Jadi Andalan Para Pemain LCS, Kenapa Akali Rework Jarang Dipilih Saat Solo Queue?

Jadi Andalan Para Pemain LCS, Kenapa Akali Rework Jarang Dipilih Saat Solo Queue?
Akali_OriginalSkin

Sejak mendapatkan rework, Akali sudah beberapa kali digunakan pada ajang NA dan EU LCS. Berdasarkan data yang dirilis oleh GamesofLegends, hingga saat ini Akali Rework sudah lima kali tampil di panggung turnamen League of Legends terbesar di Benua Biru tersebut.

Febiven dari Cluctch Gaming dan OpTic Gaming PowerofEvil menjadi dua sosok dari NA LCS yang sudah menjajal Akali di ajang kompetitif. Sementara di EU ada Caps (Fnatic), Perkz (G2 Esports) dan NukeDuck (Schalke04) yang sudah beraksi menggunakan Akali di Midlane.

Ada perbedaan mencolok antara kedua region tersebut. Akali selalu mengalami kekalahan setiap muncul di ajang NA LCS, seperti yang bisa kalian saksikan pada laga Cluctch Gaming vs FlyQuest dan OpTic Gaming vs Team Liquid yang berlangsung pada pekan kedelapan.

G2vsUOLWeek8EULCSSummer2018

Sementara di EU LCS Akali sukses menyapu bersih kemenangan dalam tiga laga yang diikutinya, yaitu Fnatic vs Giants Gaming, Schalke04 vs Team Vitality dan Unicorn of Love vs G2 Esports yang terjadi pada pekan kedelapan EU LCS Summer.

Melihat statistik di atas, berarti dari lima kali penampilan di ajang LCS Akali sukses meraih 3 kemenangan dan dua kali kalah. Total Akali sukses mencatatkan Win Rate sebesar 60%. Angka tersebut berbeda cukup jauh jika dibandingkan dengan Win Rate Akali di Solo Queue yang hanya sebesar 42,51%.

Apa sih sebenarnya yang berbeda antara jenjang profesional dengan Solo Queue?

Azir Syndrome


Azir_2

Istilah ini mulai dikenal pada 2015. Sama seperti apa yang dialami Akali saat ini, kala itu Azir merupakan champion yang kerap dipilih para pro player namun memiliki Win Rate yang sangat buruk di Solo Queue.

Azir memang termasuk dalam daftar champion dengan tingkat pemahaman tersulit. Berulang kali Riot mendatangkan Buff untuk sosok berjuluk The Emperor of the Sands tersebut, sayang hal tersebut tak mampu untuk menarik minat pemain untuk memahami cara menggunakannya dengan baik.

Hal inilah yang saat ini sedang dirasakan oleh Akali. Dirancang sedikit berbeda dengan Assassin di League of Legends pada umumnya, Akali membutuhkan dukungan serta “celah” yang cukup besar apabila ingin melancarkan Damage yang optimal. Hebatnya, para pemain profesional di luar sana sudah fasih dalam hal tersebut.

Komunikasi


Caps

Sejak rework rilis, Akali banyak sekali dimainkan sebagai Split Pusher. Kemampuannya untuk melarikan diri dengan baik sangat menunjang tugas tersebut. Sayangnya, saat Solo Queue, terutama di ELO rendah, kesulitan dalam melakukan komunikasi menjadi kendala utama. Tanpa komunikasi yang baik, Akali tidak akan bisa menjalankan tugasnya dengan optimal.

Selain itu, penempatan Vision Ward di area tertentu juga banyak mempengaruhi keberhasilan strategi Split Pushing Akali ini. Pergerakan ini berisiko, jadi perlu banyak persiapan agar rekan-rekan setim bisa langsung bergerak saat dibutuhkan.

Kedua hal di atas merupakan sebuah pembeda kenapa Akali versi pemain pro lebih sukses dibandingkan dengan Akali di Solo Queue. Potensi Akali sejak rework sebenarnya sangat besar, namun sulit untuk bisa memaksimalkannya jika kalian masih memiliki kendala dengan dua hal tersebut.

Raka Marko

Leave a Reply