang Terbaik & Terburuk di Group Stage Week 1
powerofevil1

Ada beberapa hal yang sesuai dengan perkiraan kita saat minggu pertama Group Stage Worlds 2017 berlangsung minggu lalu. Contohnya, seperti SK Telecom T1 dan Longzhu Gaming yang mendominasi grupnya masing-masing. Longzhu bahkan memenangkan game melawan Fnatic dalam waktu 20 menit saja, menggunakan Nasus di toplane, bersama Rift Herald yang berdansa ketika Nexus Fnatic hancur lebur.

Di sisi lain, ada beberapa tim yang bermain sangat mengecewakan, di bawah ekspektasi kita. Seperti performa Edward Gaming sebagai tuan rumah yang tidak mampu mendapatkan poin sama sekali, padahal mereka berstatus sebagai tim terkuat dari Tiongkok. Dan ada beberapa hal lain yang akan kami tuangkan pada artikel di bawah ini.

Berdasarkan pertandingan di minggu pertama, kami merangkum yang terbaik dan terburuk sebelum kita masuk ke pertandingan minggu kedua yang akan dimulai pada tanggal 12 nanti.

 

Terbaik


Misfits

PowerOfEvil
PowerOfEvil

Siapa yang menyangka, tim berlogo kelinci ini bisa memberikan permainan rapi seperti layaknya tim-tim Korea, walau mungkin belum sesempurna SKT ataupun Longzhu. Padahal, Misfits adalah tim yang mayoritas berisi pemain-pemain yang baru melangkahkan kaki di kejuaraan dunia ini.

Dengan pengalaman yang dimiliki mantan midlaner Origen, PowerOfEvil, beserta pemain-pemain baru yang berbakat seperti Hans Sama, Alphari dan Maxlore, Misfits mengakhiri minggu pertama dengan cukup memuaskan. Khususnya ketika melawan TSM, botlane Misfits sukses membuat Doublelift dan Biofrost kewalahan, juga bermain tanpa melakukan pergerakan riskan untuk memastikan kemenangan mereka.

Hasil di minggu pertama seharusnya dapat berlanjut pada pertandingan di Week 2 apabila Misfits bisa menyempurnakan gameplay mereka.

 

Royal Never Give Up

Uzi
Uzi

Meskipun tim ini berstatus peringkat kedua dari Tiongkok, Royal Never Give Up benar-benar menunjukkan semangat ‘never give up’ mereka saat melibas tiga tim lainnya di grup C. Baik Samsung, G2 Esports maupun 1907 Fenerbahçe, RNG berhasil mengeksekusi komposisi champion mereka dengan sangat baik.

Uzi, yang dinobatkan sebagai ADC terbaik di Tiongkok, menjadi salah satu faktor utama kemenangan RNG di minggu pertama. Kemampuannya untuk mencari peluang menyerang dan memberikan damage sebesar-besarnya kepada lawan, membuatnya hampir mendapatkan Pentakill saat melawan G2.

Dari ketiga tim Tiongkok yang berlaga di Worlds 2017, RNG adalah satu-satunya tim yang mendapatkan poin penuh. Jadi, nampaknya publik, khususnya para fans di negeri tirai bambu ini – menaruh harapan mereka kepada Uzi dan kawan-kawan.

 

SK Telecom T1

The King
The King

Rasanya memasukkan SKT dalam daftar bukanlah sesuatu yang aneh. Selama Group Stage kemarin, SKT sukses menuai poin penuh dengan cukup meyakinkan, meskipun kita masih bisa melihat adanya problem yang sama dalam diri SKT, yaitu permainan mereka di early game yang lemah.

Tapi kelemahan itu ditutup dengan macro game, shotcall dan kerjasama tim yang rasanya masih sulit dilewati tim lainnya. Melawan EDG, SKT tertinggal 0-9 dan 10 ribu gold, namun satu teamfight yang dieksekusi dengan baik membuat SKT bisa bangkit lagi dan akhirnya menang. Satu momen tersebut memberikan contoh mengapa kita tidak boleh meremehkan SKT walaupun tim lawan sedang unggul jauh.

Sampai saat ini, SKT juga belum memainkan supersub jungler mereka Blank, dan mungkin ia akan disimpan sampai waktu yang tepat – ketika SKT benar-benar membutuhkan kemenangan.

 

Longzhu Gaming

Cuzz, jungler Longzhu Gaming
Cuzz, jungler Longzhu Gaming

Juara LCK Summer 2017 ini juga menuai poin penuh, sama seperti SKT. Permainan mereka jauh lebih mendominasi di Group B dengan kemenangan-kemenangan cepat. Bahkan mereka mampu mengalahkan Fnatic dalam waktu 20 menit lewat 52 detik saja – sangat mengagumkan!

