Legends Rising 2 Teaser: Smeb

Legends Rising 2 Teaser: Smeb

Dalam sebuah cerita, seekor kelinci berhasil memenangkan sebuah perlombaan. Dia bersantai bersandar di kursi tahtanya, menunggu kura-kura yang berjalan menuju garis akhir. Di dunia nyata, kelinci itu adalah Faker, dan Smeb adalah kura-kuranya.

Smeb

Mungkin cerita itu sudah sampai ke dunia kita. Kedua pemain tersebut tidak bisa menjadi dua pemain terbaik dunia. Hanya satu orang yang telah memperoleh juara dunia dua kali, dan hanya satu pemain yang bisa menjadi dewa League of Legends. Jikapun ada, hanya ada beberapa pemain yang bisa mendapatkan perhatian sebesar Faker, sebelum itu semua hanya menjadi sebuah sensasi.

Di sisi lain, Smeb muncul di permukaan untuk merusak raihan sang kelinci. Bersama temannya Kuro dan Jungler tim Immortals, Reignover, mereka dicap sebagai “spesialis kegagalan”. Sekumpulan orang yang seharusnya tidak pantas untuk menjadi bintang.

Smeb dulu dikenal sebagai Top-laner terburuk di Korea. Bahkan Smeb sendiri berkata, “pada waktu itu, semuanya memang benar.”

Korea dikenal sebagai produsen pemain terbaik di dunia, tapi disamping pernyataan itu, mereka selalu tumbang ketika membicarakan seorang Top-laner andalan jika diadukan dengan tim dari Region lainnya. Bahkan dulu Smeb adalah yang terburuk, namun sekarang tidak lagi. Lihat saja pada penghargaan MVP di LCK Season demi Season.

Kemampuannya yang sebenarnya dimulai ketika the Tigers pertama kali dibentuk di awal Season 2014. Mereka berhasil meraih sukses di kompetisi domestik, tapi selalu kalah di tangan SKT. Pada final Spring Split, kekalahan mereka dari SKT sungguh diperkirakan oleh khalayak umum dikarenakan mereka memang masih tim baru pada saat itu. Namun tak disangka, dalam status yang masih sama, mereka bahkan berhasil merangsek ke babak final di Worlds di tahun yang sama.

Mereka selalu menjadikan kritik sebagai bahan bakar mereka untuk melesat terbang. Smeb perlahan mengukuhkan statusnya sebagai Top-laner terbaik dengan membawa the Tigers ke final. Tapi status tim anak bawang yang melekat pada tim hanyalah sebuah angin lalu. Smeb berkata, “Kami selalu berpikir tidak masalah meskipun kita kalah. Kami dipandang sebagai tim kelas dua. Kami bahkan tidak memiliki satu pemain pun di daftar 20 pemain terbaik dunia.” Jadi ketika mereka berhadapan dengan SKT dan hanya berjarak beberapa kemenangan untuk menjadi yang terbaik di dunia, yang mereka rasakan pada saat itu hanyalah rasa tak percaya.

The Tigers tidak dipersiapkan untuk mencapai partai final seperti yang SKT alami. Ketika SKT sudah banyak memenangkan penghargaan the Tigers bukanlah apa-apa. Meskipun mereka juga terbilang sukses, the Tigers pernah mengalami kesulitan akan kecilnya dukungan dari pihak sponsor sehingga membuat Smeb dan kawan-kawan sedikit khawatir akan laju mereka di turnamen besar.

Tapi bersama-sama mereka menghadapinya dengan senyuman. Bagi Smeb sendiri, penting rasanya untuk tetap menjaga identitas mereka yang “bermain untuk kesenangan.”

“Aku adalah orang yang suka bercanda di tim. Aku selalu memberi tahu mereka bahwa ‘aku yang terbaik’, lalu berkata pada semua orang, dan aku tahu bahwa mereka sama sekali tidak menghiraukanku,” katanya.

Mungkin mereka adalah satu-satunya orang yang menghiraukan Smeb sekarang. The Tigers akan selalu menjadi favorit di turnamen League of Legends. Ini selalu menjadi akhir dari setiap dongeng. Cerita di mana bahwa kura-kura juga bisa mengalahkan si kelinci.

Tapi sama seperti orang di seluruh dunia, poros mereka adalah pada sesuatu yang bersinar. Tidak banyak mereka yang mau mengakui tim kedua terbaik. Mereka sudah cukup lama berada dalam bayang-bayang SKT. Kali ini, mungkin Smeb akan bisa meninggalkan bayang-bayang tersebut dan memindahkannya ke belakangnya.

Hi, I'm Edel, Founder and Editor of HASAGI. Nice to meet you!

Facebook Twitter 

Leave a Reply