Yohannes Siagian: SMA PSKD 1 Hadir Untuk Hilangkan Stigma Negatif Esports Lewat Edukasi

Yohannes Siagian: SMA PSKD 1 Hadir Untuk Hilangkan Stigma Negatif Esports Lewat Edukasi
Tech In Asia
Tech In Asia

Hello, Summoners!

Kali ini Hasagi mendapat sebuah kesempatan untuk berbincang-bincang dengan sosok di balik perintisan program Esports taraf SMA yang terletak di Jakarta. Beliau adalah Yohannes Siagian, yang sedang menjabat menjadi Kepala Sekolah dari SMA 1 PSKD Jakarta. Pastinya, kalian sudah tidak asing dengan SMA 1 PSKD Jakarta, bukan?

Yohannes Siagian, atau yang lebih akrab dipanggil “Kak Joey,” merupakan salah satu sosok penting di balik program Esports di SMA 1 PSKD Jakarta. Meskipun Esports cenderung dipandang negatif oleh masyarakat umum, tapi SMA 1 PSKD Jakarta malah melihat bahwa Esports merupakan sebuah jurusan yang harus diadakan di sekolah mereka.

Penasaran dengan program Esports di SMA 1 PSKD Jakarta? Langsung simak wawancara Hasagi dengan Kak Joey di bawah ini.

PSKD1_1

Halo Kak Joey, saya Toska dari Hasagi. Sebelum masuk ke pertanyaan, apakah mungkin Kak Joey bisa memperkenalkan terlebih dahulu? Nama dan Jabatan di SMA PSKD 1?

Hello, nice to meet you. Nama Saya Yohannes Siagian. Saya Kepala Sekolah SMA 1 PSKD Jakarta.

SMA PSKD 1 pernah booming karena ada program Esports, apakah bisa dijelaskan program Esports di SMA PSKD 1 itu seperti apa? Apakah bentuknya ekstrakulikuler atau jurusan?

Program eSports merupakan program pembinaan. Sekolah kami memiliki konsep bahwa selain pendidikan akademik formal, suatu sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk mendekatkan muridnya kepada cita-citanya dan untuk membantu mengembangkan minat bakat seorang murid.

Berbeda dengan “eskul” yang di kebanyakan sekolah hanya merupakan suatu kegiatan ala kadarnya untuk mengisi waktu murid selama 2-3 jam seminggu. Program Pembinaan merupakan program intensif yang dirancang agar terintegrasi penuh dengan progam akademik murid. Salam satu minggu sekitar 60% waktu murid di sekolah digunakan untuk program akademiknya, dan 40% digunakan untuk program pembinaannya.

Program pembinaan diharapkan menyiapkan murid untuk bisa melanjutkan karier ke bidang yang mereka dalami tersebut. Di SMA 1 PSKD kami memiliki banyak program pembinaan seperti eSports, Bola Basket, Theater, Entrepreneurship (Kewirausahaan), Music, Coding, dst.

Setiap harinya murid menghabiskan 3-5 jam pelajaran untuk mendalami bidang-bidang program pembinaan mereka. Selain itu bidang pembinaan masing-masing juga terintegrasi dengan pelajaran. Jadi misalnya seorang murid di Program Music dan Jurusan IPA mungkin akan mengerjakan suatu project mengenai peranan frekwensi dan gelombang pada nada music. Atau, seorang murid di program eSports yang mempelajari Ekonomi akan membuat penelitian mengenai teori ekonomi yang cocok diaplikasikan dalam farming sumber daya di game tertentu. (Di sekolah ini kita tidak mengenal PR, Ulangan, atau Ujian Semester/Tengah Semester. Setiap semester semua murid harus mengerjakan 7 project di masing-masing pelajaran, untuk bisa tuntas di pelajaran tersebut. 3 dari project tersebut diberikan oleh guru, dan 4 ditentukan oleh muridnya sendiri)

Pada awalnya, apa sih yang menginspirasi Kak Joey untuk memutuskan membuat program Esports di SMA PSKD 1?

