Martin Larsson, atau yang lebih kita kenal dengan nama panggung Rekkles, adalah sosok yang definisinya adalah ikon di League of Legends Eropa. Lahir di Swedia pada tahun 1996, kehidupan pribadi Rekkles sebenarnya jauh dari dunia komputer sejak kecil.
Dia adalah atlet sepak bola berbakat yang sangat berambisi menjadi pemain profesional. Namun, cedera lutut parah di usia 14 tahun memaksa mimpinya berhenti di tengah jalan.
Di masa pemulihan itulah, ia mulai serius bermain League of Legends sebagai pelarian, yang tanpa disangka justru menjadi jalan hidup baru yang membawanya menjadi salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah esports.

Kariernya di dunia kompetitif benar-benar meroket saat ia bergabung dengan Fnatic di usia yang masih sangat muda. Karena aturan umur di turnamen resmi Riot Games, Rekkles sempat harus menunggu di “bangku cadangan” sebelum akhirnya bisa debut dan mendominasi Eropa.
Bersama Fnatic, ia menjadi wajah utama organisasi tersebut dan memenangkan banyak gelar LEC. Rekkles dikenal sebagai ADC yang sangat metodis, punya positioning yang hampir sempurna, dan kemampuan farming yang luar biasa. Puncak prestasinya adalah membawa Fnatic melaju hingga ke babak Final World Championship 2018, sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa tim Barat bisa bersaing di level tertinggi melawan dominasi tim Asia.
Namun, perjalanan kariernya tidak selalu mulus dan penuh dengan kejutan yang berani. Setelah bertahun-tahun menjadi ikon Fnatic, Rekkles sempat membuat heboh komunitas dengan pindah ke rival abadi mereka, G2 Esports, demi mengejar trofi Worlds yang belum ia dapatkan.
Sayangnya, kepindahan itu tidak berbuah manis dan ia sempat “turun kasta” ke liga regional Prancis bersama Karmine Corp sebelum akhirnya kembali lagi ke Fnatic.
Kejutan besarnya terjadi saat ia memutuskan pindah ke Korea Selatan untuk bergabung dengan T1 Academy sebagai Support. Keberaniannya untuk belajar dari nol di lingkungan paling kompetitif di dunia menunjukkan betapa besarnya gairah Rekkles terhadap game ini.
Setelah menimba ilmu di Korea, Rekkles akhirnya kembali ke panggung Eropa dengan bergabung bersama Los Ratones, tim bentukan konten kreator legendaris Caedrel, yang menandai babak baru dalam upayanya kembali ke kasta tertinggi kompetisi.
Bersama Los Ratones, Rekkles membuktikan bahwa dirinya belum habis. Di tahun pertamanya (2025), tim ini langsung mendominasi kasta kedua Eropa dengan menyapu bersih gelar juara di NLC (liga regional Nordik) dan memenangkan dua trofi EMEA Masters.
Performa solid Rekkles sebagai Support menjadi kunci stabilitas tim yang diisi oleh kepribadian-kepribadian besar. Keberhasilan ini bahkan membawa Los Ratones mendapatkan undangan untuk bertanding di LEC Versus 2026, panggung kasta tertinggi Eropa, di mana Rekkles akhirnya kembali bersaing dengan tim-tim elit dunia.
Di luar panggung kompetitif, Rekkles dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga penampilan dan kesehatan. Seluruh lengan dan bagian tubuhnya kini dipenuhi dengan tato hitam pekat yang memiliki makna artistik mendalam.
Selain itu, ia baru-baru ini terbuka mengenai diagnosis autisme yang ia terima, yang justru membantunya memahami cara kerjanya yang perfeksionis dan disiplin tinggi.
Gue nggak mau cuma jadi pemain biasa. Gue pengen jadi pemain yang bakal terus diingat orang.—Rekkles
Meskipun terlihat dingin di depan kamera, dedikasinya untuk terus berkembang—mulai dari lapangan hijau Swedia, panggung megah Fnatic, akademi T1 di Korea, hingga proyek ambisius Los Ratones—menjadikannya legenda hidup yang tak tergantikan.