Jika melihat performa mereka di 3 game terakhir, rasanya LZ akan meneruskan rekor kemenangan mereka di minggu ini. Atau mungkin saja kita akan melihat pick-pick mengejutkan seperti Nasus top lagi, dan mereka akan tetap menang dengan cara mereka sendiri.


Terburuk


Edward Gaming

Edward Gaming
Edward Gaming

Parah. Itulah kata yang pantas menggambarkan Edward Gaming di minggu pertama. Walaupun 3 tahun terakhir ini EDG selalu mentok di perempatfinal, tahun ini bisa saja mereka bahkan tidak lolos dari grup.

Apa penyebab kekalahan mereka? Sebenarnya faktor utamanya adalah mereka tidak mampu menutup game dengan baik. Dengan bermain super aman tanpa resiko tinggi, mereka justru kalah dari teamfight-teamfight krusial. Seperti contoh ketika fight terakhir melawan AHQ atau melawan SKT. EDG justru tampil berantakan seolah tak menyiapkan rencana ketika dihadapi kondisi seperti itu.

Dengan sisa 3 pertandingan lagi, kesempatan EDG untuk berada di Top 2 akan sangat kecil sekali.

 

Fnatic

sOAZ
sOAZ

Fnatic masih bertumpu pada permainan Rekkles sang AD Carry, strategi yang sama seperti pada babak Play-In, namun strategi itu tak berhasil. Bahkan ketika Rekkles mampu memberikan harapan untuk menang ketika melawan Immortals, satu kesalahan fatal yang ia lakukan membuat semua harapan sirna.

Kritik tajam juga dilontarkan publik kepada sang toplaner sOAZ. Ia tidak mampu berbicara banyak selama permainan, namun cuitan-cuitan yang ia keluarkan di akun Twitter pribadinya seolah mengatakan bahwa timnya memang sulit untuk ia carry. Namun tweet-nya tersebut langsung mendapatkan banyak respon dari publik yang juga menilai bahwa sang toplaner veteran ini sudah harus pensiun.

Tanpa kemenangan di minggu pertama, tampaknya perjalanan Fnatic akan berakhir di grup jika mereka tidak cepat memperbaiki diri.

 

Flash Wolves

Maple
Maple

Masih ingat ketika Flash Wolves menjadi tim kuda hitam? Ah, rasanya itu sudah tak berlaku lagi sekarang.

Permainan mereka sangat melempem dari segala sisi. Bahkan SwordArt, support FW yang masuk ke dalam daftar 20 pemain terbaik di Worlds 2017, tidak mampu berbuat apa-apa. Mungkin juga karena metagame support peel seperti Janna dan Lulu yang tidak memberikan kesempatan banyak bagi SwordArt untuk melakukan play yang bagus.

Sebagai perwakilan utama dari LMS, rasanya kekalahan FW di Group D memberikan sinyal bahwa region tersebut butuh banyak perubahan.

 

Svenskeren

Svenskeren
Svenskeren

Yang ini cukup unik karena saya memberikan satu perhatian khusus kepada permainan jungler TSM, Svenskeren. Dari 3 game, kita akan jarang melihat Svens melakukan play yang gemilang. Malah, justru ia bermain sangat hati-hati sehingga hampir tidak ada yang terjadi.

Contohnya, ketika memakai Sejuani saat melawan Misfits. Svenskeren tidak mampu berbuat banyak saat botlane TSM dibombardir oleh para pemain Misfits sejak awal game. Permainannya lebih condong ke arah reaktif, membuat impact dari Sejuani yang memiliki salah satu skill engage terkuat saat ini berkurang drastis.

Nampaknya ini karena faktor Svenskeren yang tidak cocok dengan metagame jungler tank seperti Sejuani dan Gragas, karena ia sebenarnya bagus ketika memainkan champion-champion agresif seperti Lee Sin. Kita lihat saja di minggu ini apakah TSM memberikan kesempatan kepada Svens untuk bersinar menggunakan champ yang ia sukai.

 

Worlds Group Stage minggu kedua akan dimulai kembali pada tanggal 12 Oktober. Baca juga rekap pertandingan Worlds 2017 Group Stage minggu pertama pada artikel di bawah ini.

Day 1

Day 2

Day 3

Day 4

fusion jazz - vaporwave - instrumental hiphop

Facebook Twitter 

Leave a Reply


comments