Karena eSports secara jelas dan meyakinkan terlihat seperti suatu bidang yang memang menarik bagi anak SMA, memiliki potensi yang besar, dan sangat memungkinkan bagi seseorang untuk mengembangkan karier. (Ketiga hal ini merupakan beberapa kriteria dasar yang kami gunakan untuk menentukan apakah akan membuka suatu program pembinaan baru atau tidak)

Selain itu, semua indikator menunjukkan bahwa ekonomi dunia mulai bergerak ke arah digital, dan bahwa pasaran kerja bagi individu yang menguasai dunia digital akan sangat menguntunkan dan luas. eSports merupakan salah satu gateway bagi seorang murid SMA untuk masuk dan mengenal “dunia digital” serta komponen-komponennya.

Bagaimana reaksi para orangtua dan masyarakat terhadap keputusan tersebut? Bukankah Esports masih cenderung memiliki stigma negatif di masyarakat?

Secara umum tanggapan orang tua dan masyarakan relatif positif. Pasti ada sih yang komen-komen di media sosial atau page sekolah dengan komen negatif atau menjatuhkan. Tapi itu tidak mencapai 3% dari seluruh feedback yang kami peroleh komen negatif tersebut biasanya berasal dari pihak-pihak yang kurang paham, atau hanya menilai sekilas saja. Pada umumnya setelah kami jelaskan kepada orangtua atau masyarakat yang menanyakan, mereka bisa menerima dan memahami. Tidak sedikit yang justru menjadi pendukung dari program eSports kami.

Kalau stigma negatif di masyarakan pasti akan ada, tetapi kami melihat itu sebagai efek samping dari kurangnya edukasi mengenai eSports di masyarakan umum. Di sini peran media-media yang berkaitan dengan eSports sangat penting, karena semakin banyak konten yang ada di “dunia maya” mengenai eSports dan unsur-unsur positifnya, semakin mudah bagi eSports dikenal dan diterima oleh masyarakat.

Ada program Esports apa saja sih di SMA PSKD 1? 

Cabang yang aktif itu CS:GO, Overwatch, dan Dota 2. Kemudian ada League of Legends , Mobile Legends, dan AoV di tingkatan sedikit di bawahnya. Namun kami memberikan ijin untuk murid kami untuk berkompetisi dan mengembangkan tim di cabang apapun yang mereka rasa relevan (pengajuan cabang baru harus dipresentasikan kepada kepala sekolah dan dilandasi data dan fakta). Jadi ada banyak cabang eSports lain yang dimainkan oleh murid-murid di program eSports kami,

Per tahunnya, berapa sih murid yang daftar di program Esports? Berapa banyak juga yang keterima Kak?

Setiap tahun bervariasi, yang mendaftar biasanya bisa puluhan, tetapi yang kami terima hanya 2-3 murid/cabang setiap tahunnya.

Apa saja sih syarat masuk di program Esports SMA PSKD 1? (Nilai, kualifikasi, dll) 

Attitude yang positif, disiplin, dan kerelaan untuk berkerja keras merupakan kriteria terbesar. Semua calon murid SMA 1 PSKD wajib mengikuti proses seleksi akademik. Setiap tahunnya yang mengikuti proses seleksi akademik (semua murid, bukan hanya eSports saja) ada sekitar 300-400 calon murid, dan kita hanya menerima sekitar 55-65 murid setiap tahunnya.

Untuk masuk program eSports tidak ada kriteria kemampuan tertentu. Kriteria skill hanya diberlakukan bagi calon murid yang ingin mendaftar melalui jalur beasiswa. Namun sebenarnya jalur beasiswa tidak terlalu penting, karena SMA 1 PSKD memeberlakukan sistem dimana apabila seorang calon murid memang lolos dari seleksi akademik, namun biayanya di luar kesanggupan keluarganya, maka murid itu berhak mengajukan pembiayaan sesuai dengan
kesanggupan, dan kecuali ada alasan yang kuat bagi sekolah untuk meragukan kejujuran pengajuan tersebut, semua pengajuan akan diterima. Intinya, kamu boleh mengajukan harga untuk sekolahmu selama 3 tahun.

Nah, kalau beberapa pembaca kita minat untuk daftar di Esports SMA PSKD 1, bagaimana cara daftarnya Kak?

Tinggal menghubungi sekolah melalui telepon di (021) 3904418, atau email di: eSports[at]SMA1PSKD.com. Selain itu kamu juga aktif di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan Line, dimana semuanya menggunakan Id @SMA1PSKD.

