Siapa yang tak kenal Lee Sang-hyeok? Kalau kamu main League of Legends, nama Faker bukan sekadar nama pemain pro, tapi sudah jadi standar “Dewa” di dunia e-sports. Lahir di Seoul pada 7 Mei 1996, Faker tumbuh besar di lingkungan yang sederhana dan dibesarkan oleh ayah serta kakek-neneknya.
Sejak kecil, dia memang sudah punya bakat alami di dunia logika dan puzzle, yang akhirnya membawanya jatuh cinta pada video game. Sebelum mendominasi Summoner’s Rift, Faker sempat asyik main map custom di Warcraft III, yang secara tidak langsung mengasah insting mikro dan makronya sebelum akhirnya pindah ke League of Legends dengan nickname legendaris Gojeonpa (고전파).
Karier profesionalnya meledak secara instan saat ia bergabung dengan SK Telecom T1 pada tahun 2013. Momen debutnya langsung menjadi buah bibir dunia ketika ia berhasil melakukan solo kill terhadap Ambition, pemain Mid-lane terbaik Korea saat itu.

Di tahun yang sama, dunia terpana melihat duel mekanik ikonik Zed vs Zed melawan Ryu, yang sampai sekarang masih dianggap sebagai play terbaik sepanjang sejarah League of Legends. Tak butuh waktu lama bagi Faker untuk mengangkat trofi juara dunia pertamanya di tahun debutnya tersebut, menandai dimulainya era dominasi mutlak yang membuat para penggemar menjulukinya sebagai “Unkillable Demon King”.
Namun, perjalanan Faker nggak selalu mulus dan penuh trofi. Setelah kemenangan beruntun di tahun 2015 dan 2016, Faker sempat mengalami masa-masa sulit, termasuk kekalahan menyakitkan di final World Championship 2017 yang membuatnya terekam menangis di depan ribuan penonton.
Banyak orang mulai meragukan apakah masanya sudah habis, apalagi dengan munculnya talenta-talenta muda yang lebih agresif. Tapi, Faker membuktikan bahwa ia bukan cuma soal mekanik, tapi juga mental baja. Ia berevolusi dari seorang assassin yang egois menjadi pemimpin tim yang bijak, membimbing generasi muda T1 (Zeus, Oner, Gumayusi, Keria) untuk kembali ke puncak dunia.
Puncak kejayaan yang benar-benar mengukuhkan statusnya sebagai “G.O.A.T” sejati terjadi pada periode emas 2023 hingga 2025. Faker berhasil mematahkan kutukan masa lalu dengan mencetak sejarah three-peat, yaitu menjuarai World Championship tiga kali berturut-turut pada tahun 2023, 2024, dan 2025.
Gelar juara dunia ke-4, ke-5, dan ke-6 ini ia raih dengan kepemimpinan yang luar biasa di T1, membuktikan bahwa meskipun usianya sudah sangat senior untuk ukuran atlet e-sports, mekanik dan insting strateginya justru makin matang.
Faker bukan lagi sekadar atlet; ia adalah simbol dedikasi tanpa batas yang membuktikan bahwa rasa lapar akan kemenangan bisa membuat seseorang tetap menguasai puncak dunia selama lebih dari satu dekade, bahkan di era persaingan yang jauh lebih ketat.
Pasti belum lengkap rasanya kalau membahas Faker tanpa menyebutkan penghormatan tertinggi yang pernah ada di dunia League of Legends, yaitu Hall of Legends. Pada tahun 2024, Riot Games secara resmi meluncurkan “Hall of Fame” versi mereka sendiri, dan tentu saja tidak ada nama lain yang lebih pantas menjadi pelantik pertama selain sang raja, Faker.
Penobatan ini bukan cuma sekadar plakat atau ucapan selamat, tapi merupakan pengakuan global bahwa Faker adalah standar emas yang mendefinisikan apa artinya menjadi seorang atlet e-sports profesional. Sebagai bagian dari perayaan ini, Riot bahkan merilis skin spesial “Hall of Legends” untuk champion andalan Faker, LeBlanc dan Ahri, yang desainnya dipenuhi detail perjalanan kariernya.
Penobatan ini juga menjadi momen yang sangat emosional bagi para penggemar, karena kita diingatkan kembali bagaimana Faker tetap setia pada satu tim, T1, sejak awal kariernya hingga sekarang.
Di tengah tren pemain pro yang sering berpindah tim demi gaji lebih besar, loyalitas dan dedikasi Faker untuk terus membangun warisan di Korea Selatan adalah sesuatu yang sangat langka.
Hall of Legends ini seolah menjadi monumen hidup yang menegaskan bahwa meskipun suatu saat nanti Faker memutuskan untuk pensiun, pengaruhnya akan tetap abadi dan sulit untuk digantikan oleh siapa pun di masa depan.
Puncak pengakuan atas kontribusi Faker tidak hanya datang dari komunitas game, tetapi juga dari level tertinggi pemerintahan negaranya.
Pada awal Januari 2026, Faker secara resmi menerima Cheongnyong Medal (Blue Dragon Medal), yaitu penghargaan olahraga tertinggi di Korea Selatan, yang diserahkan langsung oleh Presiden Lee Jae-myung dalam acara perayaan Tahun Baru di Cheong Wa Dae. Medali ini menempatkan Faker di jajaran elit pahlawan nasional Korea, sejajar dengan legenda olahraga tradisional seperti pemain sepak bola Son Heung-min dan atlet seluncur indah Kim Yuna.
Penghargaan ini diberikan bukan tanpa alasan; selain karena torehan 6 gelar juara dunia dan medali emas di Asian Games, Faker dianggap sebagai pionir yang mengangkat martabat bangsa melalui industri e-sports. Momen ini menjadi tonggak sejarah yang sangat emosional karena Faker adalah atlet e-sports pertama yang menerima medali kelas satu dari Order of Sports Merit.
Pengaruh Faker sudah jauh melampaui batas layar monitor. Di dunia e-sports, ia adalah standar emas profesionalisme yang berhasil mengubah stigma “anak warnet” menjadi atlet berprestasi yang dihormati secara global.
Jika generasi mendatang akan tumbuh dewasa dan ingin menjadi seperti Faker, maka saya akan melakukan yang terbaik untuk memberikan contoh yang baik.—Faker
Pengaruhnya secara nyata terlihat dari bagaimana merek-merek raksasa dunia seperti BMW, Nike, hingga Samsung menjadikannya wajah utama, membuktikan bahwa daya tarik seorang pemain game kini sejajar dengan bintang Hollywood atau atlet NBA.
Bahkan, dampak ekonominya sangat besar; ia memiliki gedung sendiri bernama Faker Tower di Seoul dan menjadi magnet investasi miliaran dolar bagi industri kreatif di Korea Selatan.
Lebih dari itu, Faker adalah simbol harapan yang membuktikan bahwa dengan disiplin dan kerendahan hati, seseorang bisa tetap berada di puncak dunia selama lebih dari satu dekade.