HASAGI
Esports

Gagal Lolos Evaluasi Kemenpora, Cabang Fighting Game Batal Berangkat ke Asian Games 2026

Kabar kurang menyenangkan harus diterima oleh komunitas game tarung tanah air menjelang bergulirnya ajang multievent bergengsi di Asia. Dilansir dari +CREW, pihak PB ESI bersama Kemenpora dilaporkan telah resmi merampungkan seluruh proses finalisasi fase Entry by Name kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 Aichi–Nagoya. Namun sangat disayangkan, dari total sembilan nomor esports yang awalnya diajukan, kini hanya tersisa delapan nomor saja yang dipastikan lolos verifikasi akhir.

Satu-satunya sektor yang terpaksa harus menyuarakan kekecewaan mendalam karena terkena pangkas kuota adalah cabang Competitive Martial Arts (CMA). Berdasarkan laporan dari +CREW, nomor fighting game yang menyatukan panggung bagi game Tekken 8, Street Fighter 6, serta KOF XV ini resmi dicoret dari daftar keberangkatan. Keputusan berat tersebut diambil secara resmi setelah melewati rangkaian proses evaluasi dan penyaringan ketat yang dilakukan oleh pihak PPON Kemenpora.

Meskipun harus kehilangan satu sektor potensial, Indonesia dipastikan tetap mengirimkan delegasi terbaiknya untuk delapan nomor kompetisi lainnya. Berdasarkan konfirmasi dari +CREW, nomor-nomor seperti HOK, Identity V, Naraka: Bladepoint, MLBB, PUBG Mobile, eFootball, Gran Turismo, dan Pokémon UNITE masih aman melaju. Seluruh jajaran atlet dari delapan cabang andalan tersebut kini terus bersiap untuk mengemban misi besar dalam membawa pulang medali ke tanah air.

Menanggapi hasil pemangkasan kuota atlet ini, pihak manajemen timnas dari PB ESI memilih untuk bersikap sangat bijak dan realistis. Mereka menegaskan bahwa pihak federasi menghormati penuh segala keputusan serta hasil peninjauan teknis yang dikeluarkan oleh pihak PPON Kemenpora. Guna menyiasati hal ini, sisa anggaran dan tenaga yang ada kini akan dialihkan sepenuhnya demi mendongkrak persiapan nomor game yang tersisa.

Fenomena pencoretan ini pun langsung memicu gelombang diskusi yang sangat hangat di kalangan para pencinta dan pengamat industri game lokal. Banyak pihak menilai langkah ini sebagai bentuk taktik efisiensi yang masuk akal demi mengamankan target medali yang jauh lebih realistis di Jepang. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula penggemar yang merasa bahwa ekosistem fighting game masih sering dipandang sebelah mata di Indonesia.

Exit mobile version