Proses pendaftaran biasanya dimulai dengan pembelian formulir. Kemudian menjadwalkan wawancara dan tes akademik umum. Bagi calom murid yang mengajukan beasiswa juga ada tes skill bermain dan skill basic. Tes akademik umum meliputi matematika dasar, bahasa Inggris dasar, menulis, dan beberapa wawancara. Kalau untuk tes skill permainan berbeda berdasarkan cabang dan posisi yang dipegang oleh calon murid. Bagi murid dari luar Jakarta bisa juga menjadwalkan tes online untuk skill eSports. Tetapi murid yang test online belum resmi diterimanya sampai sudah lolos seleksi akademik, dan pernah mengikuti test secara langsung dengan staff atau pihak yang ditunjuk oleh SMA 1 PSKD (langkah ini diambil karena banyak kasus dimana calon murid mencari Joki atau menggunkan akun yagn dia beli dari pihak lain sehingga ratng yang tercatat tidak sesuai dengan level permainan calon murid tersebut).

Tolong berikan beberapa kalimat kepada orangtua yang menilai Esports negatif dong Kak, dan kenapa anak-anak mereka harus didukung passion-nya!

Well, pertama-tama, eSports sebenarnya sangat kental dengan skill-skill yang sangat relevan dan sangat diperlukan di dunia modern: Komunikasi, Problem Identification, Problem Solving, Teamwork, dst. Selain itu eSports juga melatih anak untuk menghadapi tekanan, untuk menghadapi kegagalan (dan kesuksesan, but you cant win every game), dan aspek mental lain yang mungkin tidak mereka dapat di lingkungan akademik murni. Berbagai penelitian membuktikan bahwa apabila seorang individu (tidak hanya anak saja) memiliki suatu passion atau bidang yang ia dalami selain bidang utamanya (sekolah/kerja/dst), maka overall prestasi yang ia capai akan relatif lebih tinggi daripada individu yang hanya fokus kepada 1 aspek saja.

Satu hal yang saya selalu bilang kepada orangtua adalah bahwa tidak ada gamer yang bodoh! Kenyataan bahwa seorang anak tertarik bermain game merupakan bukti bahwa ia menyukai tantangan dan memiliki kapasitas mental yang baik. Memang bermain game perlu dipantau dan disertai dengan edukasi mengenai gaming secara keseluruhan sehingga tidak terjadi hal-hal negatif, namun kenyataan itu berlaku bagi SEMUA bidang yang didalami oleh anak remaja. Sekolah dan belajar pun apabila dilakukan tanpa memandang keadaan anak dan diforsir terus bisa mengakibatkan hal-hal negatif di sang anak. Terakhir, orang tua perlu sadar bahwa eSports merupakan industri yang real, relevan, dan sangat memungkinkan bagi seorang individu untuk membangun karier. Ingat, karier eSports tidak hanya berarti pemain! Saat ini banyak perusahaan besar dunia sedang mencari staff yang memahami dan menguasai seluk beluk dunia eSports untuk mengisi berbagai jabatan. Tidak hanya sebagai pemain.

Nah, tadi orang tuanya kan sudah, sekarang untuk gamers yang masih ragu-ragu terjun ke Esports dong Kak!

Sama seperti yang saya sampaikan untuk orangtua. Ini bidang yang relevan! Ini bidang yang real! Dengan kerja keras dan usaha, kamu bisa menbangung suatu karier yang sangat sukses di bidang ini. TAPI saya tekankan bahwa kalian semua tetap harus mengembangkan diri kalian secara keseluruhan, tidak bisa hanya dengan bermain game saja. Kalian perlu banyak membaca, memahami berbagai ilmu lain, mengikuti perkembangan berita, dan aware dengan keadaan masyarakat dan lingkungan. Apabila kalian tidak melalukan hal-hal ini, kalian justru hanya akan punya satu kemampuan tanpa konteks sehingga tidak akan bisa mendapat hasil maksimal.

1513931955-belajar-game-eh-main-game
Malesbanget.com

***

Ternyata dunia Esports sungguh besar potensi-nya. Tidak hanya sekedar main game, tapi kita juga benar-benar diajarkan life-skills agar menyeimbangi passion kita dalam Esports. Gimana summoners, apakah kalian tertarik untuk mendaftarkan diri di SMA PSKD 1 Jakarta?

Angeline Vivian

Hello! My name is Angeline (Toska) Vivian! Saya mahasiswa Psikologi yang hobi banget main League of Legends! If you never try, you'll never know!!

Leave a Reply