Jeong “Chovy” Ji-hoon memulai langkah profesionalnya di dunia League of Legends pada akhir 2017 bersama tim Griffin. Namanya mulai meledak pada tahun 2018 ketika ia berhasil membawa Griffin melakukan promotion ke LCK dan langsung mendominasi liga tersebut dengan gaya bermain yang revolusioner.
Di bawah asuhan pelatih cvMax, Chovy dikenal sebagai pemain yang memiliki kemampuan laning yang nyaris sempurna, sering kali unggul jauh dalam jumlah creep score (CS) meskipun dalam situasi tertekan.

Setelah masa kejayaannya di Griffin, Chovy sempat memperkuat beberapa tim besar lainnya seperti DRX dan Hanwha Life Esports, sebelum akhirnya menemukan rumah yang tepat di Gen.G pada akhir 2021. Bersama Gen.G, Chovy berhasil mematahkan narasi bahwa dirinya adalah pemain yang “bagus di liga namun sulit juara”, dengan mendominasi kancah domestik Korea Selatan selama beberapa musim terakhir.
Prestasi Chovy di kancah LCK sangatlah mentereng, terutama setelah bergabung dengan Gen.G. Ia mencatatkan sejarah dengan meraih empat gelar juara LCK secara berturut-turut (four-peat), sebuah pencapaian yang membuktikan konsistensi luar biasanya di level tertinggi.
Tak hanya di level klub, Chovy juga merupakan pemegang medali emas Asian Games 2022 mewakili Korea Selatan, sebuah prestasi yang memberikannya pembebasan wajib militer dan semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu aset nasional di bidang esports.
Di panggung internasional, meskipun gelar World Championship masih menjadi misi besarnya yang belum tuntas, Chovy telah berhasil meraih trofi Mid-Season Invitational (MSI) 2024, yang sekaligus membuktikan kemampuannya untuk menaklukkan tim-tim terbaik dari seluruh dunia.
Di balik layar, Chovy dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin dan memiliki etos kerja yang tinggi. Rekan-rekan setimnya sering menggambarkan dirinya sebagai pemain yang sangat perfeksionis dalam hal mekanik permainan, namun tetap memiliki kepribadian yang tenang dan membumi.
Kehidupan pribadinya jauh dari gosip atau kontroversi; ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berlatih dan melakukan streaming untuk berinteraksi dengan penggemarnya.
Kesederhanaan Chovy juga terlihat dari caranya menanggapi pujian sebagai “Midlaner terbaik dunia”, di mana ia selalu menekankan bahwa fokus utamanya adalah memenangkan pertandingan untuk tim, bukan sekadar statistik pribadi.
Kedekatannya dengan sang ibu juga sering menjadi sorotan hangat di kalangan komunitas, di mana ibunya kerap hadir di arena untuk memberikan dukungan langsung di setiap laga krusial.
Ada beberapa fakta menarik yang membuat Chovy unik di mata komunitas global. Salah satu yang paling ikonik adalah keberhasilannya mencatatkan rekor KDA sebesar 104 pada LCK Spring 2019, sebuah angka yang dianggap mustahil untuk dicapai di liga seketat Korea.
Selain itu, muncul istilah populer “Chovy CS” atau “Chovy Horizon”, yang merujuk pada kemampuannya untuk selalu unggul 100 CS lebih banyak dari lawannya di pertengahan laga.
Menariknya lagi, meski kini dikenal sebagai dewa di posisi midlane, Chovy sebenarnya memulai kariernya sebagai pemain yang sangat menyukai peran top lane dengan juara andalan seperti Cassiopeia. Kini, dengan statusnya sebagai wajah utama Gen.G, Chovy terus menjadi standar emas bagi para pemain muda yang ingin mempelajari seni mengendalikan jalur dan memenangkan permainan melalui keunggulan sumber daya yang efisien.
Tidak lengkap membahas Chovy tanpa menyebut persaingannya yang sengit dengan sang “Demon King”, Faker. Rivalitas ini sering dijuluki sebagai bentrokan antara GOAT (Greatest of All Time) melawan pemain terbaik di era modern.
Dalam beberapa tahun terakhir, dominasi Chovy di kancah domestik LCK sangat terasa, di mana ia sering kali unggul dalam statistik individu dan membawa Gen.G menumbangkan T1 di berbagai partai final. Faker sendiri mengakui bahwa Chovy adalah rival terberatnya saat ini, yang memaksanya untuk terus berevolusi demi mengimbangi mekanik nirkelas sang junior.
Saya tidak bermain untuk menjadi ‘Faker berikutnya’. Saya bermain untuk menjadi Chovy yang pertama. Menghormati legenda adalah keharusan, tetapi melampaui mereka adalah tujuan.
Meski Chovy sering memenangkan pertempuran di liga lokal, Faker tetap menjadi “tembok besar” yang sulit ditembus di panggung World Championship, menciptakan narasi rivalitas yang sangat dinamis: Chovy sebagai penguasa konsistensi harian, dan Faker sebagai penguasa panggung termegah.
Pertemuan keduanya selalu menjadi jaminan angka penonton tertinggi, karena bagi para penggemar, setiap duel di midlane antara mereka adalah penentuan siapa yang berhak memegang tongkat estafet kejayaan League of Legends dunia.