Kehadiran bintang Filipina di MPL Indonesia kini dibarengi dengan tren yang menarik: mereka makin jago bahasa Indonesia. Pemain seperti Kairi dan Kelra membuktikan bahwa untuk sukses di sini, mereka tidak hanya butuh mekanik hebat, tapi juga harus bisa menyatu dengan budaya lokal. Kemauan mereka mempelajari bahasa kita menjadi simbol dedikasi tinggi bagi karier profesional mereka di tanah air.
Banyak yang penasaran apakah mereka ikut kelas khusus untuk belajar bahasa. Ternyata, rata-rata dari mereka belajar secara murni mandiri atau otodidak. Karena jadwal latihan yang sangat padat, mereka memilih belajar langsung melalui obrolan sehari-hari di Gaming House. Dengan sering mendengarkan dan mencoba bicara dengan teman setim, mereka bisa menguasai bahasa kita jauh lebih cepat daripada belajar di kelas formal.

Salah satu contoh sukses asimilasi ini adalah Yawi. Meski kini ia sudah resmi pensiun dari skena kompetitif, kenangannya saat membela Aura Fire meninggalkan kesan mendalam karena ia sangat cepat menguasai bahasa Indonesia. Yawi pernah bercerita bahwa kuncinya adalah jangan pernah malu untuk bertanya atau salah ucap saat mencoba berbicara dengan orang-orang di sekitarnya.
Alasan utama mereka sangat gigih belajar bahasa Indonesia adalah demi kemenangan tim. Dalam pertandingan Mobile Legends yang bertempo cepat, instruksi singkat seperti balik, sikat, atau tahan sangat krusial. Menggunakan bahasa yang dipahami seluruh tim membuat respon saat teamfight menjadi lebih instan dan meminimalisir risiko salah paham yang bisa berakibat kekalahan.
Kemampuan berbahasa Indonesia juga membuat pemain asing lebih mudah merebut hati penggemar. Mereka tidak lagi dipandang sebagai orang asing, melainkan bagian dari keluarga besar esports Indonesia. Kesediaan mereka belajar secara mandiri menunjukkan profesionalisme sejati; mereka datang bukan sekadar untuk bekerja, tapi benar-benar ingin membangun koneksi yang kuat dengan ekosistem dan fans di sini.