Egor “Nightfall” Grigorenko dikenal sebagai salah satu carry paling jenius dan memiliki mekanik luar biasa di skena kompetitif Dota 2. Namun sayangnya, karier cemerlang pemain asal Rusia ini harus dibayangi oleh sebuah catatan kelam yang seolah menjadi mimpi buruknya, yaitu kutukan abadi sebagai spesialis runner-up.
Siapa sangka, trofi juara turnamen Tier-1 pertama dan terakhir yang pernah dicicipi oleh Nightfall didapatkan sudah sangat lama sekali, tepatnya pada tahun 2020 silam. Kala itu, ia berhasil membawa timnya menjuarai EPIC League Season 2 Division 1 setelah menumbangkan sang juara TI dua kali, OG. Setelah momen itu, takhta juara seolah menjauh darinya.
Daftar kegagalan Nightfall di babak Grand Final bener-bener panjang dan bikin nyesek. Di panggung DreamLeague saja, ia tercatat kalah empat kali di partai puncak (S20, S22, S28, dan S29) dari tim yang berbeda-beda seperti Gaimin Gladiators, Team Falcons, Tundra Esports, hingga Parivision. Seolah dirinya memang terperangkap dalam kutukan.

Selain sering dijegal oleh kedigdayaan Team Falcons di ajang ESL Birmingham dan BetBoom Dacha 2024, Nightfall belakangan ini juga harus menerima kenyataan pahit ditumbangkan oleh mantan timnya sendiri, BetBoom Team, di babak final turnamen besar seperti PGL Wallachia Season 8 dan BLAST Slam I.
Kutukan posisi kedua ini sebenarnya bukan hal baru bagi Nightfall. Jauh sebelum rentetan kegagalan di sirkuit modern saat ini, ia juga pernah merasakan pahitnya tumbang di babak Grand Final ESL One Summer 2021 dengan skor tipis 2-3 saat harus mengakui keunggulan tim asal Asia Tenggara, T1.
Meskipun sering dicap sebagai “Raja Juara 2”, mentalitas dan konsistensi Nightfall untuk bisa terus menembus babak final di berbagai turnamen Tier-1 patut diacungi jempol. Komunitas tetap percaya bahwa sang jenius ini suatu saat nanti pasti akan menemukan momentumnya untuk pecah telur, mengangkat trofi juara, dan menuntaskan dendamnya.