Sejak pertama kali diperkenalkan, sistem franchising (waralaba) digadang-gadang sebagai masa depan cerah bagi ekosistem esports League of Legends. Dengan janji stabilitas finansial dan perlindungan bagi investor, sistem ini secara permanen mengubah wajah kompetisi di wilayah besar seperti LCS dan LEC.
Namun, sebuah diskusi panas yang baru-baru ini viral di komunitas Reddit justru mempertanyakan hal sebaliknya: Apakah franchising sebenarnya adalah kesalahan terbesar Riot Games?

Argumen terkuat yang muncul adalah matinya sistem “Meritokrasi”. Sebelum era franchising, setiap tim harus bertarung nyawa untuk menghindari degradasi atau memperebutkan promosi. Sistem ini melahirkan kisah-kisah legendaris seperti G2 Esports atau Origen yang merangkak dari liga bawah hingga mengguncang dunia.
Kini, tanpa ancaman degradasi, beberapa organisasi dituduh menjadi “puas diri” (complacent). “Tanpa risiko kehilangan slot, tidak ada tekanan nyata bagi tim papan bawah untuk berinvestasi pada talenta terbaik atau menciptakan konten kreatif. Mereka cukup bertahan di liga dan menerima bagi hasil pendapatan,” tulis salah satu komentar populer dalam diskusi tersebut.
Franchising juga dianggap memicu gelembung ekonomi yang kini mulai pecah. Masuknya modal ventura besar memaksa gaji pemain melonjak hingga angka jutaan dolar—angka yang seringkali tidak sebanding dengan pendapatan nyata yang dihasilkan tim. Akibatnya, saat ini kita melihat tren efisiensi besar-besaran: studio yang mengecil, pengurangan staf produksi, hingga pembubaran tim-tim bersejarah yang tak lagi sanggup menanggung biaya operasional.
Hilangnya jalur promosi otomatis dianggap memutus rantai pertumbuhan bakat lokal. Di masa lalu, tim-tim baru bisa membawa lima talenta muda berbakat langsung ke panggung utama. Sekarang, pemain muda harus melewati jalur akademi yang seringkali dianggap sebagai “jalan buntu” strategis.
Fenomena Los Ratones di musim 2026 ini menjadi bukti nyata betapa haus para penggemar akan narasi tim underdog. Meskipun mereka bukan tim franchise tradisional, keterlibatan tokoh-tokoh ikonik dan perjuangan mereka dari nol berhasil menarik angka penonton yang jauh melampaui tim-tim besar yang sudah mapan.
Meski demikian, tidak semua pihak menyalahkan franchising. Para pendukungnya berargumen bahwa tanpa sistem ini, sponsor besar tidak akan berani masuk karena risiko investasi yang terlalu tinggi. Franchising memberikan landasan bagi esports untuk diakui sebagai profesi yang sah secara hukum dan finansial.
Tantangan bagi Riot Games ke depan adalah bagaimana menjaga stabilitas investor tanpa harus mengorbankan gairah kompetitif dan pertumbuhan talenta yang pernah membuat League of Legends begitu dicintai di masa format liga terbuka. Apakah perubahan format turnamen belakangan ini adalah upaya Riot untuk “mengobati” dampak samping franchising? Hanya waktu yang akan menjawab.