Dunia League of Legends baru saja merayakan Faker sebagai penghuni pertama Hall of Legends. Namun, saat kita bicara tentang siapa yang harus berdiri di samping sang GOAT, mata dunia seharusnya tertuju pada satu nama yang telah mendefinisikan arti kesetiaan, ketangguhan, dan transformasi di Barat: Martin “Rekkles” Larsson.
Memasukkan Rekkles ke Hall of Legends bukan hanya soal statistik, tapi soal menghormati narasi terbesar yang pernah dimiliki oleh LEC.

Jika Faker adalah wajah dari League of Legends secara keseluruhan, maka Rekkles adalah wajah dari profesionalisme esports itu sendiri. Sejak debutnya di usia 16 tahun bersama Fnatic, Rekkles telah membangun citra sebagai pemain yang tidak hanya unggul di dalam permainan, tetapi juga menjadi standar emas bagaimana seorang atlet esports bersikap.
Popularitasnya tidak terbatas di Eropa; fans di China dan Korea Selatan pun menaruh hormat yang luar biasa kepadanya, sebuah pencapaian yang jarang diraih oleh pemain Barat.
Dalam industri di mana karier pemain sering kali hanya bertahan 3-4 tahun, Rekkles telah berkompetisi di level elit selama lebih dari 10 tahun. Ia adalah pemegang rekor kill terbanyak di LEC pada masanya, kolektor gelar MVP, dan kapten yang membawa Fnatic ke final Worlds 2018—pencapaian tertinggi tim Barat di era modern. Ia bukan sekadar “pemain bagus”; ia adalah standar bagi setiap ADC yang lahir setelahnya.
Hall of Legends harus merayakan mereka yang berani berevolusi. Keputusan Rekkles untuk pindah ke Korea Selatan, bergabung dengan T1 Academy, dan berganti peran dari ADC legendaris menjadi seorang Support di usia yang tidak lagi muda adalah bukti dedikasi murni terhadap game ini.
Ia rela menanggalkan status “bintang utama” demi belajar kembali dari nol di region tersulit di dunia. Ini bukan tanda penurunan karier, melainkan bukti bahwa kecintaannya pada League of Legends melampaui ego pribadinya.
Sejarah Rekkles tidak bisa dipisahkan dari Faker. Keduanya adalah saksi hidup sejarah League of Legends sejak Season 3. Rekkles adalah pemain yang selalu mengejar standar yang ditetapkan Faker. Melihat keduanya berada dalam satu organisasi (T1) saat ini seolah menutup lingkaran takdir yang sangat puitis.
Memberikan gelar Hall of Legends kepada Rekkles adalah bentuk apresiasi terhadap rivalitas sehat yang telah membangun ekosistem esports global selama ini.
Hall of Legends bukan hanya tempat bagi mereka yang memiliki trofi Worlds terbanyak—jika demikian, maka daftar tersebut hanya akan berisi pemain Korea dan China. Hall of Legends adalah tempat bagi mereka yang meninggalkan jejak abadi pada budaya dan sejarah game ini.
Rekkles telah memberikan segalanya: air mata, kesetiaan pada Fnatic, keberanian untuk gagal, dan semangat untuk terus belajar. Ia adalah bukti bahwa seorang legenda tidak diukur dari berapa kali ia menang, tapi dari bagaimana ia tetap berdiri tegak setelah berkali-kali jatuh. Martin “Rekkles” Larsson adalah wajah dari League of Legends Eropa, dan sudah saatnya dunia memberikan penghormatan tertinggi untuknya.