Lee Min-hyeong, sang maestro yang kini mendominasi panggung dunia dengan nama Gumayusi, adalah sosok yang lahir dari persimpangan antara ambisi besar dan kesabaran yang luar biasa. Tumbuh besar dalam keluarga yang memiliki tradisi kompetitif yang kental—sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara dan adik kandung dari legenda StarCraft II, Innovation—Gumayusi tidak pernah memandang kemenangan sebagai sebuah pilihan, melainkan sebuah kewajiban moral.

Sejak bergabung dengan T1 Rookies pada tahun 2018, ia tidak langsung mendapatkan sorotan lampu panggung. Ia adalah sang penyabar yang rela menghuni bangku cadangan, mengamati, dan mengasah instingnya di balik bayang-bayang kebesaran seniornya. Di masa-masa penantian itu, ia tidak pernah ragu sedikit pun; ia justru memupuk kepercayaan diri yang kelak akan mengguncang dunia, sebuah keyakinan yang ia sebut sebagai “God’s Will” atau takdir ilahi yang telah menuliskan namanya di puncak tertinggi.
Era kejayaannya benar-benar meledak ketika ia dipertemukan dengan Keria, sosok pendukung jenius yang menjadi pelengkap sempurna bagi gaya mainnya yang presisi. Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah simfoni jalur bawah yang belum pernah dilihat sebelumnya di jagat League of Legends.
Jika Keria adalah pelukis yang menebarkan warna-warna imajinatif melalui champion pool yang tak terbatas, maka Gumayusi adalah sang arsitek yang memastikan setiap garis serangan ditarik dengan ketajaman yang absolut. Duet “Guma-Ke” ini bukan sekadar rekan setim; mereka adalah denyut nadi T1 yang membawa tim tersebut bangkit dari puing-puing kegagalan menuju singgasana World Champions dua kali berturut-turut pada 2023 dan 2024.
Gumayusi menjadi simbol stabilitas—seorang ADC yang tetap berdiri tegak dengan posisi sempurna di tengah kekacauan pertempuran besar, memastikan bahwa setiap anak panah atau peluru yang ia lepaskan membawa T1 selangkah lebih dekat menuju keabadian.
Namun, di tengah kemegahan takhta yang telah ia bangun di T1, sebuah babak baru yang penuh keberanian akhirnya terbuka. Dunia dikejutkan ketika sang jenderal jalur bawah ini memilih untuk menanggalkan jubah merah-hitam yang telah menjadi kulit keduanya dan melangkah menuju ufuk baru bersama Hanwha Life Esports pada musim 2025.
Jika tujuan saya adalah menjadi pemain terbaik di dunia, saya tidak bisa selamanya bertahan di T1. —Gumayusi
Perpisahan ini terasa sangat dramatis, menandai berakhirnya era keemasan formasi “ZOFGK” yang telah dianggap sebagai keluarga oleh jutaan penggemar. Di HLE, Gumayusi hadir bukan sebagai bintang yang mencari perlindungan, melainkan sebagai prajurit baru yang membawa misi suci untuk membuktikan identitas aslinya.
Ia meninggalkan zona nyaman demi sebuah tantangan yang lebih besar: membangun dinasti dari titik nol dan membuktikan bahwa cahaya sang “Monster ADC” tidak akan pernah redup meski ia kini bertarung di bawah panji oranye. Langkah ini menegaskan bahwa Gumayusi tidak pernah takut pada perubahan, karena baginya, di mana pun ia berpijak, ia tetaplah penguasa takdir yang akan selalu menemukan jalan menuju kemenangan.